Duduk lemas beralaskan tikar di kamar yang sangat gelap dan pengap, ia menunduk seperti malu telah melakukan sesuatu yang tidak biasa. Wajahnya pun pucat pasi bagai hantu penghisap darah yang telah gagal mendapat mangsanya. Bibirnya kering dan retak. Nampaknya seharian ia tidak minum setetes air pun.
Senja itu sekilas menjadi sore yang buruk bagi dirinya. Tapi mungkin jauh di lubuk hatinya, sore itu adalah saat-saat kemenangannya atas yang lainnya. Dia merasa akhirnya dia menjadi yang terbaik. Meskipun sejak awal ia telah digariskan menjadi orang kedua.
Pagi tadi ia nampak sangat sendu. Garis hitam di bawah matanya menyiratkan bahwa semalaman ia terjaga. Ia memikirkan dengan sangat keras tentang apa yang harus ia lakukan esok harinya. Semalam ia berperang dengan hati nuraninya. Dia mengerti dengan benar siapa dirinya dan siapa yang akan ia sakiti. Dia gusar memikirkan dirinya atau orang lain itu. Malam itu ia hanya ingin bercermin, berandai wajah itu bukan miliknya, berharap sendu itu bukan punyanya. Karena wajah itu yang telah membuatnya gusar sepanjang waktu. Karena raut itu yang seakan menghantuinya setiap detik. Dia ingin segera menyelesaikan kegusarannya. Hanya ada satu cara.
Aku duduk di depan cermin yang sangat besar hingga aku bisa melihat seisi kamarku dengan jelas. Kamar yang selama 27 tahun lebih aku tempati. Kamar yang telah menjadi saksi bisu tentang semua hal yang telah aku lalui. Kini aku harus rela meninggalkannya. Meski aku tak mau. Apalagi kamar ini sekarang penuh hiasan yang sangat cantik. Aku semakin tak ingin meninggalkannya. Sprei yang baru dan wangi, gorden yang baru, karpet yang baru, dan cermin yang lebih lebar. Semuanya membuatku semakin tak ingin meninggalkan ruangan ini.
Bukan hanya kamar yang harus kutinggalkan. Orang yang paling berarti dalam hidupku pun harus kutinggalkan. Kita adalah satu jiwa, satu nafas. Dia adalah satu-satunya alasan kenapa aku tak mau cepat-cepat meninggalkan rumah ini. Aku tak bisa lagi melihat muka cemberutnya. Aku tak bisa lagi melihat tingkah kakunya. Sangat lucu.
Duduk lemas beralaskan tikar di kamar yang sagat gelap dan pengap, ia menunduk seperti malu telah melakukan sebuah pengkhianatan besar. Seperti seorang intel Negara yang telah membocorkan rahasia penting Negara tersebut. sangat memalukan. Matanya terlihat merah. Nampaknya ia tidak tidur seharian. Mata merah itu tak henti tertunduk. Tertuju pada satu arah. Ia menatap wajahnya sendiri di cermin. Sesekali ia tersenyum sendiri. Saat ini ia merasa bahwa wajah di cermin itu benar-benar miliknya. Miliknya sendiri.
Kesedihanku malam ini membuat mataku sedikit bengkak. Aku langsung terkena marah dari orang-orang di sekitarku. Mereka sepertinya tak tahu apa yang sedang aku rasakan. Mereka hanya tahu apa yang harus mereka lakukan untuk membuatku menjadi wanita paling cantik di dunia ini besok. Aku pun mengerti apa yang harus aku lakukan. Aku harus menuruti perkataan mereka. Aku ingin tampil cantik besok. Aku ingin dunia tahu kalau aku memang wanita paling pantas untuk dia. Tapi aku memikirkan orang lain. Akankah dia tampil cantik sepertiku esok. Aku khawatir ia akan tampil biasa saja. Ia yang sejak tadi siang menghilang dari pengamatanku. Kemana dia?
Dia ada di depan cermin. Berusaha untuk memoles garis-garis wajahnya dengan tangannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Ia terlihat putus asa untuk menyapukan kuas itu di wajahnya. Ia tidak tahu apakah warna itu cocok untuk kulitnya ataukah malah akan membuatnya tampak semakin hitam. Ia tidak ingin menjadi orang yang selalu tampak lebih hitam dibanding yang lainnya, meskipun hanya untuk hari besok saja. Hari kekalahan dia yang paling menyakitkan. Tapi ia berharap hari esok adalah hari kekalahannya yang terakhir setelah momen-momen kekalahannya yang sangat panjang.
Dia memang terlahir sebagai orang yang kalah atas yang lainnya. ia kalah cepat hadir di dunia ini. Ia kalah pintar dalam menyelesaikan semua ujian disekolahnya, ia kalah cantik untuk mendapatkan perhatian dari lawan jenisnya, ia kalah periang untuk disukai orang sekitarnya, ia kalah telak di semua hal yang orang lain harapkan. Ia hanya menjadi bahan pembanding agar yang lainnya nampak lebih baik. Ia menyesal kenapa ia menjadi dirinya saat ini. Kenapa orang selalu berusaha menyamakan dua individu yang jelas-jelas berbeda. Dia ingin berbeda. Dia sudah lelah menjadi bayang-bayang dari orang lain.
Dia berjanji akan menyudahi semuanya besok. Meskipun hal itu akan sangat menyakitkan bagi orang yang lainnya. Namun ada satu filosofi hidup yang telah ia pelajari dan telah mengakar di dalam alam bawah sadarnya. Ia harus melenyapkan penghalang untuk sampai di tujuan dan menjadi pemenang setegar apa pun penghalang itu. Meskipun ia tahu, setelah ia melakukan itu, semua orang takkan berbalik simpati pada dirinya, bahkan mungkin semua orang akan tambah membencinya atau malah mengutuknya. Tapi ia sepertinya sudah paham dengan semua konsekuensi yang akan ia hadapi. Ia hanya ingin terbebas dari bayang-bayang itu. Ia ingin hidup sebagai pribadi yang unik bukan identik.
Hari ini aku merasa sangat bahagia. Janji itu telah terlontar dari mulut kami berdua. Kebahagiaan itu terasa bertambah saat aku melihat sosok itu tampil di hari istimewaku. Dengan gaun warna ungu yang sengaja aku belikan untuk dia pun ia kenakan. Ia terlihat sangat cantik seperti dugaanku. Apalagi wajahnya sedikit dipoles dengan riasan selayaknya wanita meskipun masih terlihat kurang dalam padu padan warnanya. Tapi hari ini ia terlihat lebih cantik. Ia benar-benar menghormatiku. Aku tahu ia begitu sayang padaku. Meskipun hal itu disiratkan dalam senyumnya yang pasi dan seperlunya. Aku tahu bahwa setiap detik ia merasa bahwa aku belahan jiwanya. Kami sempat menghirup satu sumber nafas. Kini aku berlari menuju tubuhnya. Aku juga ingin tahu apakah ia wangi atau tidak. Aku langsung berjalan sedikit cepat menghampirinya sambil meninggikan sedikit kain yang sedang aku kenakan saat ini. Detik-detik saat aku menghampirinya, aku lihat raut wajah itu sedikit berubah. Mukanya agak sedikit mengerut dan berubah masam. Aku sangat mengerti apa yang ia sembunyikan dibalik riasannya itu. Aku tahu ia merasa sangat tidak rela kehilangan sosok sepertiku di sampingnya saat ia tidur. Aku tahu itu.
Aku sedikit memperlambat jalanku saat aku melihat dia mengeluarkan sesuatu dari tas jinjingnya. Aku tak tahu apa yang akan ia lakukan sebenarnya. Aku tak tahu dari mana ia mendapatkan benda itu. Apakah dibelakangku ada penjahat sehingga adikku mengluarkan benda itu untuk melindungiku. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tolehkan kepalaku ke belakang. Aku tak melihat sosok orang asing dibelakangku. Yang kulihat adalah keluarga dan suamiku yang terlihat sangat panik. Mereka berteriak agar aku cepat-cepat menghindar. Aku semakin tak mengerti apa yang sedang terjadi sebenarnya. Semuanya terlihat klise dan tak mungkin. Sesaat aku rasakan dunia bergerak sangat lambat. Dimensi ruang dan waktu sepertinya sepakat untuk memuaikan satuannya. Aku kembali mengalihkan mukaku ke hadapan muka adik kembarku yang sangat aku cintai. Tapi sebelum aku melihat wajahnya lagi, tiba-tiba mataku menjadi kabur. Aku tak melihat apapun di depanku. Semuanya gelap. Yang aku tahu saat ini adalah ada sesuatu yang kecil namun tajam menembus dada sebelah kiriku. Sangat sakit dan perih. Tapi sakit itu terasa hanya beberapa detik saja. Setelah itu aku merasa ringan. Setelah itu aku merasa tenang. Aku tiba-tiba melayang, seperti ada energi maha dasyat yang mengangkatku ke langit. Aku pergi dengan satu pertanyaan besar. Kenapa adikku yang paling aku cintai itu tega melakukan ini semua padaku? Apa salahku?. Aku teriak tapi tak ada satupun dari kerumunan orang yang melihatku terbujur kaku mendengarnya. Sunyi.
Duduk lemas beralaskan tikar di kamar yang sangat gelap dan pengap, ia menunduk malu karena telah melakukan suatu kejahatan besar. Ia mungkin menjadi orang yang paling berdosa di negeri ini. Ia tega menghabisi nyawa saudara kembarnya sendiri di hari pernikahan saudaranya itu. Ia tega menyakiti perasaan saudara kandungnya itu. Tapi raut penyesalan jelas tidak nampak di mukanya. Ia malah tersenyum-senyum sambil melihat wajahnya sendiri di cermin. Ia menang atas yang lainnya. Dia kini merasa menjadi individu yang unik dan bukan identik. Ia tidak lagi menjadi orang kedua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar