Kamis, 05 Januari 2012

SEBERKAS TITIK TERANG

Sesaat aku terhempas dan semuanya menjadi gelap. Aku tertidur lelap tanpa mimpi yang berarti…

Saat aku bangun, semua badanku pegal dan kaku. Aku merasakan ribuan ton massa bertumpu pada tubuhku yang kering kerontang ini. Entah apa yang aku lakukan semalam hingga tubuhku bisa selemas ini. Tubuhku benar-benar kaku membatu. Ingin rasanya segera bangun dan menguap. Melepas semua pengaruh buruk yang kini bersemayam dalam tumpukan daging dan tulang ini.

Pagi ini tak secerah biasanya. Sangat gelap. Aku tak menemukan lagi sinar matahari jatuh tepat di mukaku. Sepertinya aku bangun terlalu pagi. Biasanya aku bangun sesaat sebelum matahari tepat di zenith-nya setelah semalaman bergelut bersama angin malam dan bergumul dengan sang rembulan. Mungkin semalam aku tidur terlalu “pagi”. Aku tertidur di waktu yang tak pernah aku inginkan.

Aku ingin mengulang malam tadi. Aku ingin melewatkannya dan tak melupakannya seperti kali ini. Pulang kerja langsung dugem bersama teman kantor sampai dini hari. Menikmati indahnya dunia yang aku yakini hanya akan aku dapatkan sekali seumur hidup. Di tempat itu, aku bisa melupakan masalah yang aku hadapi sesaat. Walaupun aku sadar bahwa esoknya aku akan kembali memikirkan masalah itu. Saat aku menyadari hal itu, saat itulah aku merasa menjadi orang yang paling bodoh karena tak pernah membenarkan apa yang aku sadari. Semua kesadaran datang dan pergi. Aku seperti bocah umur tiga tahun yang disuruh ibunya untuk menghafal doa sesudah adzan. Semuanya masuk telinga kiri lalu keluar melewati telinga kanan. Persis apa yang sering ibuku lakukan saat aku masih kecil. Dia akan memberiku uang jajan lebih jika aku bisa menghafal satu ayat Al-Quran. Demi uang itu, setiap hari aku berusaha menghafal satu ayat, dimana keesokan harinya aku akan melupakan ayat tersebut dan menghafal ayat lainnya untuk aku lupakan kemudian. Tapi setelah aku tumbuh dewasa, aku makin asing dengan Al-Quran. Sudah bertahun-tahun aku sama sekali tak menyentuhnya. Sampai-sampai aku lupa bagaimana cara membaca Al-Quran yang benar seperti apa yang ibuku ajarkan dulu. Semuanya hilang bersama malam penuh gemerlap yang selama ini aku lewatkan.

Pagi ini tak seperti biasanya. Aku terbangun dengan mengenakan seragam kantorku. Meskipun agak lusuh disana-sini. Aku benar-benar merasa tercekik dengan dasi yang belum kulepas. Tapi tanganku tak mampu mengurainya. Terlalu kaku. Aku jadi ingat ibuku. Dialah yang setiap pagi membetulkan dasi saat aku hendak pergi ke kantor. Saat itu aku baru diterima di sebuah bank swasta. Betapa bangganya ibuku saat pertama kali anaknya mengenakan kemeja kantoran plus dasi yang sengaja ia beli. Ia bangga karena selama ini ia berhasil menjadi orang tua tunggal dan mampu mengantarkan anaknya ke gerbang kesuksesan. Ia tak pernah tahu bahwa kesuksesan itu adalah jalan pemulus bagiku untuk masuk ke dunia hedonis. Dunia yang menempatkan dunia di atas segalanya. Tanpa terasa aku meneteskan air mata karena mengingat kenangan itu. Kenangan yang tak pernah mungkin aku dapatkan lagi. Selamanya.

Pagi ini tak seindah biasanya. Aku seperti berada di dunia lain. Semua masa lalu bermunculan sedikit demi sedikit. Mengingatkan betapa aku memiliki banyak kesalahan. Kesalahan yang sering aku abaikan. Kesalahan yang aku anggap tak berarti apa-apa. Bahkan dengan kesalahan itu aku merasa menjadi orang paling berkuasa di muka bumi ini. Tapi kini semuanya berbeda. Aku merasa kesalahan-kesalahan yang aku perbuat tak sekedar hal biasa melainkan hal besar yang harus aku tuntaskan.

Pagi ini tak senyaman biasanya. Aku tidur di samping orang yang paling aku benci. Setiap hari aku menganggapnya sebagai pembawa malapetaka. Ia bagaikan seorang serdadu yang memasung kebebasanku. Setiap saat ia selalu menjejaliku dengan berbagai kalimat yang tak pernah ingin aku dengar. Kalimat bijak yang kuanggap lontaran hampa dari orang munafik. Orang yang selalu menempatkan Tuhan di atas segalanya.

Bang Kaleb tidur dengan nyenyaknya. Ia seperti melupakan apa yang telah terjadi semalam. Sesuatu yang sangat menyakitkan. Ia sepertinya sedang bermimpi indah saat ini. Terlihat dari raut mukanya yang bahagia. Simpul mulutnya menggambarkan keriangan yang tak berhingga. Apakah ia bermimpi sedang berada di surga? Tempat terindah yang sering ia gambarkan padaku saat ia merayuku untuk pergi solat berjamaah jika jam makan siang tiba. Katanya surga itu adalah tempat khusus yang diciptakan Tuhan hanya untuk orang-orang terpilih. Orang yang mengatasnamakan Tuhan dalam setiap tindakannya. Aku selalu sedih sekaligus benci saat ia menceritakan hal tersebut karena tahu bahwa aku bukan bagian dari orang-orang terpilih itu. Aku bagian dari orang-orang yang Tuhan benci dan Tuhan telah menciptakan tempat khusus yang berbeda untukku. Entah seindah apa tempat itu.

Bang Kaleb tidur dengan damainya. Mungkin ia tidak perlu khawatir lagi dengan anak kesayangannya. Sudah seminggu ini dia selalu kelihatan khawatir. Dia sempat cerita padaku bahwa dia sedang menunggu pengumuman hasil tes masuk perguruan tinggi anaknya dengan muka yang sangat antusias. Ia khawatir anaknya tidak lulus. Tapi tadi pagi kudengar ia melantunkan kalimat syukur kepada Tuhannya yang sangat ia banggakan setelah menerima kabar dari istrinya bahwa anaknya lulus. Entah kenapa saat itu aku turut berbahagia. Simpati yang telah lama hilang seakan muncul secara alami tanpa dipaksakan. Mungkin aku terlalu dekat dengan Bang Kaleb. Meski aku selalu benci dengan apa yang ia selalu katakan padaku.

Bang Kaleb tidur dengan tenangnya. Ia kelihatan sangat damai. Tak ada sedikit pun raut sakit atau lemas seperti apa yang aku rasakan saat ini. Dia seperti memberikanku kesejukan di tengah rasa gusarku. Ia seperti sedang bercerita padaku bahwa hidup sebagai hamba Tuhan adalah jalan terbaik. Jalan yang akan membawaku ke tempat indah itu. Tempat orang-orang terpilih.

Secara pemikiran, Bang Kaleb dan ibuku mempunyai suatu kemiripan dimana mereka selalu menempatkan keduniaan di bawah Tuhan. Kemiripan lainnya adalah raut muka mereka saat tidur yang sangat mendamaikan. Aku teringat saat terakhir kali melihat ibuku tertidur. Ia sangat cantik tak seperti biasanya. Meskipun saat itu aku tak melihat penuh muka cantiknya karena aku datang terlambat. Aku terlambat menyaksikan semuanya. Aku terlambat membuat ibuku bahagia. Aku terlambat…

Air mataku jatuh semakin deras. Aku menangis tersedu-sedu tanpa suara. Dadaku sangat sesak hingga pita suaraku ikut tertekan. Ingin rasanya aku berteriak sekeras mungkin. Tapi semuanya sia-sia. Suaraku habis tak bersisa. Aku lemah saat ini. Aku benar-benar tak berdaya. Semua kekuatan yang aku sombongkan seperti hilang begitu saja tak bersisa. Aku tak tahu apa yang aku lakukan semalam. Aku kehilangan jejak. Jejak yang sengaja aku hilangkan.

Air mataku jatuh semakin deras. Saat itu aku teringat betapa aku sangat hina. Selama ini aku hidup di kubangan kotor. Seperti kerbau, bahkan mungkin lebih. Aku hidup dalam dunia yang menurutku sempurna. Sempurna memberikanku kesenangan sesaat sekaligus penyesalan abadi. Penyesalan yang selalu datang di saat aku membuka mata di pagi hari. Saat aku tersadar bahwa aku tak lebih dari manusia yang tak punya harapan untuk mendapatkan kebahagiaan abadi. Manusia tanpa nyawa. Manusia yang hanya hidup dengan wanita malam dan anggur memabukkan. Manusia yang hidup hanya karena uang, bukan karena harapan mandapatkan kebahagiaan abadi.

Air mataku jatuh semakin deras saat aku menyadari bahwa bang Kaleb tidak bisa aku bangunkan. Aku sudah berusaha membangunkannya dengan cara menendang-nendang betisnya supaya ia bangun. Tapi ia tetap terkujur kaku. Aku takut. Aku tidak mau sendiri di tempat segelap ini. Aku tak mau sendiri di tempat sepengap ini. Kenapa ia tidak mau bangun. Apa ia tidak mau membantu sahabatnya yang sedang merasa kesakitan? Apa ia tahu bahwa sebenarnya selama ini aku sangat membencinya?

Tiba-tiba aku merasa semakin susah untuk bernafas. Mungkin persediaan oksigen di sini semakin terbatas. Aku juga merasakan haus yang sangat hebat. Aku tak mungkin meminum ait mataku sendiri atau menyengaja meminum darah yang menetes dari dahi dan lubang hidungku seperti drakula. Aku ingin minum wedang jahe buatan ibuku yang selalu ia berikan saat aku merasakan kedinginan seperti saat ini. Segelas wedang jahe nampaknya akan memberiku kehangatan pada tubuh lemasku. Seandainya ibu mendengarkan permintaanku ini, ia pasti dengan senang hati akan datang membawakannya untukku. Tapi itu tak mungkin. Tak mungkin terjadi saat ini dan saat-saat berikutnya.

Sedikit demi sedikit tubuhku mulai mendingin. Udara luar mungkin terlalu menusuk bagiku. Aku tak terbiasa seperti ini. Aku tak terbiasa tidur di atas tanah tanpa kasur empuk dan selimut tebal. Aku menggigil. Aku meriang. Aku butuh belaian tangan ibuku di atas dahiku. Belaian mujarab yang mampu menurunkan panas tubuhku. Tapi itu tak mungkin. Tak mungkin terjadi saat ini dan saat-saat berikutnya.

Darah dari hidung dan dahiku sejak semalam tak berhenti mengalir. Mungkin karena itu juga aku merasa semakin lemas. Aku tahu waktuku tak panjang lagi jika darah itu terus mengalir keluar dari dalam tubuhku. Aku tak bisa lagi melakukan apa pun saat ini. Saat-saat dimana aku akan meninggalkan hal-hal yang aku cintai. Saat-saat dimana aku menginginkan kehadiran seseorang yang berarti dalam hidupku karena aku tak mungkin melihatnya lagi setelah ini. Mungkin ini juga yang pernah dirasakan oleh ibuku di saat-saat terakhir dalam hidupnya. Kata bibiku yang saat itu berada di rumah sakit, ibuku tak henti-hentinya memanggil namaku. Ia meregang nyawa tanpa kehadiranku, anak tercintanya, yang saat itu sedang asyik menikmati tetesan anggur dari sloki kristal. Hal itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku. Ingin rasanya aku memutar waktu dan tak melakukan kesalahan-kesalahan bodoh yang sampai sekarang selalu aku lakukan. Ingin rasanya aku membuang candu dunia yang selama ini aku hisap dan aku teguk. Tapi itu tak mungkin. Apalagi disaat-saat seperti ini. Aku hanya tinggal menunggu saatnya. Saat tekanan darah semakin berkurang dan jantung tidak bisa memompakan darah ke otakku, disanalah aku akan meninggalkan dunia ini dan aku tak mempunyai kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Semua yang telah menjadi tumpukan arang hitam.

Aku sungguh bodoh. Kemarin siang bang Kaleb kembali bercerita tentang nikmatnya beribadah dan indahnya surga. Saat itu terbersit keinginan untuk ikut dia solat berjamaah tapi kemudian aku menolak ajakannya karena di saat bersamaan temanku mengajak untuk makan siang. Andaikan saat itu aku lebih memilih solat bersama bang Kaleb, mungkin aku tidak akan terlalu takut dengan apa yang sedang aku hadapi saat ini. Setidaknya aku masih mempunyai sesuatu yang bisa dijadikan bukti untuk meringankan hukuman yang akan aku terima dari Tuhan. Setidaknya aku tak akan menjadi arang yang sehitam ini. Aku sungguh menyesal.

Andai aku tahu beberapa jam lagi bencana itu akan datang padaku. Siang itu aku akan bertaubat pada Alloh. Aku akan melakukan apa saja yang membuatku menebus semua kesalahan yang bertahun-tahun aku perbuat. Aku akan meminta maaf pada semua orang yang pernah aku sakiti. Hingga aku bisa menjadi anak soleh. Dengan itu aku bisa melantunkan doa untuk ibuku. Doa yang selama ini tak pernah aku utarakan karena aku yakin Alloh tak akan mendengarka doa dari seorang atheis sepertiku. Padahal aku tahu, ibuku pasti sangat mengharapkan kiriman doa dariku, anak satu-satunya yang sangat ia cintai.

Aku kembali melihat ke sekitar. Semuanya nampak semakin bias dan kabur. Kemampuan mataku semakin melemah. Mungkin itu semua karena pasokan darah ke otakku semakin berkurang. Aku kembali melihat wajah damai bang Kaleb. Sepertinya ia benar-benar telah menemukan surganya. Sementara aku masih terkatung di ujung tanduk. Aku melihat sekujur tubuhku penuh dengan luka. Gempa dasyat itu telah membuatku tak berdaya di antara puing-puing bangunan ini. Aku tak tahu ada berapa ton puing-puing bangunan di atas tubuhku. Puing-puing dari bangunan bertingkat empat yang rubuh seketika karena gempa.

Saat gempa terjadi, bang Kaleb langsung menyuruhku tiarap di bawah meja kantorku sedangkan ia tak sempat berlindung hingga kepalanya terbentur puing beton. Saat itu ia sempat membaca kalimat syahadat sebelum akhirnya matanya tertutup. Saat dimana aku langsung tak sadarkan diri karena tak mampu mengalami rangkaian peristiwa tragis seperti itu. Aku kira aku pun mati saat itu. Aku mati tanpa mengucapkan kata-kata terbaik seperti apa yang baru saja ia katakan. Hingga aku kembali tersadar bahwa Alloh masih memberikanku waktu untuk memperbaiki semuanya.

