Sabtu, 16 Maret 2013

Akhir Sebuah Cerita Hujan


***

Hujan sore ini mewakili perasaanku yang gusar. Rintiknya menggambarkan kegelisahan yang tak usai. Tak ada waktu lain selain esok. Sungguh… Maka kamu harus paham.



# Kisi 1
Seorang pria duduk gontai di sebuah bangku kayu bercat putih. Dia terlihat lemah dan kurus. Orang sekilas pasti menyangka ada yang tidak beres dengan kondisi tubuhnya. Sakit. Ya… Dia memang sakit. Entah penyakit apa yang sedang ia derita. Ia sepertinya belum paham dengan keadaanya. Pikirannya penuh. Penuh dengan dugaan dan ekspektasi. Entah, ia bingung sendiri.

Bulan menghujat saat matahari tak kunjung padam. Bukan masalah besar nyatanya. Hanya bulan yang tak mengerti keadaan sebenarnya. Musim ini siang lebih panjang. Nyatanya.



# Kisi 2
“Hidup bagiku adalah sebuah kalimat yang pasti ada ujungnya. Kalaupun ia panjang, tak berarti ia bermakna lebih. Tapi kalaupun sebaliknya, bukan berarti ia sarat makna. Semuanya tergantung pada seberapa baik karakter subjeknya, seberapa tepat perangai predikatnya, dan seberapa bijak pemilihan objeknya” Hatinya berbicara sendiri. Ia tak kunjung berhenti menatap wajah layunya di cermin. Setelah sekian lama ia tak sudi untuk melakukan kegiatan itu. Kini ia berkehendak untuk menghadapi kenyataan. Semua kalimat motivasi telah membangun dirinya. Meski ia sadar, kalimat-kalimat itu hanya sekedar kalimat-kalimat mati. Bukan hidup.

Daun berguguran jatuh di sepanjang jalan kecil menuju sebuah rumah. Kaki seorang pria kurus menginjak satu persatu helainya. Krekkk…. Kering. Hidup helai-helai itu telah usai termakan musim. Tapi mereka tak sedikitpun marah atas takdirnya yang hanya semusim lalu. Mereka pasrah karena mereka paham. Hidup bagi mereka adalah pengabdian. Mereka rela pergi untuk mempertahankan kehidupan pohon. Gugur dalam ketenangan.



# Kisi 3
Ruangan sempit yang sepi penuh dengan botol-botol berisi cairan yang mengeluarkan bau yang menyengat. Seorang wanita berseragam laboratorium terlihat sedang fokus dengan apa yang sedang ia amati. Hingga ia tak menghiraukan dering handphone di meja di seberang meja kerjanya.

Fatamorgana berbicara tentang tipuan. Optika membuatnya seolah nyata. Panas telah merenggangkan suasana. Semua tampak lebih jauh meski serupa. Hingga cahaya terpantulkan dengan sempurna. Membentuk bayangan pohon yang meranggas tanpa ranting. Bayangkan! Mungkinkah kegersangan itu terjadi di atas genangan air yang tampak menyegarkan? Hai… Semuanya memang sebuah fatamorgana. Ilusi optika.



# Kisi 4

Pesan SMS

From: Kaffa
Hari ini saya sibuk. Maaf

To: Kaffa
Tapi kita harus bertemu. Harus

From: Kaffa
Saya tidak bisa janji. Maaf

To: Kaffa
Tuhan mungkin tak akan beri aku waktu lebih

From: Kaffa
Jangan bicara seperti itu

Setetes air duduk di awan pada sebuah zenit di horizon yang hijau. Ia memandang alam yang memang ia kehendaki. Tapi tak lama awan akan membawanya pergi, jauh. Entah kemana… hijau, abu, coklat, atau metalik. Ia seakan tak mau ambil pusing. Ia hanya ingin menikmati keindahan saat ini. Surga sejenis atau neraka yang panas tak ia pedulikan. Hidupnya hanya sesaat. Antara hilang teruapkan panas dan jatuh terhempaskan hujan.



# Kisi 5
Ia berlari cepat, secepat-cepatnya. Seperti tak ingin terkalahkan waktu. Padahal hari akan segera usai. Mega telah menyapukan jingga di seluruh penjuru dunia. Tapi ia yakin waktu akan segera ia kejar. Ia tak ingin tertinggal bersama penyesalan. Semua harus ia bayar hari ini. Sebuah penantian.

Hari tanpa gravitasi. Langit pun jadi menghitam. Tak ada yang tertinggal di permukaan tanah. Semua terbang entah kemana. Tak ada arah. Seperti ruh yang terangkat dan tak berpijak. Ia kehilangan cinta. Ia kehilangan kesempatan untuk menunjukkan cintanya.



# Kisi 6
Ia tak melihat siapa-siapa di bangku kayu bercat putih dihadapannya. Tak ada lagi seorang pria yang menunggunya sampai larut. Ia terlambat. Ia tertinggal bersama ribuan keping penyesalan. Usai bersama hujan yang tiba-tiba turun. Anehnya, ia tetap terpaku memandang bangku itu. Ia basah kuyup ditengah derasnya air mata yang jatuh. Menangis tersedu.

Angin berhembus karena adanya perbedaan keadaan. Panas, dingin. Tinggi, rendah. Semua hukum berlaku untuk menjaga keseimbangan. Jika dua sejoli memadu cinta dan keduanya memiliki keegoisan yang sama, maka tak akan ada angin. Sepi namun panas. Bisa terbayangkan? Tak kan pernah tercipta keseimbangan.



# Kisi 7
Malam hampir sampai di puncaknya. Wanita itu baru pulang kerumahnya dengan baju yang masih basah. Ia kaget ketika seorang wanita paruh baya tiba-tiba berdiri di hadapanya membawa sebuah kotak dan secarik surat.

“Tadi mas Akil membawa ini. katanya untuk non Kaffa” seru wanita paruh baya itu seakan menjawab wajah Kaffa yang seolah memang bertanya perihal kedatangan tiba-tiba dirinya.

“Lalu dia kemana?” Tanya Kaffa sembari meraih kotak dan secarik surat dari Akil.

“Non…” jawab wanita paruh baya terbata. Air mukanya tiba-tiba berubah sendu.

“Ada apa dengan mas Akil?” Tanya kaffa dengan nada memaksa

“Mas akil tadi tiba-tiba pinsan di depan pintu. Mbok langsung telpon ambulans dan orang tuanya. Lalu setelah itu mbok gak tahu, Non”  jelas wanita paruh baya itu, masih dengan logat yang terbata.

Dunia gelap bukan karena memang lampu tidak menyala. Tapi mungkin bisa terbayangkan gambaran perasaan dari Kaffa. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan saat ini. ia mati daya.

Seekor laron terbang mengitari lampu pijar di taman yang basah. Ia tampak sumringah dengan gemerlap kemerahan lampu di taman itu. Ia adalah contoh dari mahkluk yang sadar bahwa hidupnya hanya sekali, bahkan semalam. Ia tak ingin melewati satu detiknya begitu saja. Satu detik baginya adalah seabad. Ia bahagia malam itu. Ia menjajakan cinta ke ratusan laron betina yang ada di sekitarnya. Tak lupa ia minum bir sebanyak-banyaknya hingga ia mabuk dan lupa diri. Ia makan sekenyang-kenyangnya sampai perutnya tak kuat lagi menampung keserakahanya. Intinya ia paham aturan mainnya. Hidup baginya hanya semalam saja.



# Kisi 8
Kaffa duduk di samping gundukan tanah yang masih basah. Ratusan keping mahkota bunga warna-warni di atasnya pun masih segar dan wangi. Hanya Kaffa yang terlihat layu. Ia terus menunduk sembari memegangi dadanya yang seakan sesak. Tak ada lagi kontrol emosi yang menahanya untuk tidak menangis. Meskipun ia sadar jika tangisanya tak berarti apa-apa. Tuhan tak akan mengembalikan raga dan jiw Akil ke hadapannya. Akil telah pergi selama-lamanya.

Kenangan memang selalu indah untuk dibicarakan. Ia memiliki magnet ajaib untuk menarik semua syaraf kedalam kondisi yang menenangkan. Apalagi kenagan tentang cinta. Suka ataupun duka, semuanya selalu manis pada akhirnya. Hidup hanyalah sesaat, maka cintailah semua yang ada di dalam kehidupan secara adil dan bijaksana. Pahamilah dan rasakan manfaatnya kelak.




Sebuah surat dari Akil untuk Kaffa


Jakarta, 16 Maret 2013



Kaffa, selamat ulang tahun ke -24. Panjang umur dan sehat selalu.

Kaffa, maafkan untuk semua kata dan sikap penuh cinta yang belum atau tidak berhasil aku ungkapkan. Dan aku telah memaafkan kesalalahpahaman kamu terhadap apa yang sebenarnya ingin aku ungkapkan perihal cintaku terhadap kamu. Waktu bagiku adalah harga mati dan mati bagiku adalah ujung hidup yang pasti. Maaf untuk semuanya.


Kekasihmu,



Akila Firdaus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar