Sabtu, 31 Agustus 2013

Mimpi di Penghujung Dini Hari



Mengertilah
Akan ada saatnya semua menjadi hambar dan biasa saja
Pun itu kalau kamu mengerti
Sama seperti saat bulan menemukan paginya
Saat pagi menemukan kopinya
Saat kopi menemukan rasa pahitnya

Mengertilah sekali lagi
Saat alam menerjemahkan segala keresahan hati
Bukan angin lalu tiada berarti
Hembusan adalah wahyu hati
Desauan adalah gejolak ragawi
Mendidih pergi, membeku lari

Mengerti?
Saat pesan tersisip di antara bilah hati
Tak bisa terbaca jelas dari balik dinding suci
Wajahmu adalah isyarat tak berbatas ruang
Dan mungkin inilah waktu terpilih dari seribu musim pengganti
Kamu akan tahu suatu hari nanti, pasti
Tak usah memegang dagu dan ragu
Usahlah menjadi biru
Tetaplah berseri

Kuharap kamu mengerti
Tak selamanya aku akan tetap disini
Menemanimu dengan dongeng di malam hari
Atau sekedar membetulkan letak selimut yang membalut badanmu hangat, pasti
Aku akan pergi
Saat kamu tak lagi di hati

Demi segelas teh lemon hangat yang aku sukai
Kamu tak lebih dari mimpi di penghujung dini hari
Tak pernah usai
Meski menyadari itu hanya sebuah ilusi pada akhirnya
Tapi ketika kamu bangun
Kamu akan meratapinya, dan bertanya

“Kenapa kau datang lantas pergi?”
Read more >>

Jumat, 30 Agustus 2013

Kamu dan Secangkir Kopi



Kamu tak pernah mengenal arti sebuah malam yang telah larut. Bagimu petang, malam, dan dini hari adalah sebuah paket sekali pesan. Tak ada bedanya. Tak terkecuali dini hari ini. Jam 2 pagi. Aku seolah masih mendengar bunyi ketikan keyboard dan kerasnya putaran kipas di komputer jinjingmu. Kamu masih terjaga dengan semua algoritma yang terangkai dengan jelas di pola pikirmu. Aku kagum padamu. Selalu. Sama persis saat aku pertama kali berjumpa denganmu. Sosok nan sederhana yang sedang bergelut dengan masa depannya. Tak pernah ada kata tidak mungkin di pelipis matamu. Yang ada hanya rangkaian kata optimis. Dan saat itu memang sedang gerimis. Kamu berjalan sangat rapat, setengah berlari. Menemuiku dan bertanya segala hal. Kamu punya janji wawancara. Dan aku punya jadwalnya. Kamu tersenyum, dan aku membalasnya mesra. Dan aku memiliki itu saat ini, senyuman mesra sepanjang masa. Meskipun....

Kamu tak pernah mengenal arti sebuah malam yang telah larut. Karena kamu tahu betul bagaimana cara mengelabui pola dan kebiasaan sebongkah tubuh. Dia lelah maka butuh penyegar, katamu. Dulu. Aku hanya mengangguk dan bergegas pergi ke dapur. Aku buatkan secangkir kopi yang biasanya kamu sendiri yang buat. Sebuah kertas kecil di atas toples kopi tertempel dengan jelas, sebelumnya tak pernah aku hiraukan. Isinya sebuah resep kopi kesukaanmu, tampaknya. Empat sendok makan penuh menggunung kopi, dan setengah sendok makan gula pasir. Pahit. Tapi itu kenikmatannya, katamu.

Hampir tiap malam kamu bergelut dengan pekerjaan, dan tak lupa ditemai segelas kopi pahitmu. Dan aku hanya bisa menatap punggung lebarmu dalam beratnya katung mata yang seakan membatu baja. Hampir satu jam sekali aku terjaga. Melihat kamu hilir mudik pergi ke dapur dan kembali lagi ke kamar dengan cangkir penuh dengan cairan kental berwarna hitam. Terus dan terus. Berulang hingga semuanya aku biarkan. Itulah hidupnya. Hidup yang akan selalu aku kenang.

Kenangan adalah obat gratis penawar rasa rindu yang tak mungkin disembuhkan. Kamu telah pergi lama sekali. Dokter memvonismu terkena penyakit karena sering begadang. Fungsi hatimu telah jauh dari kata normal. Andai saja saat itu aku tak pernah membiarkanmu larut dalam kesibukan dan tenggelam dalam kepahitan kopi hitammu, semuanya mesti tak begini. Sunyi kembali.

Aku terjaga. Duduk seorang diri menatap bangku kosong tempatmu dulu bekerja hingga pagi. Kulihat desktop komputer jinjingmu yang sepertinya sudah pensiun lama dari kejauhan. Dan ku tatap dengan lekat sebuah cangkir kopi pahit, yang sebulan lalu aku buat saat kau tiba-tiba terbujur kaku di atas lantai, yang tampak telah mendingin bak mayat. Sepertiku saat ini yang kembali hidup sendiri. Tanpamu.


“Aku tak perlu menemukan manisnya hidup dalam secangkir kopi yang aku suka. Karena aku telah menemukannya dalam senyummu” Ujarmu halus saat aku mulai cemburu dengan minuman kopi, teman setiamu. Dulu.
Read more >>

Paragraf Pendek : Aku, Hujan, dan Arti Sebuah Pesan



Sore mendera dan hujan pun memujanya, seketika. Saat aku dan kamu sedang berbincang pada jarak kejauhan. Kamu mengeluh tentang apa yang mengganjal harimu akhir-akhir ini. Dan aku hanya bisa mendengarkanmu dengan baik dan pantang habis kesabaran. Bak pecundang yang tak mengerti cara menghadapi lawan perang. Telinga hanya bisa terbuka lebar. Tak lain untuk membuatmu merasa nyaman. Sesekali aku ingin ikut terlibat dan masuk dengan nyaman dalam percakapan dan keluhan-keluhanmu yang tampak sendu. Tapi nampaknya kamu memang tak perlu jawaban atas pertanyaan tertutup yang memang kamu tahu betul penjelasannya, alasan ilmiahnya. Tapi bisakan kamu anggap omonganku sekilas bintang jatuh saja hanya agar aku bisa bangga dengan kelakarku sendiri? Kamu tak perlu melakukan semua hal yang aku coba utarakan, hanya dengarkan. Dan buat aku berarti. Tapi apa kenyataannya? Sepertinya aku hanya mendongengkan cerita peri gigi kepada seorang dewasa berumur yang sudah tak paham apa itu arti sebuah keajaiban. Hanya kenyataan yang ia paham dengan betul. Tahukah? Beribu timbunan pertanyaan atas apa arti diriku dalam hidupmu menyeruak dengan liar dan gagah perkasa. Karena bukan hanya sore ini. Jariku tak bisa lagi mewakili berapa banyaknya keacuhanmu terhadap semua saran asal-asalanku, mungkin menurutmu. Tapi apa yang aku lakukan adalah murni perhatianku untuk seseorang yang ingin aku perhatikan. Pun bila kamu sudah tahu segala hal yang mungkin tak aku tahu, apa artiku untukmu? Malam tak perlu warna hitam, Burung tak perlu diajarkan untuk terbang, pun bunyi yang tak perlu kesunyian. Kau tampak tak lagi ganjil, tak perlu seorang penggenap siang bolong sepertiku ini. Aku hanya meminta. Tak perlu ditanggapi dengan sempurna. Jadikan aku sesuatu untukmu. Bukan hanya sebagai telinga tempatmu berkeluh kesah. Jadikanlah aku seseorang yang berpengaruh baik untukmu. Dengarkan, dan katakan Ya. Cukup.

Biar hujan yang menyampaikan pesan ini dengan baik untukmu. Tolong dengarkan rintiknya baik-baik....


Read more >>

Selasa, 06 Agustus 2013

MAAF!



Seorang gadis duduk bersila di atas kasur. Mukanya menekuk, murung. Riasan sisa semalam masih tercetak jelas di paras ayunya. Eyeliner seperti luntur dari kedua bola matanya. Menangis? Entahlah. Saat ini ia hanya terlihat diam dan kaku sampai ia mendengar nada pesan masuk berbunyi dari ponsel yang ia sedang genggam. Terlihat ia mengotak-ngatik ponselnya itu dengan tergesa. Sesaat kemudian, ia tersenyum. Manja.

“Maafkan semalam”

**

Rumah sepi. Padahal harusnya hari ini sudah ramai. Dua manusia renta sedang duduk di kursi sudut di ruang tamu. Mereka berdua duduk sambil nonton tv. Menunggu adzan ashar. Dan di luar hujan besar. Mereka sudah putus harapan. Janji mereka akan datang kemarin, tapi hanya bualan. Tak ada kedatangan, pun kabar. Meski kesal, tapi jauh di dalam lubuk hati mereka, ada kata mengerti. Mungkin ada sesuatu yang menghalangi. Biarlah mereka kesepian dalam hingar bingar. Meski tak dapat dipungkiri, mereka enggan bertemu malam. Saat dimana gema takbir berkumadang. Saat dimana mereka akan menangis getir tak terelakkan.

Adzan ashar pun datang. Hampir bersamaan dengan bunyi ketukan pintu yang nampak riang. Sang istri bergegas menarik pintu, dan ia langsung tersenyum lebar.

“Kek, Cucu kita datang” Teriaknya sambil langsung menyambut anak dan dua cucunya.

“Maaf, Bu. Kemarin Ari mendapat tugas mendadak” Sang anak berkata pelan sambil mencium tangan ibunya.

Dan rumah pun ramai.


**

“Lo gak sadar, kata-kata lo itu dah nyakitin hati gue” Bentak seseorang di ujung telpon

“Maks...” Berusaha menjawab, dan terhenti.

“Diam Lo. Lo gak ada hak sedikit pun untuk ikut campur sama masalah Gue dengan doi. Doi bingung, siapa Lo” Seseorang berusaha untuk mendominasi percakapan.

“Tap....” Lagi-lagi terhenti.

“Sudah... Jangan banyak alasan. Gue sudah muak dengan semua kenaifan Lo” Seseorang nampak marah sangat besar.

“Ma...” Kembali terhenti.

Klik.... Tut tut tut...

“Aku cuma ingin minta maaf” gumamnya dalam hati.


**

Rebun-rebun subuh di sebuah pasar yang sudah sibuk dengan hiruk pikuk kegilaan manusia, terlihat sosok anak kecil usia sekitar lima tahun yang tak kalah sibuk. Dia menyusun ikatan-ikatan anyaman daun kelapa muda yang sudah ayahnya buatkan kemarin. Tiga subuh terakhir ini mereka berdua lebih sibuk daripada subuh-subuh sebelumnya. Ini adalah subuh dimana mereka mengharapkan rejeki lebih dari biasanya. Susi, nama bocah tersebut, mengharapkan supaya esok hari ia bisa makan enak. Tapi harapan Pak Mahmud, Ayah Susi, adalah agar anak perempuan satu-satunya itu bisa merasakan betapa spesialnya hari esok yang akan mereka jelang.

Susi duduk di samping Ayahnya yang sedang sibuk menganyam helai demi helai daun kelapa yang masih muda menjadi bentuk kotak, ketupat. Dengan mata polosnya yang masih terlihat mengantuk ia menatap setiap kaki pengunjung yang lewat di hadapannya. Berharap kaki-kaki itu berhenti tepat di hadapannya dan membeli minimal satu ikat barang jualannya. Tapi hari yang seharusnya jadi puncak penjualan bungkus ketupat-ketupatnya menjadi mimpi buruk. Hampir di sepanjang jalan penuh dengan orang yang menjajakan bungkus ketupat. Susi sedikit kecewa.

Kekecewaan yang lebih besar tampak di muka sang ayah. Ia paham betul berapa rupiah yang akan ia peroleh sedandainya keadaan memang seperti ini. Padahal hari ini ia mengharapkan dewi keberuntungan benar-benar datang di tengan kesusahan mereka. Esok pagi ia ingin membuat anaknya merasa spesial di hari yang memang spesial. Tapi....

Hari menua dan keduanya pulang ke rumah mereka tercinta. Sang ayah terlihat murung. Matanya menukik. Ia sadar ia tak akan mampu mewujudkan apa yang ia inginkan. Berbeda dengan anaknya yang kurang paham dengan apa yang sebenarnya ia inginkan. Ia tersenyum-senyum bahagia saat ibunya menyambut kedatangan mereka dengan senyum yang amat lebar.

“Bu, ini sisa jualannya. Masih banyak bu” Ujar Susi pada ibunya. Ia menyerahkan satu keranjang bungkus ketupat pada ibunya.

“Gak apa-apa, Nak. Dengan ini kita bisa buat ketupat yang banyak untuk lebaran besok. Kamu bisa makan enak sepuasnya” Jawab sang ibu lembut.

“Asik....” Susi kegirangan sambil berlari ke dalam rumah. Sang ibu melihat suaminya yang terduduk lesu di bangku depan rumah.

“Ayah kenapa?” Tanya sang istri

“Maaf, Bu. Ayah tidak bisa membelikan Susi baju lebaran. Uangnya tidak cukup” Ungkap Pak Mahmud lesu.


“Gak apa-apa, Yah. Susi pasti mengerti” Jawab sang istri sambil tak henti-hentinya tersenyum manis 
Read more >>

Minggu, 04 Agustus 2013

Pekat, Pilu

Malam. Daku menguntitmu dari belakang. Langkahmu adalah langkahku. Tapi tatapmu adalah haramku. Daku tak mau engkau kecewa. Hingga kau berpaling muka. Daku cukup menunggumu di balik pintu. Dan saat kau melihatku. Daku hanya bisa tertawa miris. Kau pun begitu. Wahai malam, cukupkah sejauh ini?




Daku enggan melihatmu pekat
Tapi kamu selalu sempat untuk terlibat
Dekat dan lekat
Seperti angka tiga dengan empat
Setelahku, pasti kamu, tepat.

Daku enggan menatapmu pilu
Tapi kamu selalu membuat daku merindu
Sendu meski tabu
Sejauh angka satu dengan seribu
Menjangkaumu berarti menunggu, ragu


Read more >>