Minggu, 12 Februari 2012

Puisi Hujan


Jadi siapa yang salah?
Saya
Selalu saya

Benarkah?
Kenapa kamu selalu ingin menjadi objek penderita?

Karena tak ada yang mau dipersalahkan
Semuanya tak akan pernah berujung
Selalu ada topik yang bisa membuat keadaan semakin panas
Meski hujan turun
Amarah tak bisa padam
Saya hanya berusaha untuk meredamnya
Membuat situasi menjadi lebih dingin

Itu menurut kamu bukan?
Iya...Tiap orang bebas untuk memiliki sudut pandang sendiri
Tapi sudut pandang kamu itu salah
Bukankah kamu yang selalu salah memaknai kalimat konotasi?
Tiap orang bebas untuk memiliki sudut pandang sendiri bukan?
Tapi sudut pandang kamu itu salah

Konsep istimewa membuat saya bingung
Siapa saya?
Apakah saya istimewa?
Iya
Tapi bukan segalanya
Kamu hanya bagian kecil
Dari Milyaran detik yang pernah saya tempuh sendiri


Tahukah apa yang terjadi saat ini?
Selain hujan deras datang tiba-tiba dan halilintar melengkapinya?
Saya takut dan gemetar
Saya butuh sandaran
Tapi kamu nampak jauh
Kamu nampak tak bersahabat
Tapi saya mengerti
Apa yang terjadi padamu saat ini
Lebih dari hujan ini
Masalahnya sangat fatal

Berada di ujung tanduk sebuah takdir
Satu kali kesempatan membuat saya takut
Satu kali kesempatan membuat saya gentar
Saya sangat tidak suka
Terkesan ancaman
Biarkan hujan turun dengan derasnya
Agar mereka yang di luar tak mengerti apa yang kita bicarakan
Biar saya yang bersedih sendiri
Biar saya yang meratapinya sendiri
Dan kamu langsung pergi
Begitu saja
Tanpa permisi

Tahukah kamu?
Saat kamu berlari menembus hujan
Saya tiba-tiba mati cara beberapa detik dan membiarkannya terjadi lepas
Hingga saya tersadar bahwa saya harus mengejarmu
Mengiba kesempatan

Saya berlari mengejarmu
Dan kamu sudah hilang ditelan genangan
Terkesan seperti adegan di sebuah opera sabun
Saya menangisi kepergianmu
Dengan badan basah kuyup


MAAF.

1 komentar:

  1. saya suka puisi ini. entah, maknanya dalam. berisi kesedihan penuh

    BalasHapus