Jumat, 16 Maret 2012

CERITA ILALANG


Ilalang itu berbisik padaku. Mereka menginginkan keriangan datang seketika. Tak ingin selamanya terkurung dalam kotak bernama sepi. Sudah hampir satu jam kami duduk di sini. Berdua. Di atas rumput kering yang sudah mati. Membisu tanpa kata. Tak ada perbincangan yang berarti di antara kami. Yang ada hanya air matanya yang menangisi sesuatu. Entah apa itu.

“Tuhan ingin kamu lebih memaknai hidup yang kamu jalani. Bersabarlah, semua pasti sesuai takarannya” bisikku memecah sunyi. Menggetarkan udara dan menimbulkan gelombang suara. Berpaut pada media yang mudah-mudahan bisa menyampaikan pesan tepat pada sasarannya.

“Aku paham teori itu. Terlampau paham untuk berperilaku seperti saat ini. Saat ini aku tak tahu apa yang harus aku lakukan besok. Entah karena terlalu banyak pilihan atau malah nihil” jawabnya sambil menyeka air mata yang terus mengalir dari ke dua sudut matanya.

Tahun lalu dia terlihat cemerlang. Bersinar di antara ribuan berkas lainnya. Dia adalah bintang paling terang. Dia berani berkata sesuatu yang ia yakini, karena ia yakin bahwa ia punya alasan yang kuat. Dia pintar berargumen. Lain halnya denganku yang susah untuk mengeluarkan apa yang aku yakini. Dia selalu punya jawaban atas masalah yang ia hadapi. Ia bahkan punya cara jitu untuk menyelesaikan masalah yang bukan miliknya, masalahku. Tapi kali ini aku melihat ia yang berbeda. Ia yang sangat rapuh. Serapuh ilalang-ilalang yang saat ini sedang ku pandang. Mudah terusik angin. Beradu dengan kehampaan.

“Proses ini terlalu sulit untuk aku jalani. Seakan tidak ada pintu keluar untuk aku lewati. Aku ingin segera menemukannya. Aku tidak suka bersandiwara seolah aku senang saat ini. Sungguh. Aku tidak suka berada di sini. Aku tidak suka dengan apa yang sedang aku jalani saat ini” Air matanya kembali tumpah. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa memandangnya getir. Menyadari bahwa tak akan pernah ada orang yang sangat kuat. Sewaktu-waktu ia pasti lelah dan menangis.

“Aku rasa ini adil. Kau telah mencapai beberapa hal yang orang lain sukar mendapatkannya. Kini saatnya kau berpikir bahwa tak semua yang kau inginkan itu bisa kau raih dengan mudah. Kegagalan bukan akhir dari segalanya, kalau kau benar-benar hebat, terimalah itu sebagai syarat untuk mendapatkan hal yang kau idamkan. Jujur ya, saya pikir kamu terlalu arogan. Kamu tak pernah mau bersyukur. Ingat, Tuhan itu ada. Dia bukan sekedar tokoh cerita dalam dongeng. Apa yang kamu capai saat ini adalah kehendak-Nya.” Aku berusaha untuk meraih tangannya. Dingin. Ia sepertinya kedinginan. Aku lepas jaketku dan aku pakaikan ke tubuh mungilnya.

“Aku iri melihat orang lain yang lebih sukses daripada aku saat ini. Aku malu.” Jawabnya terbata. Ya, aku paham. Itulah inti masalah yang sedng ia hadapi. Ia malu akan namanya sendiri. Ia malu akan apa yang sudah ia banggakan sebelumnya. Tapi apakah ia paham bahwa hakekat hidup memang seperti apa yang ia jalani saat ini. Zenith dan nadir kehidupan adalah nyata.

“Pernahkah kau mendengar cerita tentang bulan yang selalu menampakkan satu sisi mukanya? Beberapa sastrawan menganalogikan bulan sebagai sosok yang tak pernah mau terlihat buruk rupa. Ia hanya ingin terlihat sempurna di hadapan bumi seakan tak pernah ada kelemahan di balik sempurna sinarnya. Yang ia tahu hanya pujian dan pujian. Ia tak mau dihiraukan. Apa kamu akan melakukan hal yang sama seperti bulan? Aku harap tidak. Aku ingin kamu mengenal diri kamu sepenuhnya. Dan bersikaplah sewajarnya. Menjadi diri sendiri dan tak bersembunyi dalam kata bernama sempurna itu indah.” Aku sama sekali tak berniat untuk mengguruinya. Aku hanya ingin dia bahagia dan bersyukur dengan keadaanya saat ini.

“Apa aku masih layak bergaul dengan mereka? Berbincang manis tentang masa depan dan pekerjaan? Ilmuku tidak lebih banyak saat ini. Aku tertinggal cukup jauh.” Jawabnya masih dengan nada terbata. Sadarlah, hari tak selamanya terang benderang, tak selamanya pun gelap gulita. Kamu hidup di bumi. Bukan di surga.

“Apa aku sudah boleh pergi? Saat ini mungkin kamu lebih baik sendiri. Tapi jangan diartikan bahwa aku tidak peduli dengan apa yang kamu risaukan saat ini. Aku sudah berbagi pandanganku tentang hal ini. Aku tak berharap apa yang sudah aku uraikan akan kamu terima sepenuhnya. Kamu tahukan arti sebuah persepsi? Ya, aku hanya berusaha menambah sudut pandangmu. Bukankah referensi selalu bisa menguatkan pendapat pribadi? Aku yakin kamu bisa.” Ku genggam tangannya erat. Aku hanya ingin melihatnya kembali bersemangat. Berlari di antara rumput dan ilalang liar. Kembali bersamaku. Tertawa lepas dan berbincang segar.

Lalu aku meninggalkanya dalam sunyi. Sendiri. Di antara semilir angin yang berbisik riang. Seolah antonim dari perasaan yang sedang ia genggam. Aku percaya bahwa satu-satunya jawaban atas masalah yang ia hadapi ada pada dirinya sendiri. Aku paham dia lebih dari siapapun di dunia ini. Aku percaya dia mampu menjawabnya sendiri. Saat ini dia hanya sedang mati ide. Hilang arah. Tapi bagiku itu biasa saja. Tiap orang pasti pernah mengalaminya.

“Aku akan menghubungimu segera kalau aku sudah baikan. Terima kasih karena sudah percaya bahwa aku akan baik-baik saja. Itu suatu pujian yang begitu besar buatku.” Ucapnya. Sedikit menghentikan langkah kecilku. Aku tolehkan mukaku ke tempatku semula. Ya, ia masih di sana dengan muka yang sedikit menegak. Ia pandangi ilalang di sekitar. Dan aku lihat sebuah simpul di bibirnya. Manis.

2 komentar: