Tampilkan postingan dengan label Kurzgeschichte. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kurzgeschichte. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Agustus 2012

DEWI DALAM LUBANG CACING

Anugerah terbesar adalah apa yang kamu jalani saat ini - Cluesology

Di separuh jam pelajaran, kelas begitu hening. Sebagian anak sibuk dengan catatannya dan sisanya hanya memandang kosong papan tulis hijau yang penuh dengan tulisan yang saya buat. Ya, sudah ratusan bahkan ribuan kali saya menemui keadaan kelas seperti ini. anak-anak muda yang seharusnya aktif dan kritis seakan menjadi pendengar yang pasif dan antipati terhadap kelas fisika kuantum yang sedang saya bawakan.

"Baiklah anak-anak, penjelasan tentang teori relativitasnya saya cukupkan sekian. Sekarang tutup catatan kalian. Saya punya suatu bahan untuk didiskusikan" suara tunggal saya kembali memecah kesunyian yang sedang terjadi. Seketika kelas pun ramai dengan suara sekitar 25 mahasiswa yang seakan kembali terbangun dari mati surinya.

"Tadi pagi sebelum berangkat ke kampus, saya baca headline surat kabar yang menyajikan kejadian mistis di daerah Blora" Seketika pula riuh itu kembali meluruh dan tergantikan oleh 25 pasang mata yang tajam memandang saya, penuh perhatian.

"Wah, Prof suka juga ya baca cerita horor?" celetuk salah satu mahasiswa dengan muka polosnya.

"Cerita ini bukan cerita horor biasa. Cerita ini ada hubunganya dengan fenomena yang hingga saat ini belum ada jawaban ilmiah pastiny"Jawab saya sembari berjalan kecil mendekati mahasiswa tersebut.

"Tentang ilmu santet ya, Prof?" Celetuk mahasiswa lainnya di sudut ruangan yang bersebrangan. "Bukan" Jawab saya sembari membalikan arah jalan menuju sudut sebrangnya. Suasana kembali hening. Yang terdengar hanyalah suara ketukan sepatu mengikuti derap langkah saya.

"Apa kamu pernah mendengar cerita mistis tentang korban yang tersesat 'mesin waktu' di hutan jati Blora yang sudah kerap terjadi?" Tanya saya pada mahasiswa berbaju ungu yang sedang saya dekati. Sontak mahasiswa itu memberi respon dengan menggelengkan kepalanya.

"Koran yang saya baca tadi pagi menceritakan tentang kejadian terjebaknya bus Pahala Kencana dan dua truk tronton di hutan Blora. Disebukan pula bahwa warga setempat bahkan sudah tidak heran lagi mendengar kejadian-kejadian yang tak masuk akal itu" Lanjut saya menerangkan dan memutar tubuh saya untuk berjalan lurus ke depan kelas.

"Prof percaya dengan cerita semacam itu?" Terdengar mahasiswa di samping kiri saya bertanya dengan suara parau yang sedikit pelan.

"Saya sebenarnya ragu dengan cerita itu, tapi tentang teori adanya Mesin Waktu, saya sedikit mempercayainya" Terlihat mahasiswa yang berkaos kuning itu hanya mengangguk-angguk kecil sembari sesekali menghentakan pensil yang sedang ia pegang ke mejanya.

"Mesin waktu itu sebenarnya apa, Prof? Saya sempat baca tentang Wormhole, dasar teori yang katanya bsa menjelaskan fenomena mesin waktu" Kembali mahasiswa berbaju kuning bertanya kepada saya dengan suara yang sedikit lantang.

"Sok tahu kamu, Ndi" celetuk mahasiswa lainnya, sedikit meragukan.

"Benar apa yang dikatakan Wandi, Wormhole itu adalah 'sesuatu' yang ada secara teoritis. Paling tidak sampai detik saat saya mengatakan ini, wormhole hanya ada di atas kertas teori, atau muncul di film-film dan buku-buku fiksi ilmiah. Keberadaan wormhole dalam teori dimulai ketika Albert Einstein memperkenalkan Teori 'Relativitas Umum', teori yang kita pelajari barusan. Disitu Einstein menunjukkan bahwa massa bisa membuat ruang waktu melengkung atau terlipat, sehingga semakin besar massa, semakin melengkung ruang waktu. Bagaimana anak anak, sulit dibayangkan ya?" saya hentikan penjelasan panjang lebar tadi saat melihat 25 mahasiswa dihadapan saya kembali terlihat menatap kosong.

"Intinya, lubang cacing adalah lengkungan ruang yang diakibatkan oleh adanya massa yang super besar. Jika lubang cacing itu benar adanya maka kamu bisa masuk ke satu lubang dari satu dimensi ruang dan waktu tertentu dan keluar ke dimensi ruang dan waktu yang lainnya" Jelas saya menyimpulkan.

"Wow, keren... Andai saja mesin waktu itu ada. Kita akan hidup seperti Doraemon, bisa pergi kemana saja kita mau" kembali mahasiswa berbaju ungu yang duduk di sudut ruang kelas mebuat celetukan. Saya hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.

"Prof, jika seseorang kembali dari masa depan, lalu membunuh orang-tuanya sebelum dia dilahirkan, lalu bagaimana dia bisa 'ada' dan melaksanakan misi membunuh orang-tuanya?" saya sedikit tertegun dengan pertanyaan yang keluar dari mulut salah seorang mahasiswa. Pertanyaan yang selalu menjadi pertanyaan besar saya.

 "Di situlah kontroversinya. Bahkan dengan pengetahuan akan teori Quantum, Stephen Hawking memperkenalkan 'Konjektur Perlindungan Kronologi', yang bisa 'melindungi' perjalanan antar waktu tersebut. Karena secara teori, di dalam lorong pasangan partikel-antipartikel secara terus menerus tercipta dan saling meniadakan, dengan demikian energi meluap dengan amat sangat, bahkan bisa melebihi energi eksotis yang diperlukan untuk membuka gerbang wormhole. Dan, wormhole akan terganggu dan tertutup, bahkan sebelum mesin waktu tercipta" Kembali kelas menjadi hening. Dan saya pun seperti bingung dengan apa yang baru saja saya jelaskan.

"Tapi lebih dari itu semua, hanya Tuhan yang tahu dan Maha berkehendak" Ucap saya menutup semua kebingungan saya.

***

Ruangan ini begitu tenang. Tak ada suara ketukan pintu dari mahasiswa yang datang untuk berkonsultasi atau sekedar meminta tanda tangan. Saya memang ditakdirkan untuk selalu merasa sepi. Hanya dialah yang mengisi kehidupan saya saat ini. Ia yang menjadi satu-satunya alasan mengapa aku bisa bertahan hidup sampai saat ini, Dewi, istri saya.

"Boleh saya masuk, Prof?" suara berat yang tiba-tiba terdengar berhasil memecahkan bulatnya kebisuan di ruangan ini.

"Tentu saja pak. Silahkan duduk" Yang datang adalah sahabat karibku, Pak Yos, yang selalu terlihat ceria dengan kumis tebalnya yang mulai memutih dan secangkir kopi yang tak pernah absen di setiap kehadirannya.

"Ngelamunin apa to, Prof?" Tanya dia sambil membenarkan posisi duduknya dan meneguk kopinya.

"Ndak ko. Saya cuman ngantuk. Semalam saya harus teleconference dengan professor dari Hawai tentang proposal penelitian yang hendak kami buat" jawab saya sambil mengucek kedua mata yang memang terasa berat.

"Sukses ya, Prof. Saya tadi dengar dari beberapa mahasiswa tentang topik mesin waktu yang kamu bahas. Mereka kelihatan penasaran dengan wacana itu. Kamu sudah berhasil memancing mereka untuk berpikir kritis. Kata mereka, kamu menjelaskan dengan detail semua hal tentang mesin waktu, seolah kamu pernah masuk ke mesin waktu itu" Tanya dia sambil sedikit terbahak dan kembali meneguk kopinya.

"Saya hanya berusaha membagi rasa kepenasaran saya, Pak. Sudah berpuluh-puluh tahun saya memikirkan wacana tersebut. Ratusan teori sudah saya lahap dan jejalkan dalam otak. Tapi semuanya hanya berakhir dalam bentuk sebuah pertanyaan raksasa. Apa benar mesin waktu itu ada?" Ya, entah apa alasan saya sampai-sampai saya sangat terobsesi dengan mesin waktu. Ada sesuatu yang saya ketahui tapi saya selalu tutupi. Semuanya saya lakukan hanya untuk membuat semuanya damai. Diam dalam keinginan untuk merubah semuanya. Takdir.

"Wah, jangan-jangan proposal terbarumu ada kaitannya dengan mesin waktu ya, Prof?" Mukanya terlihat antusias. Seperti singa lapar yang berhadapan dengan kelinci gemuk yang pasif. Pasti ia dapatkan jawabannya.

"Saya tidak sejenius itu, Pak. Meskipun ada sedikit keinginan untuk membuatnya" Jawab saya yang seakan membangun beton keras pemisah ia dengan kelinci pasif itu dalam sepersekian detik.

"Kalau saya sih tidak terlalu berminat untuk merealisasikan fiksi ilmiah itu. Saya percaya apa yang kita jalani saat ini adalah takdir yang terbaik yang diaugerahkan Tuhan pada kita" Ya, saya pun begitu. Saya percaya bahwa takdir Tuhan itu adalah jalan hidup yang terbaik. Tapi apakah salah jika saya hendak merubahnya jika saya bisa untuk merubahnya?

"Memang apa yang hendak Prof ubah jika mesin waktu itu benar-benar ada?" Kembali ia bertanya dengan mata tajam dan muka yang antusias. Singa kuat itu telah berhasil mendobrak beton pemisah kami. Saya terdiam sejenak. Terdiam dalam kekalutan.

"Butuh waktu lama untuk membuat keputusan sekrusial itu, Pak. Bahkan waktunya lebih lama ketimbang mewujudkan mesin waktu itu sendiri" Jurang yang lebar dan terjal tiba-tiba tercipta di antara kami. Sang singa lapar terlihat menyerah dan berlari melawan arah.

***

Kehidupan saya memang sedikit monoton. Pergi ke kampus, memberi kuliah, datang menjadi pemateri di seminar, berkutat di laboratorium, dan pulang ke rumah. Kegiatan yang terakhirlah yang selalu saya rindukan dimanapun saya berada. Hari ini belum terlalu tua untuk saya kembali ke rumah. Rumah yang selalu tampak sepi bila terlihat dari luar. Memang. Selama saya tinggal di rumah kecil dan sederhana itu, saya tidak pernah mendengar suara tangis anak kecil atau keriangan pesta ulang tahun seorang remaja. Rumah saya lebih terasa seperti sebuah perpustakaan pribadi. Hening.

"Selamat sore, Mah" sapaku pada sosok wanita yang terlihat masih cantik dan segar di usia senjanya. Dia terlihat sedang tertunduk membaca buku yang sedang ia pegang.

"Wah bapa tumben pulang lebih awal" terlihat wanita itu menutup buku yang sedang ia baca. Saya hanya tersenyum hangat menyapanya.

"Kebetulan makanannya baru saja jadi. Masih hangat dan enak" Saya kecup keningnya dengan mesra. Dialah alasan saya satu-satunya untuk hidup. Dewi, istri saya.

"Bapak ganti baju dulu sebentar ya, nanti bapa menyusul ke ruang makan" Dengan semangat ia berjalan menuju ruang makan. Tubuhnya yang mungil membuat ia terlihat lebih muda dari umurnya sekarang, 50 tahun. Dua puluh lima tahun Dewi mengisi kehidupan saya. Dia adalah wanita yang baik dan sangat sabar. Dia memang sedikit pendiam dan dingin, tapi sikapnya itu membuatku selalu bisa tenang dalam menghadapi setiap masalah. Ia seperti batu es dalam secangkir the yang panas. Dia adalah karet peredam dari sikap saya yang terkadang tak terkendali saat saya gagal mengkorelasikan suatu teori. Dia adalah wanita terbaik yang sudah Tuhan takdirkan untuk menemani hidup saya.

Tapi akhir-akhir ini dia sedikit berbeda. Dia sering terlihat murung saat sendiri. Hampir setiap malam dia bangun dan solat tahajud. Saat saya pura-pura tertidur, saya sering mendengarkan tangisnya yang tertahan dan doa yang selalu ia panjatkan. Doa kami yang tak pernah terwujud.

"Pak, cobain deh pepes telur asin ini. Mamah dapet resepnya dari dokter Anna. Kata dia ini masakan favorit dokter Ruhut" ucapnya riang sambil meletakkan setengah butir telur asin yang di pepes ke piring yang ada di hadapan saya. 

"Vielen dank, meine Liebe" --- "Terima kasih banyak, cintaku" jawab saya singkat.

"Masakanmu terlihat enak. By the way, ada keperluan apa kamu bertemu dengan dokter Anna?" Saya memuji masakan yang memang terlihat enak ini. Saat dimana saya melihat air mukanya yang tiba-tiba berubah.

"Tadi pagi dokter Anna datang ke rumah untuk mengantarkan undangan pernikahan putri semata wayangnya. Dia terlihat sangat bahagia, Pak" kembali saya lihat butir air matanya tertahan di kedua ujung mata bulatnya.

"Mah, sudahlah. Kamu jangan terlalu larut dalam harapan kosongmu. Kita sudah terlalu tua untuk menyesali semuanya. Saya sudah teramat bersyukur mempunyai wanita seperti kamu. Kamu adalah malaikat dalam kehidupan saya" Saya pun berdiri menghampirinya dan berusaha menegakkan bahunya yang sedikit merapuh.

"Andai saja aku bisa memutar waktu, aku hanya ingin menjadi seorang ibu meskipun hanya beberapa detik saja. Merasakan hangatnya tubuh bayi mungil dalam pelukanku dan mendengar tangis paraunya, Pak" Dia akhirnya menumpahkan segala yang ia tahan selama ini.

Dua puluh lima tahun yang lalu kami menikah. Hampir semua teman menyebut kami sebagai pasangan yang Mahadahsyat. Seorang Doktor muda menikah dengan arsitek sukses yang sangat cantik. Semua orang sangat penasaran dengan anak yang akan terlahir dari rumah tangga kami. Anak yang sampai saat ini hanya menjadi angan bagi kami dan mereka. Beberapa tahun setelah akad, kami belum juga dikaruniai seorang anak. Dengan sabarnya kami melaksanakan program kehamilan. Dia pun mulai mengurangi kegiatannya di luar kantor.

Di tahun ke delapan barulah saya mendapat kabar yang sangat menggembirakan. Beberapa hari setelah kami merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke delapan, Dewi dinyatakan hamil. Alangkah senangnya dia waktu itu meskipun dokter menyarankan untuk berhati-hati menangani kehamilan di usia Dewi yang tidak muda lagi, 33 tahun. Kami harus mengkonsultasikan masalah kehamilannya ke dokter secara rutin. Dia memang terlihat sangat lemah dengan kehamilannya. Empat bulan pertama dia lalui dengan berbagai siksaan. Nafsu makan Dewi sangat rendah dan dia sangat sering meludah karena ia merasa tidak enak dengan lidahnya.

Saat bulan-bulan pertama, kami sering pergi ke dokter di sela kesibukan saya sebagai dosen dan ia sebagai arsitek. Apalagi sewaktu dokter menyatakan bahwa Dewi mengidap Preeklamsia yang merupakan suatu bentuk penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi yang terjadi pada ibu hamil. Dokter menyatakan bahwa penyakit ini sangat berbahaya bagi kehamilan Dewi. Dengan sikap pantang menyerahnya, dia melakukan berbagai cara untuk meminimalisir dampak dari penyakit tersebut. Memasuki bulan ketujuh dari kehamilannya, Dewi cuti dari tugasnya di kantor. Dia memilih untuk beristirahat dan mempersiapkan kelahiran jabang bayi yang ia kandung. Kamar dan segala isinya telah ia siapkan dengan baik dan semuanya berwarna merah muda, warna kesukaannya. Warna yang kelak akan memanjakan mata putri kami - hasil USG memang menyatakan bahwa bayi yang akan lahir kelak memiliki jenis kelamin perempuan.

Berbeda halnya dengan saya. Di bulan ke tujuh dari kehamilan Dewi, aktivitas penelitian saya semakin meningkat. Saya berharap bisa menuntaskan semua obsesi saya. Obsesi yang akan segera terwujud. Saya sangat ingin sekali mendampingi detik demi detik perjuangan Dewi dalam melahirkan putri kami ke dunia ini. Setiap harinya, saya selalu berangkat sangat pagi dan pulang larut malam, dari senin sampai sabtu. Karena kondisi Dewi yang lemah dan saya yang sangat sibuk, Dewi tidak bisa lagi pergi ke dokter untuk mengkonsultasikan kondisi kehamilannya. Hingga pada suatu sore mimpi buruk pun mulai menghampiri.

"Dewi, kamu terlihat sangat pucat. Ada apa sayang?" Tanya saya pada Dewi yang sedang duduk lemah di kursi goyangnya. Dia terlihat sedang mengelus perutnya yang terlihat semakin membesar.

"Gak ada apa-apa, Mas. Mungkin aku cuma kecapean mempersiapkan kamar untuk bayi kita" Jawabnya dengan suara sedikit lemas.

"Mas coba pegang deh perutku" Dia letakkan tangan saya di perut besarnya

"Mas rasain detak jantung bayi kita gak? Atau tendangan kakinya? Kok aku rasa dia diam saja dari tadi pagi. Apa mungkin bayi kita juga ikut kelelahan ya, Mas?" Tanyanya dengan muka yang terlihat sedih. Jujur saya tidak paham dengan kondisi seperti ini.

 "Mamah gak pernah pergi ke dokter lagi ya?" saya bertanya padanya dengan muka yang penasaran

"Aku gak kuat, Mas" Sekali lagi dia terdengar sangat lemas. Saya pun mulai khawatir saat ia sesekali terlihat ingin muntah.

"Mah, ayo sekarang kita pergi ke dokter" Saya pun membawa Dewi pergi ke rumah sakit. Dengan wajah tenangnya Dewi selalu berhasil memadamkan ketergesaan saya yang semakin menjadi.

Tiga puluh menit lebih Dewi berada di ruang pemeriksaan. Berbagai pertanyaan menyeruak dalam pikiran saya saat itu. Sampai akhirnya dokter keluar diikuti suara derit ranjang dorong yang membawa tubuh mungil Dewi. Sekilas, Dewi terlihat menyimpulkan senyuman ringan pada saya. Senyuman yang membuat saya semakin khawatir. Dan ia pun berlalu dengan cepat.

"Dokter, apa yang sebenarnya terjadi dengan istri saya?" Tanya saya sambil berusaha memelankan langkah dokter yang begitu cepat.

"Anda tidak pernah sepenuhnya mendengarkan apa yang saya sarankan. Operasi sesar harus segera dilakukan untuk menyelamatkan istri dan anak Anda. Anda sekarang ikut saya untuk segera menandatangani surat izin operasi istri Anda" Semuanya terdengar seperti mimpi. Mimpi buruk yang merupakan buah dari keteledoran saya. Saya hanya bisa menyesal.

Tiga jam lebih saya menunggu kabar dari ruang operasi. Berkali-kali pula saya bolak balik ke mushala sekedar untuk berdoa demi kebaikan istri dan anak saya. Saya mungkin bisa memecahkan soal mekanika kuantum serumit apa pun, tapi untuk saat seperti ini, saya hanya bisa berdoa. Setelah hampir empat jam, akhirnya dokter pun keluar dari ruang operasi diikuti suster yang membawa sesosok bayi yang terlihat lemas. Tak ada suara bayi yang menangis yang bisa saya dengar saat itu. Saya pun tak sempat menyentuhnya karena suster dengan sigap membawanya sedikit berlari entah kemana.

"Anda terlambat, Pak. Andai saja Anda membawa Dewi kemarin ke sini untuk operasi sesar. Bayi Anda akan dapat kami selamatkan" Saya seakan tidak mengerti dengan apa yang sedang dokter katakan. Dunia seakan bergemuruh sangat hebat saat saya mendengar setiap kata yang ia utarakan.

"Bersabarlah, Pak. Bapak masih beruntung. Dewi masih bisa terselamatkan" Itulah ucapan terakhir dari dokter yang membuat saya sedikit lega. Dengan lekas, saya masuk ke ruangan operasi dan melihat Dewi yang tertidur lelap. Dia belum menyadari bahwa putri yang sangat ia nantikan telah pergi bahkan sebelum ia memiliki sebuah nama. Kejadian itu memberi efek trauma yang berkepanjangan untuk Dewi. Dia berhenti dari pekerjaannya dan mengharapkan dia bisa kembali hamil dan memberi saya keturunan. Hingga sampai saat ini kami hanya bisa berharap. Harapan kosong.

"Janganlah kamu bersedih atas apa yang telah terjadi. Saya bersyukur sudah memiliki kamu, sayang" saya berusaha menenangkan sesegukan dia yang tak kunjung henti.

Dewi menganggap hidupnya tak pernah genap tanpa kehadiran seorang anak di tengah-tengah keluarga kami. Saya pun pada akhirnya hanya bisa meninggalkannya sendiri dalam kesedihan. Dewi tak pernah tahu apa yang sebenarnya saya rasakan. Sebuah penyesalan besar. Dalam hal ini, bukan Dewi yang salah. Sayalah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab pada peristiwa tujuh belas tahun yang lalu. Saya terlalu sibuk dengan obsesi saya saat itu. Membuat mesin waktu.

Saya hampiri sebuah lemari di sudut ruang kerja, kemudian saya menggesernya. Sebuah pintu kecil pun terlihat di balik lemari itu. Pintu yang belum berani saya buka sejak saya membuatnya. Pintu yang tak pernah saya tahu isi dibalik tegap berdirinya. Saat itu saya hanya fokus pada Dewi. Semua isi otak saya penuh dengan Dewi. Senyuman manisnya, gesit tingkahnya, serta tangis sendunya. Dan pikiran tentang dialah yang menuntun saya membuka pintu itu. Dan seketika saya melihat sebuah lubang panjang, dunia pun menjadi gelap.



***

Seorang pria berusia sekitar 38 tahun sedang berkutat dengan solder dan ratusan komponen yang ada di meja praktiknya. Dia terlihat sangat serius memperlakukan tiap butir komponen-komponen kecil dalam rangkaian besar yang sedang ia buat. Bunyi dering HP terdengar dari telpon selularnya. Dia dengan segera meletakkan solder dan rangkaian yang sedang ia pegang dan meraih telpon selular yang tergeletak di meja sebelah. Mukanya terlihat semakin serius memperhatikan telpon selularnya. Ia bergegas membereskan meja praktikumnya dan pergi keluar.

Setibanya di suatu rumah, dia terlihat menghampiri wanita yang sedang duduk di beranda rumahnya. Istrinya. Wanita mungil itu terlihat ringkuh dengang perut yang semakin membesar sambil sibuk merajut bahan. Hari ini tepat tujuh bulan usia kehamilan wanita itu. Sang pria, suaminya, terlihat meletakkan tanganya di perut istrinya.

"Anakmu sedang menendang-nendang perutmu yah?" Tanya si pria sambil menempelkan telinganya ke perut sang istri.

"Itu tanda bahwa bayi kita aktif, Mas. Sehat" sang wanita menjawabnya dengan nada yang manja

"Tapi kita harus memeriksakan kehamilanmu ke dokter sekarang ya, Dew. Sudah sebulan saya sibuk dan tidak bisa mengantar kamu untuk berkonsultasi" dengan lekas wanita itu menaruh rajutannya dan sang pria membopongnya masuk ke rumah.

***

Di rumah sakit sang pria terlihat gelisah menunggu sang istri keluar dari ruang pemeriksaan. Setelah tiga puluh menit berlalu, dokter pun keluar diikuti dengan suara derit ranjang dorong yang membawa istrinya keluar. Sekilas, sang istri terlihat menyimpulkan senyuman ringan pada sang pria. Senyuman yang membuat sang pria semakin terlihat khawatir.

"Dokter, apa yang sebenarnya terjadi dengan istri saya?" Tanya sang pria sambil berusaha memelankan langkah dokter yang begitu cepat.

"Anda membuat keputusan yang tepat. Jika saja Anda terlambat membawa Dewi untuk memeriksakan kehamilannya, mungkin bayi Anda tidak bisa diselamatkan" Semuanya terdengar sedikit menggembirakan bagi sang pria. Ia telah berhasil mengubah nasib. Setidaknya untuk saat ini.

Tiga jam lebih sang pria menunggu kabar dari ruang operasi. Berkali-kali pula pria itu bolak balik ke mushala sekedar untuk berdoa. Dia mungkin bisa memecahkan soal mekanika kuantum serumit apa pun, tapi untuk saat seperti ini, dia tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali berdoa. Setelah hampir empat jam, akhirnya dokter pun keluar dari ruang operasi diikuti suster yang membawa sesosok bayi yang terlihat segar dan aktif. Bayi itu menangis sangat kencang dan dokter mempersilahkan sang pria untuk mengadzaninya.

Dengan lunglai kemudian sang pria masuk ke ruangan tempat istrinya berbaring sambil membawa putrinya. Dengan suara parau di hadapan tubuh istrinya yang masih tertidur pulas, efek dari obat bius, ia berkata, "Mah, bayi kita perempuan. Saya belum bisa memberi nama apa yang pantas untuk anak ini. Makannya cepat bangun, kita beri nama putri kita segera, Mah" Dan sesaat, dunia menjadi gelap.

 ***

"Pah, kok melamun begitu sih?" terdengar suara seorang gadis mengagetkan saya yang sedari tadi melamun.

"Saya kangen ibumu, Dew" saya menjawabnya sambil membalikan piring yang tergeletak di hadapan saya.

"Ini saatnya makan, Pah. Bukan saatnya bersedih dan melamun. Saya buatkan pepes telur asin kesukaan papah tuh" Ujar Dewi dengan muka yang sumringah. Dia selalu begitu. Dia adalah gadis remaja yang sangat riang. Dia layaknya api. Api yang selalu berhasil melumerkan batu es, diriku. Es memang sangat berbeda dengan api. Begitupun Dewi, istriku. Dia berbeda 180 derajat dengan putri kami, Dewi. Tapi kedua Dewi itu telah dengan sabar menemani sisa hidup saya. Meski keduanya tak pernah hadir bersamaan di satu waktu.

***

Ruangan ini begitu tenang. Tak ada suara ketukan pintu dari mahasiswa yang datang untuk berkonsultasi atau sekedar meminta tanda tangan. Saya memang ditakdirkan untuk selalu merasa sepi. Hanya dialah yang mengisi kehidupan saya saat ini. Ia yang menjadi satu-satunya alasan mengapa aku bisa bertahan hidup sampai saat ini, Dewi, putri semata wayang saya.

"Boleh saya masuk, Prof?" suara berat yang tiba-tiba terdengar berhasil memecahkan bulatnya kebisuan di ruangan ini.

"Tentu saja pak. Silahkan duduk" Yang datang adalah sahabat karib saya, Pak Yos, yang selalu terlihat ceria dengan kumis tebalnya yang mulai memutih dan secangkir kopi yang tak pernah absen di setiap kehadirannya.

"Ngelamunin apa to, Prof?" Tanya dia sambil membenarkan posisi duduknya dan meneguk kopinya.

"Ndak ko. Saya cuman ngantuk. Semalam saya harus teleconference dengan professor dari Hawai tentang proposal penelitian yang hendak kami buat" jawab saya sambil mengucek kedua mata yang memang terasa berat.

"Sukses ya, Prof. Saya tadi dengar dari beberapa mahasiswa tentang topik mesin waktu yang kamu bahas. Mereka kelihatan penasaran dengan wacana itu. Kamu sudah berhasil memancing mereka untuk berpikir kritis" Tanya dia sambil kembali meneguk kopinya.

"Saya hanya berusaha membagi rasa kepenasaran saya, Pak. Sudah berpuluh-puluh tahun saya memikirkan wacana tersebut. Tapi sekarang saya sudah lama meninggalkan wacana itu. Biarlah wacana itu tetap menjadi wacana saja" Ya, entah apa alasan saya sampai-sampai saya sangat terobsesi dengan mesin waktu dulu. Saat ini saya sudah melupakan obsesi itu. Terkubur jauh bersamaan dengan makin tumbuhnya iman akan takdir terbaik yang selalu Tuhan berikan untuk umant-Nya.

"Wah, jangan-jangan proposal terbarumu ada kaitannya dengan mesin waktu ya, Prof?" Mukanya terlihat antusias. Seperi singa lapar yang berhadapan dengan kelinci gemuk yang pasif. Pasti ia dapatkan jawabannya.

"Saya tidak sejenius itu, Pak. Tak ada niat sedikitpun untuk merealisasikannya. Buat apa coba? Saya percaya apa yang kita jalani saat ini adalah takdir yang terbaik yang diaugerahkan Tuhan pada kita" jawab saya singkat.

"Kalau saya sih ingin pergi kembali ke masa muda. Sekolah yang serius supaya saya jadi dokter dan bisa menikah dengan perempuan cantik" Timpalnya sembari terbahak dengan suara beratnya.

***

17 Tahun yang lalu, Rumah Sakit

"Mas, terima kasih sudah menyelamatkan putri kita. Aku tidak bisa membayangkan jika bayi kita tidak segera dikeluarkan. Mungkin dia akan mati di dalam kandungan" ucapnya terbata dan terdengar sangat lemah. Dokter menyatakan bahwa terjadi pendarahan yang sangat hebat pada rahim Dewi paska operasi.

"Bayinya cantik seperti kamu, Dew" ucap saya sambil mengusap kening Dewi yang sedang menggendong bayi kami. Keningnya terasa sangat dingin. Gendongannya pun terlihat menggelayut ke bawah. Saya segera meraih bayi dalam dekapannya. Dalam sela nafas berat Dewi, ia berkata "Mas, aku titip bayi ini. aku sudah tidak sanggup menjaganya. Aku percaya mas bisa menjaga bayi kita dengan baik" ungkapnya pelan

"Kamu jangan berkata seperti itu, Dewi. Kita akan membesarkan putri kita berdua" saya berusaha untuk menguatkannya. Tapi wajah pucat itu meluruhkan kekuatan saya sendiri. Dewi memang sudah terlihat lemas.

"Beri nama dia Dewi, sama seperti namaku agar Mas bisa selalu mengenang aku, sitrimu" seketika saya menangis tersedu mendengar apa yang ia ucapkan. Dan seketika dunia menjadi gelap. Dewi meninggal dengan tenang di hadapan kami, saya dan Dewi, anak kami.


We all have our time machines. Some take us back, they're called memories. Some take us forward, they're called dreams. Jeremy Irons

Read more >>

Jumat, 03 Agustus 2012

TAMAT


Pagi ini aku bangun sebagai pecundang. Memandangi atap kamar yang mulai dihinggapi bagunan laba-laba yang rapuh terombang ambing angin. Aku pastikan ini bukanlah pagi layaknya orang bangun dan memulai aktivitasnya. Terik yang menerpa wajahku tak sedingin hembusan udara yang bersinergi dengan sejuknya embun. Aku lupa semua itu. Aku lupa bahwa siang dan malam itu berbeda. Aku lupa siapa aku yang sebelumnya.

***

"Bos manggil kamu tuh" seru orang sedikit berteriak di belakangku. Tak sedikitpun aku hendak menolehkan wajahku untuk sekedar memastikan siapa yang berada di belakangku karena aku sudah bisa memastikan siapa dia. Wanita super cerewet dengan suara cempreng yang selalu ingin tahu urusan orang lain hingga aku berkesimpulan bahwa ia adalah manusia yang diciptakan Tuhan tanpa masalah yang harus ia urusi sendiri. Mustahil. Aku tak suka dan simpati pada kepemimpinan Bu Tuti.

Aku hentikan tarian jariku pada keyboard PC yang tengah aku gumuli. Kepalaku sejenak mendongak kearah jam dinding yang berada tepat di depan mata ku. Jam 15.00. Entah ada apa dengan angka itu hingga membuat keningku berkerut sesaat.

Lima langkah lagi aku sampai tepat di depan pintu ruangan Big Boss. Kantor terlihat sedikit lengang tak seperti biasanya. Mungkin karena hari-hari ini mereka yang ada di sini sedang lemas-lemasnya melewati hari. Terkecuali aku yang masih bisa mematut diri di cermin yang sengaja tergantung di lorong kantor tepat di depan pintu Big Boss. Ya, aku memang ingin terlihat sempurna di hadapan manusia, terutama Big Boss.

"Boleh saya masuk, Pak?" ujarku setelah membuka pintu perlahan.

"Ya, tentu saja" timpalnya

"Silahkan duduk" dengan senyum khasnya dia mempersilahkan aku untuk duduk.

Aku pun duduk dengan manis sambil terus merapihkan rok dan kemeja yang aku pakai. Kemudian aku menatap matanya  yang seakan antusias menatapku.

"Selamat!" tiba-tiba dia berdiri dari duduk nyamanya dan menjulurkan tangan kanannya ke hadapanku. Aku pun sontak berdiri dan menangkap tanganya segera sembari menyimpulkan senyuman heran.

"Saya dengar kamu sudah berhasil menyelesaikan program master  kamu. Saya turut berbahagia" aku hanya mengangguk kecil dan tersenyum seadanya.

"... Dan satu hal lagi yang membuat saya senang, saya mendapat informasi dari Bu Tuti kalau proposal tender yang kamu buat berhasil. Tadi pagi pihak perusahaan sudah menerima keterangan dari klien untuk dibuatkan iklannya sesegera mungkin" lanjut dia dengan muka yang sumringah. Dan aku pun hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Menangguk dengan frekuensi anggukan yang bertambah dan senyuman yang lebih lebar.

"Saya kagum dengan apa yang telah kamu capai, sangat memuaskan. Di usia mu yang masih muda, kamu membawa dinamika dan suasana yang lebih segar terhadap perusahaan advertising ini. Good job, Girl." Lanjutnya setelah melepaskan cengkraman erat tangannya dan kembali duduk di kursi kebesaran dia.

"Terima kasih, Pak" ucapku singkat sambil kembali duduk. Ya. Bulan lalu Big Boss memberikan kepercayaan kepadaku untuk membuat proposal tender. Dia sudah menyatakan puas terhadap kerjaanku sebelumnya. Dia bilang ide-ideku dalam rapat kreatif selalu membawa angin segar dan muda. Posisiku sebagai tim kreatif memang membuatku merasa nyaman meski kepala divisi kreatif kadang membuatku agak kesal dengan sikapnya yang sok menjadi pemimpin. Dia selalu berdiri di depan dan memberikan komando searah. Tak ada kata pembauran dan kerja sama dalam dirinya.

"Dengan pertimbangan kamu yang sudah menjadi master dan kreativitas tinggi serta sumbangsi kamu terhadap perusahaan ini, nampaknya saya harus segera mempromosikan kamu." Jelasnya singkat dan aku masih hanya bisa tersenyum. Lebih lebar lagi.

"Posisi apa yang sangat kamu inginkan?" Tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan itu. Pertanyaan yang sudah kutunggu-tunggu sejak lama. Pertanyaan yang sedari dulu sudah saya siapkan jawabannya. Saya sudah yakin dengan jawaban itu.

"Saya belum sepenuhnya yakin posisi apa yang sepenuhnya saya inginkan, Pak. Beri saya waktu untuk memikirkannya" aku hanya ingin terlihat biasa. Ya, menciptakan rekayasa dengan cara yang terlihat biasa.

***

Aku berjalan dengan cepat diantara hiruk pikuk orang di suatu senja. Aku sesekali membenarkan letak kacamata hitamku dan diam sejenak melihat pantulan diri di kaca toko. Aku harus tampil sempurna di hadapannya. Di hadapan manusia.

Aku lihat wajah manisnya di pojok sebuah tempat makan. Dia terlihat tampan dengan kemeja putih dan dasi merah mudanya.

"Hai, maaf aku telat. Aku lupa kalau jam 3 aku harus telpon kamu untuk  memastikan semuanya" sapaku sambil terengah. Mengumpulkan setiap butir udara untuk menyegarkan kembali otakku.

"Sudahlah, kamu duduk dulu. Aku tidak keberatan untuk menunggu seorang wanita cantik seperti kamu." suara beratnya kembali ku dengar. Suara yang selalu aku rindukan di akhir pekan. Suara yang telah berhasil membuat yang tak benar menjadi benar.

"Bagaimana kabarmu?" tanyanya sambil terus menatapku tajam.  Aku memang duduk di hadapanya dimana sepasang mata kami tepat segaris.

"Baik, Mas" aku menjawabnya singkat sembari menyimpulkan senyum kecil. Ya, aku memag tak suka banyak bicara. Orang-orang sering memanggilku dengan sebutan Miss Frozen Flower karena sikapku yang terlihat dingin dan tak acuh. Aku memang dingin tapi semuanya kulakukan hanya untuk menjaga image di hadapan orang lain.

"Aku lagi bete, Mas" keluhku pada pria di hadapanku. Ya, aku sangat senang bermanja-manja di hadapannya. Entahlah. Aku hanya merasa nyaman.

"Tuntutan pekerjaan di kantor dan masalah di rumah seakan-akan gak pernah ada ujungnya. Aku seperti sedang bermain dalam labirin yang sengaja orang buat tanpa pintu keluar" aku tampak rapuh di depannya. Entahlah, aku hanya ingin sosoknya yang kuat menyokongku dan memperlakukanku selayaknya wanita.

"Kamu masih punya mas yang bisa kamu andalkan" jawabnya lugas sembari melemparkan senyum hangatnya.

"Kamu mau pesan makanan dulu atau kita langsung pergi saja?" Tanyanya padaku. Aku langsung beranjak dari tempat dudukku. Dia pun begitu. Berjalan tegap mengikuti derap langkah anggunku. Kami pergi. Ke rumahnya.

***

Malam telah menua saat aku tepat berada di depan pintu sebuah rumah kecil nan sederhana. Aku lihat jam di tanganku menunjukkan angka 11. Waktu yang cukup larut untuk wanita sepertiku kembali pulang ke peraduan. Aku masukkan kunci ke lubangnya perlahan. Memutar daun pintunya lambat. Berharap tak pernah ada bunyi yang timbul akibat gerakannya sampai pintu itu pun terbuka. Dan lampu ruang depan tiba-tiba menyala.

"Kamu mau seperti ini setiap akhir pekan?" Terdengar suara yang tak asing lagi buatku. Alasan kuat kenapa aku sampai bisa menghiraukannya dan terus melangkah masuk.

"Kamu mau kemana?" Pertanyaannya kini membuatku berhenti melangkah.

"Aku kerja seharian dan saat ini aku capek. Aku ingin segera tidur" jawabku dengan nada datar.

"Kamu kerja di kantoran dengan jadwal yang sudah jelas. Jam 8 sampai jam 4 sore. Jikalau ada lembur ya gak setiap hari seperti belakangan ini." tangkasnya sedikit berteriak.

"Di kantor sedang banyak kerjaan, Mas" jelasku masih dengan nada lembut nan datar

"Tadi sore Mas telpon ke kantor, kata orang kantor dari jam 5 sore kamu sudah meninggalkan kantor. Kemana saja kamu selama 6 jam ini? macet? Atau tiba-tiba harus ada meeting dengan klien?" Pernyataan dan pertanyaannya semakin memojokkan posisiku.

"Tumben mas perhatian sama aku seperti ini?" balikku bertanya masih dengan nada biasa

"Kapan mas gak perhatian sama kamu? dan kapan kamu bisa meluangkan waktu untuk memperhatikan aku dan anakmu?" Dia kembali melemparkan pertanyaan. Smash yang dia berikan menukik. Membuatku tak berkutik.

"Benarkan? Aku gak salah ucap? Anakmu tadi siang harus menunggumu di sekolah sampai jam 3 sore. Dia tidak bisa mendapatkan raport nya karena orang tuanya lah yang harus mengambilkan itu untuknya." Dia kembali mengoceh hingga aku tak mampu lagi menelan ludahku bulat-bulat. Aku ingin membuka mulutku.

"Mas sendiri kemana?" tanyaku padanya dengan tatapan tajamku.

"Kamu tidak tahu kan kemana aku seharian ini? aku ditugaskan ke Bandung hari ini. Jam setengah tiga aku baru nyampe rumah dan tiba-tiba ada telpon masuk dari sekolah Anggi. Kamu keterlaluan, Dit" Ia kembali tak memberiku ruang untuk membela diri. Aku hanya bisa duduk di sofa merah tepat di hadapannya. Dengan muka yang sedikit menekuk, aku mengharapkan pengertiannya.

"Kita tidak bisa selamanya seperti ini, Dit" kembali aku hanya mendengar apa yang ia ucapkan.

"Besok aku sama Anggi akan menginap sementara di rumah ibuku" dan kalimat terakhirnya membuatku tak bisa tinggal diam.

"Punya hak apa kamu sampai harus membawa Anggi pergi bersamamu?" tanyaku dengan nada yang mulai meninggi.

"Aku lebih bisa memberikan perhatian pada Anggi dan Anggi butuh peran wanita dalam hidupnya, mungkin ibuku bisa menggantikan posisimu sementara" Jawabnya dengan nada lebih tinggi dari nada bicaraku.

Aku kembali diam dan menekukkan mukaku.

"Ini rumahmu bukan? Aku hanya numpang tinggal di sini. Kalau kamu sudah tidak menganggapku suamimu lagi, tidak ada alasan untukku tetap berada di sini." Aku diam. Aku seperti membenarkan semua yang ia ucapkan. Aku seperti menerima semuanya dengan ikhlas. Aku hanya diam dan menunduk seakan malu pada semua yang telah terjadi. Aku mendengar derap langkahnya meninggalkanku sendiri di sini. Apakah ini akhir dari hidupku?

***

"Kamu wanita picik yang pernah aku temui. Kamu memang terlihat pintar dan sangat manis, tapi sayangnya kamu licik. Aku memang sudah tua dan mungkin inilah saat yang tepat untukku meninggalkan pekerjaan ini tapi ini bukanlah akhir yang aku inginkan. Aku tak sudi karirku dihentikan oleh bisa wanita licik sepertimu" Ocehan wanita dalam telpon yang sedang aku genggam sama sekali tak ku hiraukan. Setidaknya ia tidak bisa lagi mengoceh langsung di depan mukaku. Kini aku sudah menggantikan posisinya sebagai kepala divisi kreatif. Bu Tuti diberhentikan secara mendadak oleh perusahaan. Dan akulah dalang dari semua hal yang terjadi pada dirinya.

***

"Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi atau tekan bintang untuk merekam pesan suara. Tut tut tut tut..." Sudah tiga minggu aku tidak mendapat kabar dan pesan darinya yang selalu aku nantikan. Tidak ada lagi pertemuan singkat di akhir pekan. Dia pergi tanpa permisi. Sudah tak bisa kulihat lagi senyuman hangat dan kudengar suara beratnya. Dia meninggalkanku layaknya sampah.

***

Aku menatap kosong monitor PC yang sedang tidak difungsikan. Aku menatap mukaku yang layu dan basah oleh air mata. Hari ini adalah hari terakhir kantorku beroperasi. Fenomena moneter yang sedang membelenggu bangsa ini berimbas pada kolapsnya perusahaan tempatku berkarya.  Aku akan kehilangan apa yang menjadi kebanggaanku selama ini. Aku kehilangan separuh hidupku. Usai.

***

Dengan gontai aku mengendarai mobilku di jalan sebuah perumahan yang sepi.  Entah hal apa yang menuntunku sampai tiba di tempat ini. yang jelas aku sudah tidak punya alasan jelas untuk segala sesuatu yang aku lakukan akhir-akhir ini.

Aku memarkir mobilku agak jauh dari tempat tujuanku sebenarnya. Sebuah rumah sederhana yang sebenarnya ingin aku kunjungi. Aku menatap rumah itu dengan seksama. Tiba-tiba ada desiran perasaan yang menuntutku untuk beranjak keluar mobil dan berlari ke rumah itu untuk menemuinya. Ya, aku sangat merindukan Anggi, putri semata wayangku. Aku juga merindukan Mas Priatno, suamiku. Aku butuh dukungan mereka. Aku butuh tawa sumringahnya Anggi.  Aku rindu petuah mas Priatno.

Tiba-tiba aku lihat Anggi keluar dari rumah itu. Aku tersenyum bisa melihat mukanya lagi. Dia nampak bahagia. Apakah dia rindu padaku? Entahlah. Terlihat lagi ada dua orang dewasa keluar dari dalam rumah, Mas Pri dan seorang wanita muda yang ia gandeng. Mereka terlihat mesra dengan warna baju yang harmonis. Wanita muda itu menjulurkan tangan pada Anggi dan Anggi pun menangkapnya hangat. Mereka berjalan bertiga menuju mobil Mas Pri. mereka terlihat layaknya keluarga kecil yang bahagia. Inikah akhir hidupku sepenuhnya?

***

"Hai cantik, apa kau masih pantas dipanggil cantik?" aku berbicara pada bayanganku sendiri yang dipantulkan cermin datar kusam di hadapanku.

"Kamu hanyalah manusia biasa yang tidak bisa menggenggam dunia semaumu"

"Kamu tak bisa selamanya bersahabat baik dengan kebohongan"

"Sewaktu-waktu ia akan menarimu erat ke jurang hitam hingga orang lain tak memperdulikanmu, kecantikanmu, kepintaranmu, keanggunanmu. Karena kau telah hitam pekat. Siapa perduli?"

"Bahagia tak bisa terukur dengan uang dan kesuksesan. Matilah kau karena kau sudah tak punya alasan untuk hidup"

"Keluarga, sahabat, karir, dan terlebih kepercayaan. Semuanya telah kau bunuh sendiri. Maka bunuhlah dirimu sendiri agar kau merasa puas dan bebas"

Dan aku pun mati dalam angan yang tak pernah berhasil aku capai. Maafkan mamah, Anggi.

Dan simpul tali itu pun menahan nafasku selamanya.


-  Aku adalah singa sirkus yang manis dan pintar, tapi aku tetaplah seekor singa yang punya hati dan insting liar -

Read more >>

Kamis, 12 Juli 2012

DRAMA TUNDRA (PART 2: SAYA, DIA, MANTAN, DAN SAHABATNYA)

Cerita ini merupakan lanjutan dari DRAMA TUNDRA (PART 1: LOVE IN CLAYTON)

Wahai peran
Apakah saya salah memaknaimu
Saya hanya berusaha jujur dalam drama yang akan kau buat
Hingga dia hilang dalam dekapan
Peran lain yang tak pernah saya kira
Perubahan seorang protagonis menjadi lawan yang kekal
Di saat aku tak siap
Saat dimana aku tak memiliki peran itu lagi

Entah kenapa saya begitu risau setelah menerima pesan itu. Pesan dari orang yang sudah lama hilang, atau lebih tepatnya sengaja saya hilangkan dan kubur dalam-dalam. Kadang saya heran dengan diri saya sendiri. Saya yang menginginkan drama ini berlangsung seperti ini. Sayalah pemeran utama sekaligus sutradara dari skenario yang saya pegang ini. Entah. Saya hanya tidak mengerti dengan perasaan yang bertolak belakang dengan skenario yang saya buat dengan bantuan otak. Manakah yang lebih jujur, hati atau otak yang pintar merekayasa?

Saya coba untuk menutup mata dan lenyapkan pikiran liar tentang perhatian dia yang sengaja ia berikan lewat pesan di akun social media saya. Berbagai pertanyaan muncul saling berkejaran dengan latar belakang wajah manisnya lengkap dengan senyum lebar hangatnya. Apa yang dia lakukan dua tahun terakhir ini? Apa dia masih bekerja di tempat yang sama? Apa  dia masih ingat saya? Apa dia sudah menemukan pengganti saya? But wait, he said that I’m the last women in his life, did he worn out? STOP. Hanya ada satu cara untuk menghentikan keliaran pemikiran ini.

Saya kembali terbangun dan bergegas menuju meja belajar di sudut kamar. Saya buka laptop putih yang tergeletak manja di meja  dengan tangan yang sedikit gemetar; entah karena perasaan yang tak menentu atau karena suhu udara malam ini yang hanya sekitar 11 derajat? Nampaknya musim akan segera berganti dimana semua daun akan meranggas dan menggugurkan semua yang telah mati. Tapi kenapa saya masih seperti ini? menahan rasa yang mati ini dengan rapatnya. Kenapa? Beberapa detik saya mengabaikan niat untuk menghidupkan laptop. Sampai akhirnya saya meyakinkan diri untuk mengakhiri kepenasaran ini.  Ya, apa salahnya jika saya ingin mengetahui keberadaannya saat ini? Atau memang ini terlalu berlebihan? Toh dia sudah bukan siapa-siapa lagi buat saya, toh dia mungkin tidak pernah berpikir tentang saya. Tapi saya sangat ingin tahu. Saya ingin tidur  nyenyak malam ini.

Kini laptop sudah menyala. Koneksi internet pun sudah tersambung dengan sempurna. Saya masuk ke social media yang saya tuju. Saya langsung ketik nama dia di kotak pencarian teman. Kaleb Satriya Putra. Nama itu dengan fasihnya masih saya ingat. Bahkan ejaan yang agak ganjil di nama tengahnya masih saya hafal dengan baik. Satriya. Dulu dia adalah kesatria bagi saya. Hmmmm, cukup.

Seketika saya tercengang saat membuka halaman profil akun social media nya. Dunia seakan berhenti berotasi. Di sisi lain, frekuensi detak jantung tak bisa saya kendalikan saking cepatnya ia bergetar hebat. Sebutir air mata tiba-tiba menetes dari pinggiran celah tanpa saya sadari dan kendalikan. Apa yang terjadi dengan hati ini? Apa saya belum ikhlas menerima keadaan yang sedang saya liat saat ini? Perasaan apa yang sedang berkecamuk dalam diri ini? Apa ini yang dinamakan patah hati? Bukan. Ini bukan saat yang tepat untuk patah hati. Ini hal yang wajar. Tak perlu saya risaukan. Saya hanya sedikit kaget. Benarkah?

Saya pandangi foto profilnya. Dulu, biasanya dia tak pernah ingin menampilkan sosok dirinya dalam profil social media nya, seringnya dia menggunakan tokoh animasi One Piece  kesukaanya. Dulu saya tidak suka dengan kebiasaannya itu, terlalu kekanank-kanakan. Tapi sekarang, diri saya seakan protes, kenapa dia merubah kebiasaannya selama ini? Bukankah dia selalu mengikrarkan bahwa dia tidak suka bernarsis ria dalam social media? Kenapa begini? Kenapa tidak begitu? Pertanyaan demi pertanyaan hilir mudik di kepala. Ya, saat ini yang saya lihat adalah foto profil dia yang menunjukkan senyum lebar sumringahnya. Tapi bukan itu  inti masalahnya. Masalahnya adalah dia tidak hanya difoto sendiri, di sampingnya ada sosok wanita yang tidak terlalu asing buat saya. Kenapa harus dia yang ada di fotonya? Saya saja yang dulu pacaran sama dia tidak pernah menampakkan wujud saya di profil akunnya atau malah mejeng di foto profilnya. Saya lirik kotak keterangan di bawah foto profilnya untuk mempertegas dan menjawab kekhawatiran yang muncul.

Kaleb Satriya Putra
Work at Decade Health Care
Studied Sistem Informatika at Universitas Komputer Bandung
In a realationship with Katarina Anandita
Live in Jakarta

Jadi sekarang dia menjalin hubungan istimewa dengan teman dekatnya sewaktu kuliah. Katarina Anandita. Ina yang mengaku hanya berperan sebagai sahabat sejatinya Kaleb.


#FLASHBACK#


Saat ini saya tertidur dalam keadaan lemas. Dengan infusan yang tertancap di tangan kanan yang membuat saya sedikit susah bergerak. Ini adalah hari ketiga saya terbaring di kasur rumah sakit. Malam senin kemarin saya masuk ke rumah sakit setelah dokter di dekat kosan merujuk saya untuk menjalani rawat inap di rumah sakit karena trombosit saya sudah melampaui batas normal. Ya, saya didiagnosa terkena gejala demam berdarah. Dua hari kemarin, Kaleb lah yang setia menemani saya sampai malam. Dia menjaga saya sembari mempersiapkan sidang kelulusannya yang akan ia jalani hari ini. Saya sudah memintanya berkali-kali untuk pulang dan menganjurkan dia untuk mempersiapkan sedangnya sebaik mungkin, tapi dia tetap tak mau meninggalkan saya.

“Kalaupun saya gagal sidang hari kamis besok, kan masih ada kesempatan sidang bulan depannya lagi, cantik Tapi untuk menemani kamu di saat-saat seperti ini ya gak akan ada hari gantinya. Saya harus memastikan kamu baik-baik saja, Rindu. Lagipula saya bisa mempersiapkannya di sini.” Terangnya sembari menunjukan tumpukan kertas di tangannya.

Saya malah makin semangat. Kan saya sudah bilang bahwa wajah manis kamu itu selalu memercikan api semangat buat saya. Hehe” lanjutnya singkat yang diakhiri dengan senyuman hangat nan lebarnya.

“Muka yang sudah beberapa hari ini tidak sempat saya cuci ya?” Tanya saya sambil terkekeh lemas.

“Emh, kalau baunya sih saya tidak teralalu suka, tapi auranya masih tetap manis kok, hehehe” kembali ia hanya tersenyum pada saya. Senyuman yang akan selalu saya rindukan. Tulus.

“Kamu jahat ih” Lanjut saya manja sambil mencubit punggung tangannya

“Tapi kamu suka kan?”

Kami tersenyum riang. Tak ada suasana resah dan gelisah yang tersaji di kamar ini. Ya, dialah yang membuat semuanya tersetting seperti ini. dia sutradara terhebat untuk urusan adegan kegembiraan.

***

“Hai, bagaimana keadaan kamu sekarang?” Tiba-tiba suara wanita yang tidak lagi asing ditelinga memaksa saya untuk menoleh ke arah datangnya suara.

“Ina… apa kabarmu?” saya balik bertanya padanya saking kaget atas kehadiran dia yang tiba-tiba

“Ya jelas aku baik, Ndu. Kamu tuh ya, saya nanya ,kamu malah balik nanya, pertanyaan yang sama pula, Ndu… Ndu….” Jawabnya sambil membuka keresek yang ia bawa.

“Ini tujuan aku datang kesini selain untuk nengok kamu aku juga mau sampaikan amanat tuan Kaleb untuk menyerahkan semangkuk bubur kesukaannmu. Aku pindahin ke mangkuk ya” jelasnya sambil menuangkan bubur ke mangkuk.

“Dia minta maaf karena gak bisa jenguk kamu hari ini. Aku gak pernah liat dia seheboh pagi ini. Untung ada aku yang bisa gantiin posisi kamu sebagai asisten pribadinya; dari mulai setrikain setelan jasnya sampai beresin dokumen yang harus ia bawa. Mana dia tahu apa saja yang harus ia bawa untuk sidang hari ini. Tadi dia malah mau bawa dokumen skripsi doang” Terlihat dia menghela nafas dan tak lama kemudian dia meneruskan celotehannya

“Masa dia gak mau bawa buku referensi yang nantinya akan menjadi malaikat penolong dia di ruang sidang dengan alasan ribet. Dasar cowok, sok simpel hidupnya.  Padahal barusan dia malah yang ribet banget, pake acara ganti dasi tiga kali buat dapetin kesan Good Looking, bukanya itu ribet ya? Lebih dari ribet bahkan, genit….” Cerocosnya tanpa henti. Kemudian dia melirik saya yang memandangnya dengan mata yang melongo bulat.

“Maaf Ndu, aku terlalu nyerocos ya?” Syukurlah kalau kamu sadar.

“Bukan itu yang menjadi inti masalahnya, Na. Saya sangat menyesal karena tidak bisa datang membantunya di salah satu momen penting dalam hidup Kaleb” bisik saya dalam hati.

“Jadwal sidangnya jam berapa, Na?” Tanya saya dengan nada yang tenang

“Jam 11” Jawabnya singkat. Dia akhirnya berubah

“By the way, sampai kemarin siang dia bahkannnnnn tidak tahu jadwal sidang dia sendiri. Kalau tidak aku yang urus dan liatin jadwalnya bisa-bisa dia gagal sidang hari ini.” Dugaan saya ternyata salah. Ina ya Katarina. Tidak pernah berubah.

“ Dua hari kemarin dia sibuk ngurusin saya, Na” Jelas saya dengan nada yang lebih rendah dan sedikit rasa bersalah terselip jauh di dalam hati

“Ya memang tugas dia sebagai pacar seperti itu” Timpalnya dengan intonasi yang lebih tenang. Dia sekan mengobati rasa bersalah saya.

“Aku memang tidak suka sikap dia saat berperan sebagai mahasiswa yang cuek, malas, sok pintar. Tapi kalau aku amati peran dia sebagai pacar, dia tuh cowok banget. Sayangnya aku sudah keburu dibaptis jadi sahabat terbaiknya, kalau enggak dari dulu aku dah kecengin dia. Kamu jagan cemburu ya, Ndu. We’re truly best friend, not more” masih dengan intonasi yang lambat. Saya melihat dia yang sangat berbeda saat menjelaskan sahabat terbaiknya itu. Lebih anggun. Lebih wanita.

“Kalau saya cemburu sama kamu, sudah sejak dulu saya bakal tunjukkin kalau saya benci sama kamu. Kaleb sering bicarain kamu, bagaimana kalian dari awal masa kuliah berjuang bersama sampai sekarang. Saya malah simpati dengan hubungan yang kalian jalani. Susah loh mendapatkan pengalaman menjadi tokoh dalam sebuah kisah persahabatan seperti itu. Kalau kamu mengagumi dia saat berperan sebagai seorang pacar, saya malah mengagumi dia saat dia berperan sebagai seorang sahabat. Dia sahabat yang sangat baik untuk kamu, Na” Terangku panjang lebar. Terlihat Ina menyimpulkan senyum manisnya. Kembali saya tatap seorang wanita anggun sedang duduk di kursi samping ranjang.

“Yup, nampaknya kita mengagumi pria aneh yang sama, hahahaha” mimiknya kembali berubah. Gahar dan cengengesan saat tertawa terbahak.

“Bagaimana kalau suatu hari nanti kamu jatuh cinta pada sosok pria aneh itu?” pertanyaan saya cukup membuat dia berhenti terbahak dan keadaan berubah menjadi sunyi.

“Kalebkah?? Emh tenang ,Ndu, aku gak akan pernah cinta sama dia. Dia terlalu aneh buat aku”

Ya. Terima kasih telah mengatakan itu kepada saya. Setidaknya saya tahu kamu tidak akan bermain peran lain selain sebagai sahabat dia. Saya senang.

#END OF FLASHBACK#


Saya langsung menutup laptop secara paksa, tanpa saya  log out akun social media saya atau shut down laptop terlebih dahulu. Entahlah. Sekarang saya hanya ingin menangis. Berbagai figur wajah Kaleb terbang melayang dalam pikiran. Senyum tulusnya kini membuat saya semakin bersedih dan kalap. Saya tak lagi menemukan ketulusan itu. Saya benci drama. Sungguh.

“Saya menyaayangi Ina lebih dari apapun. Dia sudah saya anggap seperti adik saya sendiri bahkan lebih” Kalimat yang pernah Kaleb cetuskan saat saya mulai cemburu dengan sikap over caring nya pada sahabatnya yang satu itu untuk membuat saya percaya pada dia sekarang seakan menjadi saksi bisu sebuah affair yang basi.

“Ya, kamu menyayangi dia lebih dari sayang seorang kakak terhadap adiknya, kamu menyayangi dia sebagai wanita yang kamu cintai” Pekak saya dalam hati

“Kalebkah?? Emh tenang ,Ndu, aku gak akan pernah cinta sama dia. Dia terlalu aneh buat aku” Itulah pernyataan Ina yang saat ini mendengung dalam telinga.

“Saya meminta kamu untuk merealisasikan apa yang kamu ucapkan, Ina…. Mana semua omongan busukmu itu, manaaaa? “ Saat ini saya ingin berteriak. Dan langitpun seakan mendengar. Terdengar beberapa gemuruh kecil yang bergaung dari langit. Langit seakan mewakili perasaan yang sedang saya derita saat ini. Saya benci sebuah drama. Dan hujanpun turun dengan derasnya dan meminta saya untuk mengalir dalam aliranya. Saya pun menangis. Duka.

***

Pagi memaksa saya untuk kembali bangkit dari buaian kesedihan. Saya tahu bahwa saya terlalu mendramatisir keadaan. Semalaman saya hanya bisa menangisi sesuatu yang tak perlu saya tangisi. Saya pun tak tahu inti masalah yang membuat saya bersedih. Apakah karena Kaleb sudah tidak menganggap saya sebagai wanita terakhirnya? Apakah karena kaleb sudah punya pacar lagi dan melupakan saya? Apakah karena wanita yang ia pacari adalah Katarina yang notabene sahabat dekat Kaleb yang dulu sangat saya percayai?

Kemungkinan pertama dan kedua tak akan terlalu membuat saya terlalu larut dalam kesedihan. Gombalan dia bahwa saya sebagai wanita terakhirnya mungkin terlalu mustahil. Sebagai lelaki normal, suatu saat pasti ia harus menikahi seorang wanita yang ia cintai, kecuali kalau dia trauma dengan makhluk bernama wanita dan merubah orientasi seksualnya. Ya, itu bisa saya terima dan masuk akal meskipun membutuhkan waktu sedikit lama untuk mencernanya. Tapi untuk kemungkinan ketiga, jelas saya kecewa. Semua sanjung puji atas kisah persahaban sejati mereka kini luluh lantak seketika. Saya benci drama. Sungguh. Sejak kapan Katarina atau mungkin Kaleb menyimpan perasaan satu sama lainnya dan menyembunyikannya dari saya? Apa mereka bermain dibelakang saya saat saya dan Kaleb berpacaran? Saya benci menerka-nerka. Cukup.



Saat ini saya berdiri di Bus Stop depan flat dengan muka yang sedikit pucat dan mata yang sembab. Hari ini bisa dipastikan saya akan terlambat masuk ke kelas Mr. Hayes. Tadi saya sudah ketinggalan bis yang lewat Bus Stop ini pada jam 6.40. Sekarang saya harus menunggu bis yang lewat pada jam 7.00, dan perjalanan dari flat ke Bus Loop dekat kampus sekitar  20 menit sedangkan kelas dimulai jam 7 lewat lima menit. Kenapa? Kenapa saya selalu begini. Rindu.

***

“Hai Rindu” suara berat lelaki tiba-tiba memecahkan konsentrasi saya yang sedang terpaku pada buku yang sedang saya baca

“Hai, mas Prabu” jawab saya singkat

“Aku dengar dari Jasmine kalau pagi ini kamu gak masuk kelasnya Mr.Hayes, benarkah?” Tanya dia dengan wajah layaknya seorang polisi yang sedang menginterogasi tahanannya. Saya hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.

“Kenapa? Aku tahu pasti ada apa-apa dengan kamu. Aku kenal kamu sebagai mahasiswi yang menganggap bolos kuliah itu haram hukumnya” lanjutnya menginterogasi.

“Mas, saya belum mengerjakan essai yang harus saya kumpulkan siang ini. Semalam ada pesta ulang tahun teman di flat. Masa saya tidak ikut merayakannya sih mas” sejak kapan saya mulai bisa berbohong dengan lancar. Bermain peran dalam drama yang sebenarnya saya tidak sukai.

“Oh, bagus kalau begitu. Kamu harus mulai membuka diri. Hidup hanya sekali, Ndu. Ya bolehlah kamu sekali-kali berpesta layaknya gadis seusiamu. Asal jangan keterusan ya. Nanti kuliahmu keteteran” Inilah yang saya suka dari sosok mas Prabu. Dia selalu bisa menegur saya dengan caranya yang halus dan tidak menyinggung perasaan, tapi kena. Saya hanya bisa manggut-manggut mendengar petuah-petuahnya.

“Ndu, mas mau bertanya sesuatu ke kamu” lanjutnya sambil membenarkan posisi duduknya

“Bertanya apa mas? Tanya saya sambil menatap wajahnya dengan tatapan sedikit serius

“Kamu kenal Kaleb? Kalau tidak salah nama lengkapnya Kaleb Satriya Putra” Deg. Seketika saya tak bisa bernafas sewajarnya. Ada apa dengan Kaleb? Kenapa mas Prabu menanyakan Kaleb pada saya? Kembali saya menjawabnya hanya dengan anggukan kecil.

“Dia teman kamu ya?” Saya pun kembali mengangguk dan sekali lagi berbohong.

“Mas kenal dia?” saya balik bertanya pada dia.

“Iya Ndu. Kami saling berkenalan di Jambore tahun 2005 di Jambi. Saat itu tendaku dekat dengan tendanya Kaleb. Disana kelompok kami saling membantu. Setelah jambore kami pun tetap berteman di dunia maya untuk sekedar bertanya kabar dan berbagi pengalaman. Waktu itu juga kami sempat bertemu di Bandung. Kalau tidak salah dia kuliah di Universitas Komputer Bandung. Tapi beberapa waktu yang lalu kami sempat lost contact. Eh, tiba-tiba semalam dia mengajak mas chating”

“Chating?” Tanya saya polos dan penasaran

“Ya, dia tidak menyangka kalau sekarang aku pacaran sama kamu, Ndu. Dia ucapkan selamat dan dia bilang bahwa aku memang tidak salah pilih. Kamu wanita hebat katanya, Ndu” Jawabnya antusias

Jadi mas Prabu dan Kaleb berteman? Ada apa dengan semua ini. It’s like a drama. Ini seperti kisah dalam sinetron. Cinta yang saling bertautan. Saya pusing. Saya sungguh tak paham.

“Dari mana kamu kenal Kaleb, Ndu” Saya pun merasa terhenyak dengan pertanyaan mas Prabu yang satu ini. Saya tidak bisa menjawabnya dengan kebohongan lainnya. Cukup.

“Mas, 10 menit lagi saya masuk ke kelas. Saya harus segera print essai ini sebelum saya terlambat dan bolos lagi” Kali ini saya tidak berbohong. Saya hanya ingin melarikan diri dari alur cerita ini. Cerita yang kami buat sendiri. Saya, dia, mantan, dan sahabatnya.

Saya benci drama
Antara kau dan dia
Antara saya dan mereka
Antara dirinya dan saya
Drama yang kami buat dan nikmati bersama

#SONG#
Not Like The Movies – KC Conception

I'm Your Average Dreamer
I'm a True Escapist
Always Expecting a Happy Ending...
Maybe I've been watching
Too many movies
Maybe I Should Grow Up
And Stop Pretending
When I saw your face though
Everything was slow-mo
And I started wondering why...

CHORUS:
Why Can't it be
Just a pathway full of roses
Leading to a sunset view
With the one you've always dream of waits
Why Can't it be
It was like a movie scene the way I fell for you
Only you, didn't fall
Now it's not like the movies at all
Woo... Oh... Ohhh...

Should I kept my heart shut?
Should I've been more patient?
Should I kept an eye on my addiction?
What was I expecting?
Did I have a vision of a scene, that only lives in fiction
Now I know that you are not
Gonna be my co-star
And I start to wonder why...

Read more >>

Rabu, 04 Juli 2012

Dirimulah Dirimu




Lautan bintang dan engkaulah bulannya


Puisi hanya bualan diksi
Makna hanya untaian kata
Perlukah ku tulis puisi untukmu ?
Tanpa kata kau bermakna
Tak perlu diksi , kau lebih indah dari puisi
Dirimulah dirimu

Karena aku tak sempatkan kata untuk mengalir dari hulu
Karena aku tak tawarkan rindu bagi bulan untuk bersinar di awal fase
Aku hanya akan menantimu tulus uraikan perasaan
Yang akan aku mengerti hanya jika kau sadar
Bahwa terkadang aku hanya ingin diam
Menikmati setiap buaian dari seoarang penggombal
Sepertimu, ya sepertimu
Dirimulah dirimu

Biarlah dingin yang membuaimu
Aku sudah minta tolong padanya
Diammu mengertiku
Rindumu adaku
Cukup
Dirimulah dirimu

Tapi ia mungkin tak sempat sampai saat surya datang tiba-tiba
Ia akan mengembun di ujung daun
Membuatku lupa akan mu
Pesanmu hilang
Dan takkan ku mengerti
Wujud
Nyata
Bukan sesuatu yang lenyap jika ku raba
Dirimulah dirimu

Rabalah hatiku
Tengok semua sudut hatiku
Aku tak salah menolong
Dingin yang menghangatkanmu
Diam dan rasakan
Dalam dingin ada inginku
Yaaaa
Dirimulah dirimu

Meski aku tak yakin bisa menjangkaunya
Tak bisa lebih dekat
Karena waktu tak terikat ruang
Meski senja liputi malam, jarak tak mungkin bisa menipis dekat
Diam dan rasakan
Dalam sendu ada rinduku
Yaaaa
Dirimulah dirimu

Kau menjawabnya sendiri
Keyakinanmu

Kau menanyakannya sendiri
Keeingintahuanmu

Hingga pada saatnya tiba
Dua ruang itu akan berdampingan dengan kita
Penyakit butuh obat
Pun hidup, butuh sabar ..
Aku akan diam
Tapi hatiku tak akan mendiamkanmu
Kamu
Dirimulah dirimu

Begitu pun aku
Meski diam dalam sendu rindu
Aku akan diam dalam kegundahanku
Akan mu
Yaaaa
Kamu
Dirimulah dirimu

Tenang sajalah
Sang gundah pasti lelah 
Si resah pasti kalah 
Tunggulah 
Akan ada indah 
Dirimulah 
Dirimulah 
Dirimulah dirimu

Read more >>

PUISI GULA: DARI HATI


Sayang, aku tak ingin pergi
Sayang, aku tak ingin ditinggalkan
Sayang, aku hanya ingin kau tahu
Aku masih di sini dengan segala keterbatasanku

Walau ini masa-masa sulit kita
Tapi ku yakin kita bisa lewati ini
Bukalah mata dan hatimu, Sayang..
Jalan ini harus kita tapaki

*Puisi dari sebutir gula
Read more >>

Rabu, 27 Juni 2012

Entahlah


Saya takut kehilangannya
Sungguh
Tak bisa terbantahkan

Tapi bukankah ia adalah bagian dari dunia?
Iya, tentu saja

Tapi salahkah jika saya merasa takut dia akan meninggalkan saat saya terpuruk seperti ini?
Sepertinya sangat wajar dan manusiawi
Tapi pantaskah?
Entahlah

Akan saya layangkan sepucuk surat pada samudera
Agar ia tahu bahwa saya sungguh mendambanya untuk memeluk tubuh mungil ini dengan tulus
Meski mungkin pesan itu akan hilang diambang petang
Read more >>

Selasa, 26 Juni 2012

Rindu Rumah




Aku tak akan mengejarmu lagi terlalu kalut
Karena kau layaknya fatamorgana
Aku tak akan pernah menemuimu nyata di ujung jalan yang aku damba
Aku akan kembali ke peraduan
Tempatku dulu bermimpi
Tempatku dulu menjadi hamba-Nya

Rumahku adalah tempat dimana aku masih suci
Membalut kulit dalam kibasan kain putih
Terpeluk dalam dekapan cinta ibu yang hangat
Yang selalu aku rindukan
Sampai saat ini

Aku lelah berjalan di bawah terik matahari yang melebur dengan terang
Aku lemah berguling dalam suasana penuh paksaan
Aku ingin hidup bebas
Aku ingin hidup terlepas
Tapi kini apa yang terjadi?
Aku benar-benar telepas tanpa kendali
Jatuh ke jurang tanpa pegangan
Tak ada sedikitpun akar rapuh yang menopang
Aku mati.

Saat ini aku ingin kembali
Saat dimana semuanya sudah jelas terbukti
Saat dimana tangan menggenggam kehampaan
Aku terluka
Saat kembali ke rumah.

Read more >>

Senin, 25 Juni 2012

Cicak




Dua ekor cicak berlarian di atap dimana aku sedang menatapnya lekat
Mitos masa kecil menyebutkan bahwa Tuhan ada di atas
dan aku sedang mencari wujudnya. Sekarang.
Tapi kedamaian nampak tak terlihat nyata
Apa karena hatiku yang kian rusak?
Lebih dari itu
Andai mereka tau

Decak kagum dari para ruh yang melihatku terbaring lusuh
Dengan kulit dan mata yang berwarna kuning
Pucat
Serta rasa gatal yang terus membombardir dari segala arah
Menyiksa

Aku hanya bisa menuliskan semuanya, aku tak bisa mengungkapkannya secara lugas
Cukup karena aku yang bosan
Cukup karena aku yang sangat suka bermain peran
Cukup karena aku yang tak biasa bersahabat
Cukup karena aku yang tak bisa tersenyum tulus
Cukup karena aku yang selalu menggenggam erat segalanya sendirian
Cukup

Aku adalah seekor cicak yang rela kehilangan ekor hanya untuk melindungi diri sendiri
ya...diri sendiri
Read more >>

Minggu, 29 April 2012

Sepucuk Surat Untuk Tuhan




Saya tulis sepucuk surat untuk Tuhan di malam ini, di saat saya merasa begitu dekat dengannya, seperti tidak ada jarak sama sekali. Surat yang seluruh kata-katanya langsung tercurah dari hati yang paling dalam. Kata-kata yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya akan terlontar dari seonggok tubuh yang sedang terkujur kaku saat ini. Kata-kata yang berhasil keluar begitu saja secara refleks, hasil dari kehendak tangan saya yang sepertinya tidak dikendalikan oleh otak saya sendiri. Impuls-impuls kehendak seakan berjalan melalui jalan pintas pendek tanpa diolah di dalam otak dimana tanggapannya langsung dikirim ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor. Hingga saya sangat terkesan pada tulisan saya sendiri sekaligus menyadari bahwa otak saya memang sudah sejak lama tidak berfungsi sempurna lagi. Fungsi otak saya sedikit hancur.

Seminggu yang lalu, saya genap berusia 23 tahun. Usia yang cukup matang untuk menikmati indahnya dunia.  Ya, saat ini saya benar-benar menikmati indahnya dunia. Sebelumnya saya menganggap dunia hanya sebagai sesuatu yang tidak terintegrasi dengan aspek lainnya. Saya menikmati dunia secara egois dan hedonis. Saya mereguk dunia secara liberal tanpa aturan. Saya terlalu menikmati dunia terang-terangan tanpa mengindahkan esensi hidup yang hakiki. Saya terlalu mencintai dunia sehingga beberapa waktu yang lalu saya sangat terpuruk ketika tahu semuanya akan berakhir lebih cepat. Saya sekarang cukup tahu, dunia itu sangat indah dan patut dihargai dengan maksimal dan diisi dengan kabaikan. Bukan sekedar dicintai dan dinikmati. Tuhan menegur saya di saat yang tepat, saat dimana saya hampir melupakan keberadaan-Nya

***

“Hai uda Haryo, apa kabar? by the way, happy belated birthday ya. Sorry, aku telat mengunjungi kamu. Tadi pagi aku baru nyampe di bandara” suara seorang wanita tiba-tiba memecah lamunan saya, suara yang sangat tidak asing lagi buat saya. Saya pun menolehkan muka perlahan, mencoba untuk melengkapi data supaya saya bisa mengenalinya. Hasilnya? Saya tidak mengenalinya sama sekali. Wanita berambut panjang lurus itu berjalan mendekati saya dengan anggunnya. Dia meletakkan makanan di atas meja dengan anggunnya. Dia kemudian menolehkan mukanya dan melemparkan senyuman kepada saya dengan anggunnya. Dia wanita yang sangat anggun. Dan saya sangat penasaran. Apakah posisi dia dalam masa lalu saya?

“Enak ya kamu sekarang jadi pengangguran, congratulation uda” ucapannya memecahkan momen kekaguman saya terhadapnya. Dia sepertinya tahu betul siapa saya di masa lalu. Masa lalu yang tragis. Masa lalu yang tidak saya ketahui secara pasti.

“Ya beginilah… Sekarang saya baru sadar, tidak punya kerjaan sama sekali itu melelahkan. Lebih lelah dari punya tugas segunung” saya berusaha untuk mengakrabkan diri dengan orang yang tidak saya kenal sama sekali. Saya ingin menghargainya. Menghargai segala sesuatu yag datang dan terjadi. Tidak akan pernah lagi saya sia-siakan apa yang datang dan terjadi, sekecil apapun itu.

“Wessss, si uda ini bijak sekali. Pasti waktu luangnya kau isi dengan belajar ilmu Filsafat ya?” tanyanya dengan sedikit logat melayu.
“Ya, setiap detik saya belajar dari buku yang abstrak tapi super komplit” saya menjawabnya dengan datar.
“Apaan tuh?” Tanyanya antusias
“Sebuah buku yang saya tulis sendiri. Sebuah buku yang kamu tulis sendiri. Sebuah buku yang setiap orang tulis sendiri. Buku kehidupan” jawabku lurus.
“Matilah awak, awak tidak mengerti apa yang uda katakan” jawabnya sambil terbahak. Sikap yang sedikit membuat kekaguman saya akan keanggunannya hilang berganti dengan kehangatan. Ya, dia pribadi yang hangat. Semoga saya tidak salah menilai lagi.
“Oh pantas saja uda keningnya panas, sudah minum obat belum, da?” celetuknya sambil memegang kening saya dengan tangan mungilnya.
“akhir-akhir ini, obat bagi saya seperti oksigen. Sekali saja saya kehilangan keberadaanya dalam tubuh saya, saya hilang kendali…”jawabku lugas sambil memindahkan letak tanganya yang dari tadi memegang kening saya. Tiba-tiba suasana berubah hening dan dingin.
“Kamu lupa aku ya? Kamu gak ingat nama aku kan? Kamu gak ingat panggilan kamu buat aku” Dia menanyakannya dengan terbata. Saya lihat mimik mukanya berubah drastis. Sekarang aura yang dipancarkannya tidak seanggun dan sehangat sebelumnya, lebih dingin.
“Kamu sedih?” Tanya saya lembut
“Enggak uda, aku cuma ingin kamu senang, gak lebih” jawabnya lembut, sedikit terbata. Dia seakan menahan kesedihan yang sangat mendalam.
“Saya tahu tiap orang yang datang melihat saya saat ini, pasti seperti kamu”
“Maksudnya?”
“Datang dengan topeng keceriaan, berusaha menghibur dan membesarkan hati saya, tapi akhirnya topeng itu hancur saat melihat keadaan saya saat ini”
“Uda…bolehkan aku nangis?”
“Tentu….tenang saja cantik, saya tidak akan menjadi lebih sedih melihat orang lain bersedih. Sekarang saya sudah kebal dengan yang namanya kesedihan, tangis, atau air mata. Masa aktif kata-kata itu dalam otak saya sudah lewat”
“Makanya kamu sekarang lucu” timpalnya dengan sedikit tertawa kecut. Tertawa yang aneh. Tertawa yang dihiasi mata yang berkaca-kaca.
“Tiap orang yang datang, baik yang sedikit saya kenali atau yang sama sekali tidak saya kenali, selalu sedih melihat keadaan saya. Mereka sepertinya ketakutan. Mereka takut semua memori saya tentang waktu yang dihabiskan bersama mereka sudah saya lupakan” jelas saya sembari membenarkan latak bantal di kepala. Keadaan seketika hening. Tidak ada tanggapan berarti dari wanita yang berada di hadapanku saat ini. Dia hanya tertunduk. Diam.
“Mereka salah besar. saya mungkin kehilangan memori-memori yang selama ini saya simpan baik-baik di otak saya. Tapi teman bagi saya tidak hanya tinggal di otak. Tapi di sini” tegas saya sambil menggapai tangannya dan menaruhnya di atas dada saya sebelah kiri.
“Kamu merasakannya kan? Jantung saya masih berdetak, itu tandanya, semua orang yang saya cintai masih hidup dalam diri saya, di alam bawah sadar saya. Sekalipun kelak saya mati, saya masih punya cadangan memori akan kalian. Keyakinan kalau kalian orang paling berharga dalam hidup saya. Kamu tahu kan keyakinan gak akan mati? Aku tahu itu dari seseorang, entahlah siapa namanya” terang saya dengan lugas, tapi wanita di samping saya ini masih tertegun dalam keheningannya. Diam.
“Saya dan kalian mungkin akan terpisah jarak yang sangat jauh. Jarak yang beribu kali jauhnya dari jarak antara bulan dan bumi. Tapi kalian hadir dalam keyakinan saya. Dan saya pun akan senang jika kalian mengenang saya selamanya” Saya pandang matanya sangat dalam dan dia tetap diam.

Sampai itulah percakapan kami. Percakapan yang ditutup dengan sikap diamnya. Setelah itu saya lupa kejadian selanjutnya. Yang saya tahu, saat ini saya berada diruangan dengan aroma yang berbeda. Aroma yang lebih bersih dan menenangkan. Saya tidak sedikitpun mencium aroma makanan atau parfum di ruangan ini.

“Tuhan, hal baru apalagi yang akan hamba alami?” saya bertanya dalam hati. Karena saat itu bibir saya tidak bisa lagi saya gerakkan. Mata pun sukar untuk saya belalakkan. Saat ini yang saya punya hanya hati dan imajinasi. Hati yang tetap meyakinkan kalau saya masih dicintai orang yang saya cintai dan imajinasi yang membawa saya ke masa lalu. Satu per satu bongkahan kenangan masa lalu bisa saya rangkai meskipun bentuknya tetap menjadi cerita yang terpecah belah tanpa sekuen yang jelas.

***

“bu, Haryo ingin lanjutin kuliah dulu sebelum kerja” kebiasaan saya untuk memulai sebuah topik di tengah-tengah percakapan. Hari itu hari minggu. Sampai sekarang saya masih mengingatnya dengan jelas. Bahkan aroma gulai yang ibu buat saat itu masih bisa saya ingat sampai sekarang. Saraf olfaktori saya nampaknya menjadi syaraf paling bagus bahkan di saat-saat seperti ini.

“Terserah kamu, Har. Ibu hanya bisa mendukung dan mendoakanmu saja” jawab ibu sambil mengaduk gulai. Satu hal yag saya ingat juga, jika ibu masak gulai maka selama kurang lebih satu jam, kami sekeluarga tidak akan menemukan sosoknya di ruang manapun dalam rumah selain di dapur. Dia selalu ingin memberikan yang terbaik untuk suami dan anaknya. Dan saya sangat mencintai bidadari satu ini.
“Tapi boleh jujur gak, Bu?”
“Jujur apa, Har? Jujur kalau kamu sebenarnya ingin cepat nikah juga?”
“Ibu bercanda mulu nih dari tadi. Dengarkan dulu Haryo bicara, Bu”
“Iya, sebentar ibu matikan dulu kompornya” Ibu mematikan kompornya dan berjalan mendekati saya sambil membawa segelas air putih dan memberikannya pada saya.
“Terima kasih. Ibu tahu aja kalau saya haus” Ya, ibu selalu tahu apa yang saya rasakan. Saya tidak bisa pura-pura tertawa dihadapannya saat saya sedih. Saya tidak bisa menyembunyikan kegembiraan dihadapannya saat saya benar-benar bahagia. Ibu tahu persis kapan saya jatuh cinta meskipun saya tidak pernah menceritakan kalau saya sedang jatuh cinta. Ibu tahu pasti saat saya mendapat nilai ujian yang sangat tidak memuaskan meskipun saya berusaha menutupinya. Memang benar apa yang selalu dia katakan, anak dan ibu itu pernah menjadi satu kesatuan saat janin berada dalam rahim, sempat satu detak, satu aliran darah, satu irama nafas. maka dari itu, ada ikatan batin yang kuat.

“Ibu tahu kan kalau saya sangat ingin melanjutkan pendidikan saya setinggi-tingginya?”
“iya…. terus?”
“Tapi sebenarnya saya juga ingin secepatnya membahagiakan ibu dan ayah. Ibu tahu Kak Anton kan? Betapa menyesalnya dia, disaat dia mulai meniti karirnya, dia sudah ditinggal pergi sama kedua orang tuanya. Saya tidak mau seperti itu, saya mau membuat ibu dan ayah bahagia.”
“Nak, ibu sangat terharu mendengar niat mulia kamu. Tapi kamu harus tahu, kebahagiaan terbesar bagi orang tua adalah melihat anak-anaknya bisa bahagia dalam kehidupannya yang lurus menurut agama dan norma. Seandainya ibu atau ayah meninggalkanmu terlebih dahulu sebelum kamu kerja atau  menikah, percayalah, kami akan tetap senang, karena kamu sesungguhnya hidup abadi dalam keyakinanmu. Kalau kamu sukses dan bahagia, kami sangat senang. Kamu yakin akan hal itu kan?”
“Iya, Bu”
“Bagus. Lanjutkan mimpimu selagi kamu mampu dan kesempatan terbuka lebar untukmu, nak” Terangnya lugas mengakhiri percakapan sambil menepuk punggung saya dengan lembut. Apakah dia juga tahu, saya mungkin akan meninggalkannya terlebih dulu? Tidak, dia tidak tau sejauh itu.

***

“Uda jangan sedih ya. Aku  hanya pergi sementara kok. Lagian jaraknya bukan jarak dari bulan ke bumi. Hanya berbeda zona waktu saja” terang seorang wanita yang duduk dengan anggunnya di sampingku.

Momen ini adalah salah satu momen menyedihkan dan dilematis bagi saya. Menjalin hubungan selama 4 tahun bersama Astri membuat saya sangat sedih ketika tahu bahwa saya harus kehilangan dia secara fisk selama empat tahun. Saya sebenarnya sangat mendukung keputusan dia untuk pergi menuntut ilmu di negeri orang, tapi di satu sisi, kehidupan saya sudah terbiasa didampingi sosok dia yang selalu dekat hingga saya tidak sanggup menerima kenyataan saat saya harus melepasnya sementara waktu. Apa kabar dengan kematian ya?
“Tapi kita tetap terpisah jarak, hon” sanggahku sambil memegang tangannya erat
“Rasakan ini. Masih berdetak kan? Meskipun kita terpisah jarak. Aku akan selalu ada dalam hati kamu uda” jawabnya seraya mengangkat tangan saya dan meletakannya di dada sebelah kiri saya.
“Makasih ya honey….love u so much”
“love you too”

Akhirnya dia pun bisa membuat saya tersenyum. Setidaknya dia telah menyadarkan saya bahwa saya harus memanfaatkan sisa waktu ini dengan baik. Besok dia pergi untuk waktu yang lama, masa hari ini saya harus menghabiskan sisa waktu ini dengan kesedihan.
“Hargai sisa waktu yag ada, uda”
Dia pintar membuat saya jatuh ke dalam suasana hangat dan menyenangkan. Dia memang pribadi yang anggun dan hangat yang saya cintai.

***

Saat ini, saya merasa terombang ambing. Entah rasa sakit atau apalah itu namanya yang saya rasakan saat ini. Saya merasakan sesuatu hal dasyat terjadi dalam kekakuan saya.
“Nak, saat ini dan selamanya ibu bangga sama kamu. Kamu tidak usah sedih karena kamu pikir belum sempat membahagiakan ibu dan ayah. Kami sudah sangat bangga dan bersyukur pada Tuhan karena sempat dititipi malaikat kecil seperti kamu, nak”
Itulah kalimat terakhir yang sempat saya dengar sebelum saya ada di sini. Di tempat yang terasa hampa. Saat ini saya sadar bahwa kematian tidak memberikan kesempatan kepada siapa saja menahannya beberapa waktu, untuk membenarkan yang salah, atau sekedar mewujudkan cita-cita dan harapan. Kematian adalah sebuah harga mati.
“Tuhan, hal baru apa lagi yang akan saya alami?”

Nama saya Haryo Pramudya. Saya sudah menghabiskan waktu selama kurang lebih 23 tahun untuk hidup di muka bumi ini. Entah apa saja yang sudah saya lakukan, yang pasti sebagian besar waktu saya pergunakan untuk mengejar dunia tanpa menghiraukan Sang Pemilik Segalanya.

Sekarang status saya lajang dan pengangguran, entah beriman atau tidak, tapi yang pasti saat ini saya menginginkan dekapan Tuhan pada tubuh gontai saya. Yang lebih parah dari semuanya adalah saya sedikit lupa akan masa lalu saya. Saya memang sedikit pelupa. Tapi saya senang karena saya tahu masa lalu saya sangat indah. Hal itu terbukti dari cinta dan perhatian yang ditunjukkan oleh orang-orang yang ada di sekitar saya saat ini; ibu, ayah, serta beberapa orang yang suaranya tak asing lagi bagi saya.

Tuhan …
Malam ini saya ingin berkata jujur pada Mu
Saya ingin hidup lebih lama dari batas waktu yang Engkau takdirkan

Tuhan
Malam ini saya ingin berkata jujur pada Mu
Saya benci penyakit ini, apapun namanya
Saya ingin lebih sehat dari keadaan yang Engkau takdirkan

Tuhan
Malam ini saya ingin berkata jujur
Selama ini saya lebih mencintai kedua orang tua, sahabat, dan dunia lebih dari rasa cinta saya pada Mu, maka ampunilah hamba untuk itu

Tuhan
Malam ini saya ingin berkata jujur bahwa mulai saat ini saya hanya ingin ikhlas menerima takdir Mu dan mencintai Mu sepenuh hati saya
Bukan karena saya akan mati besok atau lusa, tapi karena saya menyadari posisi saya sebagai seorang hamba
Surat Untuk Tuhan
Read more >>