Di saat tubuhku mulai merasakan sakit yang amat sangat, aku berusaha mengingat kalimat syahadat yang tiba-tiba hilang dari dalam otakku. Sebelumnya aku tahu meskipun aku tak benar dalam pengucapannya. Tapi kali ini aku benar-benar lupa. Yang aku ingat hanyalah kilasan dosa yang pernah aku lakukan. Yang aku ingat hanyalah siksaan yang akan aku terima. Yang aku ingat hanyalah muka ibuku yang sedih melihat anaknya terbakar api neraka. Hingga semuanya benar-benar hilang. Saat itu suasana benar-benar sunyi. Tak ada suara sedikit pun. Aku merasa berada di ruang hampa. Aku tak merasakan lagi beban berat yang menimpa tubuhku. Aku tak mencium lagi bau anyir di sekitarku. Saat aku membuka mata, aku kaget dengan apa yang aku lihat. Aku melihat cahaya dimana-mana. Aku mencium wangi bunga disetiap udara yang aku hirup. Aku merasakan semilir sejuk angin menerpa kulitku. Dan sungguh aku dibuat kaget saat aku melihat ibuku sedang duduk di pinggir sungai yang sangat jernih dengan kepala yang menunduk dan kelihatan sedih. Aku bahagia sekaligus heran kenapa di tempat yang begitu indah ini ia bersedih seperti itu. Saat aku berusaha mendekatinya tiba-tiba ada seseorang yang mencegahku. Ia menatapku tajam dan mengunci langkahku. Ia berkata padaku dengan suara yang lantang dan tatapan yang tak lepas dariku,
“Wisnu…Sebenarnya ibumu sangat mengharapkan kau berada disini bersamanya. Tapi sayang tempatmu bukan di sini karena kau bukan termasuk orang-orang terpilih…”

Sekilas aku langsung kembali lemas dan pandanganku menjadi kabur kembali. Aku tak menemukan cahaya terang itu lagi. Saat itu aku seperti jatuh dari gedung yang tinggi. Perasaanku hancur berkeping-keping saat aku harus meninggalkan ibuku yang sedang menunggu kedatanganku. Aku sangat menyesal karena aku tak bisa hidup bersamanya kembali. Aku benar-benar merasa terbuang.

Sekilas aku langsung kembali lemas dan beban berat itu kembali aku rasakan. Sedikit demi sedikit aku berusaha membuka mata meskipun sebenaranya aku takut melihat keberadaanku. Aku menduga bahwa saat ini aku sudah berada di neraka. Tapi sungguh aneh karena aku tak merasa ada sesuatu yang membakar tubuhku seperti apa yang bang Kaleb ceritakan. Saat aku membuka mata. Aku kembali melihat tumpukan puing-puing itu. Aku juga kembali melihat muka bang Kaleb yang masih kelihatan segar meski telah menjadi mayat. Apakah aku masih hidup?

Aku tak tahu apakah aku masih hidup atau tidak. Tapi jika aku masih hidup, itu artinya Alloh masih memberiku waktu untuk memperbaiki dan memulai lagi semuanya dari awal. Jika itu benar, aku tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan berharga ini. Aku harus melakukannya. Melakukan semua yang baik atas nama Alloh hingga aku mempunyai kesempatan besar untuk meraih kebahagiaan abadi kelak. Kebahagiaan yang selalu bang Kaleb ceritakan. Kebahagiaan yang sempat juga aku rasakan walaupun sesaat. Kebahagiaan yang melebihi segala unsur keduniaan. Mudah-mudahan…

Saat itu aku seperti kembali melihat cahaya itu meskipun hanya sebuah titik. Berbeda dengan cahaya sebelumnya yang sangat benderang dan maha luas. Tapi titik itu tak kalah terang. Terang yang membawaku kembali tersadar penuh. Dari titik itu sesekali keluar tetesan air hingga titik itu membesar. Dan aku kembali melihat dunia. Sebuah dunia baru yang tak pernah akan aku sia-siakan lagi…





Terinspirasi dari Bencana Alam Gempa bumi di Tasikamalaya….
“…Anggaplah bencana sebagai peringatan
Jadikan ia sebagai titik balik terbaik…”

1 komentar:

  1. klimaksnya bagus.. tapi resolusinya sinetron sekali bapak.. ahaha

    BalasHapus