Rabu, 04 Januari 2012

CATATAN BINTANG KATAI PUTIH

Siapa yang membuat dia menangis? Sayalah orangnya.

Duduk sembari minum segelas susu hangat memberi saya rasa baru. Hangat.

Berapa kali saya harus bilang pada Anda bahwa saya masih hidup. Saya bukan bintang raksasa merah yang akan segera mengakhiri riwayatnya. Saya terlahir untuk hidup abadi. Tak ada batas waktu berarti buat saya. Yang saya alami adalah keterbatasan bahasa. Bahasa yang selama ini tidak saya kenali sama sekali. Saya bukan seseorang yang tuli ataupun gagu. Saya hanya tidak mengerti cara menungkapkannya. Saya mati.

Satu saat matahari akan menjadi katai putih yang dingin saat bumi sudah tak berair. Dan tahu apa yang terjadi? Planet yang berada jauh disana akan menjadi tempat baru bagi saya. Hanya saya.



Kehidupan hanya sebatas bahasa. Itu yang saya pahami. Jarang saya temui adanya ketulusan dan kepekaan. Semuanya sibuk dalam merangkai kata. Termasuk saya yang sangat sering berkomentar dan mengeluh. Tak bisa saya bayangkan kehidupan setelah hari ini. Besok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau satu abad yang akan datang. Semuanya fana. Hanya berakhir di kertas kosong yang lusuh, tak pernah ada orang yang benar-benar membacanya.

Tahukah Anda? Milyaran tahun lagi, Matahari akan mengembang menjadi bintang raksasa merah. Saat itu, ia akan membesar dan menelan orbit Bumi. Akankah Bumi ditelan oleh Matahari seperti halnya Venus dan Merkurius? Iya. Kecuali bumi bisa mundur setengah langkah. Mungkin saja. Manusia selalu punya suatu cara untuk mewujudkan mimpinya. Tapi tuhan punya seribu cara untuk melakukan apapun yang Ia kehendaki.

Apakah Anda pikir saya tenang saja menanggapinya? Tidak. Saya goyah dan menggigil ketakutan. Tangan saya bergetar kencang. Saya tidak bisa berpikir jernih untuk sekedar tidur saat saya lelah dan makan saat saya lapar. Saya hanya ingin meruntuhkan beton ketidakberdayaan. Waktu saya sempit. Saya tidak mungkin terus berada di peraduan sempit ini. Satu meter kubik yang membuat saya susah bernafas.

Berjalan gontai menelusuri lapang penuh dengan belaian angin kering dan panas. Berpijak pada retakan tanah serta menghirup racun yang sangat menyegarkan. Saya telah sampai disini. Di tempat yang sudah orang perkirakan sejak dulu. Saya bukan bintang katai putih yang dingin dan masif. Saya hangat dan masih bisa berlari kencang menskipun dengan satu kaki yang pincang.

Hidup saya masih panjang
Saya masih punya jutaan mimpi yang belum terselesaikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar