Dalam sebuah kotak yang dibuat kedap udara bernama dosa, dua makhluk yang
berbeda saling menatap tajam. Tak ada satupun dari mereka yang mau terkalahkan.
Makhluk satu bernama MANUSIA. Dia tampak lusuh dengan noda tanah merah yang basah di sekujur tubuhnya yang hanya ditutupi sehelai kain putih. Kotor. Makhluk yang satunya lagi bernama SEMPURNA. Ia
tampak gagah perkasa dan bersinar terang, meski terkadang ia tak nampak. Wajahnya terlihat angkuh dan jumawa.
Sempurna: “ Manusia macam apakah engkau? Aku tak mengerti dengan kamu”
Manusia: “Berhentilah menjadi makhluk yang merasa paling
sempurna”
Sempurna: “Aku memang terlahir seperti itu wahai manusia”
Manusia: “Tapi aku bukan Tuhan atau makhluk serupa
malaikat, dan aku bukan makhluk yang mengaku sempurna sepertimu”
Sempurna: “Berhentilah bergurau. Aku bukan malaikat, tapi aku tak pernah berdosa. Aku
selalu berusaha menjadi sesempurna mungkin. Karena aku menyadari arti sebuah
peran hamba”
Manusia: “Aku hanya sedikit lupa. Layaknya manusia pada
umumnya”
Sempurna: “Selalu. Sebuah alasan yang sangat klise. Pembenaran
yang membuat orang selalu membenarkan segenap kesalahan. Rubahlah cara
pandangmu. Berusahalah menjadi orang yang selalu mendambakan kesempurnaan”
Manusia: “Berhentilah berceloteh. Kamu belum pernah merasa
di posisi sebagai manusia. Kami punya nafsu, otak, hati, nafsu, kelamin, dan
perut. Sedangkan kamu tidak. Kamu hanyalah wujud dalam ketiadaan”
Sempurna: “Hai. Apakah aku selalu mengeluh karena tak bisa
merasakan segala nikmat yang manusia seperti kamu selalu rasakan tiap hari? Bahkan
aku tak punya selera makan. Aku hampa selamanya. Tapi aku selalu bersyukur. Karena
Tuhan pasti punya rencana dan garis hidup yang indah buat aku. Semua yang kau
sebutkan tentang apa yang aku tak punya memang benar. Dan mungkin itulah yang
patut aku syukuri”
Manusia: “Dan apakah aku harus menyesal dengan keadaanku
ini?”
Sempurna: “Kau tak pernah mau mengerti. Ku kira kau cukup
pintar untuk menterjemahkan keberadaanmu. Kau hamba dari suatu Dzat yang Maha
Perkasa. Malulah engkau pada-Nnya. Bersujudlah!”
Manusia: “Aku sudah bersujud. Menyatu dengan tanah kering yang bau itu. Aku berusaha merendahkan hati dan diri di hadapan-Nya. Tapi doaku tak pernah Ia
dengar. Ia hanya ilusi sebuah harapan. Aku lelah untuk memohon”
Sempurna: “Apakah kau berusaha? Atau kau hanya duduk tersungkur lemah? Mengharap mukjizat datang dari langit? Alangkah bodohnya dirimu”
Manusia: “Entahlah”
Sempurna: “Sadarlah. Kau masih punya waktu untuk itu. Aku percaya
kau bisa. Ingatlah bahwa Tuhan-mu Maha Pemaaf”
Manusia: “Tinggalkan aku sendiri. Aku ingin ikhlas itu
muncul sendiri. Tanpa paksaan. Semua ada waktunya. Saat kepompong merubah larva
menjadi putri bersayap. Sekarang aku hanya ingin diam”
Sempurna: “Baiklah aku akan pergi. Maafkan atas semua
kejumawaanku. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin kau kembali. Berjalan
dengan mata terbuka, tanpa kaca mata hitam itu”
Manusia: “Pergilah. Bawa semua kesempurnaanmu. Pegilah jauh
dariku.”
Dan kemudian senyap. Saat bayangan itu hilang. Yang tersisa
hanya manusia yang menganga dan memandang fana. Ia tampak tak bernyawa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar