Kamis, 05 Januari 2012

JAGUNG

Hari ini gelap, dingin, tak menantang. Saya tak berminat untuk sekedar membuka pintu dan menengadahkan tangan menghadap ke langit. Tak ada kata berteduh atau membayangkan dinginya air.

Saya hanya bisa menghitung jumlah biji jagung dalam barisannya yang rapi dan teratur. Warnanya manis, mengingatkan saya pada seseorang. Sudah lama saya tidak melihatnya tampil manis. Sudahlah.

“Saya lapar Tuhan…”
“Tuhan tidak akan kasih kamu hujan makanan. Beli saja jagung, tuh ada orang jualan jagung rebus”
“Baiklah, saya beli lima”

Bukannya saya maruk atau apa. Saya benar-benar lapar. Saya makan empat dari lima jagung yang saya beli. Itulah saya, selalu seperti itu.


Langit tak juga memberI kesempatan kepada saya untuk bernyanyi riang. Menyusuri langit yang hangat. Padahal tadi pagi saya sempat senang. Tampak rangkaian awan putih menghiasi langit. Indah. Membuat saya berpikir bahwa memang inilah kehidupan. Tak ada yang bisa menjamin air laut rasanya asin. Yang ada hanyalah hipotesis yang tiap detiknya berubah jadi hipotesis baru.

“Saya bahkan lupa apakah pagi tadi saya sarapan atau tidak”
“Kamu sudah sarapan bareng saya tadi, satu mangkuk bubur ayam dan semangkuk sereal bung”
“Ya, bagi saya itu hanya cemilan ringan di pagi hari”

Biji jagung itu hilang satu demi satu. Ada mantra khusus yang membuatnya begitu. Menghilang setelah disentuh. Bagaimana mungkin? Ya itu jelas terjadi. Percayalah!

“Sudah saya bilang, menunggu adalah hal paling mengesalkan”
“Iya maaf, saya harus mengurusi sesuatu dulu”
“Memang urusanmu lebih penting daripada saya”
“Maaf”

Dan saya pun membuatnya menangis untuk kesekian kalinya.

Wahai biji jagung. Bertahanlah dalam perut saya untuk jangka waktu yang lebih lama. Bertahanlah sampai rintik itu menghilang meskipun gelap dan dingin tetap ada meninabobokan saya dan bumi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar