Sabtu, 22 November 2014

FILOSOFI RINDU



Malam yang dingin. Hujan mengguyur bumiku saat ini. Tepat jam 12 malam. Aku masih duduk di teras rumah. Memandangi lekat lampu taman yang terbiaskan tetesan deras hujan dengan tatapan yang kosong. Sengaja. Malam ini adalah malam sabtu. Sebuah malam yang menuntutku untuk mengosongkan segenap pikiran. Jika hal itu memang disebut sebagai tuntutan. Melepas semua penat yang aku bangun melalui pimpinan perusahaan yang menuntut, customer yang bertingkah, dan rekan kerja yang menyebalkan. Malam ini aku harus membayar semuanya. Lunas.

Deras. Hujan ini adalah hujan paling besar yang sempat aku temui keberadaannya di tahun ini. Setidaknya itu yang aku tahu dalam kesadaranku. Sepanjang tahun ini hidupku datar. Seperti sebuah robot di pabrik yang sudah diprogram sedemikian rupa sehingga semuanya bisa berjalan secara teratur. Terlampau teratur. Bangun pagi. Sarapan. Berangkat kerja. Pulang kerja. Makan malam. Tidur. Itulah ritme dasar yang aku jalani di lima hari kerja. Dan di akhir pekan, saatnya sang robot diisi kembali dayanya, dicharge, kebanyakan dalam keadaan kosong seperti ini. Sudah untung karena malam ini tidak aku lewatkan hanya dengan tidur panjang dari petang hingga siang bolong di keesokan harinya. Malam ini aku memilih untuk sendiri dalam kesendirian. Tak hening sebenarnya. Tapi entah kenapa menurutku bunyi gemericik air hujan telah berhasil membawaku ke suatu ruang yang sangaaaaaaattttt sunyi. Lebih dari sebuah keadaan ketiadaan suara. Saat ini aku merasa sangat kosong. Seperti tatapanku saat ini. Kosong.

Aku terhenyak seketika. Mataku nanar sejadi-jadinya. Tiba-tiba ia mengelebat seketika. Sosok yang sudah lama hilang dari pandangan. Pandangan dalam arti sebenarnya atau pun pandangan di alam bawah sadar. Sebelumnya aku sudah sangat yakin bahwa saat ini aku sudah benar-benar bisa lepas dri dekapan masa lalu itu. Bukannya saat ini aku sudah 99% menganggap diriku sebagai robot? Tak ada kenangan di dalam otaku. Yang ada adalah daftar hal apa saja yang harus aku lakukan saat ini. Baiklah. Terkadang mungkin program di otakku sedang kacau. Aku maklumi saja. Sejenak aku mengambil secangkir teh manis yang sudah dingin dan hitam. Pekat. Aku seruput sedikit demi sedikit. Setidaknya aliran air gula itu akan sedikit menyegarkan kembali otakku yang mungkin saat ini sudah mengantuk. Oleh karena itu khayalanku melayang ke hal-hal yang tidak jelas. Aku alihkan pandanganku ke langit yang hitam kosong. Ribuan garis mencuat darinya. Garis yang saat membentur tanah berubah menjadi cipratan dengan bentuk yang tak beraturan.

Mengapa???

Kata tanya itu tetiba menyeruak, melukis gelapnya langit malam. Apa karena aku sudah terlalu lama sendiri? Apa memang aku sedang merindukannya? Mengapa malam ini? Mengapa????

Sebutir air keluar saat itu. Aku yakin air itu bukanlah cipratan air hujan. Air itu keluar dari mataku sendiri secara alami. Hangat. Dan aku pun tersedu setelahnya. Menyadari bahwa ternyata hatiku tak sekuat yang aku kira saat ini. Aku sadar bahwa selama ini aku memang sedang bermain peran dalam sebuah drama besar tentang aku dan dia. Dia yang saat ini entah dimana.

Aku bukan perindu seperti itu
Menyeka mata dengan tisu
Mengurung hati dengan kelambu abu
Karena tak ada satupun yang aku cari
Kamu senantiasa di hatiku.

Tidak untuk saat ini. Saat aku mengosongkan hati ini. Kau berkelebat seperti mengiba untuk kembali menempati palung hati ini. Menggigil di depan gerbang pagar. Memintaku kembali membuka pintu. Mungkin memang sudah seharusnya dia tetap diam disini. Seperti sebuah sel kanker yang menggerogoti hati ini. Tak pernah membiarkanku untuk hidup bahagia tanpanya. Karena memang aku sadari bahwa bagian terindah dari hidupku adalah saat-saat bersama dia.

Semua tanpa rencana. Sesuatu yang sebenarnya paling tidak kita ingat bisa tiba-tiba saja muncul di waktu yang tak pernah bisa kita duga. Malam ini. Di teras rumah pukul 12 malam lewat 30 menit. Semua kehampaan berubah menjadi kelebatan masalalu. Horizon pandangan yang gelap gulita seakan menjadi layar. Dan rintik hujan menjadi musik latar belakangnya. Dan aku menjadi penonton sekaligus satu dari pemain utamanya. Sebuah memoar yang tak sengaja aku putar. Semuanya tentang dia.

Apa kabar dia saat ini?

Sebuah pertanyaan yang lagi-lagi mencuat. Menggenapkan keliaran alam bawah sadar. Apakah empat tahun tak cukup panjang untuk sebuah sosok kenangan mati meleleh dalam kerasnya usaha hati untuk melenyapkan segenap kenangan itu? Aku pikir sudah bisa lepas dengan segala hal yang berkaitan dengan dia. Semua akses untukku berhubungan dengan dia telah aku tutup sejak lama. Bagiku dia hanyalah sebuah masa lalu yang bisa aku kubur begitu saja. Sama seperti teman-teman SMA yang delapan tahun yang lalu telah membuatku tak bisa makan dan tidur nyenyak karena harus kehilangan mereka. Namun beberapa saat kemudian aku bisa melupakannya. Kenangan indah yang mereka berikan kepadaku hanyalah menjadi tumpukan kertas handout yang sesekali aku baca, sesekali pula aku mengingatnya.

Tapi kamu???? Kenapa kamu muncul dan saat ini memporakporandakan pertahananku. Pertahanan diriku akan virus rindumu.

Berbeda. Ya. Jawabannya berbeda, alias tidak sama. Sekelompok sahabat hanya berhasil menghuni sebuah ruangan di hati yang terbiasa dihuni banyak orang dan silih berganti. Namun ruang hati tanpa nama yang sempat dia singgahi adalah sebuah ruangan yang ku bangun dari awal khusus untuknya. Maka saat hati ini kosong, ia seakan meminta untuk diisi. Tak kuat untuk sendiri. Kosong.

Lima tahun yang lalu. Dia pergi tanpa permisi. Sebuah perjalanan panjang yang akan ia tempuh menjadi sebuah alasannya. Entah kemana dan entah untuk berapa lama. Dia meninggalkan hati ini tanpa pesan baik tersirat apalagi tersurat. Pertemuan terakhir kami hanyalah sebuah pertemuan biasa di akhir pekan. Tak ada tema yang monumental. Semuanya hanya berkisar pada percakapan biasa. Pengalamannya saat menjadi pemenang turnamen futsal di perusahaan tempat dia bekerja dan hobi barunya membiakan ikan koki. Tak ada pesan lebih yang ia ungkapkan untuk akhirnya aku pikirkan mendalam. Lagi dan lagi. Aku hanya ikut dalam aliran yang senyap namun asyik, tak bermakna apa-apa. Hanya menjadi pendengar yang menyenangkan.

“Jikalau setelah itu kau akan pergi, maka saat itu akan aku ungkapkan semuanya. Semua hal yang sebelumnya aku pertahankan. Tak pernah terbit”

Memang tak pernah terbit, sampai tiba pada istilah terbenam. Terbenam tanpa terbit. Gugur sebelum berkembang. Itulah perasaanku padanya.

Mungkinkah selama dua tahun kami berhubungan dia tak pernah menyadarinya? Sebuah tempat yang berbeda di sisiku aku ciptakan untuknya. Andaikata sama saja, untuk apa aku selalu bercerita tentang hal-hal paling menarik yang terjadi dalam hidupku. Andaikata sama saja, untuk apa aku selalu memintanya untuk datang saat aku ingin menangis dan membutuhkan pundak seseorang untuk berteduh dari kegusaran. Ah... entahlah. Aku tak mau berandai-andai. Lagi. Karena itu selalu membawaku ke keadaan terlarut. Larut dalam kenangan dan sukar untuk kembali ke saat ini.

 Bukannya aku tak berusaha untuk mencarinya, tapi memang semuanya tanpa petunjuk. Aku hanya tahu bahwa dia seorang mahasiswa perantau dari Sumatera yang tidak memiliki kerabat satu pun di Jakarta. Keesokan hari setelah pertemuan terakhir itu, ponselnya sudah tak bisa lagi dihubungi. Semua akun media sosialnya tiba-tiba lenyap. Tak ada satupun temannya yang tahu kemana ia pergi. Pun aku. Seseorang yang aku anggap spesial di hidupnya. Entah dengan dia.....

Inikah rindu itu? Perasaan yang teramat dalam. Sukar terselami maknanya. Tiba-tiba sedih. Tentang masa lalu dengan seseorang yang belum tentu seseorang itu memiliki pemikiran yang sama dengan apa yang sedang kita pikirkan. Inikah rindu? Mencari seribu kemungkinan tanpa tahu hal apa yang paling mungkin. Mungkin dia mati. Mungkin dia menikah. Mungkin dia pergi ke luar negeri. Mungkin dia tertelan bumi. Mungkin.... Mungkin.... Inikah rindu? Perasaan yang tiba-tiba muncul saat aku ada dalam keadaan yang terkepung masa lalu. Masa lalu yang tak jelas keberadaannya. Masa lalu dimana hanya aku yang menjadi sutradaranya. Semuanya hanya praduga. Tak pernah ada yang tahu bagaimana perasaannya. Semua hanya berkutat perihal perasaanku padanya. Pemuja rahasia. Apakah dia mengerti??? Apakah dia tahu bahwa aku telah membangun ruang tanpa nama itu khusus untuknya?

Malam sabtu menjadi kelabu
Seorang gadis rapuh dalam dekapan hujan
Berbalut RINDU
Menatap kibasan angin yang meniup gemericik
Melihat seseorang di pintu pagar
Mematung tanpa air muka
Ia yang hilang
Entah kapan.
Read more >>

Senin, 20 Oktober 2014

Engkau Masih Sama

Hai cantik
Percayalah, engkau semakin cantik
Hanya saja semangat yang sedang turun
Dan engkau sedang malas untuk berias

Hai manis
Percayalah, Masakanmu tetap enak
Hanya saja ide yang sedikit hilang karena fokusmu terpecah
Dan engkau memang terlalu bekerja keras

Hai srikandi
Percayalah, engkau masih menjadi sosok wanita perkasa buatku
Hanya saja staminamu sedang kacau
Dan engkau sedang bergelut dengan keadaan yang maha ajaib

Gula...
Engkau akan tetap putih, cantik
Engkau akan tetap manis bagiku

Dan engkau akan tetap memberi rasa yang kuat pada segelas teh sore ku
Read more >>

Selasa, 16 September 2014

Sore Hari dan Senyuman Di Balik Pintu





Tulisan ini adalah buncahan kebuntuan. Tetiba di suatu sore selepas menanggalkan lelah saya tersenyum-senyum sendiri. Hidup sudah cukup berubah. Yang berarti tak lagi sama. Semuanya tampak lebih indah dari sebelumnya. Indah? Mungkin tidak terlalu berjalan mulus. Dua pemikiran yang berbeda kadang menjadi ganjalan, tapi bukankah ini saatnya menyadari semua perbedaan yang ada yang dulunya kami berdua sempat tutupi???? Baiklah, ini saatnya.

“Wahai istriku, dulu aku pinang dirimu bukan hanya sebagai temanku di dunia. Tapi sungguh aku ingin kamu akan menemani hari-hariku menuju syurga-Nya”

Hari itu sudah terlewati sebulan lebih enam hari. Semuanya terasa masih baru untuk saya ataupun untuknya. Padahal kurang lebih sepuluh tahun kami saling kenal baik sebagai teman, pacar, atau tunangan. Kali ini semuanya berbeda... sudah seharusnya satu mimpi dan satu tujuan, bukan lagi berbicara dengan lantang “Ini Mimpiku!”.

“Semuanya akan terasa lebih mudah untuk dijalani... InsyaAlloh” Bisiknya lembut. Bisikan yang selalu membuat saya bersemangat untuk menjalani hari. Mewujudkan mimpi. Bersama.

Inilah saya yang sesungguhnya. Kalimat itu yang selalu ingin saya dengungkan di saat-saat kebersamaan dengannya. Namun beberapa hal menurut saya masih harus sedikit diadaptasi. Tidak semuanya harus diberi label jujur atau alamiah. Menurut saya, untuk menjaga “keharmonisan” maka ada beberapa hal yang tetap harus dibungkus rapi dan cantik. Dengan harapan lama kelamaan isi yang ada dalam bungkusan tersebut akan keluar nantinya menjadi lebih indah. Begitulah konsepnya. Saya akan berusaha sebaik mungkin.

Setiap pagi (kecuali memang ada halangan khusus), istri saya tercinta menyediakan sarapan yang cukup bisa diterima lidah. Tidak semuanya enak luar biasa dengan rasa surgawi memang, namun jauh diatas itu adalah keikhlasan dan kemauan untuk menyediakan yang terbaik buat saya.

“Dia adalah istri impian” Beberapa orang berpendapat demikian. Dalam lubuk hati saya benar-benar tersipu dan mengamini semua ucapan baik dari orang lain.  Satu hal yang saya ingin pastikan, apakah saya suami impian baginya? Mudah-mudahan saja.

“10 tahun......” Bisik saya dalam hati. Yah.... begitu sangat lama. Dan prosesnya begitu sangat rumit. Dari hanya teman biasa, adek kakak, pacaran tidak jelas, tunangan, sampai menikah. Semuanya sudah kami lewati. Mudah-mudahan proses itu mematangkan konsep hidup berdua yang kami canangkan. Amin....

“Mengenalmu adalah salah satu chapter paling  berkesan dalam buku takdir saya. Selalu akan saya buka dan baca berulang-ulang. Sebagai pengingat untuk tidak melakukan sesuatu yang “bodoh””

Hari ini saya pulang kuliah jam 12.00 sedangkan dia pulang dari tempat kerjanya jam 15.00 (kemudian ke pasar sederhana untuk membeli bahan masakan). Maka sebentar lagi kami akan segera dipertemukan kembali.... Hahahahaha..... dan saya sangat menikmatinya. Menunggu dia di ruang depan dekat pintu. Menunggu pintu terketuk dan senyuman manis menebar ke setiap penjuru hati. Menyejukkan.

“Perbedaan adalah wahana untuk saling mengalah. Meredam ego. Bukan untuk kalah tapi untuk keharmonisan. Nyaman berarti lebih mudah untuk menang”

Tulisan ini bukan sebuah tulisan serius atau inspirasi untuk menikah muda. Tulisan ini hanyalah tulisan sederhana seorang pujangga yang lama sekali meninggalkan blog nya setelah masa pra dan paska pernikahan. Mudah-mudahan bermanfaat. Pesan teman saya yang sudah menikah lebih dulu, dia bilang merasa senang saat teman-temannya satu per satu mulai menikah dan membuat status-status kemesraan di FB atau medsos lainnya. Tapi kurang indah kalau di dalamnya hanyalah kata-kata mesra yang kosong. Mudah-mudahan tulisan saya ini berisi meskipun hanya sebuah tulisan naif belaka.

Read more >>

Jumat, 13 Juni 2014

Apakah Yang Kamu Rasakan Saat Hujan?

Hujan
Dan aku sendiri di bawah pintalan selimut tebal
Mendengarkanmu sebagai lagu penghilang rasa bosan
Akan hari yang kadang malang
Dan malam yang datang terkadang

Dipeluknya aku dalam aroma kebasahan
Mendesis, meninabobokan rintik yang riak meradang
Merelakan sebagian tanah terbasuh untuk hanyut dan tergantikan
Seperti kamu yang pergi
Manakala aku masih di sini





Read more >>

Senin, 09 Juni 2014

TETIBA, DI SORE HARI...





Sungguh senang saat daku masih kecil
Hidup hanyalah sesederhana bermain monopoli
Bahagia itu berarti menang
Sedih itu berarti kalah
Tapi tidak lama dari itu, daku masih berani mencobanya
Tak pernah putus asa
Toh sekejap bisa jadi kaya kembali
Saat ini?

Alangkah bahagianya saat daku masih kecil
Mimpi adalah seujung langit memudar
Tak ada batasan
Tak ada keraguan
Tak akan pernah ada pertimbangan
Semua tampak mudah untuk dicapai
Sekarang?

Betapa riangnya saat daku masih kecil
Masalah hanya seukuran kelereng-kelereng yang diperebutkan
Tak ada uang taruhan
Yang ada hanyalah kepuasan, sebuah kebahagiaan yang hakiki
Tertawa dan menangis
Itu saja kemungkinannya
Tak pernah ada sesuatu diantaranya
Detik ini?

Teramat damainya saat daku masih kecil
Tidur dipelukan mamah tanpa ada rasa canggung
Digenggamnya tanganku saat daku merasa takut
Dibacakannya dongeng saat aku ingin berkhayal
Suaranya manis merdu membisik di telinga
Mendamaikan dunia
Mengukuhkan arti cinta kasih abadi
Saat ini semua sedikit berbeda

Saat kecil, makanan paling enak bagiku adalah semangkuk mie instan
Saat kecil, tempat terindah bagiku adalah pasar malam tahunan
Saat kecil, momen terbaik bagiku adalah di ujung catur wulan sekolah
Saat ini?
Semua bias
Mungkin karena terlalu banyak pilihan
Atau mungkin sudah tak ada masa seindah saat aku kecil?


Read more >>