Senin, 31 Desember 2012

PELUKIS HUJAN



Sore ini langit terlihat lebih mesra bermain dengan awan. Mereka lekat, menjingga bersama.

Sedang hatiku tak pernah jingga. Kaos biru muda tanpa motif alias polos dengan lengan 3/4 dipadu celana jins abu cutbray dan sepatu kats putih. Sangat kasual. Tak pernah ada usaha lebih untuk menarik perhatian pria sekitar. Semua tampak biasa. Sama. 

Ya memang, aku tak pernah berusaha lebih untuk mencari perhatian pria. Dua puluh empat tahun tahun ini aku hidup dalam kesendirian. Hati ini tak pernah ramai oleh romantisme dan kegombalan. Entah aku normal atau tidak sebagai wanita. Tapi, aku pun sama sekali tidak tertarik dengan sesame wanita. Does it mean I'm still normal? I don't know.

Sore ini aku memang sedang benar-benar tidak punya kerjaan. Ini adalah akhir pekan yang sangat panjang buatku, karena senin tanggal merah. Jadi, sore ini setidaknya aku bisa tenang dan duduk manis di tempat paling nyaman sejagat.  Peak of The Sky Cafe. Semua orang yang mendengar nama kafe itu pasti bisa menebak dimana kafe itu berlokasi. Yup, kafe yang sering aku kunjungi ini terletak di sebuah dataran tinggi. Kata iklanya sih, highest quality at the highest place; tapi aku tidak terlalu yakin bahwa tempat ini adalah titik paling tinggi di kota Bandung. Tapi memang tempat ini adalah tempat paling tinggi yang pernah aku kunjungi. Tempat ini begitu dekat dengan langit. Ya minimal itulah yang pernah dibilang pemilik kafe ini dan aku percaya karena dia memang patut untuk dipercaya. Dia sangat baik dan optimis. Moto itulah yang membuat kafe ini terus bertahan. Spiritnyalah yang membuatnya tetap hidup.

Saat ini, mega terasa benar-benar berada di hadapan mata. Aku hanya tinggal menjulurkan tangan dan aku bisa meraihnya. Berlebihan. Tapi itulah yang aku rasakan saat ini. Aku merasa bisa mendekap orang yang berada jauh di atas sana. Dalam kesendirian semuanya bisa terbayangkan. Khayalan bisa teraih dengan mudahnya.

"hai, bengong saja Lo? Kesurupan baru tau rasa, Lo. Konon tempat ini kan masih banyak hantunya" Tiba-tiba saja sesosok wanita terlihat berada di belakangku. Aku bisa melihat siluet sosoknya di kaca yang sedang aku tatap.

"Kamu tuh hantunya. Selalu datang meski tak diundang" Ejekku pada dia yang sudah duduk didepanku dan meminum minuman yang aku pesan.

"Gue datang karena Gue tahu Lo pasti lagi butuh Gue saat ini? petang yang galau. Betul kan?" Wajahnya sangat tendensius. Seperti seorang polisi yang sedang sangat ingin mendapatkan kejujuran dari tersangka kejahatan yang sedang berada di hadapannya.

"Kamu bisa saja. Naik apa kamu kesini?" Responku balik bertanya.

"Terbang seperti biasa" jawabnya lugas. Selalu seperti itu. Urakan.

"Kamu memang hantu. Fix!" Tanggapku lugas

"...Dan Lo memang teman yang baik, selalu tahu apa yang sedang temanmu inginkan. Makasih ya" Ia memang terlihat sangat menginginkannya. Segelas teh lemon dingin.

"Tapi kenapa mereka tidak mau mengerti?" Tanyaku pelan. Tak ingin terlalu mengganggunya.

"Mereka bodoh, Nay. Mereka tidak mengerti apa yang Lo pikirkan dan yakini tentang hidup" jawabnya terbata di antara sela tegukan minumnya

"Mungkin karena aku terlalu beda, Ki" tanggapku singkat

"Justru mereka yang beda sama kita. Just Enjoy your life. Be your self!"

"Hehe... ya, karena aku terlalu menjadi diri sendiri, aku jadi benar-benar sendiri seperti ini"

"Gue?" dia berhenti dengan acara minum nikmatnya sembari menunjuk dada busungnya sendiri.

"Maksudku, jika kamu benar-benar gak ada, ya aku benar-benar sendiri" 

"Gue akan selalu ada buat Lo, Nay. Kecuali Lo benar-benar sudah gak butuh gue. Gue akan pergi" Jelasnya dengan muka yang sangat serius. Kening mengerut dan bibir mengerucut. 

"I need you" ucapku sendu

"Me too" ucapnya syahdu

Sore ini langit terlihat lebih mesra bermain dengan awan. Mereka lekat, menjingga bersama. Aku dan dia. Hantu.


***

Namanya Kiki. Nama unik yang melekat pada pribadi yang memang unik. Dia adalah seorang mahasiswi Bisnis. Bidadari jurusan. Teman-temannya menyebut dia seperti itu. Entahlah, katanya di angkatannya hanya dia yang berjenis kelamin wanita. Anomali, ya dia memang anomali dimanapun dia berada. Termasuk anomali dalam kehidupanku.

"Gue itu harta dalam tumpukan sampah. Lo beruntung sudah nemuin Gue" Itu kalimat yang selalu aku ingat saat pertama kali aku bertemu dengan dia malam itu. Malam saat aku hampir tak punya khayalan lagi. Kami langsung pas. Sepertinya takdir memang sudah menuliskan pertemanan kami dengan jelas dan lugas. Sejak malam itu, kami tak pernah terpisahkan. Bagai gula dengan manisnya, garam dengan asinnya, dan bratawali dengan pahitnya. Kami selalu ada, berdua.

"Besok kamu mau mulai melukis lagi kan, Nay?"

"Entahlah, belum ada inspirasi yang meluap. Semuanya masih di sini" ujarku sambil menunjuk ke kepala. Ya, selalu. Inspirasi untuk melukis selalu tertahan dalam otak. Semuanya hanya berakhir sebagai sebuah fantasi semu. Indah tapi tak bisa aku ungkapkan lebih. Tak bisa mengalir dalam aliran darah dan menggerakkan saraf jemari. Tak bisa terlukiskan dalam kanvas. Seringnya.

 "Coba pakai ini. meskipun Gue sendiri kagak tahu cara pakai organ ini dengan benar. Tapi kata orang hal itu cukup bekerja" Selanya sambil menunjukkan jarinya ke bagian tengah dadaku.

"Aku sudah lupa apa aku masih punya hati yang berfungsi baik atau tidak" tuturku sambil bertanya pada diriku sendiri

"Kamu tidak pernah jatuh cinta?" Kembali dia berperilaku seperti seorang polisi.

Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. Sebuah kenyataan yang sukar aku akui kebenarannya. Tapi ya memang seperti ini keadaannya.

"Lo gak lesbi kan, Nay?" tanyanya frontal

"Gila Lo"

"Kalau kamu lesbi, Gue siap kok jadi pacar Lo, haha" tawanya renyah. Dia memang selalu begitu. Sangat suka membuatku tertawa lepas. 

"Kamu tahu kapan saat seseorang bisa benar-benar menjadi diri sendiri?"

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala kecil

"Saat orang tertawa sangat lepas. Ikhlas dan puas" Jawabnya

Kami tertawa lepas sampai larut malam. Sampai langit menghitam lekat. Dan lampu di kafe ini mulai dipadamkan satu per satu. Pertanda bahwa kami memang harus secepatnya pergi. Tepatnya aku. Karena dia tampaknya sudah pergi tanpa sepengetahuanku tadi. Dia memang seperti itu, pulang tak diantar.

"Dia memang hantu" gerutuku lembut

Seorang pria berbusana safari berdiri di hadapanku dan menyimpulkan senyum lebarnya.


***

Sesak rasanya berada dalam ruangan yang satu ini. Sempit dan sumpek. Dan sebentar lagi puluhan pertanyaan akan silih bergantian ditanyakan. Puluhan pertanyaan yang menurutku punya maksud yang sama. Menyudutkanku sebagai seorang pribadi.

"Kamu adalah seorang pribadi yang unik. Dan hakekatnya semua manusia itu unik, termasuk saya. Jadi berhentilah untuk merasa sebagai orang aneh karena keunikanmu" Seorang wanita paruh baya berbicara di hadapanku dengan gaya anggunnya.

"Bukannya Anda pun menganggap saya sebagai orang yang aneh? Kalau saya tidak aneh, Anda tidak akan menahan saya dan menanyai saya pertanyaan-pertanyaan tadi"

"Karena saya peduli kamu"

"Karena Anda bisa hidup dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan aku"

Aku pun bergegas bangun dari dudukku dan pergi meninggalkan wanita paruh baya itu yang tetap masih terlihat duduk dengan tegasnya.

"Menurutku dia aneh, baju vintage dan wangi parfum beraroma tanah yang sangat menyengat" gerutuku dalam hati sambil meninggalkan ruang itu.


***

"Apa kata Gue? Lo gak pernah mau percaya dengan apa yang gue katakan. Dia gak akan pernah bisa membantu Lo. Mana bisa semua imajinasimu berbaur dengan obsesinya" Kiki kembali hadir saat aku benar-benar butuh seseorang, meski bukan dia yang aku butuhkan saat ini.

"Aku hanya butuh orang yang bisa mendengarkanku dengan seksama"

"Kan ada Gue"

"Kamu gak selalu ada buat aku"

"Tapi kan kita bisa ketemuan kalau Lo mau. Gue pasti akan selalu ada"

"Intinya aku butuh persepsi lain" Jawabku menjelaskan semuanya

"OK. Sekarang Anda minta diantar kemana tuan putri? Hamba siap mengantar baginda"

"Berlebihan kamu"

"Nah gitu dong, tertawa!"

"Antarkan aku ke rumah sakit" Pinta aku sambil menggenggam tangannya

"Dasar orang sakit" 

Dan kami pun pergi


***

Ada apa dengan langit?
Aku begitu ingin menggenggamnya

Ruang ini sepi. Ruang yang sangat cocok untuk pribadi sepertiku. Menyendiri. DitaMbah dengan empat lukisan indah di setiap sisi dindingnya. Memang benar kata orang, Rumah sakit ini lebih dikenal sebagai rumah sakit galeri ketiMbang rumah sakit ibu dan anak. Tidak ada boneka, robot-robotan, balon, bola, dan permen. Padahal...

"Karena ini memang laboratorium untuk menciptakan anak" jawab seorang wanita dengan baju lab serba hijau yang keluar dari ruangan kecil di sebelah kiri ruangan tempatku duduk. Wanita itu adalah Mba Ina. Dia adalah sahabat kecilku yang beberapa tahun lalu sempat menghilang dari kehidupanku. Padahal sebelumnya kami tidak pernah terpisahkan. Dari kecil kami selalu bersama hingga sebuah mimpi memisahkan kami berdua cukup lama. 

"Mba memang selalu tahu apa yang aku pikirkan. Hebat" ungkapku sambil menepukkan kedua tanganku pelan.

"Nay, Mba dan kamu tuh satu hati, satu jiwa, satu detak, satu takdir. Apa yang kamu pikirkan, Mba pasti rasakan" jawabnya sambil menjatuhkan dirinya di sofa, tepat di sampingku.

"Tuhan kurang adil, kenapa coba cuma Mba yang bisa baca pikiran aku, tapi aku tidak bisa baca pikiran Mba"  gerutuku dalam hati.

"Sudahlah, berhenti kamu menyalahkan Tuhan" Ujar Mba Ina. Sekali lagi Tuhan yang tidak aku percayai sama sekali menunjukkan mukjizatnya. Dia telah menciptakan mahkluk secanggih Mba Ina yang bisa membaca pikiranku dengan sempurna. Tapi Dia tak pernah membuatku seperti itu. Dia senantiasa memberiku keterbatasan. Keterbatasan dalam melakukan segala hal yang aku mau.

"Berhentilah menyalahkan apa yang terjadi dalam hidupmu. Mari kita bicarakan apa yang hendak kamu bicarakan pada Mba, Nay" Tegasnya sembari memegang tanganku. Dia memang tahu aku sedang membutuhkannya.

"Sepertinya aku tidak perlu menceritakan apa yang hendak aku ceritakan pada Mba. Mba pasti sudah tahu saat dimana aku memikirkannya" Ya. Itu pasti.

"Kamu percaya mimpi?" tanyanya pelan padaku

"Ya. Tapi hal itu sekedar menjadi obat penenang disaat aku gelisah, Mba. Percaya saja tidak cukup membuatku mencapai mimpi" 

"Tepat"

"Yah dan aku tepat mendatangi Mba saat ini. Benarkan?"

"Mungkin. Saat ini Mba sudah mencapai apa yang orang lain harapkan. Tapi jujur Nay, Mba belum bisa mencapai apa yang Mba inginkan"

"Lalu apa yang sebenarnya Mba inginkan?"

"Mba ingin seperti kamu"


***


Nampaknya Bandung sedang berduka. Banjir dan longsor dimana-mana. Tahun ini memang ditutup dengan musim hujan. Musim yang tahun lalu susah untuk datang dan sangat cepat berlalu. Tapi tahun ini semuanya kembali normal, hujan turun hampir di semua bulan berujung "ber".  September, Oktober, November, sampai penghujung tahun ini, Desember.

Dan saat ini pun hujan
Derainya selalu memberiku ingatan manis
Tentang dahulu yang sempat manis

Ya. Saat ini aku berada di sebuah panggung kayu yang merupakan bagian favoritku di Peak of the Sky Cafe. Selain lebih dekat dengan langit, aku juga bisa menyendiri. Entah kenapa, orang lain tidak pernah ingin duduk di bagian kafe yang satu ini. Kata pemilik kafe ini, saung ini memang diciptakan khusus untukku. Entahlah. Tapi aku punya persepsi lain. Tempat ini seperti punya ikatan denga sebuah ruangan di dimensi lain. Aku bisa merasakannya dengan jelas. Seperti ada sentuhan-sentuhan magis di setiap kubik ruangnya. Tapi aku sangat suka dengan ruangan ini. memberiku inspirasi untuk melukis.  Ruang berkhayal.Meski khayalanku itu tetap mengekangku disini. Aku masih tidak bisa menjadi diriku sendiri. Sepi.

"Sudah bertemu dengan Mba Ina Lo?" Tanya seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Suaranya tak asing lagi buatku. Suaranya sudah mengakar di saraf auditoriku. Bahkan aku mengenal setiap hentakan langkah yang ia ciptakan pada dinding kayu ruangan ini.

"Dia tidak memberikan solusi secara lugas, tapi aku tahu apa yang dia maksud"

"Ya, Doi memang selalu seperti itu, sok dewasa"

"Ya memang dia sudah dewasa, makanya saya panggil dia Mba. Kalau dia kekanak-kanakan seperti kamu, aku pasti panggil dia Ina"

"haha... benar juga ya. Makanya Lo tidak pernah sekalipun mencurahkan perasaan ke Gue. Lo selalu berpikir kalo Gue gak akan pernah kasih solusi terhadap masalah yang Lo hadapi"

"... Dan kamu merasa cemburu sama dia?" tanyaku pada dia yang sedang memandangi lukisan-lukisan yang terpajang di dinding.

"Tidak. Gue bukan tipe sahabat seperti itu, Nay. Gue tahu ada saat dimana Lo gak butuh Mba Ina, dan Lo cuma butuh Gue" Jawabnya sambil menatapku lekat. Aku suka tatapannya yang menurutku seharusnya dimiliki seorang pria. Tegas dan tajam namun teduh.

"Syukurlah kalau begitu" Aku kembali menyapukan kuasku pada kanvas yang masih setengah kosong.

"Hujan lagi ya?" Tanyanya dari belakang. Dia memang sangat cepat dalam melakukan pergerakan. Hanya butuh sepersekian detik sampai dia sekarang berada tepat di belakangku.

"Ya... seperti biasa. Kamu pasti mengerti" Sebagai seorang pelukis, saya tidak pernah mau keluar dari zona favoritku. Hujan, sebuah dimensi yang menurutku sangat indah. Bahkan luar biasa indahnya. Tetesnya merdu, angin yang diciptakannya lembut, melodinya sakral, dan terlebih aku punya kenangan yang mendalam dengan hujan.

"Kamu enggan melupakannya sedikitpun?" tanyanya padaku lembut

"Tidak"

"Gue gak bisa berbuat lebih untuk hal yang satu itu, Nay"

"Dan memang tidak perlu"

"Baiklah, mending kita tertawa, betul?"

Kami tertawa lepas seperti biasa sampai larut malam. Sampai langit menghitam lekat. Dan lampu di kafe ini mulai dipadamkan satu per satu. Pertanda bahwa kami memang harus secepatnya pergi. Tepatnya aku. Karena dia tampaknya sudah pergi tanpa sepengetahuanku tadi. Dia memang seperti itu, pulang tak diantar.

"Dia memang hantu" Gerutuku lembut

Seorang pria berbusana safari berdiri di hadapanku dan menyimpulkan senyum lebarnya.


***

Sesak rasanya berada kembali dalam ruangan yang satu ini. Sempit dan sumpek. Dan sebentar lagi puluhan pertanyaan akan silih bergantian ditanyakan. Puluhan pertanyaan yang menurutku punya maksud yang sama. Menyudutkanku sebagai seorang pribadi.

"Sekarang saya sudah memberi kamu ruang yang cukup luas untuk mencurahkan semua imajinasi kamu. Tapi kamu tidak henti-hentinya mengurung diri kamu dalam ruangan sempit itu. Saya sedikit bosan" Suara itu kembali bergemuruh di gendang telingaku.  Sebuah genderang perang.

"Aku tahu maksud Anda" Tegasku menegaskan arah pembicaraan.

"Anda sudah tidak ingin menampung ide-ide saya lagi kan? Anda memang tidak pernah mau mendengarkan keluhan saya. Anda sibuk dengan urusan Anda sendiri. Membangun bisnis Anda sebesar mungkin" Dia tidak bisa bicara lagi. Lipstik merahnya membeku, berubah menjadi ungu.


***

Seorang gadis berkaos biru muda tanpa motif alias polos dengan lengan 3/4 sedang duduk di sofa sebuah loby mungil yang dipenuhi lukisan. Dia menatap senti demi senti lukisan yang dipajang di setiap sisi dinding ruangan. Dia seakan menikmati cerita yang ada di setiap lukisannya. Meski semuanya tampak sama. Dia berusaha mencari perbedaan di setiap lukisannya. Namun semuanya nampak sama. Semuanya punya satu jiwa cerita.

"Kamu bagian dari cerita itu kan?" Ujar seorang wanita dengan baju lab serba hijau yang keluar dari ruangan kecil di sebelah kiri ruangan tempat Kiki duduk. Wanita itu adalah Mba Ina. Dia adalah sahabat kecil Nay yang beberapa tahun lalu sempat menghilang dari kehidupannya. 

"Ya... dan Gue sangat suka menjadi bagian dari Mba dan dia" jawab Kiki sembari menunjuk salah satu lukisan yang terpajang di dinding sebelahnya.

"Ok, mari kita bicarakan apa yang hendak kamu bicarakan"

"Dan Mba pasti sudah tahu apa yang mau Gue bicarain?"

"Ya. Tapi ceritakanlah kembali agar aku bisa lebih memahaminya" Tegas Mba Ina sembari menggenggam tangan Kiki

"Gue seperti melayang-layang gak jelas di tempat kuliah Gue sekarang. Susah buat menjiwai bisnis, Mba. Mba tahu kan apa yang Gue inginkan sebenarnya?"

"Terus apa saja hal yang sudah kamu lakukan untuk menyelesaikan masalah yang kamu hadapi?" Tanya Mba Ina lembut

"Gue ambil cuti untuk waktu yang tidak Gue tentukan. Dan Gue sudah bicara panjang lebar pada Ayah dalam mimpi"

"Dan dia setuju bukan?"

Kiki hanya mengangguk-angguk kecil pertanda mengamini pertanyaan dari Mba Ina. Dan mereka berdua menyimpulkan senyum yang serupa. Sama-sama manis.

"Kamu percaya mimpi?" Tanya Mba Ina pelan pada Kiki

"Ya. Tapi hal itu sekedar menjadi obat penenang disaat Gue gelisah, Mba. Percaya saja tidak cukup membuat gue mencapai mimpi dia menjadi seorang ahli bisnis" 

"Tepat"

"Yah dan Gue tepat mendatangi Mba saat ini. benarkan?"

"Mungkin. Saat ini Mba sudah mencapai apa yang orang lain harapkan. Tapi jujur Ki, Mba belum bisa mencapai apa yang Mba inginkan"

"Lalu apa yang sebenarnya Mba inginkan?" Tanya Kiki menyerobot

"Mba ingin seperti Nay" Jawabnya lembut

"Mimpi Mba sama seperti Gue. Sama seperti ratusan lukisan di gedung ini"

Hujan
Berilah aku arti lebih tentang semua petunjuk
Karena aku tersesat
Tak mengerti hidup yang aku jalani
Tantang aku
Agar aku hidup


***

Sesak rasanya berada kembali dalam ruangan yang satu ini. Sempit dan sumpek. Dan sebentar lagi puluhan pertanyaan akan silih bergantian ditanyakan. Puluhan pertanyaan yang menurutku punya maksud yang sama. Menyudutkanku sebagai seorang pribadi.

"Sudah puas kamu berimajinasi dalam memori sempitmu?" Tanya seorang wanita paruh baya di belakang sebuah meja besar.

"Apa kepentingan Anda dengan hal itu?" Aku balik menanyakan hal yang sama tajamnya kepada dia

"Dan cukup kamu memanggil saya dengan sebutan Anda. Aku ini ibumu dan masih sangat pantas dipanggil Ibu, Nay" Wanita itu berdiri sembari mengenakan kacamatanya. Ia nampak lebih tegas dengan kacamata itu. Matanya selalu berhasil membuatku menuruti setiap perkataannya. Tapi tidak untuk saat ini.

"Ya... Tapi Anda membuat hubungan kita menjadi formal. Entah bagaimana ini terjadi, tapi jurang yang tercipta cukup membuat aku melupakan hubungan kita" jawabku sambil melepas cap kepala warna hijau yang sedang aku kenakan.

Dan suasana seketika membeku. Yang aku lihat, dia hanya membuka lembar demi lembar buku tebal yang selalu ia agungkan. Hidupnya seakan bergantung pada buku-buku itu.

"Laporan menunjukkan keberhasilan bayi tabung di rumah sakit ini menurun tajam setelah kamu menggantikan embriolog sebelumnya. Tapi ibu akan selalu memberi peluang untukmu untuk jadi seorang embriolog hebat, Ibu akan mengirimmu ke Jerman supaya kamu bisa belajar lebih banyak" Jelasnya pelan dan halus. 

"Karena duniaku bukan di sini. Duniaku ada di situ!" jawabku sambil menunjuk lukisan yang ada di dinding ruangannya.

Aku pun berlari keluar dari ruangan itu. Semua pakaian lab aku lepaskan. Sekaligus aku berpamitan dengan Mba Ina. 

"Kamu jadi ke Prancis, Nay?"

"Iya Mba. Aku sudah pesan tiketnya untuk keberangkatan besok. Aku ingin pergi ke tempat dimana aku bisa belajar melukis dengan dimensi lain. Bukan cuma melukis kenangan masa lalu. Hehe... Aku ingin bertemu Davinci"

"Bagaimana lukisan-lukisan hujanmu yang terpajang di hampir semua sudut rumah sakit ini?"

"Aku akan merelakannya. Mudah-mudahan ibuku masih tetap bisa mempertahankan citra Rumah Sakit ini sebagai Rumah Sakit Galeri Hujan"

"Baiklah, Nay. Ini hari terakhir kita bertemu kan? Izinkan aku untuk memelukmu, Nay"

Kami pun berdekapan sangat erat. Hingga semuanya menjadi kosong. Mba Ina pun pergi. Ruangan meredup. Hujan besar melanda.

Dan aku pun pergi untuk mengejar mimpiku. Mimpi kami bertiga. Mimpi yang sama.


***

Hujan kembali meraja sepanjang hari. Bahkan sampai selarut ini. Tapi sekarang aku ingin benar-benar menikmatinya. Hujan terakhir di kota Bandung yang pasti akan menambah memoriku tentang hujan. Dan pastinya, aku akan susah untuk melupakannya. Termasuk tempat ini, Peak of The Sky Caf←. Tempat aku bermimpi manis dengan ayahku. Dahulu...

"Kamu akan tinggalkan ruangan ini dan semua lukisan hujanmu?" Tanya seorang wanita yang sangat aku kenal suaranya.

"Ya. Itu yang terbaik untukku saat ini"

"Itu saran Mba Ina?" tanyanya lagi

"Bukan. Dia akan menghilang lagi untuk waktu yang tidak bisa diprediksi"

"Dan kamu pasti akan sangat membutuhkan Gue sama seperti saat dimana Mba Ina ninggalin Lo beberapa tahun yang lalu?"

"Aku harus secepatnya berubah, Ki. Dunia bukan milik kita bertiga saja. Hujan memberiku isyarat lain tentang aku dan langit"

"Apa?"

"Bahwa mimpi kamu yang sangat tinggi melambung itu pasti bisa tercapai. Seperti butiran es besar yang turun ke bumi melintasi kejamnya gesekan atmosfer dan sampai ke bumi hanya dalam bentuk tetesan hujan. Aku harus bisa melewati semua rintangan agar mimpiku tercapai. Aku harus melupakan mimpi orang lain untuk mewujudkan mimpiku" aku berusaha untuk tidak menyinggung perasaannya.

"Termasuk melenyapkanku. Sama seperti kamu melenyapkan sosok Mba Ina mu?"

Aku hanya mengangguk pelan. Tak tega rasanya untuk melepaskan Kiki. Dia sahabat terbaikku saat ini. Dia adalah sisi optimisku. Dia adalah sisi urakanku. Dia adalah sisi naturalku; bergairah, muda, dan unik.
"Baiklah, Nay. Seperti yang pernah Gue bilang sebelumnya. Gue akan ada kalau Lo butuh Gue. Tapi Gue akan sangat sudi menghilang dari hidup Lo jika Lo sudah gak butuh Gue"

"Makasih kawan" dan kami pun berdekapan sangat erat sampai aku benar-benar merasakan dia hilang dan pergi dari dekapan.

Kini aku benar-benar sendiri dan bisa menjadi diriku sendiri. Tidak seperti Mba Ina, ciptaan Ibuku, atau Kiki, harapan ayahku. Aku ingin menjadi Kinar, seorang pelukis hujan.

Seorang pria berbusana safari berdiri di hadapanku dan menyimpulkan senyum lebarnya.

Ayah

Aku tak akan melupakanmu dan tempat ini.


***

Beberapa tahun yang lalu...

Hari ini adalah hari yang spesial. Meskipun hanya dua orang yang benar-benar berbahagia untuk hari ini; Aku dan Ayahku. Semenjak perceraian orang tuaku empat bulan yang lalu, aku tinggal bersama ayahku. Entah kenapa, sebagai seorang anak perempuan, aku terhitung seseorang yang menyimpang dari kebiasaan, Anomali. Aku lebih nyaman hidup bersama ayahku. Merangkai mimpi bersamanya. Mimpi seorang pekerja keras.

"Ayah mau ajak aku kemana?" Tanyaku pada seorang pria berbaju safari terganteng di dunia yang sedang menyupir di sampingku.

"Ke tempat paling tinggi di kota Bandung" jawabnya optimis. Ya, dia memang selalu optimis bahkan di saat semua orang tidak yakin apa yang dia jalani itu akan berhasil.

"Masa sih?" tanyaku menguji keoptimisannya

"Ya. Disana kamu bisa menyentuh langit dengan mudah" Dia sangat tahu apa yang sangat aku inginkan

"Itu hanya hayalan" sekali lagi aku berusaha menjatuhkan keoptimisannya

"Bukankah memang ribuan khayalan yang diperlukan seorang pelukis?" dan aku pun hanya menyimpulkan senyumku padanya. Pertanda dia telah berhasil menumbuhkan optimismenya padaku.

Kami bercanda sepanjang jalan sampai-sampai aku tidak sadar bahwa kami sudah sampai ke tempat tujuan.
Sebuah kafe bernuansa kayu yang cantik menyambut kedatangan kami berdua.




Peak of The Sky Cafe
highest quality at the highest place

"Namanya keren, Yah" seruku kagum sembari melihat sebuah nama yang melingkar di pintu gerbang restoran yang baru Ayah buka dari balik jendela mobil.

"Iya. Terinspirasi dari kamu yang suka akan langit dan semua fenomenanya" jawabnya 

"Langit buatku berarti bebas dan penuh hal-hal aneh yang tak pernah orang pikirkan sebelumnya. The real of Imagination. Alien, galaksi, supernova, bintang kembar, meteor, komet, materi hitam, blackhole, supermoon, gerhana, dan..." aku menjelaskan panjang lebar tentang gairahku sampai ayah memotong dengan sebuah kata,

"Hujan" potongnya

"Ya, dan kita harus cepat masuk supaya tidak basah dan flu" kami pun berlari melintasi derasnya hujan di puncak sebuah gunung. Hujannya terasa berbeda. Bulirnya lebih besar dan terasa.

Ayah menunjukan satu persatu ruangan di kafe barunya dengan bangga. Kebanggaannya terpancar dari raut muka yang terpancar dari muka optimisnya. Aku pun bangga memilikinya, Ayah.

"Dan ini ruangan terakhir yang akan ayah tunjukkan. Ruangan tertinggi di kafe ini"

"Ruang Khayalan?"

"Hemmmm.... Iya. Disini kamu bisa mencurahkan segala kreativitasmu dengan bebas, dan yang terpenting ruangan ini akan mendekatkanmu dengan langit, ruang imajinasimu" Perlahan ayah membuka rungan itu. Perlahan pula aku bisa menghirup wangi cat yang menempel pada kayu yang memberikan nuansa tanah yang lekat. Sebuah ruangan berlantai, berdinding, dan beratap kayu. Di dalamnya terdapat sebuah lemari penuh dengan puluhan botol cat warna warni dan kuas-kuas yang tersimpan rapi di sebuah gelas besar. Ada juga sebuah kursi dan puluhan kanvas kosong.

"Isilah dengan semua imajinasimu,  jangan biarkan mereka kosong. Tapi..."

"Tapi apa, Yah?"

"Ayah sudah tua, Kinar. Tidak selamanya ayah bisa mengurusi bisnis kafe ini. Ayah harap kelak kamu bisa belajar bisnis tanpa menghilangkan hobi kamu dalam melukis. Suatu hari ayah juga berharap kamu bisa benar-benar menginjakkan kakimu di Negara Davinci, Prancis"

Aku hanya mengangguk pelan tanda aku mengamininya, meski setengah hati.

Dia pun tersenyum padaku di hari istimewa bagi kami berdua yang sekaligus merupakan hari terakhir dimana kami berdua bertemu. Setelah hari itu, aku tidak pernah melihatnya lagi. Ibuku memenangkan hak asuhnya di pengadilan. Aku terpaksa harus tinggal bersama ibuku dan tidak menemui ayah.  Selamanya.

Ibuku benar-benar egois. Dia benar-benar ingin membentukku menjadi pribadi yang ia inginkan.

"Kamu harus membantu ibu menjalakan bisnis ibu. Kamu harus menjadi embriolog handal. Menciptakan keajaiban dan yang paling penting, lupakan ayahmu"

Begitu bencinya ibu kepada ayah sampai-sampai aku tidak diperkenankan untuk menghadiri acara pemakaman ayahku. Ya, ayah meninggal dua bulan setelah kami bertemu. Saudaraku bilang bahwa ia terkena serangan jantung dan ia meninggal di kafenya sendiri. 

Beberapa tahun setelah ayah meninggal, aku baru bisa mengunjungi makam ayahku yang sudah tidak basah lagi. Sudah lama aku melewatkan semuanya.

Mati


***

"Apakah aku harus pergi dari hadapanmu, Nay?" Tanya seseorang disela sesegukanku di hadapan kanvas-kanvas kosong di ruangan yang sangat istimewa bagiku saat ini. Ruang khayalan.

"Iya, sekarang aku hanya ingin sendiri" jawabku terbata

"Baiklahナ Aku akan pergi. Panggil aku kapan saja kau perlu. Dan kamu harus tahu, aku bisa mewujudkan mimpi ibumu untuk membuatmu menjadi seorang embriolog" jelasnya lembut sambil mendekapku erat. 

Sebuah salam perpisahan sementara.

Saat itu hujan sangat deras dan aku begitu dekat dengan langit. Aku membuka jendela dan menengadahkan kedua tanganku, berusaha menggenggam rintik hujan. Kilasan kenangan antara aku dan ayah bermunculan. Hingga aku ingat akan sesuatu.

"Pasti Lo butuh Gue untuk mewujudkan mimpi Ayah Lo kan? Businessman, eh salah. Maksud Gue Businesswoman. Haha...." Kelakarnya aku sangat kenal pasti, dia Kiki. Sahabat khayalanku yang urakan.

Kami berbincang hebat
Aku dan hujan
Kami selalu bersama
Dalam melodi damai penuh kesan kerinduan


*Ditulis saat musim hujan di akhir tahun 2012

Read more >>

Sabtu, 08 Desember 2012

Lagu Hujan


Hujan adalah sebuah surat cinta untuk mereka yang sedang merindu
Kalian bisa terdiam sejenak mengenang masa lalu
Terhipnotis dinginya udara dan sendunya rintik bisu
Bahkan mungkin lebih dari itu
RINDU

Hujan adalah sebuah isyarat keabadian
Air menguap dari samudera menuju langit
Saat dimana hujan segera turun mengembalikan semuanya
Tanpa kecuali
DOSA

Hujan memang mendung
Tapi hujan juga berarti pelangi
Hujan memang basah
Tapi hujan juga bermakna lepas
Hujan memang dingin
Tapi hujan punya arti sendiri
Bagiku hujan adalah kenangan indah
Tentang ia yang berlari dalam genangan dalam
Waktu itu, dalam kenangan

Di dalam rinai hujan, ada sebuah lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu
Maka dengarkanlah
Sebelum semuanya usai
Saat reda
Read more >>

Bagi Saya Hidup Itu.........


Bagi saya hidup ini manis
Dalam pekat dan rumitnya kehidupan
Setegun gula dalam secangkir kopi

Seseorang pernah berkata
Bahwa hidup tak lebih dari persimpangan sesaat
Sedang saya tak pernah mau mengerti
Meski tahu
Bahwa hidup yang manis itu hanya sebentar saja

Bagi saya hidup itu indah
Dalam kelam dan gelapnya kehidupan
Setegar bintang di tengah materi hitam galaksi

Seseorang pernah berkata
Bahwa cintanya tak akan padam
Sedang saya tak pernah bisa paham
Akankah ia tetap mencinta saat saya tiada?
Bahkan saat saya akan tiada?

Cahaya adalah gambaran dari ketidakjelasan
Materi atau gelombang
Kecepatan kilat yang tak pernah bisa teraba
Menghilang bersama takdir saya
Yang tak jelas dan mungkin akan cepat berlalu

Read more >>

Jumat, 07 Desember 2012

UJUNG MUSIM


Ini tulisan di penghujung tahun
Tentang saya yang masih seperti dulu
Meski tak sama mutlak
Saya lebih dekat kepada kematian
Ya.... Apa salah saya, Tuhan?

Bukan saatnya untuk bertanya lagi
Hujan telah menjawabnya
Saya hanya tinggal memaknainya
Ujung tahun berarti akhir sebuah musim
Tapi bukan akhir dari mimpi
Meski sukar untuk terwujud

Jika saya pergi kemudian,
Kenanglah saya dalam semua bentuk kehadirannya
Read more >>

Selepas Hujan



“Perasaan itu bersifat absolut”

“Bagi saya tidak demikian”

“Umumnya begitu, tapi kenyataanya apa yang saya rasakan saat ini berbeda”

“Kamu memang berbeda, makanya saya suka”

“Tapi tidak untuk sekarang dan selamanya”

“Selamanya?”

“Iya”

“Tak pernahkah ada sedikit celah untuk saya”

“Ibaratnya hujan yang tumpah, tak bisa lagi kamu berharap untuk menahanya sampai ke tanah. Basah”

“Saya paham semua perumpamaan hujanmu. Hujan, hujan, hujan… Mengapa semuanya tentang hujan?”

“Masih ingatkah kamu akan bentuk awan yang indah saat kita menatap langit yang sama waktu itu?”

“Iya… Saya tidak akan pernah melupakan hal itu. Saat itu saya berharap hari akan tetap cerah. Namun birunya langit tak menjamin semuanya. Kita terkurung hujan seharian, bukankah?”

“Iya. Dan saya sangat menyayangkannya. Saya kira semuanya akan tetap cerah, namun kamu telah membuatnya redup, bahkan padam sepadam-padamnya”

“Maaf”

“Terlambat. Kata maaf tak ada artinya saat ini. Kamu seperti berteduh di bawah pohon setelah hujan reda. Percuma… kamu malah basah”

“Hujan”

“Ya… HUJAN. Sebaiknya kamu cepat pergi. Saya tak pernah mengharapkan menatap matamu lagi”

“Maaf jika saya akan tetap mencintai kamu”

“Silahkan, tapi kamu hanya buang-buang waktu saja”

“Tidak. Saya menikmatinya, apalagi kalau kamu tahu bahwa saya masih mencintaimu”

“Kamu memang pintar bercanda. Pergilah, ramalan cuaca mengatakan hari ini akan hujan. Nanti kamu sakit”

“Saya tidak pernah percaya ramalan. Perasaan dan ramalan tak pernah bernilai absolute. Bisa berubah…”

“Terserah, saya mau pergi….”

“Silahkan”
Read more >>

Rabu, 21 November 2012

Hujan Mimpi


Hujan datang lagi
Merintangi langkah dengan genangan yang mengalir
Menengadahlah engkau wahai musafir!
Rengkuhlah kesegaran dari kefanaan
Rasakanlah ia  sebagai nikmat kemudian
Dan bermimpilah bahwa esok hujan akan kembali datang
Jika ia membuatmu senang
Tenang

Tak ada yang salah dengan mimpi
Tak ada batasan untuk bermimpi
Ruangnya begitu luas
Tak terbatas
Melampaui apa yang kau pikirkan

Pernahkah kau bermimpi untuk makan pagi ini?
Bagi saya itu bukan mimpi
Itu hanyalah harapan kecil seorang pecundang
Bagi saya mimpi adalah sesuatu yang sukar saya capai
Memang tak normal
Tapi bisa disembuhkan dengan usaha untuk mencapainya

Bermimpilah
Sampai kau paham bahwa semesta amatlah kecil

"Rezeki itu Ghaib"
"Ya... Bismillah"
Read more >>

Rabu, 14 November 2012

Bandung Basah


Semalam, Bandung basah
Dan pagi ini menjadi dingin

"Kebekuan antara kita adalah lumrah
Ia datang karena tak pernah ada kata yang tepat untuk diutarakan
Semuanya pasti berkonotasi tidak baik
Semuanya persepsimu
Dan kamu berpesta untuk itu
Elaborasi
Dan merinci setiap kemungkinan
Padahal semuanya terlalu jauh
Saya disini
dan kau berdiri jauh di ujung jalan"

Semalam, Bandung basah
Dan pagi ini menjadi dingin
Read more >>

Senin, 12 November 2012

Instrumental Patah Hati


Di sebuah hari
Di suatu siang
Di satu ruang yang masih sama
Saya duduk mengenangmu
Dalam kursi yang kokoh, sedikit rapuh
Hati....

Mendengarkan sayup-sayup instrumen mendayu
Sebuah lagu perpisahan yang sengaja ia buat di tanggal itu
katanya...

Benar
Melodinya begitu patah
Nadanya begitu risau
Ia memang patah hati
Ia memang mengenangmu dalam
Dengarkanlah kawan
Pasti kau lebih paham

Usahlah menggalau
Hujan akan segera menghapusnya
Hilang
Sore ini
Karena di luar sudah mendung
Sama seperti lagu ini

inspired by: Seems Like Yesterday
Read more >>

Sabtu, 10 November 2012

Terketuk


Ya... dan saya terketuk
"Beri saya waktu"
"Waktumu telah lama habis oleh penantian"
Ya... dan saya terketuk
Tak
Tik
Tak
Tik
Tuk
Ya... dan saya terketuk
Read more >>

Selasa, 06 November 2012

Do'a di Hari Spesial..





Dear My Duke.. Today is yours..
Happy Milad 24th..

24 tahun, usia yang sudah menunjukkan tingkat kedewasaan yang lebih tinggi.

Semoga Allah selalu membimbing Aa menuju titik yang lebih baik dalam segala aspek kehidupan..
Sehat selalu... Rezeki yang halal dan berkah... Nikmat iman dan taqwa... Nikmat cinta dan kasih sayang...

Aamiin...

With love,
-dtee-


Read more >>

MEMOAR 24



Ketika semuanya kembali ke detik itu
Saya hanya bisa bertanya
“Sampai dimanakah hidup yang telah saya jalani?”

Sesosok tubuh yang hidup di dimensi ruang dan terdiri atas sejumlah organ; yang terdiri dari sejumlah jaringan; yang terdiri dari sejumlah sel; yang terdiri atas sejumlah komponen; yang terdiri dari sejumlah senyawa; yang terdiri dari sejumlah unsur; yang terdiri dari sejumlah atom; yang terdiri dari sejumlah elektron dan inti; yang terdiri dari sejumlah neutron dan proton; yang terdiri dari sejumlah quark; yang terdiri dari apapun yang belum dan sangat ingin diketahui. Itulah saya.

(1)
7 November 1988
Tahun pertama tak pernah saya ingat
Hanya cerita sedih yang saya dengar saat ini
Dan hal itu yang membuat saya seperti saat ini
Saya tak ingin mengulang luka
Saya ingin melenyapkanya jauh
Pergi dari pandangan

(2)
Tahun kedua pun,
Entahlah
Yang saya tahu, sosok lembut itu selalu memberi saya cinta
Entah seberapa besar
Yang pasti ia bergelar malaikat cantik
Kau pun bisa menerka dari gelarnya

(3)
Tahun ketiga pun,
Entahlah
Yang saya tahu, sosok lembut itu selalu member saya kasih
Entah seberapa besar
Yang saya tahu, sosok itu berhasil membuat saya bisa berdiri
Sosok itu mulai melepaskan kehendak penuhnya
Ia izinkan saya berpetualang
Meski tak sepenuhnya
Saya tetap bayi mungilnya

(4)
Tahun keempat saya bisa bermain dengan sebaya
Berlari bersama kakak yang tidak mau dipanggil dengan panggilan layaknya kakak
Kami teman
Teman sebaya
Kami bersama menyanyikan lagu dari penyanyi pujaan
Popy mercury

(5)
Tahun kelima saya tidak mau sekolah
Saya belum puas menjadi anak kecil yang selalu dimanja
Dan punya waktu banyak untuk berleha-leha
Saya masih rindu harumnya tanah dan sengatan surya
Saya masih rindu cekikikan dan tangis lepas
Saya masih ingin menjadi orang bodoh yang mau dibodohi
Karena saat itu senang
Saya tak perlu pusing akan keadaan sebenarnya
Karena saya masih bisa dibodohi
Supermie bisa jadi Indomie saat itu
Lebih murah.

(6)
Tahun keenam saya masih tidak mau sekolah
Saya masih belum puas menjadi anak kecil yang selalu dimanja
Tapi teman-teman telah pergi di pagi hari
Saya hanya sendiri di lapangan sepi
Menggaruk tanah semau yang saya mau
Tak lagi ramai ternyata
Ya sudahlah
Mungkin ini saatnya

(7)
Tahun ketujuh saya baru masuk sekolah dasar
Dengan otak yang super kosong
Yang saya paham hanya lagu popy mercury dan bau tanah yang basah
Tak bisa baca, hitung, dan tulis
Hanya terpesona dengan teman sebaya lainnya
Mereka datang dengan otak yang sudah setengah isi
Tinggal diruncingkan, dan bisa ditampilkan
Ibu mereka tersenyum dibalik jendela
Sedangkan mamah saya?
Dia pun tersenyum. Mungkin menyemangati saya
Dan saya hanya bisa menangis minta pulang
Saya tidak sanggup menjadi pintar
Saya lebih baik menjadi bodoh
Tapi… malaikat cantik itu mengulurkan tangan lembutnya
Ia menggapai saya yang sedang terpuruk lemah
Tiap malam ia syahdu membacakan ceritera dan membimbing saya untuk menuliskan huruf demi huruf
Menyusun angka menjadi sebuah bilangan
Menjumlahkannya dan mengurangkannya
Akhirnya saya bisa membedakan mana Supermie dan mana Indomie
Saya sedikit pintar
Sedikit
Tak banyak
Sampai akhirnya di caturwulan pertama, tahun pertama, saya dinisbahkan sebagai peringkat ketiga di kelas
Mamah saya kembali tersenyum dibalik jendela
Dengan senyum yang lebih lebar
Senyum bahagia
Tapi nilai membaca saya masih ditulis dengan tinta merah
Saya memang belum terlalu pintar

(8)
Tahun kedelapan saya mulai mengerti arti sekolah
Semangat untuk menjadi pintar mulai menyeruak
Saya paham, di ruangan ini kami berkompetisi
Siapa yang lebih pintar ia akan disayangi gurunya
Ya
Dan saya selalu haus kasih sayang dan perhatian
Saya harus pintar
Dan akhirnya tidak ada angka bertinta merah di buku laporan catur wulan
Yang ada hanya angka satu dikolom peringkat
Hore
Tapi
Perayaan tak berlangsung lama
Nenek saya saat itu pergi
Tanpa permisi
Saat kami; mamah, saya, dan kakak sedang ada di kebun
Setelah memakan semangkuk baso bersama
Ia pergi
Selamanya
Dunia pecah
Saya pun lemah

(9)
Tahun kesembilan saya mulai paham arti sekolah
Kompetisi tidak hanya melingkupi ruangan kecil berisi 60 orang siswa saja
Saya bisa bersaing dengan siswa lainnya
Dalam berbagai kompetisi
Saat itu saya mengambil jalur menyanyi
Suara saya lumayan bagus
Saat itu.

(10)
Tahun kesepuluh saya masih tetap pada peringkat teratas di kelas
Saya pun bisa menjuarai beberapa kontes menyanyi
Entahlah
Saya tidak mengerti saat itu
Kenapa saya jadi suka menyanyi
Padahal saya adalah seorang yang sangat pemalu
Saya hanya akan keluar rumah saat sekolah
Pun di rumah, saya hanya diam membisu dalam ruang redup
Ditemani sebuah televisi tua
Sendiri.

(11)
Tahun kesebelas saya masih sendiri
Tak ada lagi canda gurau dan bau tanah basah
Yang ada adalah lantai yang basah
Dan kaki yang basah
Tangan yang basah
Dan pipi yang basah
Saya menjadi sensitif
Entahlah
Buku telah memenjarakan saya dalam ruang sempit
Otak saya telah dicuci di sekolah
Bahkan saya lebih ingin belajar daripada makan
Apalagi bermain dengan sebaya
Yang ada di otak saya hanya bagaimana caranya untuk menjadi orang di jajaran paling atas
Yang ada di otak saya hanya bagaimana caranya mengalahkan lawan
Jiwa kompetitif saya telah mencapai puncaknya
Bahkan mungkin berlebihan.

(12)
Tahun keduabelas saya makin berlebihan
Yang saya mau hanya ingin menjadi lulusan terbaik
Dan itu memang terjadi
Meski tanpa upacara adat seperti biasanya
Saya hanya bisa merayakannya dalam sepi
Sendiri.

(13)
Tahun ketigabelas saya masuk ke sekolah dengan tingkat lebih tinggi, SLTP
Disana saya tetap mengembangkan bakat olah suara saya
Meski suara saya tidak sejernih sebelumnya
Lebih berat
Dan tak karuan
Fals
Tak tepat nada
Akhirnya, membaca puisi adalah hal lainnya
Saya mulai terpikat
Akan kata-kata yang bisa membuat saya melayang
Bahkan tak bisa kembali ke dunia nyata
Saya masih sendiri
Saya masih punya jiwa kompetisi yang berlebihan
Saya anggap teman adalah lawan potensial
Saya tak bisa terus berdekatan
Saya ingin menjadi yang pertama
Dan memang saya bisa membuktikannya

(14)
Tahun keempatbelas saya mulai merasakan debaran yang aneh
Belum pernah
Dan belum terjadi sebelumnya
Entahlah
Mereka terlihat memikat mata
Dan menggetarkan palung hati
Cinta?
Hahaha
Nampaknya terlalu dini untuk membicarakannya
Tapi rasa itu mengganggu
Dan memang begitu

(15)
Tahun kelimabelas saya makin tak fokus
Yang saya pikirkan hanya satu kata itu
Kapankah saya harus mengungkapkannya?
Kapan?
Saya terus bergelut dengan perasaan
Sampai saya benar-benar kalah dan terjatuh hebat
Di buku laporan semester, tidak ada lagi angka 1, yang ada angka 2
Memalukan
Tapi saya bisa lebih cepat menyadarinya
Saya bisa bangkit
Dan mengulang semuanya
Saya bisa lulus dengan predikat terbaik
Mamah saya kembali bisa tersenyum
Dan saya bisa menjadi seorang pengantin sekolah
Akhirnya.

(16)
Tahun keenambelas saya masuk jenjang yang lebih tinggi, SMA
Saya ingat waktu itu saya sangat susah untuk beradaptasi
Karakter teman sebaya nya lebih bervariasi
Dan saya pun ada di kelas antah berantah
Entahlah
Meski di sana saya bisa menjadi yang terbaik, tapi tak terasa megah
Saya hanya berusaha menikmatinya sampai disaat saya bisa pindah ke kelas pilihan
Bertemu dengan teman sebaya pilihan
Saya senang
Itulah tempatnya
Tempat dimana saya bisa berkompetisi
Kembali menjadi petarung tunggal
Yang egois dan tak peduli sekitar
Saya hanya ingin menjadi yang terbaik
Dan terjadi

(17)
Tahun ketujuhbelas ruang hidup saya semakin sempit
Kamar
Matahari hanya dapat saya rasakan dari celah jendela
Sedikit
Mungkin karena hal itu kulit saya menjadi lebih putih
Entahlah
Semuanya menjadi kaku
Yang saya baca hayalah buku
Saya kaku karena buku

(18)
Tahun kedelapanbelas adalah ceritera lainnya
Saya kembali kehilangan seorang nenek
Ia yang selalu menangis saat saya bisa melakukan lebih dari cucu lainnya
Ia pergi dalam tatapn yang menatap saya
Sedih
Tapi tak harus seperti itu
Karena mimpinya ada di pundak saya
Ia menginginkan saya untuk tetap menjadi yang terbaik
Saya pun harus tetap ingin lulus dengan predikat terbaik. Untuknya
Saya berjuang mati-matian
Melupakan makan, tidur dan main yang memang sudah saya lupakan sejak dulu
Dan perjuangan itu memang terbayar manis
Saya bisa mewujudkan mimpi saya
Sekian?
Tidak.

(19)
Tahun kesembilanbelas saya berusaha menjadi lebih madiri
Saya bongkar dinding kamar dan berlari ke kota impian
Bandung
“Kamu itu penakut, Dek”
“Apa kamu berani tinggal sendirian di kota yang jauh dari rumahmu?”
Tentu.
Saya hanya ingin merubah garis hidup
Dan saya paham
Di rumah saya tidak bisa berkembang lebih baik lagi
Saya harus pergi
Hijrah
Disana saya bisa bebas, lepas
Tanpa kekangan
Dan bisa menikmati rasa cinta
Cinta yang sempat saya tunda
Tapi ia sudah meminta
Baiklah
Mari kita lanjutkan

(20)
Tahun keduapuluh saya bisa menyesuaikan ritme hidup
Saya menikmati kehidupan
Saya mereguk wewangian
Saya kenyang kemudian lemas
Saya bisa mengenggam takdir sendiri
Saya mulai lupa Tuhan
Padahal Dia-lah yang menggenggam tangan mungil saya
Miris

(21)
Tahun keduapuluhsatu saya kembali tak bisa menikmati kenyataan
Saya bergelut dengan obsesi yang berlebihan
Saya benci semua teman
Semuanya adalah lawan
Saya harus menjadi pemenang

(22)
Tahun keduapuluhdua saya bisa mencicipi segarnya rumput di Negara lain
Tak pernah ada dalam cita-cita saya sebenarnya saat itu
Semua terjadi karena kehendak-Nya
Kun fayakun
Kekuatan doa
Satu hal yang sempat saya ragukan kekuatannya
Tuhan
Hingga saya bisa mencapai pula obsesi saya
Kembali lulus dengan predikat terbaik
Hore.

(23)
Tahun keduapuluh tiga saya mulai bekerja
Di tempat yang masih jauh dari rumah
Saya seorang pengembara
Yang sempat kembali kehilangan arah
Saya mati langkah
Saya tak bisa membelalakkan mata
Saya hilang arah
Tak ada yang menuntun saya
Saya benar-benar sendiri
Sunyi

(24)
Tahun keduapuluhempat
Saya masih melanjutkan obsesi
Mencapai semua mimpi
Dengan kepercayaan akan kekuatan doa
Dan cinta dari orang-orang yang saya cintai
Dan menyadari bahwa cinta bisa kapan saja pergi
Bahkan cinta kedua mahkluk yang telah puluhan tahun bersama
Ia bisa lenyap
Menjadi benci
Karena sebuah pengkhianatan
Maka belajarlah!
Dan jadilah manusia sehat
Bukan ia yang suka berbaring di kasur lemas
Kejarlah mimpimu, Nak!

(25?)
Tahun keduapuluhlima?
Entahlah
Saya bukanlah seorang pembaca takdir hebat
Saya hanyalah pemimpi kecil yang bermimpi untuk menjadi besar

Tuhan
Dekatkan saya dengan takdir baikmu
Bimbinglah saya dengan tangan Maha Besar-Mu
Sehatkan keluarga saya
Sempurnakan hidup saya
Damaikanlah negeri saya
Amin.

Saya adalah seseorang pemimpi yang hidup dalam dimensi waktu. Hari ini; yang merupakan perwujudan dari mimpi saya kemarin; yang merupakan perwujudan dari mimpi saya kemarin lusa; yang merupakan perwujudan dari mimpi saya seminggu yang lalu; yang merupakan perwujudan dari mimpi saya sebulan yang lalu; yang merupakan perwujudan dari mimpi saya setahun yang lalu; yang merupakan perwujudan dari mimpi saya sewindu yang lalu, yang merupakan perwujudan mimpi orang tua saya 24 tahun yang lalu.

Ketika semuanya kembali ke detik itu
Saya hanya bisa bertanya
“Hal apakah yang harus saya lakukan selanjutnya?”

“Mimpi mimpi mimpi mimpi
Kata itu dalah hal yang membuat saya gila
Dan hanya bisa disembuhkan dengan usaha mewujudkannya” (Cluesology, 2012)

Catatan 6 november 2012 jam 19.20 di Kota Bandung
Read more >>

Sabtu, 27 Oktober 2012

Malaikat Kecil


Senyummu menggenapi siang dan malam
Memudarkan rasa sepi dan tertekan
Jadilah selalu malaikat kecil diantara riang tingkahmu
Semoga Tuhan memberimu bimbingan penuh kasih
Read more >>

Senin, 22 Oktober 2012

KEKEKALAN ENERGI



Energi itu kekal
Ia tidak bisa diciptakan
Tak bisa pula dimusnahkan
Oleh para makhluk, kecuali Tuhan nya
Tuhan yang Maha Kekal dari semua yang kekal

Energi itu kekal
Ia hanya bisa berubah bentuk
Tapi jumlahnya tetap
Kekal
Tak pernah hilang
Namun berganti
Tak pernah berkurang
Hanya beralih pilihan
Bersenyawa bersama hati yang lain
Membentuk klaster seumpama awan
Bergemuruh lalu padam
Tapi tetap ada, tak hilang
Ia pergi dalam kebisuan
Berarti hilang?
Tidak!!!
Ia kekal!!!
Read more >>