Selasa, 03 Januari 2012

KEKASIH KEDUA

Kata orang cinta itu bisa mematahkan mitos
Mengubur sejarah
Menyamarkan fenomena
Meruntuhkan peradaban
Terlebih mematahkan hati pujangga
Benarkah?


Saat ini Aku sedang menatap mata paling indah di dunia. Mata yang telah membuatku jatuh ke tempat yang indah itu. Mata yang telah membuat aku berpaling. Mata yang telah membuat aku melupakan sejenak apa yang seharusnya aku pertahankan.

Ia tersenyum padaku. Nampaknya ia malu karena dari tadi aku terus memandangi matanya. Pipinya merah merona. Lesung pipitnya muncul seakan menegaskan kalau senyumnya itu tulus. Senyum yang membuatku jatuh ke tempat indah itu. senyum yang telah membuat aku berpaling.

"Aku malu kalau kamu pandangi aku terus"
"Kenapa malu? Aku yang seharusnya malu Dinda. Aku malu karena aku sempat tergila-gila sama kamu. Padahal aku sangat terlarang untukmu"
"Terlarang? Bahasamu itu sangat dramatis, Mil. Kita hanya terjebak satu rasa yang mungkin semua orang akan alami jika keadaannya seperti ini, Mil"
Dia menanggapi pernyataanku dengan ringan dan manis terdengar.

"Kenapa sih kamu selalu manis? Bahkan disaat paling pahit seperti ini?"
"Pahit? Kamu benar-benar suka mendramatisir keadaan dehナ aku selalu menganggap kesalahan yang aku buat sebagai pelajaran berharga. So if I've gotten something value, why I've to be sad? Mungkin kamu saja yang lupa ngasih gula di kopimu, jadi rasanya pahit. Kalau aku tipe orang yang selalu ngasih gula di setiap hal yang aku alami, makanya aku selalu manis"
"Hati-hati diabetes, Din"
"Hahaナ.akhirnya kamu bisa jayus juga"

Kami tertawa terbahak-bahak bersama sambil meneguk kopi yang sudah lama kami cuekkan dari tadi. Kami seperti sepasang insan yang sedang merayakan kemesraan yang kami alami. Kami tidak sedikitpun menampakkan keadaan yang sebenarnya baru saja kami lewati. Keadaan yang membuat kami semakin dewasa. Keadaan yang membuatku mengerti arti mencintai dan dicintai yang hakiki. Keadaan yang membuat kadar kesetiaanku semakin meninggi. Mudah-mudahan rasa itu terus tumbuh. Mudah-mudahan aku tidak kembali jatuh ke tempat indah namun terlarang itu.

Tiga puluh menit yang lalu
Saat ini Aku sedang menatap mata paling indah di dunia. Mata yang selalu membuatku tersenyum menghadapi semua masalah hidup. Namun sangat disayangkan, saat ini mata yang aku kagumi itu sedang kehilangan gairahnya untuk membuat semua orang terpikat. Mata itu tak henti-hentinya mengucurkan air mata. Air mata yang muncul karena sebuah keputusan yang mungkin menyakitkan buat dia. Keputusan sangat berat yang harus aku buat. Keputusan yang membuatku semalaman tidak tidur. keputusan yang aku pikir akan membuatku kehilangan senyumannya untuk selama-lamanya.

"kamu gak apa-apa kan kalau aku menangis seperti ini?"
Dia melafalkan pertanyaan yang tidak seharusnya ia tanyakan padaku dengan tersedu-sedu.

"aku gak punya hak untuk melarang kamu nangis, Bep. Aku cuma merasa sangat bersalah karena sudah membiarkan kamu masuk dalam tempat yang seharusnya tidak pernah kamu injak sama seナ"
Belum sempat aku menyelesaikan apa yang hendak aku katakan, ia menutup mulutku dengan jari lentiknya.

"Aku gak mau lagi mendengar kalimat-kalimat gombal yang muncul dari mulutmu itu, Emil. Semua kalimat yang muncul dari mulut kamu itu seperti batu bara untuk rasa yang hampir padam ini. Kamu ngertiin aku ya, Mil"

Aku menjawabnya dengan satu anggukan pelan. Ingin rasanya air mata jatuh dari sudut mataku. Tapi aku menahannya. Aku tak ingin terlihat sedih atas apa yang telah aku putuskan sendiri. Aku membiarkannya menangis sepuasnya karena itu yang ia minta. Itu yang satu-satunya ia minta dariku saat ini. Alangkah sangat egois kalau aku tak membiarkannya seperti itu. Menangis.

Beberapa menit suasana begitu sunyi. Meskipun aku tahu saat ini dihadapanku ada seorang wanita yang sedang menangis. Tapi tangisnya sungguh senyap. Tangisnya tidak membuat orang disekitarnya menjadi gelisah. Tangisnya membuatku tersadar jika masalah tidak selamanya harus dihadapi dengan sesuatu yang cenderung lebih. Secukupnya saja. Seperti sinar bulan yang menerangi gelap malam. Secukupnya.

"Boleh aku memegang tangan kamu untuk terakhir kalinya?"

Dia memintaku dengan sangat lembut. Akhirnya kepalanya terangkat kembali. Aku melihat matanya berhenti mengeluarkan air mata. Yang ada saat ini hanya titik-titik air yang masih bergelantung di pipinya yang merah. Dia tersenyum padaku. Aku balas senyuman itu sambil mendekatkan tanganku ke tangannya. Aku relakan kedua tangan ini ia sentuh. Kami berdua saling tatap dan senyum. Entah apa yang harus aku katakan saat ini. Semuanya nampak indah. Jauh dari apa yang aku bayangkan sebelumnya. Dia wanita yang sangat istimewa.

"Sudah ya Mil aku lepas"

Ia melepaskan tanganku dari tangannya dengan lembut. Aku pun kembali menjauhkan tanganku darinya.

"Kamu sudah tidak merasa sedih lagi kan?"
"Sedih? GeeR kamuナSiapa yang sedih? Masa aku sedih gara-gara kamu sih. Gak penting tahu"

Dia menjawab pertanyaan lembutku dengan ringan dan renyah sambil menyimpulkan senyum manjanya.

"Terus kenapa kamu tadi nangis?"
"Aku nangis karena bahagia, Mil. Aku merasa dihargai sebagai seorang wanita. Kamu sudah melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan. Kalau semua laki-laki di dunia ini seperti kamu, wanita akan benar-benar menjadi perhiasan paling berharga di dunia ini mil"
"aku juga kagum sama kamu, Bep"
"Bep? Siapa itu?"
"Oh maafナ Maksudku Dinda. Dunia pasti sedang bahagia punya sosok wanita seperti kamu"
"Tahu gak Mil? Sebenarnya aku paling tidak suka kalau percakapan kita diisi dengan kalimat-kalimat seperti ini. Aku seperti terjebak di suatu lokasi dimana kamera ada dimana-mana. Mirip sinetron"
"Hahahaナ"

Kami tertawa terbahak-bahak. Kami tidak peduli orang di sekitar memandang kita sebagai sepasang orang gila yang sedang labil. Tadi mereka melihat kita sedang bersedih, tapi sekarang tiba-tiba mereka disuguhi pemandangan yang sebaliknya. Aneh. Kami berdua memang sepasang orang aneh, terutama dia, wanita yang sempat menjadi sesuatu yang istimewa di hati ini. Setidaknya satu jam lalu.

Satu jam lalu
Saat ini Aku sedang menatap mata paling indah di dunia. Dia nampak sangat cantik hari ini. Lebih cantik dari hari-hari biasanya. Rona kebahagiaan menyebar dari simpul senyumannya yang terlihat sangat tulus. Niatku untuk mengatakan sesuatu menjadi sedikit aku redam. Akankah aku kembali mengurungkan niatku itu. aku sangat tidak tega memadamkan raut wajah ceria yang ia persembahkan padaku hari ini. Aku hanya bisa diam saat ini. "Maafkan aku Ester, beri aku waktu". Aku berdebat sendiri dalam hati. Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan saat ini.

"Aku tahu kamu ada masalah, sayang. Katakan saja. Mungkin aku bisa sedikit membantu kamu, meskipun aku tahu kamu pasti sangat menginginkan untuk selalu menyelesaikan masalah kamu sendiri. Kalau kamu gak bilang, berarti kamu gak pernah anggap aku ada"

Senyuman yang aku lihat tadi mulai hilang dari raut wajahnya. Yang ada sekarang adalah mimik orang yang sangat ingin tahu apa yang aku rasakan saat ini. Rona yang membuat nyaliku semakin terpojok di sudut paling sempit.

"Kamu mau aku pergi?"

Aku sangat kaget mendengar apa yang ia katakan barusan. Aku langsung menarik tangannya sebagai tanda aku tidak mengizinkan dia pergi.

"OK, aku akan di sini buat kamu. Tapi tolong anggap aku sebagai kekasih kamu, Emil"
"Aku berat untuk mengatakan dan menjelaskan semuanya, Bep"

Suasana menjadi sangat hening. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut kami. Kami berdua hanya saling berpandangan selama beberapa menit sampai ia mengatakan sesuatu yang membuatku sangat malu.

"Aku sebenarnya tahu apa yang akan kamu katakan, Mil. Tapi aku akan sangat senang kalau kata-kata itu keluar dari mulut kamu sendiri"
"Aku harap kamu bisa mengerti dan memaafkan aku. Aku sangat tidak mau berada di posisi seperti ini. Aku tahu kamu pun pasti begitu, Bep"
"Aku akan jadi pendengarmu yang baik Emil. Katakan dan jelaskan yang sejelas-jelasnya. Buat aku bangga karena telah menjadi bagian hidup dari seseorang yang istimewa. Buat aku mengeti hingga aku bisa menerima apa yang akan kamu katakan. Katakan!"

Entah kenapa niat yang sempat menciut itu kembali merekah dengan tiba-tiba. Aku merasa tenang setelah ia mengatakan kalimat itu. Aku merasa tidak akan terjadi hal apa pun setelah aku mengatakan hal yang hendak aku katakana padanya.

"Aku minta maaf sebelumnya Dinda. Aku mungkin laki-laki paling bajingan di dunia ini. Aku telah menyakiti hati-hati yang seharusnya tak aku sakiti."
"Hati-hati?"
"Yahナ Aku selama ini berbohong pada kalian. Aku berbohong pada kamu dan Ester."
"Ester?"
"Ester adalah tunanganku, Dinda"

Aku langsung tertunduk. Aku tak sanggup melanjutkan kata-kata yang sebenarnya masih tertumpuk banyak di ujung lidahku. Aku malu pada penjelasan yang aku ucapkan sendiri. Dia tidak pantas mendengarkan apa yang hendak aku katakan. Aku maluナ..

"Berarti aku orang kedua di hati kamu, Mil?"

Aku tak mampu menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang sangat sukar untuk dijawab. Aku hanya diam seperti seekor ayam yang tahu dirinya hendak disembelih.

"Aku ingin mendengar alasan kenapa kamu tega melakukan ini semua Mil"

Aku mendengar ia mengatakannya dengan sedikit terbata-bata. Aku hanya menanggapinya dengan diam seribu bahasa. Sampai ia kembali mengulang permintaan itu dan mengenggam tanganku dengan kuatnya menandakan ia memaksaku untuk menjelaskan semuanya.

"Ester pergi melanjutkan sekolahnya ke Jerman. Sudah setahun kami hanya bisa bertemu lewat webcam. Aku mulai bosan dengan semuanya Dinda. Hingga akhirnya sebulan yang lalu aku menemukan sosok yang mirip dengan Ester yang mengisi posisi dia yang saat itu hilang dari hatiku. Sosok itu membawaku kembali mengulang masa-masa indahku bersama Ester. Sosok itu kembali mengingatkanku hakikat mencintai dan dicintai. Sosok itu membuat duniaku menjadi semakin manis untuk diarungi. Sosok itu adalah kamu"

Giliran Dinda yang tiba-tiba mulutnya terkunci sangat rapat. Ia menatapku dengan tatapan yang kosong. Sedikit demi sedikit tangannya menjauh dari tanganku. Ia nampaknya sudah tahu akhir dari percakapan ini. Aku merasa malu. Terlebih aku merasa menyesal karena kenapa rasa malu itu tidak hadir saat aku pertama kali menulis di wall FB-nya untuk mengajak dia kenalan. Mengapa rasa malu ini tidak muncul saat aku mengajaknya untuk bertemu. Mengapa rasa malu ini tidak muncul saat aku menyatakan perasaanku padanya. Perasaan yang sangat tidak pantas aku ungkapkan. Sebuah perasaan inti dari suatu pengkhianatan besar.

"jujur Mil, sebenarnya aku mau saja kamu jadikan kekasih kamu yang kedua. Aku tahu kedengarannya sangat tabu, tapi itu yang aku rasakan saat ini. Kamu cinta pertama aku Mil... Tapi untungnya aku punya hati dan otak yang masih bisa bekerja beriringan. Aku wanita dan dia pun wanita. Semua wanita di dunia ingin mendapatkan cinta yang utuh. Semua wanita ingin dihargai dengan cinta yang layak. Berikan cinta utuh dan layakmu pada Ester, Mil. Aku cukup dewasa untuk memahami ini semua"
"Terima kasih Dinda"
"Sama-sama, Mil"

Kata orang cinta itu membuat kita susah makan, susah tidur dan susah mengakui apa yang seharusnya diakui
Bagiku cinta itu adalah keberanian mengakui
Bagiku cinta itu adalah sesuatu yang membuat kita bisa menyadari semua yang sebelumnya enggan untuk disadari
Bagiku cinta itu suci dan tabu
Cinta adalah sesuatu yang patut dibayar mahal
Dibayar dengan ketulusan dan kejujuranナ

June, 20th 2010



Kekasih Kedua (bagian dua)

Aku berlari menembus hujan. Mengejar waktu yang telah lama aku tinggalkan. Mencoba meraih kembali kesempatan yang sempat aku hilangkan. Sebenarnya aku tak ingin hujan ini. Ia membuatku basah. Ia membuatku tak akan tampak maksimal. Ia juga telah merusak buket bunga yang sudah kupersiapkan.

Jam 14:00:02
Ia diam seribu bahasa. Ia pun membuatku diam tanpa daya. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku benar-benar dibuat malu dengan kelakuan dan sikapku padanya. Tidak sepantasnya dia diperlakukan seperti ini. Ingin rasanya saat ini aku pergi meninggalkan dia sendiri, tapi apakah sikapku itu adalah sikap lelaki sejati. Tidak. Aku tidak mungkin melakukannya.
"kamu pergi saja, mil"
"aku gak bisa pergi mir, sebelum aku melihat wajah kamu yang ceria seperti tadi"
"wajah itu hanya untuk emir empat tahun yang lalu, bukan untuk lelaki seperti kamu. Itu artinya percuma kamu menunggu disini sampai kapan pun."

Suaranya makin lantang terdengar. Mungkin ia sudah tidak tahan dengan emosi yang ia tahan sejak tadi. Semua orang di rumah makan itu seakan tahu masalah apa yang tengah kami hadapi. Jujur aku sangat malu berada di posisi ini. Tapi inilah yang harus aku terima. Aku tidak mungkin membuat bidadari di hadapanku ini dikhianati setiap detiknya.

Aku mencoba untuk mengulurkan tanganku dan menggenggam tangan mungilnya. Seketika ia menolak dengan menangkat kedua tangannya untuk mengusap air matanya.
"jadi apa yang harus aku lakukan sekarang, mir"
"pergi"
"baik mir, aku akan pergi. Tapi kamu harus janji, kita tetap bisa menjadi teman dekat kan mir?"

Dia terdiam dan menatapku dengan sangat tajam. Mimik itu memberiku isyarat negative atas pertanyaanku tadi.
"kamu gak usah mikirin aku lagi. Aku akan baik-baik saja tanpa kamu ko mil"

Dia pun berdiri sambil mengusap air matanya dengan tisu. Aku menatapnya dengan kosong dan hampa. Kemudian ia lemparkan senyum manisnya padaku. Dan ia pun pergi meninggalkanku. Apa yang sebenarnya sudah aku lakukan padanya. Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranku ini. Tapi aku ingin dia benar-benar mengerti.

13:34:18
"aku gak pernah merasa dibohongi seperti ini mil. Aku merasa benar-benar dikhianati"

Saat itu aku hanya bisa diam seribu kata. Seorang penyiar radio sepertiku tak pernah berada di posisi seperti ini, speechless.
"Ngomong dong mil. Aku butuh penjelasan yang bisa membuat aku untuk berpikir dua kali atas semuanya. Bela diri kamu milナ"

Matanya menatapku dengan begitu tajam, membuat lidahku semakin membeku dan diam.
"aku jadi semakin tidak mengenal kamu mil. Kamu sangat berbeda dengan emil empat tahun yang lalu"
"apa yang dia tahu dari aku selama ini?"
hatiku yang mampu berbicara
"dimana dia saat ibuku meninggal tiga tahun yang lalu, dimana dia tiap tahunnya ketika aku harus melewati malam pergantian tahun dalam hidupku, dimana dia saat aku tergolek dirumah sakit, dimana dia saat aku lulus dan jadi sarjana, dimana dia saat aku harus pergi kesana kemari untuk mencari pekerjaan, dimana dia saat aku harus dipecat dari kantor yang baru tiga minggu aku tempati, dimana dia saat aku putus asa, dimana dia saat aku mulai jatuh hati dengan gadis lain?"

"empat tahun ini aku merasa sendiri mil"
"aku berusaha untuk terus menjaga hubungan lewat jutaan email dan ratusan menit untuk telpon kamu, tapi kamu gak pernah menanggapinya dengan serius. Kamu bilang kamu sibuk dengan kuliah kamu. Aku merasa bosan kalau harus seperti itu dalam jangka waktu yang lumayan panjang"

Entah setan apa yang membuatku berani mengatakan kalimat demi kalimat tersebut. tapi setidaknya pernyataanku itu membuatku merasa lebih tenang.



To be continued...

1 komentar: