Jumat, 07 Desember 2012

Selepas Hujan



“Perasaan itu bersifat absolut”

“Bagi saya tidak demikian”

“Umumnya begitu, tapi kenyataanya apa yang saya rasakan saat ini berbeda”

“Kamu memang berbeda, makanya saya suka”

“Tapi tidak untuk sekarang dan selamanya”

“Selamanya?”

“Iya”

“Tak pernahkah ada sedikit celah untuk saya”

“Ibaratnya hujan yang tumpah, tak bisa lagi kamu berharap untuk menahanya sampai ke tanah. Basah”

“Saya paham semua perumpamaan hujanmu. Hujan, hujan, hujan… Mengapa semuanya tentang hujan?”

“Masih ingatkah kamu akan bentuk awan yang indah saat kita menatap langit yang sama waktu itu?”

“Iya… Saya tidak akan pernah melupakan hal itu. Saat itu saya berharap hari akan tetap cerah. Namun birunya langit tak menjamin semuanya. Kita terkurung hujan seharian, bukankah?”

“Iya. Dan saya sangat menyayangkannya. Saya kira semuanya akan tetap cerah, namun kamu telah membuatnya redup, bahkan padam sepadam-padamnya”

“Maaf”

“Terlambat. Kata maaf tak ada artinya saat ini. Kamu seperti berteduh di bawah pohon setelah hujan reda. Percuma… kamu malah basah”

“Hujan”

“Ya… HUJAN. Sebaiknya kamu cepat pergi. Saya tak pernah mengharapkan menatap matamu lagi”

“Maaf jika saya akan tetap mencintai kamu”

“Silahkan, tapi kamu hanya buang-buang waktu saja”

“Tidak. Saya menikmatinya, apalagi kalau kamu tahu bahwa saya masih mencintaimu”

“Kamu memang pintar bercanda. Pergilah, ramalan cuaca mengatakan hari ini akan hujan. Nanti kamu sakit”

“Saya tidak pernah percaya ramalan. Perasaan dan ramalan tak pernah bernilai absolute. Bisa berubah…”

“Terserah, saya mau pergi….”

“Silahkan”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar