Kamis, 05 Januari 2012

B U N Y I

Bunyi berasal dari sesuatu yang bergetar. Merambat pada medium. Sampaikan ayat-ayat syahdu tentang harapan dan mimpi padamu.


Selama ini kami pintar menyimpulkan dengan persepsi masing-masing. Tak pernah ada titik temu. Yang ada hanya usaha untuk mempertahankan keegoisan. Angkuh. Kami duduk di satu meja tapi kami tak saling bicara. Kami melaju di satu bahtera dengan arah yang berbeda. Kami tidur di tempat yang sama dengan mimpi yang tak sama.

Kami telah hampakan hati kami dari udara atau perantara lainnya. Sehingga pesan dari bunyi itu tak sampai di telinga. Terpantulkan oleh tameng tebal. Membentuk siluet hitam. Dan kami melihatnya sebagai seni. Meskipun hitam.

Saat bunyi itu melambat di suhu yang dingin. Kami senang membekukan udara. Memadatkannya, hingga ia tak lagi terdengar nyaring; cenderung bisu.

Merambat dengan rapatan dan renggangan. Menelusuri hati para pujangga. Mencoba yakinkan dunia bahwa kami punya cinta. Walaupun kecil, tapi setidaknya masih ada.

Inilah alasanya adanya perang dan kerusuhan. Semuanya tuli atau sekedar membiasakan diri untuk tuli. Butuh jutaan desibel suara untuk menyadarkan telinga kami bahwa ia masih berfungsi dengan baik. Butuh tangisan jutaan anak kecil dan wanita untuk menyadarkan kami. Inikah yang sebenarnya ingin kami dengar? Tangis anak yang lapar dan wanita yang kehilangan suaminya di medan perang?

Bunyi bukan sekedar energi. Lebih dari itu, ia punya ruh yang sewaktu-waktu akan marah saat ia merasa tak didengarkan. Arogan.

Jangkrik senang saat semua rahasia mereka tak dapat terdengar. Tak bisa diadudombakan. Mereka senang dengan dunia mereka sendiri. Damai di frekuensi yang rendah saat kami sibuk mencari akar masalah yang tak pernah berbatang, berdaun, dan berbuah lebat. Hebat.

Sandarkan diri di dinding retak. Berharap kami bisa mendengar apa yang mereka perbincangkan. Kami tersenyum saat mendengar bunyi yang teratur. Itulah nada yang bisa membuat kami menari riang. Tapi kami akan tertidur gelisah saat kami mendengar bunyi yang tidak teratur. Desah.

Kapan kami bisa saling rapat sedangkan meja makan kami panjangnya empat meter dan kami duduk di sisi yang bersebrangan. Jauh. Kami tak dapat saling percaya. Yang ada hanya curiga dan buruk sangka.

Kami ingin dunia tak hanya melihat tapi juga mendengar dan merasakan. Cinta bukan sekedar kata yang senantiasa didendangkan dengan syahdu. Ia akan ada saat hati siap menerimanya. Saat hati bisa terbuka. Saat hati bicara bahwa ia membutuhkan sesama. Saat hati bicara bahwa ia merindukan masa dimana kita semua sama.

Biarkan bunyi ada. Biarkan ia terus berdendang cinta…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar