Anugerah terbesar adalah apa yang kamu jalani saat ini - Cluesology
Di separuh jam pelajaran, kelas begitu hening. Sebagian anak sibuk dengan catatannya dan sisanya hanya memandang kosong papan tulis hijau yang penuh dengan tulisan yang saya buat. Ya, sudah ratusan bahkan ribuan kali saya menemui keadaan kelas seperti ini. anak-anak muda yang seharusnya aktif dan kritis seakan menjadi pendengar yang pasif dan antipati terhadap kelas fisika kuantum yang sedang saya bawakan.
"Baiklah anak-anak, penjelasan tentang teori relativitasnya saya cukupkan sekian. Sekarang tutup catatan kalian. Saya punya suatu bahan untuk didiskusikan" suara tunggal saya kembali memecah kesunyian yang sedang terjadi. Seketika kelas pun ramai dengan suara sekitar 25 mahasiswa yang seakan kembali terbangun dari mati surinya.
"Tadi pagi sebelum berangkat ke kampus, saya baca headline surat kabar yang menyajikan kejadian mistis di daerah Blora" Seketika pula riuh itu kembali meluruh dan tergantikan oleh 25 pasang mata yang tajam memandang saya, penuh perhatian.
"Wah, Prof suka juga ya baca cerita horor?" celetuk salah satu mahasiswa dengan muka polosnya.
"Cerita ini bukan cerita horor biasa. Cerita ini ada hubunganya dengan fenomena yang hingga saat ini belum ada jawaban ilmiah pastiny"Jawab saya sembari berjalan kecil mendekati mahasiswa tersebut.
"Tentang ilmu santet ya, Prof?" Celetuk mahasiswa lainnya di sudut ruangan yang bersebrangan. "Bukan" Jawab saya sembari membalikan arah jalan menuju sudut sebrangnya. Suasana kembali hening. Yang terdengar hanyalah suara ketukan sepatu mengikuti derap langkah saya.
"Apa kamu pernah mendengar cerita mistis tentang korban yang tersesat 'mesin waktu' di hutan jati Blora yang sudah kerap terjadi?" Tanya saya pada mahasiswa berbaju ungu yang sedang saya dekati. Sontak mahasiswa itu memberi respon dengan menggelengkan kepalanya.
"Koran yang saya baca tadi pagi menceritakan tentang kejadian terjebaknya bus Pahala Kencana dan dua truk tronton di hutan Blora. Disebukan pula bahwa warga setempat bahkan sudah tidak heran lagi mendengar kejadian-kejadian yang tak masuk akal itu" Lanjut saya menerangkan dan memutar tubuh saya untuk berjalan lurus ke depan kelas.
"Prof percaya dengan cerita semacam itu?" Terdengar mahasiswa di samping kiri saya bertanya dengan suara parau yang sedikit pelan.
"Saya sebenarnya ragu dengan cerita itu, tapi tentang teori adanya Mesin Waktu, saya sedikit mempercayainya" Terlihat mahasiswa yang berkaos kuning itu hanya mengangguk-angguk kecil sembari sesekali menghentakan pensil yang sedang ia pegang ke mejanya.
"Mesin waktu itu sebenarnya apa, Prof? Saya sempat baca tentang Wormhole, dasar teori yang katanya bsa menjelaskan fenomena mesin waktu" Kembali mahasiswa berbaju kuning bertanya kepada saya dengan suara yang sedikit lantang.
"Sok tahu kamu, Ndi" celetuk mahasiswa lainnya, sedikit meragukan.
"Benar apa yang dikatakan Wandi, Wormhole itu adalah 'sesuatu' yang ada secara teoritis. Paling tidak sampai detik saat saya mengatakan ini, wormhole hanya ada di atas kertas teori, atau muncul di film-film dan buku-buku fiksi ilmiah. Keberadaan wormhole dalam teori dimulai ketika Albert Einstein memperkenalkan Teori 'Relativitas Umum', teori yang kita pelajari barusan. Disitu Einstein menunjukkan bahwa massa bisa membuat ruang waktu melengkung atau terlipat, sehingga semakin besar massa, semakin melengkung ruang waktu. Bagaimana anak anak, sulit dibayangkan ya?" saya hentikan penjelasan panjang lebar tadi saat melihat 25 mahasiswa dihadapan saya kembali terlihat menatap kosong.
"Intinya, lubang cacing adalah lengkungan ruang yang diakibatkan oleh adanya massa yang super besar. Jika lubang cacing itu benar adanya maka kamu bisa masuk ke satu lubang dari satu dimensi ruang dan waktu tertentu dan keluar ke dimensi ruang dan waktu yang lainnya" Jelas saya menyimpulkan.
"Wow, keren... Andai saja mesin waktu itu ada. Kita akan hidup seperti Doraemon, bisa pergi kemana saja kita mau" kembali mahasiswa berbaju ungu yang duduk di sudut ruang kelas mebuat celetukan. Saya hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.
"Prof, jika seseorang kembali dari masa depan, lalu membunuh orang-tuanya sebelum dia dilahirkan, lalu bagaimana dia bisa 'ada' dan melaksanakan misi membunuh orang-tuanya?" saya sedikit tertegun dengan pertanyaan yang keluar dari mulut salah seorang mahasiswa. Pertanyaan yang selalu menjadi pertanyaan besar saya.
"Di situlah kontroversinya. Bahkan dengan pengetahuan akan teori Quantum, Stephen Hawking memperkenalkan 'Konjektur Perlindungan Kronologi', yang bisa 'melindungi' perjalanan antar waktu tersebut. Karena secara teori, di dalam lorong pasangan partikel-antipartikel secara terus menerus tercipta dan saling meniadakan, dengan demikian energi meluap dengan amat sangat, bahkan bisa melebihi energi eksotis yang diperlukan untuk membuka gerbang wormhole. Dan, wormhole akan terganggu dan tertutup, bahkan sebelum mesin waktu tercipta" Kembali kelas menjadi hening. Dan saya pun seperti bingung dengan apa yang baru saja saya jelaskan.
"Tapi lebih dari itu semua, hanya Tuhan yang tahu dan Maha berkehendak" Ucap saya menutup semua kebingungan saya.
***
Ruangan ini begitu tenang. Tak ada suara ketukan pintu dari mahasiswa yang datang untuk berkonsultasi atau sekedar meminta tanda tangan. Saya memang ditakdirkan untuk selalu merasa sepi. Hanya dialah yang mengisi kehidupan saya saat ini. Ia yang menjadi satu-satunya alasan mengapa aku bisa bertahan hidup sampai saat ini, Dewi, istri saya.
"Boleh saya masuk, Prof?" suara berat yang tiba-tiba terdengar berhasil memecahkan bulatnya kebisuan di ruangan ini.
"Tentu saja pak. Silahkan duduk" Yang datang adalah sahabat karibku, Pak Yos, yang selalu terlihat ceria dengan kumis tebalnya yang mulai memutih dan secangkir kopi yang tak pernah absen di setiap kehadirannya.
"Ngelamunin apa to, Prof?" Tanya dia sambil membenarkan posisi duduknya dan meneguk kopinya.
"Ndak ko. Saya cuman ngantuk. Semalam saya harus teleconference dengan professor dari Hawai tentang proposal penelitian yang hendak kami buat" jawab saya sambil mengucek kedua mata yang memang terasa berat.
"Sukses ya, Prof. Saya tadi dengar dari beberapa mahasiswa tentang topik mesin waktu yang kamu bahas. Mereka kelihatan penasaran dengan wacana itu. Kamu sudah berhasil memancing mereka untuk berpikir kritis. Kata mereka, kamu menjelaskan dengan detail semua hal tentang mesin waktu, seolah kamu pernah masuk ke mesin waktu itu" Tanya dia sambil sedikit terbahak dan kembali meneguk kopinya.
"Saya hanya berusaha membagi rasa kepenasaran saya, Pak. Sudah berpuluh-puluh tahun saya memikirkan wacana tersebut. Ratusan teori sudah saya lahap dan jejalkan dalam otak. Tapi semuanya hanya berakhir dalam bentuk sebuah pertanyaan raksasa. Apa benar mesin waktu itu ada?" Ya, entah apa alasan saya sampai-sampai saya sangat terobsesi dengan mesin waktu. Ada sesuatu yang saya ketahui tapi saya selalu tutupi. Semuanya saya lakukan hanya untuk membuat semuanya damai. Diam dalam keinginan untuk merubah semuanya. Takdir.
"Wah, jangan-jangan proposal terbarumu ada kaitannya dengan mesin waktu ya, Prof?" Mukanya terlihat antusias. Seperti singa lapar yang berhadapan dengan kelinci gemuk yang pasif. Pasti ia dapatkan jawabannya.
"Saya tidak sejenius itu, Pak. Meskipun ada sedikit keinginan untuk membuatnya" Jawab saya yang seakan membangun beton keras pemisah ia dengan kelinci pasif itu dalam sepersekian detik.
"Kalau saya sih tidak terlalu berminat untuk merealisasikan fiksi ilmiah itu. Saya percaya apa yang kita jalani saat ini adalah takdir yang terbaik yang diaugerahkan Tuhan pada kita" Ya, saya pun begitu. Saya percaya bahwa takdir Tuhan itu adalah jalan hidup yang terbaik. Tapi apakah salah jika saya hendak merubahnya jika saya bisa untuk merubahnya?
"Memang apa yang hendak Prof ubah jika mesin waktu itu benar-benar ada?" Kembali ia bertanya dengan mata tajam dan muka yang antusias. Singa kuat itu telah berhasil mendobrak beton pemisah kami. Saya terdiam sejenak. Terdiam dalam kekalutan.
"Butuh waktu lama untuk membuat keputusan sekrusial itu, Pak. Bahkan waktunya lebih lama ketimbang mewujudkan mesin waktu itu sendiri" Jurang yang lebar dan terjal tiba-tiba tercipta di antara kami. Sang singa lapar terlihat menyerah dan berlari melawan arah.
***
Kehidupan saya memang sedikit monoton. Pergi ke kampus, memberi kuliah, datang menjadi pemateri di seminar, berkutat di laboratorium, dan pulang ke rumah. Kegiatan yang terakhirlah yang selalu saya rindukan dimanapun saya berada. Hari ini belum terlalu tua untuk saya kembali ke rumah. Rumah yang selalu tampak sepi bila terlihat dari luar. Memang. Selama saya tinggal di rumah kecil dan sederhana itu, saya tidak pernah mendengar suara tangis anak kecil atau keriangan pesta ulang tahun seorang remaja. Rumah saya lebih terasa seperti sebuah perpustakaan pribadi. Hening.
"Selamat sore, Mah" sapaku pada sosok wanita yang terlihat masih cantik dan segar di usia senjanya. Dia terlihat sedang tertunduk membaca buku yang sedang ia pegang.
"Wah bapa tumben pulang lebih awal" terlihat wanita itu menutup buku yang sedang ia baca. Saya hanya tersenyum hangat menyapanya.
"Kebetulan makanannya baru saja jadi. Masih hangat dan enak" Saya kecup keningnya dengan mesra. Dialah alasan saya satu-satunya untuk hidup. Dewi, istri saya.
"Bapak ganti baju dulu sebentar ya, nanti bapa menyusul ke ruang makan" Dengan semangat ia berjalan menuju ruang makan. Tubuhnya yang mungil membuat ia terlihat lebih muda dari umurnya sekarang, 50 tahun. Dua puluh lima tahun Dewi mengisi kehidupan saya. Dia adalah wanita yang baik dan sangat sabar. Dia memang sedikit pendiam dan dingin, tapi sikapnya itu membuatku selalu bisa tenang dalam menghadapi setiap masalah. Ia seperti batu es dalam secangkir the yang panas. Dia adalah karet peredam dari sikap saya yang terkadang tak terkendali saat saya gagal mengkorelasikan suatu teori. Dia adalah wanita terbaik yang sudah Tuhan takdirkan untuk menemani hidup saya.
Tapi akhir-akhir ini dia sedikit berbeda. Dia sering terlihat murung saat sendiri. Hampir setiap malam dia bangun dan solat tahajud. Saat saya pura-pura tertidur, saya sering mendengarkan tangisnya yang tertahan dan doa yang selalu ia panjatkan. Doa kami yang tak pernah terwujud.
"Pak, cobain deh pepes telur asin ini. Mamah dapet resepnya dari dokter Anna. Kata dia ini masakan favorit dokter Ruhut" ucapnya riang sambil meletakkan setengah butir telur asin yang di pepes ke piring yang ada di hadapan saya.
"Vielen dank, meine Liebe" --- "Terima kasih banyak, cintaku" jawab saya singkat.
"Masakanmu terlihat enak. By the way, ada keperluan apa kamu bertemu dengan dokter Anna?" Saya memuji masakan yang memang terlihat enak ini. Saat dimana saya melihat air mukanya yang tiba-tiba berubah.
"Tadi pagi dokter Anna datang ke rumah untuk mengantarkan undangan pernikahan putri semata wayangnya. Dia terlihat sangat bahagia, Pak" kembali saya lihat butir air matanya tertahan di kedua ujung mata bulatnya.
"Mah, sudahlah. Kamu jangan terlalu larut dalam harapan kosongmu. Kita sudah terlalu tua untuk menyesali semuanya. Saya sudah teramat bersyukur mempunyai wanita seperti kamu. Kamu adalah malaikat dalam kehidupan saya" Saya pun berdiri menghampirinya dan berusaha menegakkan bahunya yang sedikit merapuh.
"Andai saja aku bisa memutar waktu, aku hanya ingin menjadi seorang ibu meskipun hanya beberapa detik saja. Merasakan hangatnya tubuh bayi mungil dalam pelukanku dan mendengar tangis paraunya, Pak" Dia akhirnya menumpahkan segala yang ia tahan selama ini.
Dua puluh lima tahun yang lalu kami menikah. Hampir semua teman menyebut kami sebagai pasangan yang Mahadahsyat. Seorang Doktor muda menikah dengan arsitek sukses yang sangat cantik. Semua orang sangat penasaran dengan anak yang akan terlahir dari rumah tangga kami. Anak yang sampai saat ini hanya menjadi angan bagi kami dan mereka. Beberapa tahun setelah akad, kami belum juga dikaruniai seorang anak. Dengan sabarnya kami melaksanakan program kehamilan. Dia pun mulai mengurangi kegiatannya di luar kantor.
Di tahun ke delapan barulah saya mendapat kabar yang sangat menggembirakan. Beberapa hari setelah kami merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke delapan, Dewi dinyatakan hamil. Alangkah senangnya dia waktu itu meskipun dokter menyarankan untuk berhati-hati menangani kehamilan di usia Dewi yang tidak muda lagi, 33 tahun. Kami harus mengkonsultasikan masalah kehamilannya ke dokter secara rutin. Dia memang terlihat sangat lemah dengan kehamilannya. Empat bulan pertama dia lalui dengan berbagai siksaan. Nafsu makan Dewi sangat rendah dan dia sangat sering meludah karena ia merasa tidak enak dengan lidahnya.
Saat bulan-bulan pertama, kami sering pergi ke dokter di sela kesibukan saya sebagai dosen dan ia sebagai arsitek. Apalagi sewaktu dokter menyatakan bahwa Dewi mengidap Preeklamsia yang merupakan suatu bentuk penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi yang terjadi pada ibu hamil. Dokter menyatakan bahwa penyakit ini sangat berbahaya bagi kehamilan Dewi. Dengan sikap pantang menyerahnya, dia melakukan berbagai cara untuk meminimalisir dampak dari penyakit tersebut. Memasuki bulan ketujuh dari kehamilannya, Dewi cuti dari tugasnya di kantor. Dia memilih untuk beristirahat dan mempersiapkan kelahiran jabang bayi yang ia kandung. Kamar dan segala isinya telah ia siapkan dengan baik dan semuanya berwarna merah muda, warna kesukaannya. Warna yang kelak akan memanjakan mata putri kami - hasil USG memang menyatakan bahwa bayi yang akan lahir kelak memiliki jenis kelamin perempuan.
Berbeda halnya dengan saya. Di bulan ke tujuh dari kehamilan Dewi, aktivitas penelitian saya semakin meningkat. Saya berharap bisa menuntaskan semua obsesi saya. Obsesi yang akan segera terwujud. Saya sangat ingin sekali mendampingi detik demi detik perjuangan Dewi dalam melahirkan putri kami ke dunia ini. Setiap harinya, saya selalu berangkat sangat pagi dan pulang larut malam, dari senin sampai sabtu. Karena kondisi Dewi yang lemah dan saya yang sangat sibuk, Dewi tidak bisa lagi pergi ke dokter untuk mengkonsultasikan kondisi kehamilannya. Hingga pada suatu sore mimpi buruk pun mulai menghampiri.
"Dewi, kamu terlihat sangat pucat. Ada apa sayang?" Tanya saya pada Dewi yang sedang duduk lemah di kursi goyangnya. Dia terlihat sedang mengelus perutnya yang terlihat semakin membesar.
"Gak ada apa-apa, Mas. Mungkin aku cuma kecapean mempersiapkan kamar untuk bayi kita" Jawabnya dengan suara sedikit lemas.
"Mas coba pegang deh perutku" Dia letakkan tangan saya di perut besarnya
"Mas rasain detak jantung bayi kita gak? Atau tendangan kakinya? Kok aku rasa dia diam saja dari tadi pagi. Apa mungkin bayi kita juga ikut kelelahan ya, Mas?" Tanyanya dengan muka yang terlihat sedih. Jujur saya tidak paham dengan kondisi seperti ini.
"Mamah gak pernah pergi ke dokter lagi ya?" saya bertanya padanya dengan muka yang penasaran
"Aku gak kuat, Mas" Sekali lagi dia terdengar sangat lemas. Saya pun mulai khawatir saat ia sesekali terlihat ingin muntah.
"Mah, ayo sekarang kita pergi ke dokter" Saya pun membawa Dewi pergi ke rumah sakit. Dengan wajah tenangnya Dewi selalu berhasil memadamkan ketergesaan saya yang semakin menjadi.
Tiga puluh menit lebih Dewi berada di ruang pemeriksaan. Berbagai pertanyaan menyeruak dalam pikiran saya saat itu. Sampai akhirnya dokter keluar diikuti suara derit ranjang dorong yang membawa tubuh mungil Dewi. Sekilas, Dewi terlihat menyimpulkan senyuman ringan pada saya. Senyuman yang membuat saya semakin khawatir. Dan ia pun berlalu dengan cepat.
"Dokter, apa yang sebenarnya terjadi dengan istri saya?" Tanya saya sambil berusaha memelankan langkah dokter yang begitu cepat.
"Anda tidak pernah sepenuhnya mendengarkan apa yang saya sarankan. Operasi sesar harus segera dilakukan untuk menyelamatkan istri dan anak Anda. Anda sekarang ikut saya untuk segera menandatangani surat izin operasi istri Anda" Semuanya terdengar seperti mimpi. Mimpi buruk yang merupakan buah dari keteledoran saya. Saya hanya bisa menyesal.
Tiga jam lebih saya menunggu kabar dari ruang operasi. Berkali-kali pula saya bolak balik ke mushala sekedar untuk berdoa demi kebaikan istri dan anak saya. Saya mungkin bisa memecahkan soal mekanika kuantum serumit apa pun, tapi untuk saat seperti ini, saya hanya bisa berdoa. Setelah hampir empat jam, akhirnya dokter pun keluar dari ruang operasi diikuti suster yang membawa sesosok bayi yang terlihat lemas. Tak ada suara bayi yang menangis yang bisa saya dengar saat itu. Saya pun tak sempat menyentuhnya karena suster dengan sigap membawanya sedikit berlari entah kemana.
"Anda terlambat, Pak. Andai saja Anda membawa Dewi kemarin ke sini untuk operasi sesar. Bayi Anda akan dapat kami selamatkan" Saya seakan tidak mengerti dengan apa yang sedang dokter katakan. Dunia seakan bergemuruh sangat hebat saat saya mendengar setiap kata yang ia utarakan.
"Bersabarlah, Pak. Bapak masih beruntung. Dewi masih bisa terselamatkan" Itulah ucapan terakhir dari dokter yang membuat saya sedikit lega. Dengan lekas, saya masuk ke ruangan operasi dan melihat Dewi yang tertidur lelap. Dia belum menyadari bahwa putri yang sangat ia nantikan telah pergi bahkan sebelum ia memiliki sebuah nama. Kejadian itu memberi efek trauma yang berkepanjangan untuk Dewi. Dia berhenti dari pekerjaannya dan mengharapkan dia bisa kembali hamil dan memberi saya keturunan. Hingga sampai saat ini kami hanya bisa berharap. Harapan kosong.
"Janganlah kamu bersedih atas apa yang telah terjadi. Saya bersyukur sudah memiliki kamu, sayang" saya berusaha menenangkan sesegukan dia yang tak kunjung henti.
Dewi menganggap hidupnya tak pernah genap tanpa kehadiran seorang anak di tengah-tengah keluarga kami. Saya pun pada akhirnya hanya bisa meninggalkannya sendiri dalam kesedihan. Dewi tak pernah tahu apa yang sebenarnya saya rasakan. Sebuah penyesalan besar. Dalam hal ini, bukan Dewi yang salah. Sayalah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab pada peristiwa tujuh belas tahun yang lalu. Saya terlalu sibuk dengan obsesi saya saat itu. Membuat mesin waktu.
Saya hampiri sebuah lemari di sudut ruang kerja, kemudian saya menggesernya. Sebuah pintu kecil pun terlihat di balik lemari itu. Pintu yang belum berani saya buka sejak saya membuatnya. Pintu yang tak pernah saya tahu isi dibalik tegap berdirinya. Saat itu saya hanya fokus pada Dewi. Semua isi otak saya penuh dengan Dewi. Senyuman manisnya, gesit tingkahnya, serta tangis sendunya. Dan pikiran tentang dialah yang menuntun saya membuka pintu itu. Dan seketika saya melihat sebuah lubang panjang, dunia pun menjadi gelap.
***
Seorang pria berusia sekitar 38 tahun sedang berkutat dengan solder dan ratusan komponen yang ada di meja praktiknya. Dia terlihat sangat serius memperlakukan tiap butir komponen-komponen kecil dalam rangkaian besar yang sedang ia buat. Bunyi dering HP terdengar dari telpon selularnya. Dia dengan segera meletakkan solder dan rangkaian yang sedang ia pegang dan meraih telpon selular yang tergeletak di meja sebelah. Mukanya terlihat semakin serius memperhatikan telpon selularnya. Ia bergegas membereskan meja praktikumnya dan pergi keluar.
Setibanya di suatu rumah, dia terlihat menghampiri wanita yang sedang duduk di beranda rumahnya. Istrinya. Wanita mungil itu terlihat ringkuh dengang perut yang semakin membesar sambil sibuk merajut bahan. Hari ini tepat tujuh bulan usia kehamilan wanita itu. Sang pria, suaminya, terlihat meletakkan tanganya di perut istrinya.
"Anakmu sedang menendang-nendang perutmu yah?" Tanya si pria sambil menempelkan telinganya ke perut sang istri.
"Itu tanda bahwa bayi kita aktif, Mas. Sehat" sang wanita menjawabnya dengan nada yang manja
"Tapi kita harus memeriksakan kehamilanmu ke dokter sekarang ya, Dew. Sudah sebulan saya sibuk dan tidak bisa mengantar kamu untuk berkonsultasi" dengan lekas wanita itu menaruh rajutannya dan sang pria membopongnya masuk ke rumah.
***
Di rumah sakit sang pria terlihat gelisah menunggu sang istri keluar dari ruang pemeriksaan. Setelah tiga puluh menit berlalu, dokter pun keluar diikuti dengan suara derit ranjang dorong yang membawa istrinya keluar. Sekilas, sang istri terlihat menyimpulkan senyuman ringan pada sang pria. Senyuman yang membuat sang pria semakin terlihat khawatir.
"Dokter, apa yang sebenarnya terjadi dengan istri saya?" Tanya sang pria sambil berusaha memelankan langkah dokter yang begitu cepat.
"Anda membuat keputusan yang tepat. Jika saja Anda terlambat membawa Dewi untuk memeriksakan kehamilannya, mungkin bayi Anda tidak bisa diselamatkan" Semuanya terdengar sedikit menggembirakan bagi sang pria. Ia telah berhasil mengubah nasib. Setidaknya untuk saat ini.
Tiga jam lebih sang pria menunggu kabar dari ruang operasi. Berkali-kali pula pria itu bolak balik ke mushala sekedar untuk berdoa. Dia mungkin bisa memecahkan soal mekanika kuantum serumit apa pun, tapi untuk saat seperti ini, dia tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali berdoa. Setelah hampir empat jam, akhirnya dokter pun keluar dari ruang operasi diikuti suster yang membawa sesosok bayi yang terlihat segar dan aktif. Bayi itu menangis sangat kencang dan dokter mempersilahkan sang pria untuk mengadzaninya.
Dengan lunglai kemudian sang pria masuk ke ruangan tempat istrinya berbaring sambil membawa putrinya. Dengan suara parau di hadapan tubuh istrinya yang masih tertidur pulas, efek dari obat bius, ia berkata, "Mah, bayi kita perempuan. Saya belum bisa memberi nama apa yang pantas untuk anak ini. Makannya cepat bangun, kita beri nama putri kita segera, Mah" Dan sesaat, dunia menjadi gelap.
***
"Pah, kok melamun begitu sih?" terdengar suara seorang gadis mengagetkan saya yang sedari tadi melamun.
"Saya kangen ibumu, Dew" saya menjawabnya sambil membalikan piring yang tergeletak di hadapan saya.
"Ini saatnya makan, Pah. Bukan saatnya bersedih dan melamun. Saya buatkan pepes telur asin kesukaan papah tuh" Ujar Dewi dengan muka yang sumringah. Dia selalu begitu. Dia adalah gadis remaja yang sangat riang. Dia layaknya api. Api yang selalu berhasil melumerkan batu es, diriku. Es memang sangat berbeda dengan api. Begitupun Dewi, istriku. Dia berbeda 180 derajat dengan putri kami, Dewi. Tapi kedua Dewi itu telah dengan sabar menemani sisa hidup saya. Meski keduanya tak pernah hadir bersamaan di satu waktu.
***
Ruangan ini begitu tenang. Tak ada suara ketukan pintu dari mahasiswa yang datang untuk berkonsultasi atau sekedar meminta tanda tangan. Saya memang ditakdirkan untuk selalu merasa sepi. Hanya dialah yang mengisi kehidupan saya saat ini. Ia yang menjadi satu-satunya alasan mengapa aku bisa bertahan hidup sampai saat ini, Dewi, putri semata wayang saya.
"Boleh saya masuk, Prof?" suara berat yang tiba-tiba terdengar berhasil memecahkan bulatnya kebisuan di ruangan ini.
"Tentu saja pak. Silahkan duduk" Yang datang adalah sahabat karib saya, Pak Yos, yang selalu terlihat ceria dengan kumis tebalnya yang mulai memutih dan secangkir kopi yang tak pernah absen di setiap kehadirannya.
"Ngelamunin apa to, Prof?" Tanya dia sambil membenarkan posisi duduknya dan meneguk kopinya.
"Ndak ko. Saya cuman ngantuk. Semalam saya harus teleconference dengan professor dari Hawai tentang proposal penelitian yang hendak kami buat" jawab saya sambil mengucek kedua mata yang memang terasa berat.
"Sukses ya, Prof. Saya tadi dengar dari beberapa mahasiswa tentang topik mesin waktu yang kamu bahas. Mereka kelihatan penasaran dengan wacana itu. Kamu sudah berhasil memancing mereka untuk berpikir kritis" Tanya dia sambil kembali meneguk kopinya.
"Saya hanya berusaha membagi rasa kepenasaran saya, Pak. Sudah berpuluh-puluh tahun saya memikirkan wacana tersebut. Tapi sekarang saya sudah lama meninggalkan wacana itu. Biarlah wacana itu tetap menjadi wacana saja" Ya, entah apa alasan saya sampai-sampai saya sangat terobsesi dengan mesin waktu dulu. Saat ini saya sudah melupakan obsesi itu. Terkubur jauh bersamaan dengan makin tumbuhnya iman akan takdir terbaik yang selalu Tuhan berikan untuk umant-Nya.
"Wah, jangan-jangan proposal terbarumu ada kaitannya dengan mesin waktu ya, Prof?" Mukanya terlihat antusias. Seperi singa lapar yang berhadapan dengan kelinci gemuk yang pasif. Pasti ia dapatkan jawabannya.
"Saya tidak sejenius itu, Pak. Tak ada niat sedikitpun untuk merealisasikannya. Buat apa coba? Saya percaya apa yang kita jalani saat ini adalah takdir yang terbaik yang diaugerahkan Tuhan pada kita" jawab saya singkat.
"Kalau saya sih ingin pergi kembali ke masa muda. Sekolah yang serius supaya saya jadi dokter dan bisa menikah dengan perempuan cantik" Timpalnya sembari terbahak dengan suara beratnya.
***
17 Tahun yang lalu, Rumah Sakit
"Mas, terima kasih sudah menyelamatkan putri kita. Aku tidak bisa membayangkan jika bayi kita tidak segera dikeluarkan. Mungkin dia akan mati di dalam kandungan" ucapnya terbata dan terdengar sangat lemah. Dokter menyatakan bahwa terjadi pendarahan yang sangat hebat pada rahim Dewi paska operasi.
"Bayinya cantik seperti kamu, Dew" ucap saya sambil mengusap kening Dewi yang sedang menggendong bayi kami. Keningnya terasa sangat dingin. Gendongannya pun terlihat menggelayut ke bawah. Saya segera meraih bayi dalam dekapannya. Dalam sela nafas berat Dewi, ia berkata "Mas, aku titip bayi ini. aku sudah tidak sanggup menjaganya. Aku percaya mas bisa menjaga bayi kita dengan baik" ungkapnya pelan
"Kamu jangan berkata seperti itu, Dewi. Kita akan membesarkan putri kita berdua" saya berusaha untuk menguatkannya. Tapi wajah pucat itu meluruhkan kekuatan saya sendiri. Dewi memang sudah terlihat lemas.
"Beri nama dia Dewi, sama seperti namaku agar Mas bisa selalu mengenang aku, sitrimu" seketika saya menangis tersedu mendengar apa yang ia ucapkan. Dan seketika dunia menjadi gelap. Dewi meninggal dengan tenang di hadapan kami, saya dan Dewi, anak kami.
We all have our time machines. Some take us back, they're called memories. Some take us forward, they're called dreams. Jeremy Irons

inspiratif, sahabat, ikut membaca ya, salam dari sahabat mu, arip
BalasHapuswah, terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca postingan ini
BalasHapus