Jumat, 06 Januari 2012

Aku Minta [1] Detik Untuknya

Setiap detik ia mengisi volume alveolusku dengan harap dan lafal doanya
Lafal doa yang membuatku bisa membaca dunia
Dunia yang telah lama hilang dari hidupnya
Hidupnya ia dedikasikan untuk seorang anak
Anak yang ia banggakan dan ia cinta
Cinta yang telah membuatnya abadi
Abadi sebagai sejarah…


Pagi ini aku kembali menatap wajahnya seperti biasa. Wajah terindah yang pernah Tuhan ciptakan di dunia ini. Ia tersenyam padaku dengan manisnya, membuat niatku untuk kembali ke alam mimpi hilang dalam seketika. Aku lebih baik hidup di alam nyata jika semuanya tersaji seperti ini, sangat indah.

“Selamat pagi, bu” Aku menyapanya dengan sedikit teriak. Ibuku membalasnya dengan senyuman yang sangat manis. Setidaknya itu akan membuatku lebih semangat dalam menjalani hari ini. Hari yang sebenarnya tidak aku harapkan akan datang secepat ini. Hari ini aku ujian sidang untuk gelar sarjanaku. Gelar sarjana yang membuat ibuku terobsesi. Gelar yang harus anaknya dapatkan karena dulu ia kurang berhasil dalam mendapatkannya. Gelar yang harus aku dapatkan juga, karena inilah mimpiku, mimpi yang akan segera terwujud untuk membuat dia lebih berarti.

Dia memang berarti dalam hidupku. Setiap kata dan nasihat baiknya selalu terngiang di telingaku. Perkataanya mengarahkan setiap langkahku. Bahkan untuk hal-hal kecil yang harus ku lakukan di kamar mandi, seperti sebelum mandi aku harus pastikan air di bak penuh dan kamar mandi harus dalam keadaan bersih. Sampai sekarang nasihat itu seakan menjadi inspirasi kebiasaanku saat ini, meskipun untuk hal yang kedua, aku tidak melakukannya setiap kali aku berada di kamar mandi, tapi aku melakukannya secara rutin.

“Sikap kita terhadap sesuatu, sekecil apa pun itu, akan membentuk karakter kita. Dan karakter yang kita miliki akan menggambarkan siapa kita sebenarnya. Kamu mau dianggap orang lain sebagai orang jorok atau bahkan kotor dalam hal berperilaku karena kamu punya karakter yang berkembang dari sikap kamu yang tidak peduli kebersihan?” Jelasnya lembut di suatu pagi yang tak akan pernah aku lupa, sampai saat ini.

“Ibu suka berlebihan. Aku cuma lupa buang kertas tisu saja, bu” Aku mencoba membela dengan santai sambil memungut tisu di lantai kamar mandi.

“Hal itulah yang menjadi penyebab kenapa kamu menjadi seperti ini sekarang” Ibu masih berkata dengan nada yang lembut namun kini dengan sedikit penekanan. “Menjadi apa, bu?” Aku bertanya dengan dahi yang berkerut dan mata yang agak dipicingkan.

“Menjadi cowok yang membiarkan pacarnya telpon dan sms berkali-kali tapi tidak ditanggapi” Aku sangat kaget saat ibu mengatakan hal itu. “Dari mana ibu tahu hal itu? terus, apa hubungannya dengan tisu ini?” Aku bertanya sendiri dalam hatiku.

“Membiarkan ceweknya seperti tisu itu dan meninggalkannya begitu saja tanpa kepastian. Itu bukan sikap lelaki bersih. Lelaki bersih itu tidak mungkin memberikan teman spesialnya suatu hal yang menggantung, ia pasti memberi kepastian. Kalau memang sudah tidak terpakai, ya buang saja ke tempat sampah. Gak dibiarin di lantai gitu. Ibu juga wanita loh, Dam” Ia menjelaskan apa yang aku pertanyakan dalam hatiku saat itu dengan suara khasnya yang mengalun. Bak seorang peramal yang tahu apa yang klienya pikirkan. Itulah sosoknya. Sosok yang paling tahu segala hal. Segala hal yang ia dapatkan dari hidupnya. Dulu dia selalu berkata bahwa dia lebih tahu tentang segala sesuatu daripada aku. Alasanya karena dia hidup lebih lama daripada aku. Alasan yang membuatku ingin marah kepadanya saat ini.

***

“Aku makan duluan ya, bu” Aku menyapa ibuku yang sedang berdiri di samping meja makan. Dia menjawabnya hanya dengan senyuman manis. Meskipun hanya dengan senyuman, setidaknya senyuman itu cukup meningkatkan selera makanku pagi ini. Selera yang sempat hilang selama berbulan-bulan. Rentetan bulan yang membuatku terjatuh pada keadaan yang paling rendah. Hingga akhirnya senberkas cahaya berhasil membuatku berpikir dua kali untuk mengakhiri semuanya dan membuatku berkeyakinan kuat untuk melanjutkan semuanya itu. Berkas cahaya itu adalah harapan ibuku.

Aku potong roti bakar dihadapanku menjadi dadu-dadu kecil hingga siap untuk dimakan. Itu yang selalu ibu lakukan pada roti yang hendak dimakannya.


“Kalau roti ini kamu sudah potong-potong, kamu bisa menyimpan pisau kamu. Terus kamu bisa menggunakan tangan kanan untuk memegang garpu kamu, Dam. Ingat Adam, setiap masalah yang kamu hadapi harus kamu lakukan dengan fokus dan terselesaikan. Terkadang masalah baru muncul pada waktu yang kurang kita harapkan. Masalah yang satu belum kelar, nanti masalah baru muncul” Aku menatap matanya dengan perasaan yang sangat terpukau. Perasaan kagum yang sangat sulit untuk digambarkan sampai saat ini.

Aku habiskan potongan dadu roti itu dengan pikiranku yang melayang. Melayang memikirkan hal yang sudah lama pergi. Hal yang menyisakan kesedihan abadi sekaligus semangat untuk mengalahkannya. Semangat yang hidup sebagai jiwa yang tersisa.

Aku ingat saat aku masih SMP. Saat itu aku harus Ujian Nasional. Sementara beberapa minggu di semester itu aku lewati di ranjang rumah sakit karena terserang tifus. Aku sempat putus asa dan punya pikiran untuk menunda ujian itu di tahun berikutnya. Di meja makan ini aku menangis tersedu-sedu sambil berkata pada ibuku bahwa aku benar-benar tidak siap untuk ujian hari itu.

“Ibu mengerti apa yang kamu rasakan, Adam. Tapi apa kamu rela memutuskan untuk meninggalkan masalah yang sebenarnya belum benar-benar kamu hadapi? Kamu belum tahu kan seberat apa ujian itu? Kalau kamu punya sikap mudah menyerah seperti ini, berarti kamu tidak siap menghadapi hidupmu yang masih panjang. Keberanian dalam menghadapi sesuatu adalah modal awal yang besar untuk kamu menyelesaikan suatu masalah, sisanya pengetahuan, kemampuan, dan sedikit keberuntungan” Ia menjelaskan hal itu dengan suaranya yang mengalun sambil memijit-mijit bahuku dari belakang. Saat itu semua perkataannya membuat pikiranku berubah 180o. Ia berhasil membuatku berani dalam menghadapi suatu masalah. Sebesar atau sekecil apapun masalah itu. Terbukti saat itu aku berhasil lulus dari bangku SMP. Meskipun dengan hasil yang kurang memuaskan.

“Coba kalau kamu tidak ikut ujian. Kamu harus menunggu satu tahun lagi untuk masuk SMA. Ya, meskipun nilai kamu tidak terlalu bagus, tapi setidaknya itu membuktikan bahwa kunci sukses itu tidak hanya keberanian, tapi juga pengetahuan, kemampuan, dan keberuntungan. Lain kali, jadilah orang yang lebih berani, berpengetahuan, berkemampuan, dan mudah-mudahan lebih beruntung” Saat itu ia memelukku dengan erat. Pelukan yang selalu ia berikan saat ia merasa dirinya senang dan dibutuhkan. Pelukan yang sampai saat ini membekas. Membuatku selalu rindu untuk selalu merasakannya.

***

Aku menatap diriku di kaca koridor tempatku menunngu giliran masuk ruangan sidang. Aku seperti melihat ada sosok ibuku di pantulan kaca itu. Ia seakan tersenyum padaku dan berusaha untuk mengatakan bahwa aku harus semangat menghadapi sidang ini. Aku tahu itu. Aku tahu karena pengalaman hidupku bersamanya. Pengalaman hidup yang tidak pernah akan aku lupakan. Sosok malaikat yang sempat Tuhan perintahkan untuk menjadi pelindungku di dunia. Meskipun untuk jangka waktu yang menurutku terlalu singkat. Ibu.

“Hai Adam” Sosok wanita tiba-tiba menyapaku sambil menepuk bahuku. Kemudian ia duduk di sampingku. “Waktu memang cepat berlalu ya. Dia pergi tanpa tahu apakah kita siap untuk berlanjut ke detik berikutnya. Tapi jangan bilang kamu belum siap disidang ya. Atau jangan-jangan kamu belum mandi ya saking tidak siapnya? Haha…” Wanita itu tertawa dengan sangat renyahnya sambil membetulkan rambutku yang sepertinya memang acak-acakan karena tadi mungkin lupa disisir.

“Terima kasih ya” Aku menghargai perhatian yang telah ia berikan kepadaku. “Any time” ia menjawabnya dengan sangat ringan sambil mencari sesuatu di tas jinjingnya.

“Ini tadi titipan dari mama, Dam. Katanya sih batu keberuntungan gitu. Tapi jangan percaya seratus persen sih. Aku juga gak percaya sama hal klenik seperti itu. tapi mama maksa buat aku berikan ini untuk kamu. Terima ya! Anggap saja jadi penambah semangat kamu. Ini tandanya kamu diterima sama orang tua aku, hehe” Dia tersenyum sambil memberikan batu itu ke genggaman tanganku.

“Terima kasih, Dira. Ibu pernah berkata kalau kunci keberhasilan dalam menyelesaikan masalah itu ada empat. Keberanian, pengetahuan, kemampuan, dan keberuntungan. Mungkin aku butuh ini untuk menambah keberuntunganku” Aku masukkan batu itu ke saku celanaku.

“Ibumu pasti senang ya saat ini, Dam” Dira mengatakannya sambil kembali memegang tanganku. “Iya, Dir. Tadi aku juga sempat melihatnya tersenyum disana” Aku mengatakannya sambil kembali menatap kaca di depanku. “Ih jangan mulai deh…” Dira menghentakkan genggamannya.

“Andai jarak dunia dan surga dekat. Aku pasti merelakan satu detik aku untuk sesaat melepaskan nyawaku hanya untuk menyentuh tangannya seperti ini, Dir” Aku kembali menggenggam tangan Dira.

“Tapi kenyataanya jaraknya sangat jauh, Adam. Tanpa kamu berhayal untuk mati suri sedetik saja pun, aku yakin ibu kamu selalu medukung dan mendoakan semua kebaikan untuk kamu” Dira mencoba menguatkan perasaanku yang tiba-tiba kembali mengingatnya.

“Kok nangis? Dam, orang yang berani itu gak mudah nangis. Tangisan membuat kamu terkesan rapuh. Buktikan dong sama ibu kamu kalau kamu bisa jadi orang yang lebih berani, meskipun dia tidak ada di samping kamu lagi. Biar nanti di surga kamu sesekali bisa menolak nasihat dari ibu kamu dengan alasan kamu hidup lebih lama dan mengalami banyak hal, iya kan?”

“Mudah-mudahan saja, Dir. Mudah-mudahan aku tidak cepat mati karena harus setiap hari serumah dengan kamu?” celetukku sambil mencubit punggung tangannya. “Serumah tiap hari? Maksud kamu? Jadi suami istri?” tanya Dira.

“Ya, bukan sebagai istri sih, tapi jadi pembantu tepatnya. Haha” Kita berdua terbahak-bahak saat itu hingga lamanya menunggu tidak membuatku bosan. Sampai temanku keluar dari ruang sidang dan menyuruhku untuk masuk.

Saat ini tiba-tiba jantungku berdetak sangat keras. Kakiku lemas dan sulit untuk berdiri dari posisi dudukku. Kemudian aku segera mencari sesuatu dari tasku. Aku pandang benda itu. Benda yang selalu menemaniku kapan pun dan dimana pun. Saat aku mulai membuka mata, makan, menyetir mobil, membaca buku, sampai aku kembali tidur. Benda itu adalah sebuah figura yang berisi foto ibuku. Foto yang selalu memberiku senyuman khasnya. Senyuman yang selalu membuatku rindu untuk melihatnya. Saat ini.

***

“Adam, ibu tahu apa yang kamu rasakan saat ini. Langkah pertama memang hal yang paling sulit untuk dilakukan. Tapi cobalah, kamu akan segera tahu apa yang akan terjadi jika kamu berani melangkah saat ini. Wujudkan mimpimu dan mimpiku, nak. Berpestalah dengan tantangan-tantangan yang muncul dalam hidupmu. Buatlah aku senang, agar ibu ikhlas dengan apapun yang akan terjadi” Ia mengucapkannya sambil sedikit membuka alat bantu nafasnya. Saat itu aku berani untuk berdiri dari dudukku yang lemas. Berlari untuk mengejar mimpiku untuk mengikuti ujian masuk universitas dan meninggalkan ibuku yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Saat aku menutup pintu kamarnya, ia lemparkan senyumnya padaku. Senyum yang ia berikan padaku untuk terakhir kalinya.

Sejarah itu membuatku tersadar
Tersadar untuk selalu membuatnya tersenyum
Tersenyum untuk semua hal yang telah berhasil menjadi indah
Indah dan tak mungkin terlupa
Tak terlupa karena ia berjasa
Berjasa karena telah membuatku hidup bahagia
Terima Kasih Ibu…
Maaf jika gambaranmu tak sempurna
Hakikatnya pujangga pun tak mampu menjelaskannya.

1 komentar: