***
Hujan sore ini mewakili perasaanku yang gusar. Rintiknya menggambarkan
kegelisahan yang tak usai. Tak ada waktu lain selain esok. Sungguh… Maka kamu
harus paham.
# Kisi 1
Seorang pria duduk gontai di sebuah bangku kayu bercat
putih. Dia terlihat lemah dan kurus. Orang sekilas pasti menyangka ada yang
tidak beres dengan kondisi tubuhnya. Sakit. Ya… Dia memang sakit. Entah penyakit
apa yang sedang ia derita. Ia sepertinya belum paham dengan keadaanya. Pikirannya
penuh. Penuh dengan dugaan dan ekspektasi. Entah, ia bingung sendiri.
Bulan menghujat saat
matahari tak kunjung padam. Bukan masalah besar nyatanya. Hanya bulan yang tak
mengerti keadaan sebenarnya. Musim ini siang lebih panjang. Nyatanya.
# Kisi 2
“Hidup bagiku adalah sebuah kalimat yang pasti ada ujungnya.
Kalaupun ia panjang, tak berarti ia bermakna lebih. Tapi kalaupun sebaliknya,
bukan berarti ia sarat makna. Semuanya tergantung pada seberapa baik karakter
subjeknya, seberapa tepat perangai predikatnya, dan seberapa bijak pemilihan
objeknya” Hatinya berbicara sendiri. Ia tak kunjung berhenti menatap wajah
layunya di cermin. Setelah sekian lama ia tak sudi untuk melakukan kegiatan
itu. Kini ia berkehendak untuk menghadapi kenyataan. Semua kalimat motivasi
telah membangun dirinya. Meski ia sadar, kalimat-kalimat itu hanya sekedar
kalimat-kalimat mati. Bukan hidup.
Daun berguguran jatuh
di sepanjang jalan kecil menuju sebuah rumah. Kaki seorang pria kurus menginjak
satu persatu helainya. Krekkk…. Kering. Hidup helai-helai itu telah usai
termakan musim. Tapi mereka tak sedikitpun marah atas takdirnya yang hanya
semusim lalu. Mereka pasrah karena mereka paham. Hidup bagi mereka adalah
pengabdian. Mereka rela pergi untuk mempertahankan kehidupan pohon. Gugur dalam
ketenangan.
# Kisi 3
Ruangan sempit yang sepi penuh dengan botol-botol berisi
cairan yang mengeluarkan bau yang menyengat. Seorang wanita berseragam
laboratorium terlihat sedang fokus dengan apa yang sedang ia amati. Hingga ia
tak menghiraukan dering handphone di meja di seberang meja kerjanya.
Fatamorgana berbicara
tentang tipuan. Optika membuatnya seolah nyata. Panas telah merenggangkan
suasana. Semua tampak lebih jauh meski serupa. Hingga cahaya terpantulkan
dengan sempurna. Membentuk bayangan pohon yang meranggas tanpa ranting. Bayangkan!
Mungkinkah kegersangan itu terjadi di atas genangan air yang tampak
menyegarkan? Hai… Semuanya memang sebuah fatamorgana. Ilusi optika.
# Kisi 4
Pesan SMS
From: Kaffa
Hari ini saya sibuk. Maaf
To: Kaffa
Tapi kita harus bertemu. Harus
From: Kaffa
Saya tidak bisa janji. Maaf
To: Kaffa
Tuhan mungkin tak akan beri aku waktu lebih
From: Kaffa
Jangan bicara seperti itu
Setetes air duduk di
awan pada sebuah zenit di horizon yang hijau. Ia memandang alam yang memang ia
kehendaki. Tapi tak lama awan akan membawanya pergi, jauh. Entah kemana… hijau,
abu, coklat, atau metalik. Ia seakan tak mau ambil pusing. Ia hanya ingin
menikmati keindahan saat ini. Surga sejenis atau neraka yang panas tak ia
pedulikan. Hidupnya hanya sesaat. Antara hilang teruapkan panas dan jatuh
terhempaskan hujan.
# Kisi 5
Ia berlari cepat, secepat-cepatnya. Seperti tak ingin
terkalahkan waktu. Padahal hari akan segera usai. Mega telah menyapukan jingga
di seluruh penjuru dunia. Tapi ia yakin waktu akan segera ia kejar. Ia tak
ingin tertinggal bersama penyesalan. Semua harus ia bayar hari ini. Sebuah
penantian.
Hari tanpa gravitasi. Langit
pun jadi menghitam. Tak ada yang tertinggal di permukaan tanah. Semua terbang
entah kemana. Tak ada arah. Seperti ruh yang terangkat dan tak berpijak. Ia kehilangan
cinta. Ia kehilangan kesempatan untuk menunjukkan cintanya.
# Kisi 6
Ia tak melihat siapa-siapa di bangku kayu bercat putih
dihadapannya. Tak ada lagi seorang pria yang menunggunya sampai larut. Ia terlambat.
Ia tertinggal bersama ribuan keping penyesalan. Usai bersama hujan yang
tiba-tiba turun. Anehnya, ia tetap terpaku memandang bangku itu. Ia basah kuyup
ditengah derasnya air mata yang jatuh. Menangis tersedu.
Angin berhembus karena
adanya perbedaan keadaan. Panas, dingin. Tinggi, rendah. Semua hukum berlaku
untuk menjaga keseimbangan. Jika dua sejoli memadu cinta dan keduanya memiliki
keegoisan yang sama, maka tak akan ada angin. Sepi namun panas. Bisa terbayangkan?
Tak kan pernah tercipta keseimbangan.
# Kisi 7
Malam hampir sampai di puncaknya. Wanita itu baru pulang
kerumahnya dengan baju yang masih basah. Ia kaget ketika seorang wanita paruh
baya tiba-tiba berdiri di hadapanya membawa sebuah kotak dan secarik surat.
“Tadi mas Akil membawa ini. katanya untuk non Kaffa” seru
wanita paruh baya itu seakan menjawab wajah Kaffa yang seolah memang bertanya
perihal kedatangan tiba-tiba dirinya.
“Lalu dia kemana?” Tanya Kaffa sembari meraih kotak dan
secarik surat dari Akil.
“Non…” jawab wanita paruh baya terbata. Air mukanya
tiba-tiba berubah sendu.
“Ada apa dengan mas Akil?” Tanya kaffa dengan nada memaksa
“Mas akil tadi tiba-tiba pinsan di depan pintu. Mbok langsung
telpon ambulans dan orang tuanya. Lalu setelah itu mbok gak tahu, Non” jelas wanita paruh baya itu, masih dengan
logat yang terbata.
Dunia gelap bukan karena memang lampu tidak menyala. Tapi mungkin
bisa terbayangkan gambaran perasaan dari Kaffa. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan
saat ini. ia mati daya.
Seekor laron terbang
mengitari lampu pijar di taman yang basah. Ia tampak sumringah dengan gemerlap
kemerahan lampu di taman itu. Ia adalah contoh dari mahkluk yang sadar bahwa
hidupnya hanya sekali, bahkan semalam. Ia tak ingin melewati satu detiknya
begitu saja. Satu detik baginya adalah seabad. Ia bahagia malam itu. Ia menjajakan
cinta ke ratusan laron betina yang ada di sekitarnya. Tak lupa ia minum bir
sebanyak-banyaknya hingga ia mabuk dan lupa diri. Ia makan sekenyang-kenyangnya
sampai perutnya tak kuat lagi menampung keserakahanya. Intinya ia paham aturan
mainnya. Hidup baginya hanya semalam saja.
# Kisi 8
Kaffa duduk di samping gundukan tanah yang masih basah. Ratusan
keping mahkota bunga warna-warni di atasnya pun masih segar dan wangi. Hanya Kaffa
yang terlihat layu. Ia terus menunduk sembari memegangi dadanya yang seakan
sesak. Tak ada lagi kontrol emosi yang menahanya untuk tidak menangis. Meskipun
ia sadar jika tangisanya tak berarti apa-apa. Tuhan tak akan mengembalikan raga
dan jiw Akil ke hadapannya. Akil telah pergi selama-lamanya.
Kenangan memang selalu
indah untuk dibicarakan. Ia memiliki magnet ajaib untuk menarik semua syaraf
kedalam kondisi yang menenangkan. Apalagi kenagan tentang cinta. Suka ataupun
duka, semuanya selalu manis pada akhirnya. Hidup hanyalah sesaat, maka
cintailah semua yang ada di dalam kehidupan secara adil dan bijaksana. Pahamilah
dan rasakan manfaatnya kelak.
Sebuah surat dari Akil
untuk Kaffa
Jakarta, 16 Maret 2013
Kaffa, selamat ulang
tahun ke -24. Panjang umur dan sehat selalu.
Kaffa, maafkan untuk
semua kata dan sikap penuh cinta yang belum atau tidak berhasil aku ungkapkan. Dan
aku telah memaafkan kesalalahpahaman kamu terhadap apa yang sebenarnya ingin
aku ungkapkan perihal cintaku terhadap kamu. Waktu bagiku adalah harga mati dan
mati bagiku adalah ujung hidup yang pasti. Maaf untuk semuanya.
Kekasihmu,
Akila Firdaus
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar