Senin, 16 Januari 2012

I MISS U (PART: SOUND)

(Part ini merupakan kelanjutan dari part I MISS YOU)

Hari ini terasa sangat melelahkan bagi saya. Entahlah. Padahal hampIr satu tahun saya sudah melakukan rutinitas ini. Senin sampai sabtu, jam 7.00 sampai jam 15.00 saya berada di sekolah. Apakah saya mulai jenuh? Sepertinya tidak. Saya sangat mencintai profesi saya saat ini. Diakah penyebabnya?

Hari ini matahari seakan dekat dengan kepala saya. Sangat terasa teriknya. Mungkin bumi senang saat ini. Matahari tak lupa datang memberinya kehangatan. Ceria dan cerah. Saya sangat kesal saat bumi terlihat redup. Seakan sedih. Dan itu membuat saya sedih. Hujan selalu membuat saya sedih.

“Ok class, I have a phenomenon. If a tree fell in the middle of a deep forest hundreds of kilometers away from any living being, would there be a sound?” Seperti biasa, untuk memulai suatu topik saya selalu mengajukan sebuah kasus. Kasus yang mudah-mudahan bisa memacu siswa untuk berpikir kritis. Bukan hanya sekedar hafal teori. Hari ini topiknya adalah bunyi. Saya suka topik ini, entah kenapa.

“Who have an answer for that case?” Tanya saya sambil mengangkat tangan dan menatap hangat mata para siswa.
“Me” seorang siswa mengangkat tangannya. Dia terlihat sangat antusias
“Ok please” Saya berjalan mendekatinya
“The answer is NO” Jawabnya yakin
“Why?” saya balik bertanya
“Sound is subjective and requires listener. If there is no listener, there will be no sound” jawabnya masih dengan keyakinan yang tinggi
“OK, anyone else” saya kembali meminta pendapat dari siswa lainnya
“Me” siswa lain mengangkat tangannya. Dia pun terlihat sangat antusias
“OK please” saya pun memutar badan dan berjalan mendekati posisi duduknya
“In my opinion, a sound is not something in a listener’s head. A sound is an objective thing. A sound is a kind of energy. So if u ask me, is there a sound? My answer is YES” Jawabnya dengan lantang dan tegas
“Ok, I’m so glad to hear all of your opinion. Both of you are right. But sometimes, discussion like this one often are beyond agreement , because u fail to realize that you are arguing not about the nature of sound but about the definition of word. Either side is right, depending on which definition is taken, but investigation can proceed only when a definition has been agreed on. The physicist usually takes the objective position and defines sound as a form of energy that exists whether or not it is heard and goes on from there to investigate its nature. Do u get what I mean?”
“Yes, mom” seketika ruang kelas menjadi riuh. Saya mendengar beberapa siswa antusias membicarakan apa yang baru saja saya jelaskan. Saya senang suasana seperti ini. Suasana dimana siswa-siswa saya sangat antusias terhadap suatu konsep yang saya berikan. Puas.

Tak terasa jam sudah menunjukan angka 3. Itu tandanya jam pelajaran untuk hari ini sudah berakhir. Seluruh siswa berhamburan keluar saat bel berakhirnya jam pelajaran berbunyi.

“Bu, kenapa status di page nya galau-galau bu, lagi kangen ya?” Tiba-tiba seorang siswa bertanya pada saya saat pamitan. Segalau apakah diri ini, sampai-sampai siswa umur 14 tahun bisa membaca pikiran saya saat ini. Saya tidak boleh terus seperti ini.

Apakah dia merasakan hal yang sama seperti apa yang saya rasakan saat ini? Sayangnya dia bukan tipe orang yang ekspresif. Saya sama sekali tidak bisa membacanya. Saya tak melihat satu pun statusnya yang menggambarkan kerinduannya akan seseorang. Apakah dia benar-benar tidak merasakan rindu yang saat ini saya alami?

#SHORT MESSAGE SERVICE#

To: Kaleb
I miss U. How was the day, honey?

Lama sekali saya mendapat balasan sms yang beberapa menit lalu saya kirim. Padahal malam ini sudah jam 8. Bukankah dia melarang saya untuk SMS kurang dari jam 7 dengan alasan dia baru pulang dari kantor jam 7? Jadi bukankah tidak ada alasan untuk tidak membalas SMS saya saat ini?

From: Kaleb
Sorry, barusan saya diajak makan bareng ma teman2 kantor. Hari ini Alhamdulillah saya sudah dipercaya megang proyek.

Dia sama sekali tidak menanyakan kabar saya? Separah itukah?

To: Kaleb
Oh, pantas saja kamu lama balas sms saya. Kirain lupa.

From : Kaleb
Hehe

#MONOLOGUE#
What? Fine… maaf kalau saya ganggu. Tahukah kamu? saya benci perasaan ini? Saya benci jadi penderita penyakit rindu tunggal. Rindu yang sepertinya hanya mendera satu pihak saja. Dan pihak itu adalah saya.

@RUANG GURU
“Jeng, aku pulang duluan ya. Udah ada yang jemput” kata salah seorang rekan kerja saya. Dia umurnya lebih muda dari saya. Beberapa hari kemarin dia cerita bahwa dia punya pacar baru yang sangat ia cintai. Lelaki yang dia idam-idamkan sejak dia masih kuliah. Dan akhirnya minggu kemarin mereka meresmikan jalinan asmara mereka. Saat ini hubungan mereka sedang hangat-hangatnya. Tiap pagi kulihat dia diantar ke sekolah oleh pacarnya, begitu pun saat pulang sekolah. Laki-laki itu selalu terlihat standby di gerbang sekolah. Dan tahukah apa yang saya pikirkan saat ini? Saya mengingat sosoknya. Sosok yang selalu saya temukan di depan gerbang sekolah beberapa waktu yang lalu. Tiap pagi dia mengantar saya ke sekolah dan siangnya dia ada tepat di tempat yang sama untuk menjemput pulang.

#FLASHBACK#
(Suatu pagi di bawah pohon depan sekolah)
“Makasih ya honey” tutur saya sambil melepas helm dari kepala dan memberikannya pada laki-laki yang berada di motor. Dia pun demikian, melepas helm nya untuk sekedar menampakkan senyum hangatnya.
“Sama-sama sayang. Ntar pulang jam 3 kan?” tanyanya
“Iya, kamu mau jemput kan?” Tanya saya dengan nada sedikit manja
“Pastinya dong, apa sih yang enggak buat kamu? saya gak akan biarin kamu pulang sendiri. Saya selalu punya waktu buat kamu” Jawabnya sambil kembali melemparkan senyum yang hangat. Senyum yang selalu saya rindukan
“Ya namanya pengangguran, pasti selalu punya waktu” seru saya sambil tertawa
“Oh baiklah, hina saja pengangguran yang satu ini. Nanti lihat ya tanggal mainnya. Kalau saya dah kerja, gak akan ada waktu buat kamu. dan kamu bakal rindu berat sama saya” balasnya sambil mencubit punggung tangan saya. Saya hanya tertawa dibuatnya. Saya tak menyadari sama sekali bahwa apa yang dikatakannya akan benar-benar saya rasakan suatu saat nanti. RINDU.
“Akankah jadi separah itu?” tanya saya dengan mimik yang sedikit muram
“Enggak deh, selalu ada waktu buat kamu. selalu…” jawabnya halus sambil meletakan tangan kanannya di dadanya.
“Ya, kamu pun selalu ada di hati ini” (not on conversation)
“Sudah ya, saya mau masuk kelas dulu” saya pun berusaha mengakhiri percakapan
“Baiklah bu guru, selamat bertugas. Love u…” katanya sambil mengenakan helm kembali.
“Love u too”
Dia pun pergi. Dan senyum itu masih ada. Melekat. Menemaniku seharian penuh.
#END OF FLASHBACK#


Lorong sekolah begitu sepi. Tak ada suara derap langkah siswa yang berlarian. Tak ada deru suara tertawa di sudut-sudut gedung. Sepi. Saya berjalan sendiri, ringkuh membawa beberapa tas di kanan dan kiri. Saat sampai di gerbang sekolah, mata saya langsung tertuju dan seketika terpaku pada pohon itu. Saya mencarinya. Dia tak pernah terlihat lagi akhir-akhir ini. Rindu.

#MONOLOGUE#
Saya seperti berada di ruang vakum dimana bunyi tak bisa merambat. Sunyi. Tak ada nada yang teratur atau desah yang frekuensinya tak menentu. Sepi. Ataukah bunyi itu terlalu jauh hingga saya tak mendengarnya? Tapi saya yakin bunyi itu ada, karena ia adalah energi. Saya tak patut ragu untuknya…. Dia ada di sini. Tepat di hati saya. Bergaung, bahkan bergema seakan memperkuat rasa. RINDU.

#SONG#
Words don't ever seem to come out right
But I still mean them, why is that?
It hurts my pride to tell you how I feel
But I still need to, why is that?

I miss you, like everyday
Wanna be with you, but you're away
I said I miss you, missing you insane
But if I got with you, could it feel the same?


#SHORT MESSAGE SERVICE#
(Kontrakan, malam hari)

From: Kaleb
Honey....Weekend depan saya ke Bandung...Really Miss U...C U

To: Kaleb
BENARKAH? OK, saya sangat tunggu

Senyum. Saya bahagia.

To be continued...

3 komentar: