“Hallo…. Apa kabar kamu hari ini?”
Itu kalimat sms yang saya kirim ke HP nya pagi tadi. Saya tidak mengharapkan sms itu ia balas. Saya tahu keadaan dia saat ini. Sibuk bergelut dengan tantangan barunya. Level baru dalam kehidupannya. Saya berusaha untuk menjadi orang simpel dan berusaha menerima. Meskipun sulit, tapi saya akan coba jalani.
Duduk sendiri sembari membaca buku elektronik. Sesekali memicingkan mata. Tanda bahwa saya kurang mengerti apa yang dijelaskan buku tersebut. Ilmu saya masih dangkal ternyata. Masih banyak yang kurang saya pahami. Kemana saja saya selama ini?
Tekanan membuat saya seperti ini. Memang gaya yang kamu berikan tidak terlalu besar, cenderung wajar. Tapi entah kenapa, rasanya saya sangat tertekan. Mungkin karena hati saya tak cukup luas untuk menahannya. Tak ada distribusi yang luas. Semuanya terpusat di satu titik. Rindu, dan itu sangat membebani.
Sengaja saya buka jendela kamar agar udara segar masuk dan asap rokok yang bertahan dan menempel di dinding, sofa, dan karpet ini keluar. Setidaknya itu akan mengurangi rasa rindu saya terhadapnya. Tahukah kalian? Saya merasa rapuh sekarang. Wanita super rapuh yang sangat merindukan belahan jiwanya.
***
“Apakah kamu siap LDR an?” Tanya sang pria di ujung telpon
“Siap” jawab si wanita di ujung telpon lainnya
“Tapi kenapa kamu menangis kaya gini? Baru beberapa jam kita berpisah? “
“gak tahu kenapa, saya hanya ingin menangis. Saya tiba-tba mengingat hal-hal manis yang pernah kita lewati berdua” jawab si wanita sambil terbata. Terdengar ia menyeka hidungnya beberapa kali.
“kamu sendiri bagaimana? apakah kamu siap dengan LDR an?” Tanya balik sang wanita. Masih, sambil terisak.
“Saya belum siap” jawab tegas sang pria.
“Bulan kemarin saja saat kamu harus pergi ke Bali untuk kerja lapangan, saya merasa sangat kehilangan. Saya terus memandangi motor dengan tatapan kosong. Saya harap ada sms masuk dan itu dari kamu. saya harap kmu bilang bahwa kamu minta saya jemput di kosan mu. Dan saat itu saya pasti akan segera meluncur dengan motor saya. Tapi saat itu kamu jauh. Saya benar-benar tidak berdaya.” Jelas sang lelaki panjang lebar.
Susana hening. Tak terdengar ada percakapan lagi diantara mereka. Yang ada hanyalah suara isak yang tak tertahankan. Terlihat pula bulir air mata mulai jatuh di sudut mata sang pria.
“Kamu jangan nangis. Kamu harus jadi wanita kuat!” nasihat sang pria sambil berusaha untuk meyekat air matanya yang tak bisa ia tahan.
***
Saya menutup jendela electronic book yang saya baca. Tak ada konsentrasi yang sejak pagi saya harapkan. Semuanya tentang dia, tak ada yang lain. Apakah dia serisau saya saat ini?
Saya buka playlist. Sebuah lagu nampaknya jadi lagu favorit saya beberapa hari ini. Lagu yang sengaja dia download seminggu kemarin mampu mengalahkan lagu favorit saya yang sudah bertengger di posisi pertama favorite playlist selama tiga bulan ini. Lagu ini sangat mewakili apa yang saya rasakan. I Miss You nya Beyonce.
I thought that things like this get better with time
But I still need you, why is that?
You're the only image in my mind
So I still see you...around
I miss you, like everyday
Wanna be with you, but you're away
Said I miss you, missing you insane
But if I got with you, could it feel the same
Entah berapa ratus kali saya memutar lagu ini. Hati saya tetap bergetar mendengarnya. Saat ini pun demikian. Kembali saya dendangkan lagu itu, dan pertahanan diri saya kembali hancur. Rapuh.
***
“Selamat makan siang”
Itu kalimat SMS yang saya kirim siang ini. Saya benar-benar tidak mengharapkan dia membalas sms saya. Tapi keyakinan itu berbanding terbalik dengan sikap yang saya tunjukkan. Saya terus memlihat layar HP saya. Saya takut tidak menyadari adanya SMS masuk, terutama SMS dari dia. Apakah ini yang dinamakan orang dengan merindu?
***
“Maaf sayang, sms nya baru saya balas. Saya sibuk hari ini. Ada pengarahan dari supervisor. Skarang lagi makan siang. Di sini orang-orangnya pada autis. I MISS U”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar