Rabu, 04 Juli 2012

DIALOGUE: PERFECT-CREATURE-HUMAN



Dalam sebuah kotak yang dibuat kedap udara bernama dosa, dua makhluk yang berbeda saling menatap tajam. Tak ada satupun dari mereka yang mau terkalahkan. Makhluk satu bernama MANUSIA. Dia tampak lusuh dengan noda tanah merah yang basah di sekujur tubuhnya yang hanya ditutupi sehelai kain putih. Kotor. Makhluk yang satunya lagi bernama SEMPURNA. Ia tampak gagah perkasa dan bersinar terang, meski terkadang ia tak nampak. Wajahnya terlihat angkuh dan jumawa.


Sempurna: “ Manusia macam apakah engkau? Aku tak mengerti dengan kamu”

Manusia: “Berhentilah menjadi makhluk yang merasa paling sempurna”

Sempurna: “Aku memang terlahir seperti itu wahai manusia”

Manusia: “Tapi aku bukan Tuhan atau makhluk serupa malaikat, dan aku bukan makhluk yang mengaku sempurna sepertimu”

Sempurna: “Berhentilah bergurau. Aku bukan malaikat, tapi aku tak pernah berdosa. Aku selalu berusaha menjadi sesempurna mungkin. Karena aku menyadari arti sebuah peran hamba”

Manusia: “Aku hanya sedikit lupa. Layaknya manusia pada umumnya”

Sempurna: “Selalu. Sebuah alasan yang sangat klise. Pembenaran yang membuat orang selalu membenarkan segenap kesalahan. Rubahlah cara pandangmu. Berusahalah menjadi orang yang selalu mendambakan kesempurnaan”

Manusia: “Berhentilah berceloteh. Kamu belum pernah merasa di posisi sebagai manusia. Kami punya nafsu, otak, hati, nafsu, kelamin, dan perut. Sedangkan kamu tidak. Kamu hanyalah wujud dalam ketiadaan”

Sempurna: “Hai. Apakah aku selalu mengeluh karena tak bisa merasakan segala nikmat yang manusia seperti kamu selalu rasakan tiap hari? Bahkan aku tak punya selera makan. Aku hampa selamanya. Tapi aku selalu bersyukur. Karena Tuhan pasti punya rencana dan garis hidup yang indah buat aku. Semua yang kau sebutkan tentang apa yang aku tak punya memang benar. Dan mungkin itulah yang patut aku syukuri”

Manusia: “Dan apakah aku harus menyesal dengan keadaanku ini?”

Sempurna: “Kau tak pernah mau mengerti. Ku kira kau cukup pintar untuk menterjemahkan keberadaanmu. Kau hamba dari suatu Dzat yang Maha Perkasa. Malulah engkau pada-Nnya. Bersujudlah!”

Manusia: “Aku sudah bersujud. Menyatu dengan tanah kering yang bau itu. Aku berusaha merendahkan hati dan diri di hadapan-Nya. Tapi doaku tak pernah Ia dengar. Ia hanya ilusi sebuah harapan. Aku lelah untuk memohon”

Sempurna: “Apakah kau berusaha? Atau kau hanya duduk tersungkur lemah? Mengharap mukjizat datang dari langit? Alangkah bodohnya dirimu”

Manusia: “Entahlah”

Sempurna: “Sadarlah. Kau masih punya waktu untuk itu. Aku percaya kau bisa. Ingatlah bahwa Tuhan-mu Maha Pemaaf”

Manusia: “Tinggalkan aku sendiri. Aku ingin ikhlas itu muncul sendiri. Tanpa paksaan. Semua ada waktunya. Saat kepompong merubah larva menjadi putri bersayap. Sekarang aku hanya ingin diam”

Sempurna: “Baiklah aku akan pergi. Maafkan atas semua kejumawaanku. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin kau kembali. Berjalan dengan mata terbuka, tanpa kaca mata hitam itu”

Manusia: “Pergilah. Bawa semua kesempurnaanmu. Pegilah jauh dariku.”


Dan kemudian senyap. Saat bayangan itu hilang. Yang tersisa hanya manusia yang menganga dan memandang fana. Ia tampak tak bernyawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar