Jumat, 13 Januari 2012

EMPAT [IV]

19.00, 3 Januari 2012
"Akhir-akhir ini aku merasa ada yang berbeda dengan kamu. Entah ada apa dengan hubungan kita. Aku merasa ada yang aneh" Kalimat itu terlontar dari seorang wanita yang sedang duduk di depanku. Terdengar sedikit terbata. Sepertinya dia menahan sesuatu. Sesuatu yang membuat dadanya sesak.

"Mungkin ini yang dinamakan jenuh. Sudah aku katakan, kita perlu waktu untuk sedikit meredakan amarah kita masing-masing. Sudah aku katakan pertemuan ini akan jadi sia-sia. Ini semua hanya akan memperkeruh suasana" tegasku sambil mengenakan jaket kembali dan menggendong tas ranselku. Aku hendak pergi dari tempat ini. Tempat yang selama 15 menit ini seakan mengurungku.
"Kamu mau kemana?" Tanya Indah dengan nada lemas. Ya, namanya Indah. Dia adalah wanita yang selama kurang lebih tujuh tahun berada di dekatku.
"Apa aku harus jadi terdakwa dihadapan kamu? Aku masih punya banyak urusan ketimbang harus terpojok karena melihat kamu menangis" jelasku seakan menahan nada yang tinggi
"Aku gak nangis. Aku gak nyalahin kamu" sang wanita mencoba untuk meredakan suasana
"Yaナ Bagus kalau kamu bisa bersikap seperti itu. Tapi jujur, saya harus pergi. Besok saya harus masuk kerja pagi"

Aku pun pergi meninggalkannya. Sendiri. Ya, aku salah. Tidak semestinya aku bersikap seperti itu. Harusnya kami bisa menyelesaikan masalah kesalahpahaman ini malam ini juga. Tapi ego kami belum mereda. Egoku belum bisa aku padamkan. Aku masih percaya bahwa aku sepenuhnya benar.

---FLASHBACK---
22 Desember 2004

Hari ini pertama kalinya aku menjadi panitia di acara ulang tahun sekolah baruku, SMA Semadu-Cianjur. Meskipun aku bukan panitia inti acara besar itu, tapi aku senang karena aku bisa terlibat langsung. Biasanya aku paling malas untuk mengikuti kegiatan-kegiatan seperti ini di SMP. Tapi entah kenapa, semenjak masuk SMA, aku ingin jauh terlibat dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan di sekolahku ini. I wanna change my self, I wanna go out from my convert zone. Yup, ini adalah momen yang tepat.

"Kemana aja lo? Jam segini baru datang. Lo tega biarin gw angkut-angkut barang sendiri"
Belum juga aku menormalkan detak jantung dan hembusan nafas setelah lari dari gerbang sekolah menuju stand ini, aku sudah mendapatkan sarapan kekesalan temanku. Namanya Gusti. Anak yang selalu berhasil jadi sosok pemimpin. Bukan karena kemampuan leadership nya yang bagus; yang membuat dia selalu terpilih menjadi ketua pelaksana. Ini murni karena orang memang takut padanya. Muka sangar yang dimilikinya membuat orang berpikir dua kali untuk menentang pendapatnya tentang segala hal. Apakah itu yang dimaksud tegas?

"Sorry gus, gw harus ngeprint prosedur percobaannya. Tiba-tiba tadi pagi Susi telpon gw, katanya dia gak bisa datang hari ini. Sakit perut katanya. Semalam dia makan rujak kebayakan terus masuk angin, ya intinya ada sedikit komplokasi ringanlah di perutnya" jelasku mencoba membela diri sembari berusaha menormalkan detak jantung dan hembusan nafas ke ritme semula.
"Iya, makasih. Penjelasan lo gak bisa ngilangin asam laktat yang sudah melekat di otot ini. Sekarang layanin aja tamu yang datan. Tuh orangnya. Gw mau makan dulu" jelas Gusti sambil menunjuk ke arah wanita yang sedang berdiri di gerbang stand.

#Conscience#
"Bersikaplah ramah pada pengunjung. Lebarkan senyuman dan tajamkan tatapan"
#End of Conscience#

"Selamat pagi teh. Selamat datang di stand fisika, Be teh First Who Knows Teh Magic of Physics" sapaku pada seorang wanita yang berdiri tepat di gerbang stand (kenapa jatuhnya saya terdengar seperti seorang Shopkeeper ya, haha). Wanita dengan jilbab warna orange dan memakai kaos panjang warna putih dengan lengan berwarna orange itu sepertinya kakak tingkatku dan sepertinya dia anak klub matematika. Ya, kaos yang dipakainya adalah kaos klub matematika. Ngapain dia datang ke stand fisika? Apakah dia mau mencuri konsep kami? Entahlah.

"Saya seperti masuk ke wahana sirkus ya" kata wanita itu datar. Ya, intonasinya memang datar, tapi makna dari pernyataanya itu sangat menusuk.
"Iya teh, silahkan masuk dan pilih kartu yang ada di tangan saya. Kartu merah untuk masuk ke kandang singa. Kartu hijau untuk berkunjung ke kandang ular phiton, dan kartu kuning untuk ikut dalam atraksi potong leher" (not on conversation)
"Iya teh, itu jargon stand kami. Dan memang tema kami tahun ini sedikit mengambil tema sirkus. Silahkan masuk dan nikmati semua keajaiban fisikanya" aku masih berusaha untuk menahan amarah dan tetap menebarkan senyum. Meskipun aku tahu, senyum itu palsu.

"Kamu di sini sendiri ya? Kemana yang lain? Bukannya acara sudah dimulai setengah jam yang lalu ya?" Tanya si pengunjung geje itu. Entah apa yang ada dipikirannya. Pertanyaannya seakan menelanjangi aib klub kami.
"Kebetulan beberapa anggota tidak bisa datang karena berbagai alasan teh" jelasku sambil terus menebarkan senyum palsuku.
"Mengapa aku harus menerangkan semuanya secara lugas kepadanya. Siapa dia? Dia bukan ketua klub kami kan?" gerutuku dalam hati.
"Ohナ." dia menanggapi dengan sekenanya
"Teteh mau saya terangkan percobaan yang mana?" Aku berusaha untuk menarik minat pengunjung yang satu ini.
"Cepatlah bosan dengan semua yang aku tunjukan. Pergilah kau dari Stand ku ini" (Not on conversation)
"Aku ke sini untuk mencari Susi. Dia datang kan hari ini?" terangnya. Masih dengan nada datar.
"Ohナ. Wahai Susi, kenapa kau begitu menyusahkanku pagi ini. Dimulai dengan telpon pagi-pagimu yang membuatku harus menjalankan kewajibanmu sebagai sekretaris yang akhirnya membuatku kena semprot ketua pelaksana. Dan sekarang, kau kirimkan tamumu yang datar ini kepadaku. Susi, apa lagi derita yang akan kau berika kepadaku hari ini? Mudah-mudahan diaremu cepat sembuh. Amin" (Not on conversation)

"Oh, Susi kebetulan gak datang hari ini. Dia kena diare akut. Masuk RS tadi malam" jawabku dengan nada datar. Semoga nadaku sedatar nadanya. Biar dia sadar bahwa intonasi datar itu kurang enak didengar.
"Wah? Yang benar? Kok saya gak tahu ya? Perasaan kemarin dia tampak sehat-sehat saja?" dia tampak seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan. Ya, aku memang sedikit melebihkan keadaan Susi. Tapi intinya Susi memang sedang diare kan?
"Kalau teteh tidak percaya, datang saja ke rumahnya" aku mencoba untuk meyakinkannya. Tidak tahu kenapa, aku ingin mempermainkannya. Aku senang dan tertawa dalam hati saat mukanya memancarkan kekhawatiran. Makan tuh khawatir!

Dia pergi begitu saja dengan datarnya, ya, dia sangat datar dan dingin. Tapi entah ada apa dengan dirinya. Aku rasa dia punya sesuatu yang membuat diriku merasa kesal dan senang dalam waktu yang bersamaan. Entahlah.

---END FLASHBACK---

22.00, 3 Januari 2012

Entah apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus minta maaf atas apa yang aku lakukan kepadanya barusan. Meninggalkan dia sendiri dengan masalah yang masih belum jelas. Tidak. Saya tidak salah sama sekali. Sudah cukup selama ini saya selalu berada di pihak yang salah. Cukup.

#SONG#
--Seventeen-Selalu Mengalah--

Jelaskan padaku isi hatimu
seberapa besar kau yakin padaku
untuk tetap bisa bertahan denganku
menjaga cinta ini

Pertengkaran yang terjadi
seperti semua salahku

Mengapa selalu aku yang mengalah
tak pernah kah kau berpikir
sedikit tentang hatiku
mengapa ku yang harus selalu mengalah
pantaskah hatiku
masih bisa bersamamu

#End Song#

---FLASHBACK---
7 Januari 2006
(Short Message Service)


To: Teh Indah
Luruh hati karena dia
Cinta yang tak pernah datang sebelumnya
Tapi semua tak ada
Dia berarti beda
Dia berarti luka
Tp dia tetap cinta
Tetap rasa kasih yag tak harus diabaikan
Kamu terlampau Indah

From: Teh Indah
Gombal

To: Teh Indah
Loh ko Gombal sih?

From: Teh Indah
Maksudnya apaan?Eh seru kali yak lo kita ngobrol kayak gini tuh langsung bkn lewat sms kan gx ngabisin pls.Di kelas kita Cuma bisa diem-dieman. Hehe. Knp atuh? gx bisa langsung yach?

To: Teh Indah
Maksudnya tuh kayak pernyataan td. Kan teteh masih bingung dengan "indah", ya it. Masa juara puisi ngx ngerti. Ya sih, saya slalu berusaha buat deketin teteh di kelas, tp teteh kayak nolak gtu.
Ya udah kalo syg pls mahナ.

From: Teh Indah
Bknnya sayang pulsa, tapi iya ini sih mnrt teteh, gtu. Kok prtanyaan tth gak dbls? Emang km ngrasain cinta?

To: Teh Indah
Teteh tuh baik tp kadang judes. Teteh tuh cwe tegas (beda sama saya). Kadang linglung.
Setiap saat cinta tuh ada. K teteh jg cinta, klo gak cinta gk bkal jd shbat.

From: Teh Indah
Oh iya kyk film yang kemaren y? ma kasih atas semuanya. Mdh2an kita bisa jd sahabat sejati. Aminnn.

From: Teh Indah
Kok lama sih, dah tidur ya,,,? Kok mo tidur gak pamit2 dlu. Gak sopan. Ya sudah, tidur aja deh. Met tidur sahabatku sayangナ.

Aku pun tertidur pulas. Memimpikan dia tersenyum dan berkata bahwa dia akan selalu berada di sampingku. Manis.

-END FLASHBACK-

4 Januari 2012
#Calling#
Teh Indah-----


"Sudah Aku bilang jangan memperkeruh suasana" tegasku di ujung telepon dengan nada sedikit membentak.
"Aku tidak memperkeruh suasana mas. Aku hanya ingin cerita ke sahabatku saja. Aku gak kuat memendam masalah ini sendiri" jawabnya terisak.
"nangis lagi kan? Kamu nangis kan?" aku kesal saat ini. Sangat kesal. Dia membicarakan masalah yang sedang kami hadapi kepada Susi. Tadi pagi Susi meneleponku, berlagak seperti seorang malaikat yang tahu segalanya. Kamu tidak tahu sedikitpun masalah yang sedang kami hadapi, Susi! Urus saja hidupmu, Susi!

"Aku gak kuat mas. Aku ini wanita. Perasaanku mudah goyah mas" jawabnya pasrah
"Sudahlah, nampaknya ego kita msih berada di zenithnya. Selamat siang!"
#End Call#

Aku kembali merasa sebagai laki-laki paling jahat di dunia ini. Berapa kali aku sudah membuatnya menangis seperti ini. Sering.

-FLASHBACK-
Agustus 2007

Aku kini resmi jadi mahasiswa setelah diterima di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta. Aku sangat sedih karena harus meninggalkan ibu dan bapa di rumah. Secara aku anak tunggal. Mereka pasti akan sangat kesepian. Terlebih aku. Aku pasti sangat merindukan mereka.

Terlebih, akupun harus berpisah dengan sahabat terdekatku, Teh Indah. Meskipun kami nantinya bakal tetap di satu kota. Tapi sekarang kami tidak mungkin bertemu di kelas yang sama lagi. Untuk sekedar informasi, dia juga diterima di PTN Jakarta. PTN yang tentunya berbeda dengan kampusku.

#Song#
--Sebelum Cahaya-Letto--

Ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinta
perjalanan sunyi
engkau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinta

Ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta

#End Song#

---END FLASHBACK---

5 Januari 2012
(Short Message Service)

To: Teh Indah

Teh, saya sudah kirim email. Semua yang saya rasakan tercurah di email itu. Dimohon ketenangan hati untuk membacanya.

Aku pandangi layar HP yang sejak tadi kugenggam. Dia nampaknya belum mau untuk menyambung komunikasi denganku lagi. Apa dia masih marah ya? Aku tidak paham. Aku tidak mau terpancing lagi dengan kemarahan-kemarahan yang tak berujung ini. Aku akan melapangkan kesabaran dan pintu maaf ini. Aku sudah lelah menahan emosi. Aku ingin dia kembali. Tersenyum manis.

6 Januari 2012
(Short Message Service)

From: Teh Indah

Aku sudah baca mas. Aku kirim tanggapannya ke email mas. Tolong baca dengan hati yang tenang.

Entah kenapa aku merasa sangat senang. Aku kira dia tidak sudi untuk sekedar membaca email yang ku kirim kemarin. Ternyata dia juga menanggapi email yang aku kirim. But wait? Kira-kira tanggapannya bagaimana? Masihkah dia akan mempertahankan egonya? Akankah dia masih menempatkan dirinya di posisi orang yang paling benar?

Aku buka akun emailku dengan tergesa-gesa. Aku tak sabar membaca emailnya.
"Yup, This is it"
Aku baca emailnya perlahan. Aku tidak mau salah tafsir lagi. Aku ingin membacanya dengan tenang. Mencoba untuk memaknai setiap kata yang ditulisnya dengan pikiran yang jernih.

From : Pink_Indah@Smiley.com
To : Rizal_Alzupri89@Smiley.co.id


Mas..sebelumnya saya minta maaf apabila ada kata-kata saya di tulisan ini yang tidak berkenan di hati mas. Itu murni karena kebodohan saya dalam merangkai kata.
Mas, saya ingin katakan dari hati sy yg terdalam. Saya sudah memilih cinta mas untuk ada di hati saya. Semoga tidak ada halangan apapun dalam perjalanan kisah kita. Amiin.. Insya Allah..
Mas.. Saya paham dan bisa merasakan bagaimana ada di posisi mas sekarang ini, sebetulnya, tapi maafkan kalau sikap saya selama ini membuat saya terlihat bertolak belakang. Setidaknya saya tau apa yg mas inginkan untuk beberapa tahun ke depan. Sy sangat mendukung rencana2 mas karena saya tau mas orang yang sangat penuh persiapan dalam menghadapi segala hal, untuk masa depan pun pasti demikian.

Saya tidak keberatan dengan rencana mas karena saya jg sadar, saya jg perlu untuk punya bekal dulu sebelum memulai babak baru kehidupan saya nantinya. Semua itu tidak lain untuk kebahagiaan kita juga nanti, begitukah?, bekal kita di dunia dan mempersiapkan diri untuk akhirat nanti..
Namun, akhir2 ini saya merasakan ada yg berbeda dlm sikap mas.. sy merasakan ada yg berbeda dlm sorot mata mas. Ternyata semua sudah terjawab. Itu semua yg mas khawatirkan.. Mas khawatir saya akan menjadi jenuh dengan hubungan kita kan karena mas akhir2 ini sibuk dengan kerjaan mas? Tidak mas. Saya tidak merasa jenuh sedikitpun. Saya harap mas tidak se-sensitif yang kemarin-kemarin. Kita jalani saja dengan enjoy. Jangan pikirkan "biasanya orang lain"..Ini kita sekarang. Jangan minder. Insya Allah nanti bisa lbh baik.

Saya pun tidak memaksa hal itu mas, sy beri kebebasan waktu ke masナsy percaya, mas mempertimbangkan banyak hal. Asalkan segalanya ada jaminannya. Saya tidak mau hidup tergantung mas. Saya ingin mas bisa meyakinkan sayaナ

Masナ.mas tuh terlalu baik. Mungkin terlalu baik untuk seorang sy yg banyak sekali kekurangannya ini. Maaf kalau selama ini sy terlalu manja dan terlalu egois, bahkan terlalu ingin diperhatikan, ingin semua seperti keinginan saya. Ingatkan saya ya mas. Tp sy minta untuk tidak mengingatkan sy dgn cara marah ke sy. Itu sangat menyiksa bwt sy, sehingga tak bisa menahan air mata. Sy gx sanggup kehilangan kehangatan dan senyum mas.

Sy harap kalau mas punya waktu saat pulang ke Cianjur. Mampirlah ke rumah. Bunda pasti akan sangat senang.ma kasih ya masナ
Sekali lagi mohon maaf atas kata-kata saya.
Semoga mas tidak keberatan.
Yuk kita sambut hari-hari kita dengan perasaan lapang. Menikmatinya dan mdh2an mendapat ridhoNya. Amiin.


Ternyata dia masih wanita yang sama. Wanita yang sanggup menerima saya apa adanya.

Tanpa tunggu waktu lagi aku langsung menanggapi emailnya. Aku mau dia yakin, bahwa dia tidak salah pilih orang.

From : Rizal_Alzupri89@Smiley.co.id
To : Pink_Indah@Smiley.com


Teteh, saya sangat senang membaca tanggapan teteh. Teteh masih percaya kan kalau saya cinta teteh?

Teh, terima kasih karena sudah menjadi wanita yang sudah menerima saya apa adanya. Terima kasih karena telah membuka pintu maaf untuk kesekian kalinya. Saya hanya ingin teteh tahu, pertengkaran yang akhir-akhir ini kita alami membuat saya semakin takut kehilangan teteh. Sangat takut. Andaikan saya berada di akhir zaman, rasa takut saya tidak sebanding dengan apa yang saya rasakan saat hubungan kita berada di ujung tanduk.

Teh, terima kasih juga atas waktu yang teteh berikan ke saya. Saya akan mempergunakannya dengan optimal. Saya akan mempersiapkan semuanya dengan baik teh. Tolong dukung saya. Itu kan esensi hubungan kita saat ini sebenarnya. Saling mendukung dalam mencapai cita-cita. Mari kita persiapkan bersama. Kita masih punya pulau tujuan yang sama kan?

Terima kasih atas smua pengertiannya. Bilang ke bunda, Insya alloh kalau ada kesempatan saya akan berkunjung.

I Love You

---FLASHBACK---
23 Desember 2004

"Gusti, gw izin solat dulu ya" pintaku ke Gusti dengan muka yang memelas. Ya, aku lelah. Sudah sekitar empat jam aku harus melayani pengunjung yang datang ke stand ini. Otak ku sudah penuh dengan pertanyaan-pertanyaan pengunjung yang aneh.
"Emang gw setan, pake nahan-nahan lo buat solat? Solat sana! Biar segeran dikit, ntar jagain stand lagi, gw mau pergi bentar" jawabnya ketus. Benar-benar sosok ketua yang tidak patut dicontoh. Sepertinya aku sudah salah masuk klub. Bukannya tujuanku masuk klub supaya aku bisa belajar banyak tentang kepemimpinan?

@ Teras Mushola
Aku menyandarkan punggungku di tembok mushola sambil selonjoran di terasnya. Kakiku benar-benar pegal. Terlihat dua sosok wanita yang datang mendekatiku.

"Eh jupri, kamu tega ya bilang aku kena diare akutlah, masuk rumah sakit lah. Kamu ngedoain ya? Dasar!" Susi tiba-tiba berbicara lantang kepadaku. Terlihat wanita disampingnya hanya tersenyum simpul. Dia sepertinya puas dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Ini sus, kemarin teteh ini datang ke stand nanyain kamu. ya aku jawab kamu lagi sakit. Tapi untuk sedikit mendramatisir keadaan, aku bilang kamu masuk RS" terangku dengan muka lugu.
"Dasar raja usil. Pake panggil teman seangkatannya dengan panggilan teteh lagi. Ini Indah teman aku, dia anak kelas X-1" Jelas Susi

#Monolog
Oh namanya Indah ya. Jadi dia teman seangkatan? Tapi dia sangat terlihat dewasa. Bukan dari fisiknya sih. Tapi dari tatap matanya, gerak tubuhnya, dan cara ia bicara. Dia berbeda dengan teman-temanku lainnya. Mungkinkah dia? Sosok yang selama ini aku cari?

Tiba-tiba lamunanku terpecah oleh Susi yang tiba-tiba menepuk pipiku.
"Ih ko pake tampar segala. Aku sudah wudu, jadi batal deh. Mana harus basuh pake lumpur tujuh kali lagi" Aku berusaha bangun dari khayalanku.
"Maksud Lo? Kurang ajar, emang aku najis. Perkenalkan diri kamu dong Zup, dia bakal jadi teman kelas kamu di semester berikutnya loh" terang Susi.
"Semester besok kamu juga masuk kelas internasional ya?" tanyaku pada Indah seakan tak menghiraukan keberadaan Susi.
"Iya jup, Alhamdulillah kemarin saya lolos seleksi. Mudah-mudahan kelasnya menyenangkan" jawabnya lembut. Benar-benar berbeda dengan intonasi yang kemarin dia keluarkan. Sangat datar.
"Amin" Timpalku. Masih menghiraukan keberwujudan Susi.

#Monolog
Susi, pergilah dari kehidupanku. Aku ingin sekejap bersamanya. Mengenalnya lebih dalamナ..

---FLASHBACK---
14 Januari 2008

Aku seperti kehilangan sosok itu. Apa dia mungkin sedang sibuk dengan kuliahnya? Aku rasa tidak. Ini kan baru awal semester kedua. Apa aku sudah berbuat salah pada dia dan aku tidak menyadarinya?

#CALLING"
Teteh Indah-----


"Hallo" sapaku lembut setelah ku tahu bahwa teleponku diangkatnya. Beberapa saat tak ada satu kata pun keluar dari speaker HP ku.
"Hallo tehナ." Aku kembali menyapanya
"Iya hallo" Jawabnya datar. Akhirnya dia membalas sapaanku, meskipun datar.
"Teh, kenapa sms saya gak pernah teteh balas akhir-akhir ini?" Tanyaku padanya.
"Pulsaku habis" Jawabnya singkat dengan intonasi yang masih datar. Tak biasanya dia bersikap sedingin ini padaku.
"Aku main ke kosanmu ya teh" Aku berusaha sehangat mungkin dalam bersikap.
"Aku pengen istirahat seharian ini" Jawabnya ketus
"Kamu sakit ya teh? Kok gak bilang-bilang?" Masih dengan usahaku menghangatkan suasana
"Sejak kapan kamu perhatian dan buat apa kamu perhatian sama aku? Aku bukan siapa-siapa kamu kan?" tiba-tiba pertanyaannya memborbardir telingaku dengan nada yang tidak datar lagi, cenderung meninggi.
"Waitナ..I don't understand what u saidナ Teh, aku bingung. Sebenarnya apa salahku? Kalau aku punya salah tolong jelaskan" Aku benar-benar bingung dengan keadaan yang sedang aku hadapi saat ini.
"Aku ini cewek Jup, tolong beri aku kepastian. Kalau toh memang bukan kamu. izinkan aku untuk lepas. Aku ingin segera mencari sosok yang memberi aku kepastian" Serunya lugas
"Ok, I got it. Selama dua tahun ini kita bersahabat. Bahkan menurutku lebih dari bersahabat. Kamu bisa bayangkan, dua orang berbeda jenis kelamin menjalin hubungan persahabatan. Tiap malam mereka saling sms an untuk sekedar memberi kabar. Tiap weekend mereka jalan bersama. Apakah kamu tidak merasa aneh dengan hubungan macam ini?" (Not on conversation)

"Tehナ maafkan aku. Selama ini aku masih merasa belum siap menjalin hubungan. Aku belum siap dengan berbagai konsekuensi yang akan kita hadapi nantinya. Tapi jika dibandingkan dengan harus kehilangan kamu, aku lebih tidak siap" Jawabku sedikit gemetar
"Aku gak akan maksa kamu jup" nadanya mulai mendatar kembali
"aku gak merasa dipaksa teh. Hal ini memang terlambat aku ucapkan. Tapi jujur, aku sudah merasakannya sejak dua tahun lalu. Maafkan karena aku sudah membuat kamu menunggu. Aku butuh waktu untuk meyakinkan hati ini, begitupun kamu. aku gak ingin kamu salah pilih orang. OK, maukah kamu jadi pacar aku?" Aku bertanya kepadanya dengan seribu kecemasan. Tidak ada suara keluar dari mulutnya. Aku pun hanya bisa mendengar deru nafasku sendiri. Hinggaナナ
"Iya, aku mau jadi pacar kamu" dan jawaban itu seketika memecah balok kecemasan menjadi butir Kristal yang berkilauan. Aku percaya cinta akan membuatku tambah dewasa dan siap menghadapi segala konsekuensinya.
"Boleh aku panggil kamu mas? Biar aku tidak terlihat lebih tua dari kamu" Permintaan cukup aneh di awal masa pacaran kami. Manis.

#SONG#
--Elliott Yamin - You Are Teh One--

Sometimes I sit and I wonder
And I just can't seem to believe
What a blessing it's been to be loved
You're an angel sent to me

You're the star who lights up my sky
You're the one who made me see
That you don't need wings to fly
You're love has set me free

Cause you are the one who makes me whole
In my heart and in my soul
And just like the sun you show me the light
I'm amazed and you're the reason why
---END FLASHBACK---

19.30, 13 Januari 2012
(Short Message Service)

To: Teh Indah

Teh dingin banget ya malam ini. Tumben Jakarta sedingin ini?

From: Teh Indah
Iya nihナ mas sudah makan?

To: Teh Indah
Ini lagi makan. Biasa nasi goreng. Bisa-bisa tukang nasi gorengnya bosan liat saya membeli nasgornya, hehe

From: Teh Indah
Wah kasian. Tenangナ.. Ntar mah gak usah keluar beli makan. Bakal ada yang nyiapinナckckck

To: Teh Indah
Aminナ. Gak kerasa ya besok dah tanggal 14 Januari lagi

From: Teh Indah
Iya masナ. Dah empat tahun ya mas?

To: Teh Indah
Heheナ..


#PUISI#
Cinta itu kadang sedih, air mata, dan keputusasaan
Tapi terkadang cinta itu benci, cemburu, dan rindu yang menyiksa
Seringnya cinta itu membuat mereka malas makan dan sekedar membersihkan badan
Cinta membuat kita frustasi
Cinta kadang membuatnya menangis
Cinta membuat saya sakit hati
Jadi apa yang harus kau harapkan dari CINTA?
Pembelajaranナ
Ya, saya belajar dari cinta
Semua rintangannya membuat saya dewasa dan berani berkata bahwa saya siap menerima semua konsekuensinyaナ


===To be continued===

3 komentar:

  1. Cerita yang luar biasa..sederhana tetapi memberi makna.. Terima kasih atas 4tahun yang penuh warna..

    BalasHapus
  2. haha....finally...u're welcome

    BalasHapus
  3. bagus.. tapi di flashback pertama kok saya liatnya malah kaya dua cewek yang ngbrol haha.. atau malah kaya kebalik, yang jaga stand-nya cewek, yang berkujung pake kerudungnya cowok. haha #btw, itu comfort zone deh Fan, bukan Convert haha

    BalasHapus