Rabu, 28 Maret 2012

POST-STORY : CERITA ILALANG

---- Cerita ini adalah Bagian Penutup dari CERITA ILALANG ----


Angin kering menari bersama kesunyian sekitar. Membahana mengusik gendang telinga. Aku tak ingin pergi. Sebenarnya aku ingin menemaninya. Entah. Dia mungkin tak pernah tau. Andai alam bisa membaca perasaanku, angin pasti akan bisikkan pesan itu padanya. Sebuah pesan yang tak pernah sampai padanya.

Aku berjalan perlahan membelah padang ilalang. Menyibak helainya satu per satu. Aku tak ingin ada satu pun yang terinjak. Aku ingin mereka tetap hidup dan menemaninya dalam keriangan. Membuatnya tak terlalu larut dalam kesedihan. Kesedihan yang tak pernah aku tahu penyebabnya. Layaknya aku yang tak pernah mengerti algoritma. Bahkan lebih parah. Aku tak mampu menyusun urutan kata kunci bermakna logis dengan jawaban ya atau tidak. Rumit.


Mungkin aku memang tidak pantas untuk tahu segala sesuatu tentang dirinya. Aku bukan malaikat yang ia damba. Aku bukan pemilik tangan yang sedang ia ingin genggam. Aku bukan teman dalam setiap mimpinya. Aku hanya teman biasa. Teman yang ingin selalu memastikannya merasa nyaman dan terlindungi.

Langkahku terhenti di depan sebuah mobil tua. Memandangnnya hampa. Diam. Akhirnya aku putuskan untuk duduk di atas kap mobil tua itu. Entah untuk apa. Aku hanya ingin berada lama di sini. Menunggunya? Mungkin. Hari ini aku memang tak punya kegiatan lain yang berarti. Aku hanya ingin menemaninya. Meskipun dia tak tahu dan tak pernah mau tahu. Aku selalu ada.

Padang ini terlalu luas untuk diamati. Seluruh horison yang aku pandang nampak berwarna coklat keemasan. Berkilau layaknya tembaga yang diterpa berkas sang surya. Warna yang ia suka. Ia selalu bilang bahwa warna itu merupakan lambang kekuatan yang digjaya, kekuatan manusia yang harus Tuhan kalahkan.

“Oh ya? Aku kira tembaga adalah lambang dari sesuatu yang tidak kudus alias dosa. Entahlah, aku tak pernah memikirkan makna warna. Yang aku tahu, warna adalah gelombang tampak yang terpantul ke mata kita. Logika kita yang pada akhirnya menentukan apa kesan kita terhadap gelombang yang kita tangkap. Baik buruknya tergantung kita bukan?” saat itu kami duduk selonjoran di pasir pantai. Memandang langit sore hari yang sedang merona. Saat matahari tenggelam ditelan samudera.


“langitnya jingga. Indah” kataku lirih sambil menghela nafas.

“Di Jakarta aku tidak pernah menyaksikan pertunjukkan ini. Semua yang kulihat hanyalah puncak gedung dan kubah menara, lambang dari keangkuhan manusia. Tak pernah berwarna jujur seperti saat ini. Tembaga.” Sambungnya lirih sambil memegang cawan berisi anggur putih.

“Tembaga? aku rasa saat ini langit berwarna jingga.” Timpalku heran

“Boleh kan aku punya pandangan yang berbeda? Kamu tadi bilang kan bahwa otak kita lah yang menentukan apa yang kita lihat bukan? Hidup itu sepenuhnya milik kita. Apa yang kita pikirkan saat ini menentukan siapa kita di hari esok. Orang lain hanya peran pembantu.” Jelasnya datar. Aku tak pernah mengerti konsep hidupnya. Terlalu soliter, individualis, dan terlalu optimis.

“Bagaimana dengan Tuhan? Bukankah dia yang Maha Mengatur semuanya. Kita hanya berusaha mencapai apa yang kita inginkan, ujung-ujungnya semua berada di tangan-Nya. Aku tak terlalu apatis untuk hal yang satu itu. Terlalu mutlak” kataku sedikit membantah keyakinannya.

“Aku bukan seseorang yang apatis. Aku atheis. Entahlah, semua seolah ada dasar teorinya. Bisa kita jelaskan sendiri secara ilmiah. Aku tak perlu petunjuk untuk berjalan di jalan yang telah aku buat sendiri. Maaf kawan, aku tak sependapat denganmu tentang hal mutlak itu” jawabnya sambil menyimpulkan senyum manisnya. Senyum teranggun yang pernah aku dapatkan dari seorang hawa. Senyum yang saat ini tak aku lihat.

“Lihat? Apa yang aku bilang? Tak selamanya hidup bisa kau genggam sendiri. Tak selamanya waktu bertekuk lutut di bawah keegoisanmu. Tak selamanya kau berada di atas angin. Suatu saat kau akan lengah. Suatu saat kau akan hilang arah dan mengharapkan adanya orang lain yang selama ini kau sebut sebagai peran pembantu. Suatu saat kau akan jatuh dan mengharapkan tangan besar-Nya menggapai tangan mungilmu. Saat dimana kau bersedih atas takdir yang tak bisa kau baca. Saat dimana kau tersadar bahwa ada Dzat yang Maha, sesuatu yang mutlak untuk kau yakini keberadaannya. Sadarlah kawan” Teriakku memecah sunyi. Aku sudah tak tahan. Aku ingin melawan arus yang ia ciptakan. Aku takut ia terhanyut dalam keyakinannya sendiri. Aku tak ingin dia tersesat terlalu lama dalam alur yang nampak benar ini. Sebagai teman aku punya kewajiban untuk itu. Aku harap dia tak menganggapku hanya sebagai peran pembantu.

Aku pijakkan kembali kakiku di bumi. Kembali melangkah untuk menemuinya lagi. Aku harus ada di sampingnya saat ini. Dia harus sadar bahwa teman adalah ia yang ada di dekatnya saat ia sedang susah. Aku tak berharap dia akan berubah 180 derajat. Minimal dia bisa menerima kehadiranku, bukan hanya sebagai peran pembantu. Aku sibak kembali rimbunan ilalang itu. Ilalang yang seakan menuntunku untuk menuju tempatnya. Ilalang yang seolah berbisik bahwa apa yang aku lakukan adalah hal yang benar.

Aku sedikit berlari melaluinya. Menelusuri labirin yang ia buatkan untukku jelajahi

Langkahku terhenti saat melihatnya. Nafasku tertahan sesaat dan diakhiri dengan hembusan panjang yang terengah. Aku tak bisa percaya dengan apa yang sedang aku lihat saat ini. Dia tak pernah seperti ini. Duduk lemah dengan tangan menengadah ke atas.

Aku berusaha untuk diam sediam mungkin. Aku tak boleh sedikitpun memutar arah pusaran angin. Aku harus diam dan berusaha mendengar apa yang ia ucapkan.


“Tuhan atau apapun nama-Mu, apa aku masih layak berbincang denga-Mu? Apa aku tak harus percaya dengan petuah ibuku yang selalu aku anggap sebuah dongeng kolot tentang Engkau yang Maha pemaaf?”

Ya, aku mendengarnya. Aku mendengar setiap kata yang ia ucapkan meskipun sedikit tersamarkan oleh gesekan ilalang.

“Saat ini aku benar-benar hilang arah. Tak ada hal logis yang bisa aku ciptakan sendiri. Aku perlu kehadiran-Mu. Aku ingin kembali ke jalan yang Engkau restui. Tuhan, aku bertaubat atas semua keangkuhan yang aku agungkan selama ini. Aku bertaubat atas semua keegoisan yang telah memperbudakku selama ini. Izinkan aku kembali menjadi hamba-Mu yang ikhlas atas semua takdir yang berlaku. Tuhan, ampuni aku”

Saat itu air matanya kembali tumpah. Membasahi ruput kering di sekitarnya. Dan saat itu aku tersenyum bahagia. Aku bahagia karena ia sudah bisa kembali. Dan angin tiba-tiba berhenti. Ilalang pun seolah membisu dan diam. Aku langkahkan kakiku ke belakang perlahan. Aku sadar, saat ini bukan aku yang ia butuhkan. Ada Dzat yang lebih layak berada di dekatnya.

***

Aku kembali duduk di bangku kemudiku sambil berusaha menghidupkan mobil tuaku ini. Tak ada kata yang bisa mewakili perasaanku saat ini? Aku bahagia. Saat ini aku benar-benar ingin menari di atas awan dan meneriakkan bahwa aku bahagia agar seluruh penjuru dunia tahu dan merayakannya. Khayalan yang benar-benar terlalu hiperbola.

Ya, aku sudah lega dan saat ini aku bisa meninggalkannya sendiri. Aku yakin hal itu sampai tiba-tiba aku mendengar ketukan pada pintu mobilku. Aku melihatnya senyum kepadaku. Senyum teranggun dari seorang hawa yang selalu aku rindukan.

“Bolehkah aku pulang bersamamu?” Teriaknya riang dari luar mobil

Aku pun langsung membukakan kunci pintu mobilku dan mempersilahkannya duduk.

“Kamu sudah baikkan?” tanyaku hati-hati. Aku tak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini.

“Tentu saja. Aku sudah merasa lebih baik sekarang. Makanya aku segera berlari mengejarmu. Tapi aku yakin kok, kamu masih ada di sektar sini menungguku” Jawabnya manja sambil mengenakan sabuk pengaman mobil.

“Seyakin itu?” timpalku tajam

“Ya, kamu sahabatku bukan? Saat ini saya tahu definisi dari sahabat. Orang lain itu bukan peran pembantu, terlebih sahabat. Aku selalu membutuhkan kehadirannya. Dan ia pasti selalu ada di sini.” Jelasnya sambil meletakkan tangan mungilnya di dadanya.

“Baguslah, nampaknya aku tak salah memilihkan tempat yang cocok untukmu.” Aku tak bisa lepas memandang wajah hangatnya. Wajah yang penuh optimisme.

“Ilalang-ilalang ini telah bercerita banyak kepadaku tentang makna kebersamaan dan makna warna tembaga sebenarnya. Bukankah ia terlihat indah saat bersama-sama dalam padang seluas ini?” jelasnya sedikit bermain kata.

“Lalu, apa yang ilalang ceritakan tentang warna tembaga kesukaanmu?” tanyaku sedikit mengerutkan kening.

“Ia bercerita bahwa sekuat apapun manusia, pasti ada yang bisa melawannya. Dzat yang Maha kuat yang selama ini hanya menjadi tokoh dongeng di buku kehidupanku. Makna warna tembaga yang aku yakini memang benar. Tuhanlah yang paling kuat. Ilalang itu rapuh, hanya angin yang bisa membuatnya tetap berdiri tegak meski terombang-ambing. Aku pun seperti itu, aku kuat karena ada yang memikulku di tempat yang tak pernah aku tahu. Ternyata Dia memang ada” Jelasnya dengan penuh keriangan dan antusias.

Aku sangat terkesan mendengar apa yang baru saja ia kemukakan. Penjelasannya seperti bait puisi yang sangat indah. Aku terpukau.

“Jangan diam saja. Ayo jalankan mobilnya. Kita tak punya banyak waktu untuk terus berdiam diri dan menyesal atas kegagalan yang menimpa kita. Ayo kita lanjutkan hidup. Aku yakin Tuhan telah menyiapkan skenario yang jauh berbeda untuk hari esok.Aku ingin kembali bergelut dengan mimpi.” Katanya yang seketika membuyarkan lamunanku. Aku hidupkan mesin dan mobil tua ku pun melaju. Bersamanya, di sampingku.

Laju mobilku memutar arah pusaran angin di sekitarnya. Membuat ilalang-ilalang itu bergerak riang, seolah menari dan mengucapkan selamat tinggal kesedihan serta menyisipkan sebuah kesan mendalam di penghujung hari yang semakin menua.

S E L E S A I

Ilalang…
Terima kasih atas cerita yang kau suguhkan
Aku, dia, dan mereka menjadi yakin
Bahwa hidup bukanlah seorang diri
Bahwa hidup bukanlah milik sendiri
Bahwa hidup tetaplah sebuah misteri
Bahwa hidup adalah kumpulan mimpi
Bahwa hidup tetap harus diperjuangkan
Bahwa kegagalan adalah ruh dari keberhasilan
Bahwa cinta tak selamanya harus diutarakan.


2 komentar:

  1. Setelah membaca, jangan lupa sisipkan pesan ya....kritik saran yang membagun sangat saya nantikan

    BalasHapus
  2. keren sekali mr.clue.. perkenalan yg sangat keren dari aksara basa lalu ku lahap ilalang di blog mu..
    cadas..
    menyayat hate
    kegalauan tapi tetap tidak menghilangkan esensi sastranya... semoga ada penerbit yang berambisi untuk meminang teks teks sastra rasa fisika ..

    BalasHapus