Tampilkan postingan dengan label kurze Erzählung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kurze Erzählung. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Desember 2012

PELUKIS HUJAN



Sore ini langit terlihat lebih mesra bermain dengan awan. Mereka lekat, menjingga bersama.

Sedang hatiku tak pernah jingga. Kaos biru muda tanpa motif alias polos dengan lengan 3/4 dipadu celana jins abu cutbray dan sepatu kats putih. Sangat kasual. Tak pernah ada usaha lebih untuk menarik perhatian pria sekitar. Semua tampak biasa. Sama. 

Ya memang, aku tak pernah berusaha lebih untuk mencari perhatian pria. Dua puluh empat tahun tahun ini aku hidup dalam kesendirian. Hati ini tak pernah ramai oleh romantisme dan kegombalan. Entah aku normal atau tidak sebagai wanita. Tapi, aku pun sama sekali tidak tertarik dengan sesame wanita. Does it mean I'm still normal? I don't know.

Sore ini aku memang sedang benar-benar tidak punya kerjaan. Ini adalah akhir pekan yang sangat panjang buatku, karena senin tanggal merah. Jadi, sore ini setidaknya aku bisa tenang dan duduk manis di tempat paling nyaman sejagat.  Peak of The Sky Cafe. Semua orang yang mendengar nama kafe itu pasti bisa menebak dimana kafe itu berlokasi. Yup, kafe yang sering aku kunjungi ini terletak di sebuah dataran tinggi. Kata iklanya sih, highest quality at the highest place; tapi aku tidak terlalu yakin bahwa tempat ini adalah titik paling tinggi di kota Bandung. Tapi memang tempat ini adalah tempat paling tinggi yang pernah aku kunjungi. Tempat ini begitu dekat dengan langit. Ya minimal itulah yang pernah dibilang pemilik kafe ini dan aku percaya karena dia memang patut untuk dipercaya. Dia sangat baik dan optimis. Moto itulah yang membuat kafe ini terus bertahan. Spiritnyalah yang membuatnya tetap hidup.

Saat ini, mega terasa benar-benar berada di hadapan mata. Aku hanya tinggal menjulurkan tangan dan aku bisa meraihnya. Berlebihan. Tapi itulah yang aku rasakan saat ini. Aku merasa bisa mendekap orang yang berada jauh di atas sana. Dalam kesendirian semuanya bisa terbayangkan. Khayalan bisa teraih dengan mudahnya.

"hai, bengong saja Lo? Kesurupan baru tau rasa, Lo. Konon tempat ini kan masih banyak hantunya" Tiba-tiba saja sesosok wanita terlihat berada di belakangku. Aku bisa melihat siluet sosoknya di kaca yang sedang aku tatap.

"Kamu tuh hantunya. Selalu datang meski tak diundang" Ejekku pada dia yang sudah duduk didepanku dan meminum minuman yang aku pesan.

"Gue datang karena Gue tahu Lo pasti lagi butuh Gue saat ini? petang yang galau. Betul kan?" Wajahnya sangat tendensius. Seperti seorang polisi yang sedang sangat ingin mendapatkan kejujuran dari tersangka kejahatan yang sedang berada di hadapannya.

"Kamu bisa saja. Naik apa kamu kesini?" Responku balik bertanya.

"Terbang seperti biasa" jawabnya lugas. Selalu seperti itu. Urakan.

"Kamu memang hantu. Fix!" Tanggapku lugas

"...Dan Lo memang teman yang baik, selalu tahu apa yang sedang temanmu inginkan. Makasih ya" Ia memang terlihat sangat menginginkannya. Segelas teh lemon dingin.

"Tapi kenapa mereka tidak mau mengerti?" Tanyaku pelan. Tak ingin terlalu mengganggunya.

"Mereka bodoh, Nay. Mereka tidak mengerti apa yang Lo pikirkan dan yakini tentang hidup" jawabnya terbata di antara sela tegukan minumnya

"Mungkin karena aku terlalu beda, Ki" tanggapku singkat

"Justru mereka yang beda sama kita. Just Enjoy your life. Be your self!"

"Hehe... ya, karena aku terlalu menjadi diri sendiri, aku jadi benar-benar sendiri seperti ini"

"Gue?" dia berhenti dengan acara minum nikmatnya sembari menunjuk dada busungnya sendiri.

"Maksudku, jika kamu benar-benar gak ada, ya aku benar-benar sendiri" 

"Gue akan selalu ada buat Lo, Nay. Kecuali Lo benar-benar sudah gak butuh gue. Gue akan pergi" Jelasnya dengan muka yang sangat serius. Kening mengerut dan bibir mengerucut. 

"I need you" ucapku sendu

"Me too" ucapnya syahdu

Sore ini langit terlihat lebih mesra bermain dengan awan. Mereka lekat, menjingga bersama. Aku dan dia. Hantu.


***

Namanya Kiki. Nama unik yang melekat pada pribadi yang memang unik. Dia adalah seorang mahasiswi Bisnis. Bidadari jurusan. Teman-temannya menyebut dia seperti itu. Entahlah, katanya di angkatannya hanya dia yang berjenis kelamin wanita. Anomali, ya dia memang anomali dimanapun dia berada. Termasuk anomali dalam kehidupanku.

"Gue itu harta dalam tumpukan sampah. Lo beruntung sudah nemuin Gue" Itu kalimat yang selalu aku ingat saat pertama kali aku bertemu dengan dia malam itu. Malam saat aku hampir tak punya khayalan lagi. Kami langsung pas. Sepertinya takdir memang sudah menuliskan pertemanan kami dengan jelas dan lugas. Sejak malam itu, kami tak pernah terpisahkan. Bagai gula dengan manisnya, garam dengan asinnya, dan bratawali dengan pahitnya. Kami selalu ada, berdua.

"Besok kamu mau mulai melukis lagi kan, Nay?"

"Entahlah, belum ada inspirasi yang meluap. Semuanya masih di sini" ujarku sambil menunjuk ke kepala. Ya, selalu. Inspirasi untuk melukis selalu tertahan dalam otak. Semuanya hanya berakhir sebagai sebuah fantasi semu. Indah tapi tak bisa aku ungkapkan lebih. Tak bisa mengalir dalam aliran darah dan menggerakkan saraf jemari. Tak bisa terlukiskan dalam kanvas. Seringnya.

 "Coba pakai ini. meskipun Gue sendiri kagak tahu cara pakai organ ini dengan benar. Tapi kata orang hal itu cukup bekerja" Selanya sambil menunjukkan jarinya ke bagian tengah dadaku.

"Aku sudah lupa apa aku masih punya hati yang berfungsi baik atau tidak" tuturku sambil bertanya pada diriku sendiri

"Kamu tidak pernah jatuh cinta?" Kembali dia berperilaku seperti seorang polisi.

Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. Sebuah kenyataan yang sukar aku akui kebenarannya. Tapi ya memang seperti ini keadaannya.

"Lo gak lesbi kan, Nay?" tanyanya frontal

"Gila Lo"

"Kalau kamu lesbi, Gue siap kok jadi pacar Lo, haha" tawanya renyah. Dia memang selalu begitu. Sangat suka membuatku tertawa lepas. 

"Kamu tahu kapan saat seseorang bisa benar-benar menjadi diri sendiri?"

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala kecil

"Saat orang tertawa sangat lepas. Ikhlas dan puas" Jawabnya

Kami tertawa lepas sampai larut malam. Sampai langit menghitam lekat. Dan lampu di kafe ini mulai dipadamkan satu per satu. Pertanda bahwa kami memang harus secepatnya pergi. Tepatnya aku. Karena dia tampaknya sudah pergi tanpa sepengetahuanku tadi. Dia memang seperti itu, pulang tak diantar.

"Dia memang hantu" gerutuku lembut

Seorang pria berbusana safari berdiri di hadapanku dan menyimpulkan senyum lebarnya.


***

Sesak rasanya berada dalam ruangan yang satu ini. Sempit dan sumpek. Dan sebentar lagi puluhan pertanyaan akan silih bergantian ditanyakan. Puluhan pertanyaan yang menurutku punya maksud yang sama. Menyudutkanku sebagai seorang pribadi.

"Kamu adalah seorang pribadi yang unik. Dan hakekatnya semua manusia itu unik, termasuk saya. Jadi berhentilah untuk merasa sebagai orang aneh karena keunikanmu" Seorang wanita paruh baya berbicara di hadapanku dengan gaya anggunnya.

"Bukannya Anda pun menganggap saya sebagai orang yang aneh? Kalau saya tidak aneh, Anda tidak akan menahan saya dan menanyai saya pertanyaan-pertanyaan tadi"

"Karena saya peduli kamu"

"Karena Anda bisa hidup dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan aku"

Aku pun bergegas bangun dari dudukku dan pergi meninggalkan wanita paruh baya itu yang tetap masih terlihat duduk dengan tegasnya.

"Menurutku dia aneh, baju vintage dan wangi parfum beraroma tanah yang sangat menyengat" gerutuku dalam hati sambil meninggalkan ruang itu.


***

"Apa kata Gue? Lo gak pernah mau percaya dengan apa yang gue katakan. Dia gak akan pernah bisa membantu Lo. Mana bisa semua imajinasimu berbaur dengan obsesinya" Kiki kembali hadir saat aku benar-benar butuh seseorang, meski bukan dia yang aku butuhkan saat ini.

"Aku hanya butuh orang yang bisa mendengarkanku dengan seksama"

"Kan ada Gue"

"Kamu gak selalu ada buat aku"

"Tapi kan kita bisa ketemuan kalau Lo mau. Gue pasti akan selalu ada"

"Intinya aku butuh persepsi lain" Jawabku menjelaskan semuanya

"OK. Sekarang Anda minta diantar kemana tuan putri? Hamba siap mengantar baginda"

"Berlebihan kamu"

"Nah gitu dong, tertawa!"

"Antarkan aku ke rumah sakit" Pinta aku sambil menggenggam tangannya

"Dasar orang sakit" 

Dan kami pun pergi


***

Ada apa dengan langit?
Aku begitu ingin menggenggamnya

Ruang ini sepi. Ruang yang sangat cocok untuk pribadi sepertiku. Menyendiri. DitaMbah dengan empat lukisan indah di setiap sisi dindingnya. Memang benar kata orang, Rumah sakit ini lebih dikenal sebagai rumah sakit galeri ketiMbang rumah sakit ibu dan anak. Tidak ada boneka, robot-robotan, balon, bola, dan permen. Padahal...

"Karena ini memang laboratorium untuk menciptakan anak" jawab seorang wanita dengan baju lab serba hijau yang keluar dari ruangan kecil di sebelah kiri ruangan tempatku duduk. Wanita itu adalah Mba Ina. Dia adalah sahabat kecilku yang beberapa tahun lalu sempat menghilang dari kehidupanku. Padahal sebelumnya kami tidak pernah terpisahkan. Dari kecil kami selalu bersama hingga sebuah mimpi memisahkan kami berdua cukup lama. 

"Mba memang selalu tahu apa yang aku pikirkan. Hebat" ungkapku sambil menepukkan kedua tanganku pelan.

"Nay, Mba dan kamu tuh satu hati, satu jiwa, satu detak, satu takdir. Apa yang kamu pikirkan, Mba pasti rasakan" jawabnya sambil menjatuhkan dirinya di sofa, tepat di sampingku.

"Tuhan kurang adil, kenapa coba cuma Mba yang bisa baca pikiran aku, tapi aku tidak bisa baca pikiran Mba"  gerutuku dalam hati.

"Sudahlah, berhenti kamu menyalahkan Tuhan" Ujar Mba Ina. Sekali lagi Tuhan yang tidak aku percayai sama sekali menunjukkan mukjizatnya. Dia telah menciptakan mahkluk secanggih Mba Ina yang bisa membaca pikiranku dengan sempurna. Tapi Dia tak pernah membuatku seperti itu. Dia senantiasa memberiku keterbatasan. Keterbatasan dalam melakukan segala hal yang aku mau.

"Berhentilah menyalahkan apa yang terjadi dalam hidupmu. Mari kita bicarakan apa yang hendak kamu bicarakan pada Mba, Nay" Tegasnya sembari memegang tanganku. Dia memang tahu aku sedang membutuhkannya.

"Sepertinya aku tidak perlu menceritakan apa yang hendak aku ceritakan pada Mba. Mba pasti sudah tahu saat dimana aku memikirkannya" Ya. Itu pasti.

"Kamu percaya mimpi?" tanyanya pelan padaku

"Ya. Tapi hal itu sekedar menjadi obat penenang disaat aku gelisah, Mba. Percaya saja tidak cukup membuatku mencapai mimpi" 

"Tepat"

"Yah dan aku tepat mendatangi Mba saat ini. Benarkan?"

"Mungkin. Saat ini Mba sudah mencapai apa yang orang lain harapkan. Tapi jujur Nay, Mba belum bisa mencapai apa yang Mba inginkan"

"Lalu apa yang sebenarnya Mba inginkan?"

"Mba ingin seperti kamu"


***


Nampaknya Bandung sedang berduka. Banjir dan longsor dimana-mana. Tahun ini memang ditutup dengan musim hujan. Musim yang tahun lalu susah untuk datang dan sangat cepat berlalu. Tapi tahun ini semuanya kembali normal, hujan turun hampir di semua bulan berujung "ber".  September, Oktober, November, sampai penghujung tahun ini, Desember.

Dan saat ini pun hujan
Derainya selalu memberiku ingatan manis
Tentang dahulu yang sempat manis

Ya. Saat ini aku berada di sebuah panggung kayu yang merupakan bagian favoritku di Peak of the Sky Cafe. Selain lebih dekat dengan langit, aku juga bisa menyendiri. Entah kenapa, orang lain tidak pernah ingin duduk di bagian kafe yang satu ini. Kata pemilik kafe ini, saung ini memang diciptakan khusus untukku. Entahlah. Tapi aku punya persepsi lain. Tempat ini seperti punya ikatan denga sebuah ruangan di dimensi lain. Aku bisa merasakannya dengan jelas. Seperti ada sentuhan-sentuhan magis di setiap kubik ruangnya. Tapi aku sangat suka dengan ruangan ini. memberiku inspirasi untuk melukis.  Ruang berkhayal.Meski khayalanku itu tetap mengekangku disini. Aku masih tidak bisa menjadi diriku sendiri. Sepi.

"Sudah bertemu dengan Mba Ina Lo?" Tanya seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Suaranya tak asing lagi buatku. Suaranya sudah mengakar di saraf auditoriku. Bahkan aku mengenal setiap hentakan langkah yang ia ciptakan pada dinding kayu ruangan ini.

"Dia tidak memberikan solusi secara lugas, tapi aku tahu apa yang dia maksud"

"Ya, Doi memang selalu seperti itu, sok dewasa"

"Ya memang dia sudah dewasa, makanya saya panggil dia Mba. Kalau dia kekanak-kanakan seperti kamu, aku pasti panggil dia Ina"

"haha... benar juga ya. Makanya Lo tidak pernah sekalipun mencurahkan perasaan ke Gue. Lo selalu berpikir kalo Gue gak akan pernah kasih solusi terhadap masalah yang Lo hadapi"

"... Dan kamu merasa cemburu sama dia?" tanyaku pada dia yang sedang memandangi lukisan-lukisan yang terpajang di dinding.

"Tidak. Gue bukan tipe sahabat seperti itu, Nay. Gue tahu ada saat dimana Lo gak butuh Mba Ina, dan Lo cuma butuh Gue" Jawabnya sambil menatapku lekat. Aku suka tatapannya yang menurutku seharusnya dimiliki seorang pria. Tegas dan tajam namun teduh.

"Syukurlah kalau begitu" Aku kembali menyapukan kuasku pada kanvas yang masih setengah kosong.

"Hujan lagi ya?" Tanyanya dari belakang. Dia memang sangat cepat dalam melakukan pergerakan. Hanya butuh sepersekian detik sampai dia sekarang berada tepat di belakangku.

"Ya... seperti biasa. Kamu pasti mengerti" Sebagai seorang pelukis, saya tidak pernah mau keluar dari zona favoritku. Hujan, sebuah dimensi yang menurutku sangat indah. Bahkan luar biasa indahnya. Tetesnya merdu, angin yang diciptakannya lembut, melodinya sakral, dan terlebih aku punya kenangan yang mendalam dengan hujan.

"Kamu enggan melupakannya sedikitpun?" tanyanya padaku lembut

"Tidak"

"Gue gak bisa berbuat lebih untuk hal yang satu itu, Nay"

"Dan memang tidak perlu"

"Baiklah, mending kita tertawa, betul?"

Kami tertawa lepas seperti biasa sampai larut malam. Sampai langit menghitam lekat. Dan lampu di kafe ini mulai dipadamkan satu per satu. Pertanda bahwa kami memang harus secepatnya pergi. Tepatnya aku. Karena dia tampaknya sudah pergi tanpa sepengetahuanku tadi. Dia memang seperti itu, pulang tak diantar.

"Dia memang hantu" Gerutuku lembut

Seorang pria berbusana safari berdiri di hadapanku dan menyimpulkan senyum lebarnya.


***

Sesak rasanya berada kembali dalam ruangan yang satu ini. Sempit dan sumpek. Dan sebentar lagi puluhan pertanyaan akan silih bergantian ditanyakan. Puluhan pertanyaan yang menurutku punya maksud yang sama. Menyudutkanku sebagai seorang pribadi.

"Sekarang saya sudah memberi kamu ruang yang cukup luas untuk mencurahkan semua imajinasi kamu. Tapi kamu tidak henti-hentinya mengurung diri kamu dalam ruangan sempit itu. Saya sedikit bosan" Suara itu kembali bergemuruh di gendang telingaku.  Sebuah genderang perang.

"Aku tahu maksud Anda" Tegasku menegaskan arah pembicaraan.

"Anda sudah tidak ingin menampung ide-ide saya lagi kan? Anda memang tidak pernah mau mendengarkan keluhan saya. Anda sibuk dengan urusan Anda sendiri. Membangun bisnis Anda sebesar mungkin" Dia tidak bisa bicara lagi. Lipstik merahnya membeku, berubah menjadi ungu.


***

Seorang gadis berkaos biru muda tanpa motif alias polos dengan lengan 3/4 sedang duduk di sofa sebuah loby mungil yang dipenuhi lukisan. Dia menatap senti demi senti lukisan yang dipajang di setiap sisi dinding ruangan. Dia seakan menikmati cerita yang ada di setiap lukisannya. Meski semuanya tampak sama. Dia berusaha mencari perbedaan di setiap lukisannya. Namun semuanya nampak sama. Semuanya punya satu jiwa cerita.

"Kamu bagian dari cerita itu kan?" Ujar seorang wanita dengan baju lab serba hijau yang keluar dari ruangan kecil di sebelah kiri ruangan tempat Kiki duduk. Wanita itu adalah Mba Ina. Dia adalah sahabat kecil Nay yang beberapa tahun lalu sempat menghilang dari kehidupannya. 

"Ya... dan Gue sangat suka menjadi bagian dari Mba dan dia" jawab Kiki sembari menunjuk salah satu lukisan yang terpajang di dinding sebelahnya.

"Ok, mari kita bicarakan apa yang hendak kamu bicarakan"

"Dan Mba pasti sudah tahu apa yang mau Gue bicarain?"

"Ya. Tapi ceritakanlah kembali agar aku bisa lebih memahaminya" Tegas Mba Ina sembari menggenggam tangan Kiki

"Gue seperti melayang-layang gak jelas di tempat kuliah Gue sekarang. Susah buat menjiwai bisnis, Mba. Mba tahu kan apa yang Gue inginkan sebenarnya?"

"Terus apa saja hal yang sudah kamu lakukan untuk menyelesaikan masalah yang kamu hadapi?" Tanya Mba Ina lembut

"Gue ambil cuti untuk waktu yang tidak Gue tentukan. Dan Gue sudah bicara panjang lebar pada Ayah dalam mimpi"

"Dan dia setuju bukan?"

Kiki hanya mengangguk-angguk kecil pertanda mengamini pertanyaan dari Mba Ina. Dan mereka berdua menyimpulkan senyum yang serupa. Sama-sama manis.

"Kamu percaya mimpi?" Tanya Mba Ina pelan pada Kiki

"Ya. Tapi hal itu sekedar menjadi obat penenang disaat Gue gelisah, Mba. Percaya saja tidak cukup membuat gue mencapai mimpi dia menjadi seorang ahli bisnis" 

"Tepat"

"Yah dan Gue tepat mendatangi Mba saat ini. benarkan?"

"Mungkin. Saat ini Mba sudah mencapai apa yang orang lain harapkan. Tapi jujur Ki, Mba belum bisa mencapai apa yang Mba inginkan"

"Lalu apa yang sebenarnya Mba inginkan?" Tanya Kiki menyerobot

"Mba ingin seperti Nay" Jawabnya lembut

"Mimpi Mba sama seperti Gue. Sama seperti ratusan lukisan di gedung ini"

Hujan
Berilah aku arti lebih tentang semua petunjuk
Karena aku tersesat
Tak mengerti hidup yang aku jalani
Tantang aku
Agar aku hidup


***

Sesak rasanya berada kembali dalam ruangan yang satu ini. Sempit dan sumpek. Dan sebentar lagi puluhan pertanyaan akan silih bergantian ditanyakan. Puluhan pertanyaan yang menurutku punya maksud yang sama. Menyudutkanku sebagai seorang pribadi.

"Sudah puas kamu berimajinasi dalam memori sempitmu?" Tanya seorang wanita paruh baya di belakang sebuah meja besar.

"Apa kepentingan Anda dengan hal itu?" Aku balik menanyakan hal yang sama tajamnya kepada dia

"Dan cukup kamu memanggil saya dengan sebutan Anda. Aku ini ibumu dan masih sangat pantas dipanggil Ibu, Nay" Wanita itu berdiri sembari mengenakan kacamatanya. Ia nampak lebih tegas dengan kacamata itu. Matanya selalu berhasil membuatku menuruti setiap perkataannya. Tapi tidak untuk saat ini.

"Ya... Tapi Anda membuat hubungan kita menjadi formal. Entah bagaimana ini terjadi, tapi jurang yang tercipta cukup membuat aku melupakan hubungan kita" jawabku sambil melepas cap kepala warna hijau yang sedang aku kenakan.

Dan suasana seketika membeku. Yang aku lihat, dia hanya membuka lembar demi lembar buku tebal yang selalu ia agungkan. Hidupnya seakan bergantung pada buku-buku itu.

"Laporan menunjukkan keberhasilan bayi tabung di rumah sakit ini menurun tajam setelah kamu menggantikan embriolog sebelumnya. Tapi ibu akan selalu memberi peluang untukmu untuk jadi seorang embriolog hebat, Ibu akan mengirimmu ke Jerman supaya kamu bisa belajar lebih banyak" Jelasnya pelan dan halus. 

"Karena duniaku bukan di sini. Duniaku ada di situ!" jawabku sambil menunjuk lukisan yang ada di dinding ruangannya.

Aku pun berlari keluar dari ruangan itu. Semua pakaian lab aku lepaskan. Sekaligus aku berpamitan dengan Mba Ina. 

"Kamu jadi ke Prancis, Nay?"

"Iya Mba. Aku sudah pesan tiketnya untuk keberangkatan besok. Aku ingin pergi ke tempat dimana aku bisa belajar melukis dengan dimensi lain. Bukan cuma melukis kenangan masa lalu. Hehe... Aku ingin bertemu Davinci"

"Bagaimana lukisan-lukisan hujanmu yang terpajang di hampir semua sudut rumah sakit ini?"

"Aku akan merelakannya. Mudah-mudahan ibuku masih tetap bisa mempertahankan citra Rumah Sakit ini sebagai Rumah Sakit Galeri Hujan"

"Baiklah, Nay. Ini hari terakhir kita bertemu kan? Izinkan aku untuk memelukmu, Nay"

Kami pun berdekapan sangat erat. Hingga semuanya menjadi kosong. Mba Ina pun pergi. Ruangan meredup. Hujan besar melanda.

Dan aku pun pergi untuk mengejar mimpiku. Mimpi kami bertiga. Mimpi yang sama.


***

Hujan kembali meraja sepanjang hari. Bahkan sampai selarut ini. Tapi sekarang aku ingin benar-benar menikmatinya. Hujan terakhir di kota Bandung yang pasti akan menambah memoriku tentang hujan. Dan pastinya, aku akan susah untuk melupakannya. Termasuk tempat ini, Peak of The Sky Caf←. Tempat aku bermimpi manis dengan ayahku. Dahulu...

"Kamu akan tinggalkan ruangan ini dan semua lukisan hujanmu?" Tanya seorang wanita yang sangat aku kenal suaranya.

"Ya. Itu yang terbaik untukku saat ini"

"Itu saran Mba Ina?" tanyanya lagi

"Bukan. Dia akan menghilang lagi untuk waktu yang tidak bisa diprediksi"

"Dan kamu pasti akan sangat membutuhkan Gue sama seperti saat dimana Mba Ina ninggalin Lo beberapa tahun yang lalu?"

"Aku harus secepatnya berubah, Ki. Dunia bukan milik kita bertiga saja. Hujan memberiku isyarat lain tentang aku dan langit"

"Apa?"

"Bahwa mimpi kamu yang sangat tinggi melambung itu pasti bisa tercapai. Seperti butiran es besar yang turun ke bumi melintasi kejamnya gesekan atmosfer dan sampai ke bumi hanya dalam bentuk tetesan hujan. Aku harus bisa melewati semua rintangan agar mimpiku tercapai. Aku harus melupakan mimpi orang lain untuk mewujudkan mimpiku" aku berusaha untuk tidak menyinggung perasaannya.

"Termasuk melenyapkanku. Sama seperti kamu melenyapkan sosok Mba Ina mu?"

Aku hanya mengangguk pelan. Tak tega rasanya untuk melepaskan Kiki. Dia sahabat terbaikku saat ini. Dia adalah sisi optimisku. Dia adalah sisi urakanku. Dia adalah sisi naturalku; bergairah, muda, dan unik.
"Baiklah, Nay. Seperti yang pernah Gue bilang sebelumnya. Gue akan ada kalau Lo butuh Gue. Tapi Gue akan sangat sudi menghilang dari hidup Lo jika Lo sudah gak butuh Gue"

"Makasih kawan" dan kami pun berdekapan sangat erat sampai aku benar-benar merasakan dia hilang dan pergi dari dekapan.

Kini aku benar-benar sendiri dan bisa menjadi diriku sendiri. Tidak seperti Mba Ina, ciptaan Ibuku, atau Kiki, harapan ayahku. Aku ingin menjadi Kinar, seorang pelukis hujan.

Seorang pria berbusana safari berdiri di hadapanku dan menyimpulkan senyum lebarnya.

Ayah

Aku tak akan melupakanmu dan tempat ini.


***

Beberapa tahun yang lalu...

Hari ini adalah hari yang spesial. Meskipun hanya dua orang yang benar-benar berbahagia untuk hari ini; Aku dan Ayahku. Semenjak perceraian orang tuaku empat bulan yang lalu, aku tinggal bersama ayahku. Entah kenapa, sebagai seorang anak perempuan, aku terhitung seseorang yang menyimpang dari kebiasaan, Anomali. Aku lebih nyaman hidup bersama ayahku. Merangkai mimpi bersamanya. Mimpi seorang pekerja keras.

"Ayah mau ajak aku kemana?" Tanyaku pada seorang pria berbaju safari terganteng di dunia yang sedang menyupir di sampingku.

"Ke tempat paling tinggi di kota Bandung" jawabnya optimis. Ya, dia memang selalu optimis bahkan di saat semua orang tidak yakin apa yang dia jalani itu akan berhasil.

"Masa sih?" tanyaku menguji keoptimisannya

"Ya. Disana kamu bisa menyentuh langit dengan mudah" Dia sangat tahu apa yang sangat aku inginkan

"Itu hanya hayalan" sekali lagi aku berusaha menjatuhkan keoptimisannya

"Bukankah memang ribuan khayalan yang diperlukan seorang pelukis?" dan aku pun hanya menyimpulkan senyumku padanya. Pertanda dia telah berhasil menumbuhkan optimismenya padaku.

Kami bercanda sepanjang jalan sampai-sampai aku tidak sadar bahwa kami sudah sampai ke tempat tujuan.
Sebuah kafe bernuansa kayu yang cantik menyambut kedatangan kami berdua.




Peak of The Sky Cafe
highest quality at the highest place

"Namanya keren, Yah" seruku kagum sembari melihat sebuah nama yang melingkar di pintu gerbang restoran yang baru Ayah buka dari balik jendela mobil.

"Iya. Terinspirasi dari kamu yang suka akan langit dan semua fenomenanya" jawabnya 

"Langit buatku berarti bebas dan penuh hal-hal aneh yang tak pernah orang pikirkan sebelumnya. The real of Imagination. Alien, galaksi, supernova, bintang kembar, meteor, komet, materi hitam, blackhole, supermoon, gerhana, dan..." aku menjelaskan panjang lebar tentang gairahku sampai ayah memotong dengan sebuah kata,

"Hujan" potongnya

"Ya, dan kita harus cepat masuk supaya tidak basah dan flu" kami pun berlari melintasi derasnya hujan di puncak sebuah gunung. Hujannya terasa berbeda. Bulirnya lebih besar dan terasa.

Ayah menunjukan satu persatu ruangan di kafe barunya dengan bangga. Kebanggaannya terpancar dari raut muka yang terpancar dari muka optimisnya. Aku pun bangga memilikinya, Ayah.

"Dan ini ruangan terakhir yang akan ayah tunjukkan. Ruangan tertinggi di kafe ini"

"Ruang Khayalan?"

"Hemmmm.... Iya. Disini kamu bisa mencurahkan segala kreativitasmu dengan bebas, dan yang terpenting ruangan ini akan mendekatkanmu dengan langit, ruang imajinasimu" Perlahan ayah membuka rungan itu. Perlahan pula aku bisa menghirup wangi cat yang menempel pada kayu yang memberikan nuansa tanah yang lekat. Sebuah ruangan berlantai, berdinding, dan beratap kayu. Di dalamnya terdapat sebuah lemari penuh dengan puluhan botol cat warna warni dan kuas-kuas yang tersimpan rapi di sebuah gelas besar. Ada juga sebuah kursi dan puluhan kanvas kosong.

"Isilah dengan semua imajinasimu,  jangan biarkan mereka kosong. Tapi..."

"Tapi apa, Yah?"

"Ayah sudah tua, Kinar. Tidak selamanya ayah bisa mengurusi bisnis kafe ini. Ayah harap kelak kamu bisa belajar bisnis tanpa menghilangkan hobi kamu dalam melukis. Suatu hari ayah juga berharap kamu bisa benar-benar menginjakkan kakimu di Negara Davinci, Prancis"

Aku hanya mengangguk pelan tanda aku mengamininya, meski setengah hati.

Dia pun tersenyum padaku di hari istimewa bagi kami berdua yang sekaligus merupakan hari terakhir dimana kami berdua bertemu. Setelah hari itu, aku tidak pernah melihatnya lagi. Ibuku memenangkan hak asuhnya di pengadilan. Aku terpaksa harus tinggal bersama ibuku dan tidak menemui ayah.  Selamanya.

Ibuku benar-benar egois. Dia benar-benar ingin membentukku menjadi pribadi yang ia inginkan.

"Kamu harus membantu ibu menjalakan bisnis ibu. Kamu harus menjadi embriolog handal. Menciptakan keajaiban dan yang paling penting, lupakan ayahmu"

Begitu bencinya ibu kepada ayah sampai-sampai aku tidak diperkenankan untuk menghadiri acara pemakaman ayahku. Ya, ayah meninggal dua bulan setelah kami bertemu. Saudaraku bilang bahwa ia terkena serangan jantung dan ia meninggal di kafenya sendiri. 

Beberapa tahun setelah ayah meninggal, aku baru bisa mengunjungi makam ayahku yang sudah tidak basah lagi. Sudah lama aku melewatkan semuanya.

Mati


***

"Apakah aku harus pergi dari hadapanmu, Nay?" Tanya seseorang disela sesegukanku di hadapan kanvas-kanvas kosong di ruangan yang sangat istimewa bagiku saat ini. Ruang khayalan.

"Iya, sekarang aku hanya ingin sendiri" jawabku terbata

"Baiklahナ Aku akan pergi. Panggil aku kapan saja kau perlu. Dan kamu harus tahu, aku bisa mewujudkan mimpi ibumu untuk membuatmu menjadi seorang embriolog" jelasnya lembut sambil mendekapku erat. 

Sebuah salam perpisahan sementara.

Saat itu hujan sangat deras dan aku begitu dekat dengan langit. Aku membuka jendela dan menengadahkan kedua tanganku, berusaha menggenggam rintik hujan. Kilasan kenangan antara aku dan ayah bermunculan. Hingga aku ingat akan sesuatu.

"Pasti Lo butuh Gue untuk mewujudkan mimpi Ayah Lo kan? Businessman, eh salah. Maksud Gue Businesswoman. Haha...." Kelakarnya aku sangat kenal pasti, dia Kiki. Sahabat khayalanku yang urakan.

Kami berbincang hebat
Aku dan hujan
Kami selalu bersama
Dalam melodi damai penuh kesan kerinduan


*Ditulis saat musim hujan di akhir tahun 2012

Read more >>

Jumat, 07 Desember 2012

Selepas Hujan



“Perasaan itu bersifat absolut”

“Bagi saya tidak demikian”

“Umumnya begitu, tapi kenyataanya apa yang saya rasakan saat ini berbeda”

“Kamu memang berbeda, makanya saya suka”

“Tapi tidak untuk sekarang dan selamanya”

“Selamanya?”

“Iya”

“Tak pernahkah ada sedikit celah untuk saya”

“Ibaratnya hujan yang tumpah, tak bisa lagi kamu berharap untuk menahanya sampai ke tanah. Basah”

“Saya paham semua perumpamaan hujanmu. Hujan, hujan, hujan… Mengapa semuanya tentang hujan?”

“Masih ingatkah kamu akan bentuk awan yang indah saat kita menatap langit yang sama waktu itu?”

“Iya… Saya tidak akan pernah melupakan hal itu. Saat itu saya berharap hari akan tetap cerah. Namun birunya langit tak menjamin semuanya. Kita terkurung hujan seharian, bukankah?”

“Iya. Dan saya sangat menyayangkannya. Saya kira semuanya akan tetap cerah, namun kamu telah membuatnya redup, bahkan padam sepadam-padamnya”

“Maaf”

“Terlambat. Kata maaf tak ada artinya saat ini. Kamu seperti berteduh di bawah pohon setelah hujan reda. Percuma… kamu malah basah”

“Hujan”

“Ya… HUJAN. Sebaiknya kamu cepat pergi. Saya tak pernah mengharapkan menatap matamu lagi”

“Maaf jika saya akan tetap mencintai kamu”

“Silahkan, tapi kamu hanya buang-buang waktu saja”

“Tidak. Saya menikmatinya, apalagi kalau kamu tahu bahwa saya masih mencintaimu”

“Kamu memang pintar bercanda. Pergilah, ramalan cuaca mengatakan hari ini akan hujan. Nanti kamu sakit”

“Saya tidak pernah percaya ramalan. Perasaan dan ramalan tak pernah bernilai absolute. Bisa berubah…”

“Terserah, saya mau pergi….”

“Silahkan”
Read more >>

Sabtu, 10 November 2012

Terketuk


Ya... dan saya terketuk
"Beri saya waktu"
"Waktumu telah lama habis oleh penantian"
Ya... dan saya terketuk
Tak
Tik
Tak
Tik
Tuk
Ya... dan saya terketuk
Read more >>

Selasa, 06 November 2012

MEMOAR 24



Ketika semuanya kembali ke detik itu
Saya hanya bisa bertanya
“Sampai dimanakah hidup yang telah saya jalani?”

Sesosok tubuh yang hidup di dimensi ruang dan terdiri atas sejumlah organ; yang terdiri dari sejumlah jaringan; yang terdiri dari sejumlah sel; yang terdiri atas sejumlah komponen; yang terdiri dari sejumlah senyawa; yang terdiri dari sejumlah unsur; yang terdiri dari sejumlah atom; yang terdiri dari sejumlah elektron dan inti; yang terdiri dari sejumlah neutron dan proton; yang terdiri dari sejumlah quark; yang terdiri dari apapun yang belum dan sangat ingin diketahui. Itulah saya.

(1)
7 November 1988
Tahun pertama tak pernah saya ingat
Hanya cerita sedih yang saya dengar saat ini
Dan hal itu yang membuat saya seperti saat ini
Saya tak ingin mengulang luka
Saya ingin melenyapkanya jauh
Pergi dari pandangan

(2)
Tahun kedua pun,
Entahlah
Yang saya tahu, sosok lembut itu selalu memberi saya cinta
Entah seberapa besar
Yang pasti ia bergelar malaikat cantik
Kau pun bisa menerka dari gelarnya

(3)
Tahun ketiga pun,
Entahlah
Yang saya tahu, sosok lembut itu selalu member saya kasih
Entah seberapa besar
Yang saya tahu, sosok itu berhasil membuat saya bisa berdiri
Sosok itu mulai melepaskan kehendak penuhnya
Ia izinkan saya berpetualang
Meski tak sepenuhnya
Saya tetap bayi mungilnya

(4)
Tahun keempat saya bisa bermain dengan sebaya
Berlari bersama kakak yang tidak mau dipanggil dengan panggilan layaknya kakak
Kami teman
Teman sebaya
Kami bersama menyanyikan lagu dari penyanyi pujaan
Popy mercury

(5)
Tahun kelima saya tidak mau sekolah
Saya belum puas menjadi anak kecil yang selalu dimanja
Dan punya waktu banyak untuk berleha-leha
Saya masih rindu harumnya tanah dan sengatan surya
Saya masih rindu cekikikan dan tangis lepas
Saya masih ingin menjadi orang bodoh yang mau dibodohi
Karena saat itu senang
Saya tak perlu pusing akan keadaan sebenarnya
Karena saya masih bisa dibodohi
Supermie bisa jadi Indomie saat itu
Lebih murah.

(6)
Tahun keenam saya masih tidak mau sekolah
Saya masih belum puas menjadi anak kecil yang selalu dimanja
Tapi teman-teman telah pergi di pagi hari
Saya hanya sendiri di lapangan sepi
Menggaruk tanah semau yang saya mau
Tak lagi ramai ternyata
Ya sudahlah
Mungkin ini saatnya

(7)
Tahun ketujuh saya baru masuk sekolah dasar
Dengan otak yang super kosong
Yang saya paham hanya lagu popy mercury dan bau tanah yang basah
Tak bisa baca, hitung, dan tulis
Hanya terpesona dengan teman sebaya lainnya
Mereka datang dengan otak yang sudah setengah isi
Tinggal diruncingkan, dan bisa ditampilkan
Ibu mereka tersenyum dibalik jendela
Sedangkan mamah saya?
Dia pun tersenyum. Mungkin menyemangati saya
Dan saya hanya bisa menangis minta pulang
Saya tidak sanggup menjadi pintar
Saya lebih baik menjadi bodoh
Tapi… malaikat cantik itu mengulurkan tangan lembutnya
Ia menggapai saya yang sedang terpuruk lemah
Tiap malam ia syahdu membacakan ceritera dan membimbing saya untuk menuliskan huruf demi huruf
Menyusun angka menjadi sebuah bilangan
Menjumlahkannya dan mengurangkannya
Akhirnya saya bisa membedakan mana Supermie dan mana Indomie
Saya sedikit pintar
Sedikit
Tak banyak
Sampai akhirnya di caturwulan pertama, tahun pertama, saya dinisbahkan sebagai peringkat ketiga di kelas
Mamah saya kembali tersenyum dibalik jendela
Dengan senyum yang lebih lebar
Senyum bahagia
Tapi nilai membaca saya masih ditulis dengan tinta merah
Saya memang belum terlalu pintar

(8)
Tahun kedelapan saya mulai mengerti arti sekolah
Semangat untuk menjadi pintar mulai menyeruak
Saya paham, di ruangan ini kami berkompetisi
Siapa yang lebih pintar ia akan disayangi gurunya
Ya
Dan saya selalu haus kasih sayang dan perhatian
Saya harus pintar
Dan akhirnya tidak ada angka bertinta merah di buku laporan catur wulan
Yang ada hanya angka satu dikolom peringkat
Hore
Tapi
Perayaan tak berlangsung lama
Nenek saya saat itu pergi
Tanpa permisi
Saat kami; mamah, saya, dan kakak sedang ada di kebun
Setelah memakan semangkuk baso bersama
Ia pergi
Selamanya
Dunia pecah
Saya pun lemah

(9)
Tahun kesembilan saya mulai paham arti sekolah
Kompetisi tidak hanya melingkupi ruangan kecil berisi 60 orang siswa saja
Saya bisa bersaing dengan siswa lainnya
Dalam berbagai kompetisi
Saat itu saya mengambil jalur menyanyi
Suara saya lumayan bagus
Saat itu.

(10)
Tahun kesepuluh saya masih tetap pada peringkat teratas di kelas
Saya pun bisa menjuarai beberapa kontes menyanyi
Entahlah
Saya tidak mengerti saat itu
Kenapa saya jadi suka menyanyi
Padahal saya adalah seorang yang sangat pemalu
Saya hanya akan keluar rumah saat sekolah
Pun di rumah, saya hanya diam membisu dalam ruang redup
Ditemani sebuah televisi tua
Sendiri.

(11)
Tahun kesebelas saya masih sendiri
Tak ada lagi canda gurau dan bau tanah basah
Yang ada adalah lantai yang basah
Dan kaki yang basah
Tangan yang basah
Dan pipi yang basah
Saya menjadi sensitif
Entahlah
Buku telah memenjarakan saya dalam ruang sempit
Otak saya telah dicuci di sekolah
Bahkan saya lebih ingin belajar daripada makan
Apalagi bermain dengan sebaya
Yang ada di otak saya hanya bagaimana caranya untuk menjadi orang di jajaran paling atas
Yang ada di otak saya hanya bagaimana caranya mengalahkan lawan
Jiwa kompetitif saya telah mencapai puncaknya
Bahkan mungkin berlebihan.

(12)
Tahun keduabelas saya makin berlebihan
Yang saya mau hanya ingin menjadi lulusan terbaik
Dan itu memang terjadi
Meski tanpa upacara adat seperti biasanya
Saya hanya bisa merayakannya dalam sepi
Sendiri.

(13)
Tahun ketigabelas saya masuk ke sekolah dengan tingkat lebih tinggi, SLTP
Disana saya tetap mengembangkan bakat olah suara saya
Meski suara saya tidak sejernih sebelumnya
Lebih berat
Dan tak karuan
Fals
Tak tepat nada
Akhirnya, membaca puisi adalah hal lainnya
Saya mulai terpikat
Akan kata-kata yang bisa membuat saya melayang
Bahkan tak bisa kembali ke dunia nyata
Saya masih sendiri
Saya masih punya jiwa kompetisi yang berlebihan
Saya anggap teman adalah lawan potensial
Saya tak bisa terus berdekatan
Saya ingin menjadi yang pertama
Dan memang saya bisa membuktikannya

(14)
Tahun keempatbelas saya mulai merasakan debaran yang aneh
Belum pernah
Dan belum terjadi sebelumnya
Entahlah
Mereka terlihat memikat mata
Dan menggetarkan palung hati
Cinta?
Hahaha
Nampaknya terlalu dini untuk membicarakannya
Tapi rasa itu mengganggu
Dan memang begitu

(15)
Tahun kelimabelas saya makin tak fokus
Yang saya pikirkan hanya satu kata itu
Kapankah saya harus mengungkapkannya?
Kapan?
Saya terus bergelut dengan perasaan
Sampai saya benar-benar kalah dan terjatuh hebat
Di buku laporan semester, tidak ada lagi angka 1, yang ada angka 2
Memalukan
Tapi saya bisa lebih cepat menyadarinya
Saya bisa bangkit
Dan mengulang semuanya
Saya bisa lulus dengan predikat terbaik
Mamah saya kembali bisa tersenyum
Dan saya bisa menjadi seorang pengantin sekolah
Akhirnya.

(16)
Tahun keenambelas saya masuk jenjang yang lebih tinggi, SMA
Saya ingat waktu itu saya sangat susah untuk beradaptasi
Karakter teman sebaya nya lebih bervariasi
Dan saya pun ada di kelas antah berantah
Entahlah
Meski di sana saya bisa menjadi yang terbaik, tapi tak terasa megah
Saya hanya berusaha menikmatinya sampai disaat saya bisa pindah ke kelas pilihan
Bertemu dengan teman sebaya pilihan
Saya senang
Itulah tempatnya
Tempat dimana saya bisa berkompetisi
Kembali menjadi petarung tunggal
Yang egois dan tak peduli sekitar
Saya hanya ingin menjadi yang terbaik
Dan terjadi

(17)
Tahun ketujuhbelas ruang hidup saya semakin sempit
Kamar
Matahari hanya dapat saya rasakan dari celah jendela
Sedikit
Mungkin karena hal itu kulit saya menjadi lebih putih
Entahlah
Semuanya menjadi kaku
Yang saya baca hayalah buku
Saya kaku karena buku

(18)
Tahun kedelapanbelas adalah ceritera lainnya
Saya kembali kehilangan seorang nenek
Ia yang selalu menangis saat saya bisa melakukan lebih dari cucu lainnya
Ia pergi dalam tatapn yang menatap saya
Sedih
Tapi tak harus seperti itu
Karena mimpinya ada di pundak saya
Ia menginginkan saya untuk tetap menjadi yang terbaik
Saya pun harus tetap ingin lulus dengan predikat terbaik. Untuknya
Saya berjuang mati-matian
Melupakan makan, tidur dan main yang memang sudah saya lupakan sejak dulu
Dan perjuangan itu memang terbayar manis
Saya bisa mewujudkan mimpi saya
Sekian?
Tidak.

(19)
Tahun kesembilanbelas saya berusaha menjadi lebih madiri
Saya bongkar dinding kamar dan berlari ke kota impian
Bandung
“Kamu itu penakut, Dek”
“Apa kamu berani tinggal sendirian di kota yang jauh dari rumahmu?”
Tentu.
Saya hanya ingin merubah garis hidup
Dan saya paham
Di rumah saya tidak bisa berkembang lebih baik lagi
Saya harus pergi
Hijrah
Disana saya bisa bebas, lepas
Tanpa kekangan
Dan bisa menikmati rasa cinta
Cinta yang sempat saya tunda
Tapi ia sudah meminta
Baiklah
Mari kita lanjutkan

(20)
Tahun keduapuluh saya bisa menyesuaikan ritme hidup
Saya menikmati kehidupan
Saya mereguk wewangian
Saya kenyang kemudian lemas
Saya bisa mengenggam takdir sendiri
Saya mulai lupa Tuhan
Padahal Dia-lah yang menggenggam tangan mungil saya
Miris

(21)
Tahun keduapuluhsatu saya kembali tak bisa menikmati kenyataan
Saya bergelut dengan obsesi yang berlebihan
Saya benci semua teman
Semuanya adalah lawan
Saya harus menjadi pemenang

(22)
Tahun keduapuluhdua saya bisa mencicipi segarnya rumput di Negara lain
Tak pernah ada dalam cita-cita saya sebenarnya saat itu
Semua terjadi karena kehendak-Nya
Kun fayakun
Kekuatan doa
Satu hal yang sempat saya ragukan kekuatannya
Tuhan
Hingga saya bisa mencapai pula obsesi saya
Kembali lulus dengan predikat terbaik
Hore.

(23)
Tahun keduapuluh tiga saya mulai bekerja
Di tempat yang masih jauh dari rumah
Saya seorang pengembara
Yang sempat kembali kehilangan arah
Saya mati langkah
Saya tak bisa membelalakkan mata
Saya hilang arah
Tak ada yang menuntun saya
Saya benar-benar sendiri
Sunyi

(24)
Tahun keduapuluhempat
Saya masih melanjutkan obsesi
Mencapai semua mimpi
Dengan kepercayaan akan kekuatan doa
Dan cinta dari orang-orang yang saya cintai
Dan menyadari bahwa cinta bisa kapan saja pergi
Bahkan cinta kedua mahkluk yang telah puluhan tahun bersama
Ia bisa lenyap
Menjadi benci
Karena sebuah pengkhianatan
Maka belajarlah!
Dan jadilah manusia sehat
Bukan ia yang suka berbaring di kasur lemas
Kejarlah mimpimu, Nak!

(25?)
Tahun keduapuluhlima?
Entahlah
Saya bukanlah seorang pembaca takdir hebat
Saya hanyalah pemimpi kecil yang bermimpi untuk menjadi besar

Tuhan
Dekatkan saya dengan takdir baikmu
Bimbinglah saya dengan tangan Maha Besar-Mu
Sehatkan keluarga saya
Sempurnakan hidup saya
Damaikanlah negeri saya
Amin.

Saya adalah seseorang pemimpi yang hidup dalam dimensi waktu. Hari ini; yang merupakan perwujudan dari mimpi saya kemarin; yang merupakan perwujudan dari mimpi saya kemarin lusa; yang merupakan perwujudan dari mimpi saya seminggu yang lalu; yang merupakan perwujudan dari mimpi saya sebulan yang lalu; yang merupakan perwujudan dari mimpi saya setahun yang lalu; yang merupakan perwujudan dari mimpi saya sewindu yang lalu, yang merupakan perwujudan mimpi orang tua saya 24 tahun yang lalu.

Ketika semuanya kembali ke detik itu
Saya hanya bisa bertanya
“Hal apakah yang harus saya lakukan selanjutnya?”

“Mimpi mimpi mimpi mimpi
Kata itu dalah hal yang membuat saya gila
Dan hanya bisa disembuhkan dengan usaha mewujudkannya” (Cluesology, 2012)

Catatan 6 november 2012 jam 19.20 di Kota Bandung
Read more >>

Rabu, 04 Juli 2012

DIALOGUE: PERFECT-CREATURE-HUMAN



Dalam sebuah kotak yang dibuat kedap udara bernama dosa, dua makhluk yang berbeda saling menatap tajam. Tak ada satupun dari mereka yang mau terkalahkan. Makhluk satu bernama MANUSIA. Dia tampak lusuh dengan noda tanah merah yang basah di sekujur tubuhnya yang hanya ditutupi sehelai kain putih. Kotor. Makhluk yang satunya lagi bernama SEMPURNA. Ia tampak gagah perkasa dan bersinar terang, meski terkadang ia tak nampak. Wajahnya terlihat angkuh dan jumawa.


Sempurna: “ Manusia macam apakah engkau? Aku tak mengerti dengan kamu”

Manusia: “Berhentilah menjadi makhluk yang merasa paling sempurna”

Sempurna: “Aku memang terlahir seperti itu wahai manusia”

Manusia: “Tapi aku bukan Tuhan atau makhluk serupa malaikat, dan aku bukan makhluk yang mengaku sempurna sepertimu”

Sempurna: “Berhentilah bergurau. Aku bukan malaikat, tapi aku tak pernah berdosa. Aku selalu berusaha menjadi sesempurna mungkin. Karena aku menyadari arti sebuah peran hamba”

Manusia: “Aku hanya sedikit lupa. Layaknya manusia pada umumnya”

Sempurna: “Selalu. Sebuah alasan yang sangat klise. Pembenaran yang membuat orang selalu membenarkan segenap kesalahan. Rubahlah cara pandangmu. Berusahalah menjadi orang yang selalu mendambakan kesempurnaan”

Manusia: “Berhentilah berceloteh. Kamu belum pernah merasa di posisi sebagai manusia. Kami punya nafsu, otak, hati, nafsu, kelamin, dan perut. Sedangkan kamu tidak. Kamu hanyalah wujud dalam ketiadaan”

Sempurna: “Hai. Apakah aku selalu mengeluh karena tak bisa merasakan segala nikmat yang manusia seperti kamu selalu rasakan tiap hari? Bahkan aku tak punya selera makan. Aku hampa selamanya. Tapi aku selalu bersyukur. Karena Tuhan pasti punya rencana dan garis hidup yang indah buat aku. Semua yang kau sebutkan tentang apa yang aku tak punya memang benar. Dan mungkin itulah yang patut aku syukuri”

Manusia: “Dan apakah aku harus menyesal dengan keadaanku ini?”

Sempurna: “Kau tak pernah mau mengerti. Ku kira kau cukup pintar untuk menterjemahkan keberadaanmu. Kau hamba dari suatu Dzat yang Maha Perkasa. Malulah engkau pada-Nnya. Bersujudlah!”

Manusia: “Aku sudah bersujud. Menyatu dengan tanah kering yang bau itu. Aku berusaha merendahkan hati dan diri di hadapan-Nya. Tapi doaku tak pernah Ia dengar. Ia hanya ilusi sebuah harapan. Aku lelah untuk memohon”

Sempurna: “Apakah kau berusaha? Atau kau hanya duduk tersungkur lemah? Mengharap mukjizat datang dari langit? Alangkah bodohnya dirimu”

Manusia: “Entahlah”

Sempurna: “Sadarlah. Kau masih punya waktu untuk itu. Aku percaya kau bisa. Ingatlah bahwa Tuhan-mu Maha Pemaaf”

Manusia: “Tinggalkan aku sendiri. Aku ingin ikhlas itu muncul sendiri. Tanpa paksaan. Semua ada waktunya. Saat kepompong merubah larva menjadi putri bersayap. Sekarang aku hanya ingin diam”

Sempurna: “Baiklah aku akan pergi. Maafkan atas semua kejumawaanku. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin kau kembali. Berjalan dengan mata terbuka, tanpa kaca mata hitam itu”

Manusia: “Pergilah. Bawa semua kesempurnaanmu. Pegilah jauh dariku.”


Dan kemudian senyap. Saat bayangan itu hilang. Yang tersisa hanya manusia yang menganga dan memandang fana. Ia tampak tak bernyawa.

Read more >>

Sabtu, 28 April 2012

MALAIKAT CANTIK


Entah, saya merasa kagum pada wanita ini. Saat ini. Meskipun bukan saat ini saja, sejak dari dulu saya kagum. Kagum. Selalu memandang hal dari sudut yang berbeda. Sudut yang lebih indah. Meski tetap getir dan menyedihkan. Dia adalah sosok bidadari dengan hati seorang pemimpin perang. Tangis baginya hanya sesaat, kenapa? Dia hanya ingin yang lainya tak ikut larut. Ia ingin memperbaiki semuanya sendiri, sebagai dewi kedamaian

Betapa tak pernah saya bayangkan remuknya hati wanita yang saya tatap saat ini. Tapi ternyata tidak. Dia lebih tegar dari saya. Entah, tapi itu memang jujur, dia memang seperti itu. Tersenyum dan berprilaku normal. Saya senang. Bahkan lebih dari senang. Dan tahukah apa yang lebih mengagumkan? Dia tetap mencintainya murni, dan brusaha meyakinkan saya bahwa cinta itu adalah suci. Patut untuk diperjuangkan. Sampai mati. Sekali.

Meninggalkan semua yang ia sukai. makanan enak, tempat tidur yang nyaman, udara sejuk, tangisan nyaring, dan orang-orang yang senantiasa membuatnya tertawa riang. Demi sebuah ibadah suci. Dia hanya mendamba surga dalam kebersamaan, tak lebih dari itu. Indah.

... dan saya demikian tersadar bahwa malaikat itu berwujud nyata, Cantik...
Read more >>

Selasa, 24 April 2012

Celoteh malam Dan Lubang Cacing



Malam ini saya ingin menulis. Entah kenapa. Saya tak bisa mengatupkan mata dan terjun ke alam maya. Alam dimana saya bisa menjadi raja, pemegang takdir sepenuhnya atas apa yang akan saya perankan. MIMPI.

Hari ini saya menghabiskan waktu di tempat dimana saya menulis sekarang. Pegal? Ya. Bosan? Tentu. Tapi inilah yang bisa saya lakukan sekarang. Berharap ada udara segar yang datang menelusuri lubang. Kapan? Kapan itu bisa terwujud kalau saya tetap di sini. Di tempat yang sama.

Kemarin saya sempat membaca teori lubang cacing. Dimana dimensi waktu bisa melengkung akibat massa yang terlalu besar. Mungkinkah cerita fiksi itu memang benar adanya? Benarkah teori itu bisa menjelaskan perjalanan suci seorang nabi yang bisa melintasi tujuh lapis langit dan kembali ke bumi hanya dalam hitungan beberapa jam saja? Dimana Ia sempat mendengar riuh redam orang tertawa bahagia di surga serta melihat orang menangis sejadi-jadinya di neraka. Entahlah, manusia memang pandai berteori bukan? Tapi memang itu tugas kami. Kami terlahir dengan organ bernama otak. Maka kami harus berpikir.

Janganlah terlalu berlebihan. Biarkan semuanya berjalan selayaknya norma yang berlaku. Janganlah engkau seperti ia yang telalu masif hingga tak mampu menahan babannya sendiri. Kau takkan punya cukup gaya untuk menahan gravitasinya. Dirimu akan jatuh layaknya sebuah bintang super raksasa. Ia akan mati karena egonya. Dan saking egonya? Saat ia sudah mati, ia masih egois. Menghisap semua massa yang melintas di dekatnya, seakan ia ingin membalas nasib yang ia dapatkan. Sebuah lubang hitam. Apa ia pantas didekati?

Tak pernah ada cahaya di dekatnya yang bisa memancar dengan indah. Semua ia hisap dengan ganas. Hingga ia layaknya benda hitam sempurna. Apa masih ada orang yang bisa berada di dekatnya? Segan. Bukan karena mereka menghormatimu, tapi karena mereka takut padamu.

Akankah saya sampai di dimensi itu? Dimana sehari menurut Nya adalah setahun menurut saya? Saya ingin terbang dengan kecepatan melampaui kecepatan cahaya. Dimana saya bisa bermain dengan dilatasi waktu dan memudarkan massa. Saya ingin berlari mengejar apa yang selama ini saya impikan. Tapi apa saya bisa? Entahlah. Hanya Ia yang Maha Mengetahui. Termasuk kapan saya akan mati dan benar-benaar berada di ruang dimensi itu.

Buatlah peta dunia di sebuah kertas putih. Lingkari tempat dimana kau berada saat ini. Tandai pula tempat yang sangat ingin kau kunjungi. Lalu lipat kedua ujung tempat yang kau tandai itu. Maka kau akan langsung berada di sana. Seketika. Itulah teorinya, sebuah perumpamaan sederhana tentang konsep Lubang Cacing.

Ingat! Lubang itu tak nampak. Tak pernah ada orang yang bisa melihatnya dengan mata telanjang. Ia adalah penjebak ulung. Berkamuflase dalam gelapnya angkasa. Menyeruak saat suatu massa ada di dekatnya, menghisapnya perlahan. Layaknya vampir yang membunuh manusia atau hewan secara perlahan. Membentuk sirup spiral dan mengalirkannya di sebuah sumur dengan kedalaman tak hingga. Entah kemana. Apakah mereka akan terjebak ke masa lalu atau masa depan. Entahlah…

Teori kuantum menjelaskan bahwa lubang cacing mungkin saja ada. Kita bisa menjelajah alam semesta dan berkunjung ke massa depan hanya dalam hitungan detik. Tapi teori itu menjelaskan pula bahwa suatu hal yang mustahil jika sosok massa kini bisa kembali ke massa lalu. Kenapa? Padahal saya ingin memperbaikinya. Saya tak mau sekelam dan selemah hari ini. beri saya kesempatan Tuhan.

Tapi jujur. Teori hanya teori. Akal manusia itu terbatas, Tuhan tahu akan itu. Saya pun tahu. Tapi apapun kebenarannya, saya memang tak seharusnya menyesalai masa lalu. Waktu saya tak cukup panjang untuk itu. Ada masa depan yang jauh harus saya pikirkan secara matang. Saya tak boleh seperti ini di suatu hari nanti yang akan saya sebut sebagai hari ini. saya harus optimis. Saya tak perlu tahu masa depan untuk menjadi orang yang sukses. Saya hanya perlu hari ini dimana saya punya mimpi dan semangat untuk mewujudkannya. Maka enyahlah kau  lubang cacing.

Melihat jam dinding di sisi seberang kasur membuat saya harus menghentikan obsesi ini. saya sudah cukup puas malam ini. Minimal sedikitnya sudah bisa saya utarakan meskipun sedikit bias. Saya harus segera tidur. Esok adalah masa depan bagi saya. Saya tak boleh tetap merasa nyaman di hari ini hingga saya tak mau terlelap. Sudahlah. Ini sudah bukan malam lagi, saya sudah melewatinya meski hanya beberapa detik. Saya ingin segera memasuki lubang hitam dan terperangkap dalam lubang cacing khayalan saya. Masuk ke dunia lain dimana saya yang akan menjadi pengatur takdir atas hidup yag akan saya jalani. MIMPI.


Read more >>

Sabtu, 10 Maret 2012

VIA LACTEA

Suatu saat lautan itu akan mengering. Tak meninggalkan bekas basahnya. Sedikitpun. Saat itu saya berharap sudah tidak ada lagi di planet ini. Planet dalam yang nanti akan tergarang. Kurang lebih 4,54 Milyar tahun saya bersamamu mengitari matahari. Melewati perubahan musim dan menegaskan kekuasaan Tuhan. Mencoba untuk berteduh dan menghangatkan kembali, menjalani suatu siklus alam.

Rasa ini begitu kentara untuk diungkapkan. Memandang tumpahan susu putih di langit tak berawan. Memaknai setiap kerlipan yang nampak dengan mata telanjang. Sukar dan terlalu rumit. Bayangkan? Kurang lebih 400 milyar bintang harus saya tunjuk dengan telunjuk dan melafalkannya satu per satu. Tuhan terlalu cerdas untuk mengungkapkan semuanya. Maha Besar Alloh dengan segala kemegahan ciptaan-Nya.


Pahamilah lebih dekat. Cakram itu berbentuk spiral yang sangat besar dengan diameter kurang lebih 100.000 tahun cahaya. Bisakah saya menjelajahinya di sisa umur saya yan mungkin sebentar lagi? Tidak. Tata surya pun perlu waktu 250 tahun untuk menyelesaikan satu putaran penuh mengelilingi pusatnya. Pusat dimana semua akan terlihat gelap. Hitam.

Saat ini saya melayang hampa di antara ribuan asteroid kerdil yang entah dari mana asalnya. Mungkin mereka adalah sampah dari tata surya lainnya yang tak berguna dan terbuang. Karena saya tak mengenalnya. Saya tak mencium wangi serupa matahari. Tapi mereka sama seperti saya. Hampa. Mengantri membentuk garis lurus. Menunggu ajal yang seakan bisa datang kapan saja. Tarikannya terlalu kuat. Tak heran ratusan bintang di sekitarnya tertarik padanya, berputar padanya. Dialah poros, sebuah lubang hitam Sagitarius A.

Ia terlalu kejam untuk sebuah pusat. Contoh pemimpin yang ditakuti karena kekejamannya. Kami patuh karena kami segan dan takut, bukan karena sepenuh hati kami setuju dengan apa yang dia putuskan. Kami sama sekali tak menyembahmu sebagai Tuhan. Bagi kami, Berputar hanyalah satu cara untuk melawan tarikannya. Membuat kami tetap bisa jaga jarak dengannya. Karena dia tampak gelap? Cahaya tak akan ada di sampingnya sampai kapan pun. Medannya pun terlalu kuat mengekang kami. Membuat kami sulit bernafas. Tapi kami punya satu cara untuk lolos dari belenggunya. Sebuah terowongan kuantum yang kami ciptakan sendiri.

Tahukah kamu kenapa dia terlihat keras dan kejam saat ini? Karena ia memiliki masa lalu yang lebih kelam dari warnanya saat ini. Saat itu ia hanyalah bintang biasa. Bintang super besar yang kehilangan kuasa atas gravitasinya sendiri. Tak ada tenaga nuklir yang bisa membuatnya bertahan gagah. Ia kalah dan frustasi. Ia menggila dan membunuh apa pun yang melewatinya. Tak perduli apa dan siapa.

Jagad raya ini terlalu megah untuk dihayati. Lima belas milyar tahun mungkin terlalu singkat untuk mempelajarinya. Sukar. Berjuta objek tampak menandakan keberadaanya. Menghilangkan mitos tentang kesulitan memandang dan berpikir jernih. Semuanya tampak jelas. Hanya butuh waktu dan otak serta kebijaksanaan untuk memaknainya. Lain halnya dengan materi gelap itu. Hantu ditengah keramain semesta. Tak pernah ada yang tahu wujudnya seperti apa. Ia hanya nampak dengan tarikan kuatnya. Sebuah gaya gravitasi mahadasyat yang bisa menelan bulat-bulat seluruh materi tampak.

Sudah saya tegaskan, terlalu banyak bintang, nebula, dan gugus bintang yang dapat kita lihat setiap malamnya. Perhatikan mereka saat langit cerah, bersih dari awan, dan kondisi sekitar yang gelap, kita bisa melihat pita berwarna putih yang memanjang dan melintasi beberapa rasi seperti Sagitarius, Scorpius, Ophiucus, Aquila, Cassiopeia, Auriga, Crux, dan Centaurus. Sementara di bagian langit yang lain tampak celah-celah gelap yang menunjukkan adanya materi antar bintang yang tebal. Itulah bidang galaksi yang kita tinggali. Bimasakti.


Likislah perasaanmu pada celah-celah itu. Warnamu akan menggenapkan keindahan. Ya, segala sesuatu akan nampak lebih indah jika sudah tergenapkan bersama milyaran bintang lainnya yang tak mau berkelana sendiri. Begitu pun dengan ia yang megah, bersama dengan rekan lainnya, Andromeda dan Triangulum, ia berjalan memutarkan dentum zaman, memoles jagad dengan bekas gerakan halus. Saling menarik satu sama lain. Dan tahukah kamu? suatu saat tarikan mesra itu juga akan berujung maut. Saat Andromeda menariknya. Ia akan hilang dalam cintanya. Itukah akhir zaman? Bukankah kita memang berada di dalamnya? Terlalu banyak teori yang melatarbelakanginya. Sukar dimengerti.

Dan saya pun menutup buku ini. Memejamkan mata dan memabayangkan semuanya. Sejauh mana pikiran saya merentang, tak pernah saya bisa merengkuh galaksi ini. Tapi kelak saya mungkin bisa melihatnya, saat kehancuran besar-besaran terjadi. Dan semuanya akan mengerut menjadi sebutir biji zarah. Saat dimana dimensi menjadi kabur dan saya sudah terlepas dari raga. Di surga atau di tempat terhina.

"Jalanmu membuat saya tersesat dalam kehampaan dan teriknya bintang. Dimanakah saya bisa menemukannya? Tempat terindah yang selalu ibu dongengkan. Inikah jalan itu?" --- Via Lactea = Milky way
Read more >>

Kamis, 05 Januari 2012

B U N Y I

Bunyi berasal dari sesuatu yang bergetar. Merambat pada medium. Sampaikan ayat-ayat syahdu tentang harapan dan mimpi padamu.


Selama ini kami pintar menyimpulkan dengan persepsi masing-masing. Tak pernah ada titik temu. Yang ada hanya usaha untuk mempertahankan keegoisan. Angkuh. Kami duduk di satu meja tapi kami tak saling bicara. Kami melaju di satu bahtera dengan arah yang berbeda. Kami tidur di tempat yang sama dengan mimpi yang tak sama.

Kami telah hampakan hati kami dari udara atau perantara lainnya. Sehingga pesan dari bunyi itu tak sampai di telinga. Terpantulkan oleh tameng tebal. Membentuk siluet hitam. Dan kami melihatnya sebagai seni. Meskipun hitam.

Saat bunyi itu melambat di suhu yang dingin. Kami senang membekukan udara. Memadatkannya, hingga ia tak lagi terdengar nyaring; cenderung bisu.

Merambat dengan rapatan dan renggangan. Menelusuri hati para pujangga. Mencoba yakinkan dunia bahwa kami punya cinta. Walaupun kecil, tapi setidaknya masih ada.

Inilah alasanya adanya perang dan kerusuhan. Semuanya tuli atau sekedar membiasakan diri untuk tuli. Butuh jutaan desibel suara untuk menyadarkan telinga kami bahwa ia masih berfungsi dengan baik. Butuh tangisan jutaan anak kecil dan wanita untuk menyadarkan kami. Inikah yang sebenarnya ingin kami dengar? Tangis anak yang lapar dan wanita yang kehilangan suaminya di medan perang?

Bunyi bukan sekedar energi. Lebih dari itu, ia punya ruh yang sewaktu-waktu akan marah saat ia merasa tak didengarkan. Arogan.

Jangkrik senang saat semua rahasia mereka tak dapat terdengar. Tak bisa diadudombakan. Mereka senang dengan dunia mereka sendiri. Damai di frekuensi yang rendah saat kami sibuk mencari akar masalah yang tak pernah berbatang, berdaun, dan berbuah lebat. Hebat.

Sandarkan diri di dinding retak. Berharap kami bisa mendengar apa yang mereka perbincangkan. Kami tersenyum saat mendengar bunyi yang teratur. Itulah nada yang bisa membuat kami menari riang. Tapi kami akan tertidur gelisah saat kami mendengar bunyi yang tidak teratur. Desah.

Kapan kami bisa saling rapat sedangkan meja makan kami panjangnya empat meter dan kami duduk di sisi yang bersebrangan. Jauh. Kami tak dapat saling percaya. Yang ada hanya curiga dan buruk sangka.

Kami ingin dunia tak hanya melihat tapi juga mendengar dan merasakan. Cinta bukan sekedar kata yang senantiasa didendangkan dengan syahdu. Ia akan ada saat hati siap menerimanya. Saat hati bisa terbuka. Saat hati bicara bahwa ia membutuhkan sesama. Saat hati bicara bahwa ia merindukan masa dimana kita semua sama.

Biarkan bunyi ada. Biarkan ia terus berdendang cinta…
Read more >>