Sore ini langit terlihat lebih mesra bermain dengan awan. Mereka lekat, menjingga bersama.
Sedang hatiku tak pernah jingga. Kaos biru muda tanpa motif alias polos dengan lengan 3/4 dipadu celana jins abu cutbray dan sepatu kats putih. Sangat kasual. Tak pernah ada usaha lebih untuk menarik perhatian pria sekitar. Semua tampak biasa. Sama.
Ya memang, aku tak pernah berusaha lebih untuk mencari perhatian pria. Dua puluh empat tahun tahun ini aku hidup dalam kesendirian. Hati ini tak pernah ramai oleh romantisme dan kegombalan. Entah aku normal atau tidak sebagai wanita. Tapi, aku pun sama sekali tidak tertarik dengan sesame wanita. Does it mean I'm still normal? I don't know.
Sore ini aku memang sedang benar-benar tidak punya kerjaan. Ini adalah akhir pekan yang sangat panjang buatku, karena senin tanggal merah. Jadi, sore ini setidaknya aku bisa tenang dan duduk manis di tempat paling nyaman sejagat. Peak of The Sky Cafe. Semua orang yang mendengar nama kafe itu pasti bisa menebak dimana kafe itu berlokasi. Yup, kafe yang sering aku kunjungi ini terletak di sebuah dataran tinggi. Kata iklanya sih, highest quality at the highest place; tapi aku tidak terlalu yakin bahwa tempat ini adalah titik paling tinggi di kota Bandung. Tapi memang tempat ini adalah tempat paling tinggi yang pernah aku kunjungi. Tempat ini begitu dekat dengan langit. Ya minimal itulah yang pernah dibilang pemilik kafe ini dan aku percaya karena dia memang patut untuk dipercaya. Dia sangat baik dan optimis. Moto itulah yang membuat kafe ini terus bertahan. Spiritnyalah yang membuatnya tetap hidup.
Saat ini, mega terasa benar-benar berada di hadapan mata. Aku hanya tinggal menjulurkan tangan dan aku bisa meraihnya. Berlebihan. Tapi itulah yang aku rasakan saat ini. Aku merasa bisa mendekap orang yang berada jauh di atas sana. Dalam kesendirian semuanya bisa terbayangkan. Khayalan bisa teraih dengan mudahnya.
"hai, bengong saja Lo? Kesurupan baru tau rasa, Lo. Konon tempat ini kan masih banyak hantunya" Tiba-tiba saja sesosok wanita terlihat berada di belakangku. Aku bisa melihat siluet sosoknya di kaca yang sedang aku tatap.
"Kamu tuh hantunya. Selalu datang meski tak diundang" Ejekku pada dia yang sudah duduk didepanku dan meminum minuman yang aku pesan.
"Gue datang karena Gue tahu Lo pasti lagi butuh Gue saat ini? petang yang galau. Betul kan?" Wajahnya sangat tendensius. Seperti seorang polisi yang sedang sangat ingin mendapatkan kejujuran dari tersangka kejahatan yang sedang berada di hadapannya.
"Kamu bisa saja. Naik apa kamu kesini?" Responku balik bertanya.
"Terbang seperti biasa" jawabnya lugas. Selalu seperti itu. Urakan.
"Kamu memang hantu. Fix!" Tanggapku lugas
"...Dan Lo memang teman yang baik, selalu tahu apa yang sedang temanmu inginkan. Makasih ya" Ia memang terlihat sangat menginginkannya. Segelas teh lemon dingin.
"Tapi kenapa mereka tidak mau mengerti?" Tanyaku pelan. Tak ingin terlalu mengganggunya.
"Mereka bodoh, Nay. Mereka tidak mengerti apa yang Lo pikirkan dan yakini tentang hidup" jawabnya terbata di antara sela tegukan minumnya
"Mungkin karena aku terlalu beda, Ki" tanggapku singkat
"Justru mereka yang beda sama kita. Just Enjoy your life. Be your self!"
"Hehe... ya, karena aku terlalu menjadi diri sendiri, aku jadi benar-benar sendiri seperti ini"
"Gue?" dia berhenti dengan acara minum nikmatnya sembari menunjuk dada busungnya sendiri.
"Maksudku, jika kamu benar-benar gak ada, ya aku benar-benar sendiri"
"Gue akan selalu ada buat Lo, Nay. Kecuali Lo benar-benar sudah gak butuh gue. Gue akan pergi" Jelasnya dengan muka yang sangat serius. Kening mengerut dan bibir mengerucut.
"I need you" ucapku sendu
"Me too" ucapnya syahdu
Sore ini langit terlihat lebih mesra bermain dengan awan. Mereka lekat, menjingga bersama. Aku dan dia. Hantu.
***
"Gue itu harta dalam tumpukan sampah. Lo beruntung sudah nemuin Gue" Itu kalimat yang selalu aku ingat saat pertama kali aku bertemu dengan dia malam itu. Malam saat aku hampir tak punya khayalan lagi. Kami langsung pas. Sepertinya takdir memang sudah menuliskan pertemanan kami dengan jelas dan lugas. Sejak malam itu, kami tak pernah terpisahkan. Bagai gula dengan manisnya, garam dengan asinnya, dan bratawali dengan pahitnya. Kami selalu ada, berdua.
"Besok kamu mau mulai melukis lagi kan, Nay?"
"Entahlah, belum ada inspirasi yang meluap. Semuanya masih di sini" ujarku sambil menunjuk ke kepala. Ya, selalu. Inspirasi untuk melukis selalu tertahan dalam otak. Semuanya hanya berakhir sebagai sebuah fantasi semu. Indah tapi tak bisa aku ungkapkan lebih. Tak bisa mengalir dalam aliran darah dan menggerakkan saraf jemari. Tak bisa terlukiskan dalam kanvas. Seringnya.
"Coba pakai ini. meskipun Gue sendiri kagak tahu cara pakai organ ini dengan benar. Tapi kata orang hal itu cukup bekerja" Selanya sambil menunjukkan jarinya ke bagian tengah dadaku.
"Aku sudah lupa apa aku masih punya hati yang berfungsi baik atau tidak" tuturku sambil bertanya pada diriku sendiri
"Kamu tidak pernah jatuh cinta?" Kembali dia berperilaku seperti seorang polisi.
Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. Sebuah kenyataan yang sukar aku akui kebenarannya. Tapi ya memang seperti ini keadaannya.
"Lo gak lesbi kan, Nay?" tanyanya frontal
"Gila Lo"
"Kalau kamu lesbi, Gue siap kok jadi pacar Lo, haha" tawanya renyah. Dia memang selalu begitu. Sangat suka membuatku tertawa lepas.
"Kamu tahu kapan saat seseorang bisa benar-benar menjadi diri sendiri?"
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala kecil
"Saat orang tertawa sangat lepas. Ikhlas dan puas" Jawabnya
Kami tertawa lepas sampai larut malam. Sampai langit menghitam lekat. Dan lampu di kafe ini mulai dipadamkan satu per satu. Pertanda bahwa kami memang harus secepatnya pergi. Tepatnya aku. Karena dia tampaknya sudah pergi tanpa sepengetahuanku tadi. Dia memang seperti itu, pulang tak diantar.
"Dia memang hantu" gerutuku lembut
Seorang pria berbusana safari berdiri di hadapanku dan menyimpulkan senyum lebarnya.
***
Sesak rasanya berada dalam ruangan yang satu ini. Sempit dan sumpek. Dan sebentar lagi puluhan pertanyaan akan silih bergantian ditanyakan. Puluhan pertanyaan yang menurutku punya maksud yang sama. Menyudutkanku sebagai seorang pribadi.
"Kamu adalah seorang pribadi yang unik. Dan hakekatnya semua manusia itu unik, termasuk saya. Jadi berhentilah untuk merasa sebagai orang aneh karena keunikanmu" Seorang wanita paruh baya berbicara di hadapanku dengan gaya anggunnya.
"Bukannya Anda pun menganggap saya sebagai orang yang aneh? Kalau saya tidak aneh, Anda tidak akan menahan saya dan menanyai saya pertanyaan-pertanyaan tadi"
"Karena saya peduli kamu"
"Karena Anda bisa hidup dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan aku"
Aku pun bergegas bangun dari dudukku dan pergi meninggalkan wanita paruh baya itu yang tetap masih terlihat duduk dengan tegasnya.
"Menurutku dia aneh, baju vintage dan wangi parfum beraroma tanah yang sangat menyengat" gerutuku dalam hati sambil meninggalkan ruang itu.
***
"Apa kata Gue? Lo gak pernah mau percaya dengan apa yang gue katakan. Dia gak akan pernah bisa membantu Lo. Mana bisa semua imajinasimu berbaur dengan obsesinya" Kiki kembali hadir saat aku benar-benar butuh seseorang, meski bukan dia yang aku butuhkan saat ini.
"Aku hanya butuh orang yang bisa mendengarkanku dengan seksama"
"Kan ada Gue"
"Kamu gak selalu ada buat aku"
"Tapi kan kita bisa ketemuan kalau Lo mau. Gue pasti akan selalu ada"
"Intinya aku butuh persepsi lain" Jawabku menjelaskan semuanya
"OK. Sekarang Anda minta diantar kemana tuan putri? Hamba siap mengantar baginda"
"Berlebihan kamu"
"Nah gitu dong, tertawa!"
"Antarkan aku ke rumah sakit" Pinta aku sambil menggenggam tangannya
"Dasar orang sakit"
Dan kami pun pergi
***
Ada apa dengan langit?
Aku begitu ingin menggenggamnya
Ruang ini sepi. Ruang yang sangat cocok untuk pribadi sepertiku. Menyendiri. DitaMbah dengan empat lukisan indah di setiap sisi dindingnya. Memang benar kata orang, Rumah sakit ini lebih dikenal sebagai rumah sakit galeri ketiMbang rumah sakit ibu dan anak. Tidak ada boneka, robot-robotan, balon, bola, dan permen. Padahal...
"Karena ini memang laboratorium untuk menciptakan anak" jawab seorang wanita dengan baju lab serba hijau yang keluar dari ruangan kecil di sebelah kiri ruangan tempatku duduk. Wanita itu adalah Mba Ina. Dia adalah sahabat kecilku yang beberapa tahun lalu sempat menghilang dari kehidupanku. Padahal sebelumnya kami tidak pernah terpisahkan. Dari kecil kami selalu bersama hingga sebuah mimpi memisahkan kami berdua cukup lama.
"Mba memang selalu tahu apa yang aku pikirkan. Hebat" ungkapku sambil menepukkan kedua tanganku pelan.
"Nay, Mba dan kamu tuh satu hati, satu jiwa, satu detak, satu takdir. Apa yang kamu pikirkan, Mba pasti rasakan" jawabnya sambil menjatuhkan dirinya di sofa, tepat di sampingku.
"Tuhan kurang adil, kenapa coba cuma Mba yang bisa baca pikiran aku, tapi aku tidak bisa baca pikiran Mba" gerutuku dalam hati.
"Sudahlah, berhenti kamu menyalahkan Tuhan" Ujar Mba Ina. Sekali lagi Tuhan yang tidak aku percayai sama sekali menunjukkan mukjizatnya. Dia telah menciptakan mahkluk secanggih Mba Ina yang bisa membaca pikiranku dengan sempurna. Tapi Dia tak pernah membuatku seperti itu. Dia senantiasa memberiku keterbatasan. Keterbatasan dalam melakukan segala hal yang aku mau.
"Berhentilah menyalahkan apa yang terjadi dalam hidupmu. Mari kita bicarakan apa yang hendak kamu bicarakan pada Mba, Nay" Tegasnya sembari memegang tanganku. Dia memang tahu aku sedang membutuhkannya.
"Sepertinya aku tidak perlu menceritakan apa yang hendak aku ceritakan pada Mba. Mba pasti sudah tahu saat dimana aku memikirkannya" Ya. Itu pasti.
"Kamu percaya mimpi?" tanyanya pelan padaku
"Ya. Tapi hal itu sekedar menjadi obat penenang disaat aku gelisah, Mba. Percaya saja tidak cukup membuatku mencapai mimpi"
"Tepat"
"Yah dan aku tepat mendatangi Mba saat ini. Benarkan?"
"Mungkin. Saat ini Mba sudah mencapai apa yang orang lain harapkan. Tapi jujur Nay, Mba belum bisa mencapai apa yang Mba inginkan"
"Lalu apa yang sebenarnya Mba inginkan?"
"Mba ingin seperti kamu"
***
Nampaknya Bandung sedang berduka. Banjir dan longsor dimana-mana. Tahun ini memang ditutup dengan musim hujan. Musim yang tahun lalu susah untuk datang dan sangat cepat berlalu. Tapi tahun ini semuanya kembali normal, hujan turun hampir di semua bulan berujung "ber". September, Oktober, November, sampai penghujung tahun ini, Desember.
Dan saat ini pun hujan
Derainya selalu memberiku ingatan manis
Tentang dahulu yang sempat manis
Ya. Saat ini aku berada di sebuah panggung kayu yang merupakan bagian favoritku di Peak of the Sky Cafe. Selain lebih dekat dengan langit, aku juga bisa menyendiri. Entah kenapa, orang lain tidak pernah ingin duduk di bagian kafe yang satu ini. Kata pemilik kafe ini, saung ini memang diciptakan khusus untukku. Entahlah. Tapi aku punya persepsi lain. Tempat ini seperti punya ikatan denga sebuah ruangan di dimensi lain. Aku bisa merasakannya dengan jelas. Seperti ada sentuhan-sentuhan magis di setiap kubik ruangnya. Tapi aku sangat suka dengan ruangan ini. memberiku inspirasi untuk melukis. Ruang berkhayal.Meski khayalanku itu tetap mengekangku disini. Aku masih tidak bisa menjadi diriku sendiri. Sepi.
"Sudah bertemu dengan Mba Ina Lo?" Tanya seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Suaranya tak asing lagi buatku. Suaranya sudah mengakar di saraf auditoriku. Bahkan aku mengenal setiap hentakan langkah yang ia ciptakan pada dinding kayu ruangan ini.
"Dia tidak memberikan solusi secara lugas, tapi aku tahu apa yang dia maksud"
"Ya, Doi memang selalu seperti itu, sok dewasa"
"Ya memang dia sudah dewasa, makanya saya panggil dia Mba. Kalau dia kekanak-kanakan seperti kamu, aku pasti panggil dia Ina"
"haha... benar juga ya. Makanya Lo tidak pernah sekalipun mencurahkan perasaan ke Gue. Lo selalu berpikir kalo Gue gak akan pernah kasih solusi terhadap masalah yang Lo hadapi"
"... Dan kamu merasa cemburu sama dia?" tanyaku pada dia yang sedang memandangi lukisan-lukisan yang terpajang di dinding.
"Tidak. Gue bukan tipe sahabat seperti itu, Nay. Gue tahu ada saat dimana Lo gak butuh Mba Ina, dan Lo cuma butuh Gue" Jawabnya sambil menatapku lekat. Aku suka tatapannya yang menurutku seharusnya dimiliki seorang pria. Tegas dan tajam namun teduh.
"Syukurlah kalau begitu" Aku kembali menyapukan kuasku pada kanvas yang masih setengah kosong.
"Hujan lagi ya?" Tanyanya dari belakang. Dia memang sangat cepat dalam melakukan pergerakan. Hanya butuh sepersekian detik sampai dia sekarang berada tepat di belakangku.
"Ya... seperti biasa. Kamu pasti mengerti" Sebagai seorang pelukis, saya tidak pernah mau keluar dari zona favoritku. Hujan, sebuah dimensi yang menurutku sangat indah. Bahkan luar biasa indahnya. Tetesnya merdu, angin yang diciptakannya lembut, melodinya sakral, dan terlebih aku punya kenangan yang mendalam dengan hujan.
"Kamu enggan melupakannya sedikitpun?" tanyanya padaku lembut
"Tidak"
"Gue gak bisa berbuat lebih untuk hal yang satu itu, Nay"
"Dan memang tidak perlu"
"Baiklah, mending kita tertawa, betul?"
Kami tertawa lepas seperti biasa sampai larut malam. Sampai langit menghitam lekat. Dan lampu di kafe ini mulai dipadamkan satu per satu. Pertanda bahwa kami memang harus secepatnya pergi. Tepatnya aku. Karena dia tampaknya sudah pergi tanpa sepengetahuanku tadi. Dia memang seperti itu, pulang tak diantar.
"Dia memang hantu" Gerutuku lembut
Seorang pria berbusana safari berdiri di hadapanku dan menyimpulkan senyum lebarnya.
***
Sesak rasanya berada kembali dalam ruangan yang satu ini. Sempit dan sumpek. Dan sebentar lagi puluhan pertanyaan akan silih bergantian ditanyakan. Puluhan pertanyaan yang menurutku punya maksud yang sama. Menyudutkanku sebagai seorang pribadi.
"Sekarang saya sudah memberi kamu ruang yang cukup luas untuk mencurahkan semua imajinasi kamu. Tapi kamu tidak henti-hentinya mengurung diri kamu dalam ruangan sempit itu. Saya sedikit bosan" Suara itu kembali bergemuruh di gendang telingaku. Sebuah genderang perang.
"Aku tahu maksud Anda" Tegasku menegaskan arah pembicaraan.
"Anda sudah tidak ingin menampung ide-ide saya lagi kan? Anda memang tidak pernah mau mendengarkan keluhan saya. Anda sibuk dengan urusan Anda sendiri. Membangun bisnis Anda sebesar mungkin" Dia tidak bisa bicara lagi. Lipstik merahnya membeku, berubah menjadi ungu.
***
"Kamu bagian dari cerita itu kan?" Ujar seorang wanita dengan baju lab serba hijau yang keluar dari ruangan kecil di sebelah kiri ruangan tempat Kiki duduk. Wanita itu adalah Mba Ina. Dia adalah sahabat kecil Nay yang beberapa tahun lalu sempat menghilang dari kehidupannya.
"Ya... dan Gue sangat suka menjadi bagian dari Mba dan dia" jawab Kiki sembari menunjuk salah satu lukisan yang terpajang di dinding sebelahnya.
"Ok, mari kita bicarakan apa yang hendak kamu bicarakan"
"Dan Mba pasti sudah tahu apa yang mau Gue bicarain?"
"Ya. Tapi ceritakanlah kembali agar aku bisa lebih memahaminya" Tegas Mba Ina sembari menggenggam tangan Kiki
"Gue seperti melayang-layang gak jelas di tempat kuliah Gue sekarang. Susah buat menjiwai bisnis, Mba. Mba tahu kan apa yang Gue inginkan sebenarnya?"
"Terus apa saja hal yang sudah kamu lakukan untuk menyelesaikan masalah yang kamu hadapi?" Tanya Mba Ina lembut
"Gue ambil cuti untuk waktu yang tidak Gue tentukan. Dan Gue sudah bicara panjang lebar pada Ayah dalam mimpi"
"Dan dia setuju bukan?"
Kiki hanya mengangguk-angguk kecil pertanda mengamini pertanyaan dari Mba Ina. Dan mereka berdua menyimpulkan senyum yang serupa. Sama-sama manis.
"Kamu percaya mimpi?" Tanya Mba Ina pelan pada Kiki
"Ya. Tapi hal itu sekedar menjadi obat penenang disaat Gue gelisah, Mba. Percaya saja tidak cukup membuat gue mencapai mimpi dia menjadi seorang ahli bisnis"
"Tepat"
"Yah dan Gue tepat mendatangi Mba saat ini. benarkan?"
"Mungkin. Saat ini Mba sudah mencapai apa yang orang lain harapkan. Tapi jujur Ki, Mba belum bisa mencapai apa yang Mba inginkan"
"Lalu apa yang sebenarnya Mba inginkan?" Tanya Kiki menyerobot
"Mba ingin seperti Nay" Jawabnya lembut
"Mimpi Mba sama seperti Gue. Sama seperti ratusan lukisan di gedung ini"
Hujan
Berilah aku arti lebih tentang semua petunjuk
Karena aku tersesat
Tak mengerti hidup yang aku jalani
Tantang aku
Agar aku hidup
***
Sesak rasanya berada kembali dalam ruangan yang satu ini. Sempit dan sumpek. Dan sebentar lagi puluhan pertanyaan akan silih bergantian ditanyakan. Puluhan pertanyaan yang menurutku punya maksud yang sama. Menyudutkanku sebagai seorang pribadi.
"Sudah puas kamu berimajinasi dalam memori sempitmu?" Tanya seorang wanita paruh baya di belakang sebuah meja besar.
"Apa kepentingan Anda dengan hal itu?" Aku balik menanyakan hal yang sama tajamnya kepada dia
"Dan cukup kamu memanggil saya dengan sebutan Anda. Aku ini ibumu dan masih sangat pantas dipanggil Ibu, Nay" Wanita itu berdiri sembari mengenakan kacamatanya. Ia nampak lebih tegas dengan kacamata itu. Matanya selalu berhasil membuatku menuruti setiap perkataannya. Tapi tidak untuk saat ini.
"Ya... Tapi Anda membuat hubungan kita menjadi formal. Entah bagaimana ini terjadi, tapi jurang yang tercipta cukup membuat aku melupakan hubungan kita" jawabku sambil melepas cap kepala warna hijau yang sedang aku kenakan.
Dan suasana seketika membeku. Yang aku lihat, dia hanya membuka lembar demi lembar buku tebal yang selalu ia agungkan. Hidupnya seakan bergantung pada buku-buku itu.
"Laporan menunjukkan keberhasilan bayi tabung di rumah sakit ini menurun tajam setelah kamu menggantikan embriolog sebelumnya. Tapi ibu akan selalu memberi peluang untukmu untuk jadi seorang embriolog hebat, Ibu akan mengirimmu ke Jerman supaya kamu bisa belajar lebih banyak" Jelasnya pelan dan halus.
"Karena duniaku bukan di sini. Duniaku ada di situ!" jawabku sambil menunjuk lukisan yang ada di dinding ruangannya.
Aku pun berlari keluar dari ruangan itu. Semua pakaian lab aku lepaskan. Sekaligus aku berpamitan dengan Mba Ina.
"Kamu jadi ke Prancis, Nay?"
"Iya Mba. Aku sudah pesan tiketnya untuk keberangkatan besok. Aku ingin pergi ke tempat dimana aku bisa belajar melukis dengan dimensi lain. Bukan cuma melukis kenangan masa lalu. Hehe... Aku ingin bertemu Davinci"
"Bagaimana lukisan-lukisan hujanmu yang terpajang di hampir semua sudut rumah sakit ini?"
"Aku akan merelakannya. Mudah-mudahan ibuku masih tetap bisa mempertahankan citra Rumah Sakit ini sebagai Rumah Sakit Galeri Hujan"
"Baiklah, Nay. Ini hari terakhir kita bertemu kan? Izinkan aku untuk memelukmu, Nay"
Kami pun berdekapan sangat erat. Hingga semuanya menjadi kosong. Mba Ina pun pergi. Ruangan meredup. Hujan besar melanda.
Dan aku pun pergi untuk mengejar mimpiku. Mimpi kami bertiga. Mimpi yang sama.
***
Hujan kembali meraja sepanjang hari. Bahkan sampai selarut ini. Tapi sekarang aku ingin benar-benar menikmatinya. Hujan terakhir di kota Bandung yang pasti akan menambah memoriku tentang hujan. Dan pastinya, aku akan susah untuk melupakannya. Termasuk tempat ini, Peak of The Sky Caf←. Tempat aku bermimpi manis dengan ayahku. Dahulu...
"Kamu akan tinggalkan ruangan ini dan semua lukisan hujanmu?" Tanya seorang wanita yang sangat aku kenal suaranya.
"Ya. Itu yang terbaik untukku saat ini"
"Itu saran Mba Ina?" tanyanya lagi
"Bukan. Dia akan menghilang lagi untuk waktu yang tidak bisa diprediksi"
"Dan kamu pasti akan sangat membutuhkan Gue sama seperti saat dimana Mba Ina ninggalin Lo beberapa tahun yang lalu?"
"Aku harus secepatnya berubah, Ki. Dunia bukan milik kita bertiga saja. Hujan memberiku isyarat lain tentang aku dan langit"
"Apa?"
"Bahwa mimpi kamu yang sangat tinggi melambung itu pasti bisa tercapai. Seperti butiran es besar yang turun ke bumi melintasi kejamnya gesekan atmosfer dan sampai ke bumi hanya dalam bentuk tetesan hujan. Aku harus bisa melewati semua rintangan agar mimpiku tercapai. Aku harus melupakan mimpi orang lain untuk mewujudkan mimpiku" aku berusaha untuk tidak menyinggung perasaannya.
"Termasuk melenyapkanku. Sama seperti kamu melenyapkan sosok Mba Ina mu?"
Aku hanya mengangguk pelan. Tak tega rasanya untuk melepaskan Kiki. Dia sahabat terbaikku saat ini. Dia adalah sisi optimisku. Dia adalah sisi urakanku. Dia adalah sisi naturalku; bergairah, muda, dan unik.
"Baiklah, Nay. Seperti yang pernah Gue bilang sebelumnya. Gue akan ada kalau Lo butuh Gue. Tapi Gue akan sangat sudi menghilang dari hidup Lo jika Lo sudah gak butuh Gue"
"Makasih kawan" dan kami pun berdekapan sangat erat sampai aku benar-benar merasakan dia hilang dan pergi dari dekapan.
Kini aku benar-benar sendiri dan bisa menjadi diriku sendiri. Tidak seperti Mba Ina, ciptaan Ibuku, atau Kiki, harapan ayahku. Aku ingin menjadi Kinar, seorang pelukis hujan.
Seorang pria berbusana safari berdiri di hadapanku dan menyimpulkan senyum lebarnya.
Ayah
Aku tak akan melupakanmu dan tempat ini.
***
Beberapa tahun yang lalu...
Hari ini adalah hari yang spesial. Meskipun hanya dua orang yang benar-benar berbahagia untuk hari ini; Aku dan Ayahku. Semenjak perceraian orang tuaku empat bulan yang lalu, aku tinggal bersama ayahku. Entah kenapa, sebagai seorang anak perempuan, aku terhitung seseorang yang menyimpang dari kebiasaan, Anomali. Aku lebih nyaman hidup bersama ayahku. Merangkai mimpi bersamanya. Mimpi seorang pekerja keras.
"Ayah mau ajak aku kemana?" Tanyaku pada seorang pria berbaju safari terganteng di dunia yang sedang menyupir di sampingku.
"Ke tempat paling tinggi di kota Bandung" jawabnya optimis. Ya, dia memang selalu optimis bahkan di saat semua orang tidak yakin apa yang dia jalani itu akan berhasil.
"Masa sih?" tanyaku menguji keoptimisannya
"Ya. Disana kamu bisa menyentuh langit dengan mudah" Dia sangat tahu apa yang sangat aku inginkan
"Itu hanya hayalan" sekali lagi aku berusaha menjatuhkan keoptimisannya
"Bukankah memang ribuan khayalan yang diperlukan seorang pelukis?" dan aku pun hanya menyimpulkan senyumku padanya. Pertanda dia telah berhasil menumbuhkan optimismenya padaku.
Kami bercanda sepanjang jalan sampai-sampai aku tidak sadar bahwa kami sudah sampai ke tempat tujuan.
Sebuah kafe bernuansa kayu yang cantik menyambut kedatangan kami berdua.
Peak of The Sky Cafe
highest quality at the highest place
"Namanya keren, Yah" seruku kagum sembari melihat sebuah nama yang melingkar di pintu gerbang restoran yang baru Ayah buka dari balik jendela mobil.
"Iya. Terinspirasi dari kamu yang suka akan langit dan semua fenomenanya" jawabnya
"Langit buatku berarti bebas dan penuh hal-hal aneh yang tak pernah orang pikirkan sebelumnya. The real of Imagination. Alien, galaksi, supernova, bintang kembar, meteor, komet, materi hitam, blackhole, supermoon, gerhana, dan..." aku menjelaskan panjang lebar tentang gairahku sampai ayah memotong dengan sebuah kata,
"Hujan" potongnya
"Ya, dan kita harus cepat masuk supaya tidak basah dan flu" kami pun berlari melintasi derasnya hujan di puncak sebuah gunung. Hujannya terasa berbeda. Bulirnya lebih besar dan terasa.
Ayah menunjukan satu persatu ruangan di kafe barunya dengan bangga. Kebanggaannya terpancar dari raut muka yang terpancar dari muka optimisnya. Aku pun bangga memilikinya, Ayah.
"Dan ini ruangan terakhir yang akan ayah tunjukkan. Ruangan tertinggi di kafe ini"
"Ruang Khayalan?"
"Hemmmm.... Iya. Disini kamu bisa mencurahkan segala kreativitasmu dengan bebas, dan yang terpenting ruangan ini akan mendekatkanmu dengan langit, ruang imajinasimu" Perlahan ayah membuka rungan itu. Perlahan pula aku bisa menghirup wangi cat yang menempel pada kayu yang memberikan nuansa tanah yang lekat. Sebuah ruangan berlantai, berdinding, dan beratap kayu. Di dalamnya terdapat sebuah lemari penuh dengan puluhan botol cat warna warni dan kuas-kuas yang tersimpan rapi di sebuah gelas besar. Ada juga sebuah kursi dan puluhan kanvas kosong.
"Isilah dengan semua imajinasimu, jangan biarkan mereka kosong. Tapi..."
"Tapi apa, Yah?"
"Ayah sudah tua, Kinar. Tidak selamanya ayah bisa mengurusi bisnis kafe ini. Ayah harap kelak kamu bisa belajar bisnis tanpa menghilangkan hobi kamu dalam melukis. Suatu hari ayah juga berharap kamu bisa benar-benar menginjakkan kakimu di Negara Davinci, Prancis"
Aku hanya mengangguk pelan tanda aku mengamininya, meski setengah hati.
Dia pun tersenyum padaku di hari istimewa bagi kami berdua yang sekaligus merupakan hari terakhir dimana kami berdua bertemu. Setelah hari itu, aku tidak pernah melihatnya lagi. Ibuku memenangkan hak asuhnya di pengadilan. Aku terpaksa harus tinggal bersama ibuku dan tidak menemui ayah. Selamanya.
Ibuku benar-benar egois. Dia benar-benar ingin membentukku menjadi pribadi yang ia inginkan.
"Kamu harus membantu ibu menjalakan bisnis ibu. Kamu harus menjadi embriolog handal. Menciptakan keajaiban dan yang paling penting, lupakan ayahmu"
Begitu bencinya ibu kepada ayah sampai-sampai aku tidak diperkenankan untuk menghadiri acara pemakaman ayahku. Ya, ayah meninggal dua bulan setelah kami bertemu. Saudaraku bilang bahwa ia terkena serangan jantung dan ia meninggal di kafenya sendiri.
Beberapa tahun setelah ayah meninggal, aku baru bisa mengunjungi makam ayahku yang sudah tidak basah lagi. Sudah lama aku melewatkan semuanya.
Mati
***
"Apakah aku harus pergi dari hadapanmu, Nay?" Tanya seseorang disela sesegukanku di hadapan kanvas-kanvas kosong di ruangan yang sangat istimewa bagiku saat ini. Ruang khayalan.
"Iya, sekarang aku hanya ingin sendiri" jawabku terbata
"Baiklahナ Aku akan pergi. Panggil aku kapan saja kau perlu. Dan kamu harus tahu, aku bisa mewujudkan mimpi ibumu untuk membuatmu menjadi seorang embriolog" jelasnya lembut sambil mendekapku erat.
Sebuah salam perpisahan sementara.
Saat itu hujan sangat deras dan aku begitu dekat dengan langit. Aku membuka jendela dan menengadahkan kedua tanganku, berusaha menggenggam rintik hujan. Kilasan kenangan antara aku dan ayah bermunculan. Hingga aku ingat akan sesuatu.
"Pasti Lo butuh Gue untuk mewujudkan mimpi Ayah Lo kan? Businessman, eh salah. Maksud Gue Businesswoman. Haha...." Kelakarnya aku sangat kenal pasti, dia Kiki. Sahabat khayalanku yang urakan.
Kami berbincang hebat
Aku dan hujan
Kami selalu bersama
Dalam melodi damai penuh kesan kerinduan
*Ditulis saat musim hujan di akhir tahun 2012


akhirnya...bisa dimengerti jg... sempet bingung di awal2...
BalasHapusGood job, my man...
gue masih galau ampe sekarang (soalnya bacanya blm khatam, hahahaha)
Hapusitu memang tujuan saya teh... hehe
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapussalah satu yang bikin gue bingung, ada tokoh yang awalnya "aku-kamu" jadi "gue-elo", dan juga sebaliknya.. haha :))
Hapusanyway, good job bro..
wuah,,,,fisikawan atau sastrawan sih Fan?hehehe
BalasHapus#pengenbisajuga
saya siapa ya? siapa saya?saya siapaaaaaa???? haha
BalasHapusmba nina juga bisa kok. perbanyak galau, semakin galau semakin ranca