Malam ini saya ingin menulis. Entah kenapa. Saya tak bisa
mengatupkan mata dan terjun ke alam maya. Alam dimana saya bisa menjadi raja,
pemegang takdir sepenuhnya atas apa yang akan saya perankan. MIMPI.
Hari ini saya menghabiskan waktu di tempat dimana saya
menulis sekarang. Pegal? Ya. Bosan? Tentu. Tapi inilah yang bisa saya lakukan
sekarang. Berharap ada udara segar yang datang menelusuri lubang. Kapan? Kapan
itu bisa terwujud kalau saya tetap di sini. Di tempat yang sama.
Kemarin saya sempat membaca teori lubang cacing. Dimana
dimensi waktu bisa melengkung akibat massa yang terlalu besar. Mungkinkah
cerita fiksi itu memang benar adanya? Benarkah teori itu bisa menjelaskan
perjalanan suci seorang nabi yang bisa melintasi tujuh lapis langit dan kembali
ke bumi hanya dalam hitungan beberapa jam saja? Dimana Ia sempat mendengar riuh
redam orang tertawa bahagia di surga serta melihat orang menangis
sejadi-jadinya di neraka. Entahlah, manusia memang pandai berteori bukan? Tapi
memang itu tugas kami. Kami terlahir dengan organ bernama otak. Maka kami harus
berpikir.
Janganlah terlalu berlebihan. Biarkan semuanya berjalan
selayaknya norma yang berlaku. Janganlah engkau seperti ia yang telalu masif
hingga tak mampu menahan babannya sendiri. Kau takkan punya cukup gaya untuk
menahan gravitasinya. Dirimu akan jatuh layaknya sebuah bintang super raksasa.
Ia akan mati karena egonya. Dan saking egonya? Saat ia sudah mati, ia masih
egois. Menghisap semua massa yang melintas di dekatnya, seakan ia ingin
membalas nasib yang ia dapatkan. Sebuah lubang hitam. Apa ia pantas didekati?
Tak pernah ada cahaya di dekatnya yang bisa memancar dengan
indah. Semua ia hisap dengan ganas. Hingga ia layaknya benda hitam sempurna.
Apa masih ada orang yang bisa berada di dekatnya? Segan. Bukan karena mereka
menghormatimu, tapi karena mereka takut padamu.
Akankah saya sampai di dimensi itu? Dimana sehari menurut
Nya adalah setahun menurut saya? Saya ingin terbang dengan kecepatan melampaui
kecepatan cahaya. Dimana saya bisa bermain dengan dilatasi waktu dan memudarkan
massa. Saya ingin berlari mengejar apa yang selama ini saya impikan. Tapi apa
saya bisa? Entahlah. Hanya Ia yang Maha Mengetahui. Termasuk kapan saya akan
mati dan benar-benaar berada di ruang dimensi itu.
Buatlah peta dunia di sebuah kertas putih. Lingkari tempat
dimana kau berada saat ini. Tandai pula tempat yang sangat ingin kau kunjungi. Lalu
lipat kedua ujung tempat yang kau tandai itu. Maka kau akan langsung berada di
sana. Seketika. Itulah teorinya, sebuah perumpamaan sederhana tentang konsep
Lubang Cacing.
Ingat! Lubang itu tak nampak. Tak pernah ada orang yang bisa
melihatnya dengan mata telanjang. Ia adalah penjebak ulung. Berkamuflase dalam
gelapnya angkasa. Menyeruak saat suatu massa ada di dekatnya, menghisapnya
perlahan. Layaknya vampir yang membunuh manusia atau hewan secara perlahan.
Membentuk sirup spiral dan mengalirkannya di sebuah sumur dengan kedalaman tak
hingga. Entah kemana. Apakah mereka akan terjebak ke masa lalu atau masa depan.
Entahlah…
Teori kuantum menjelaskan bahwa lubang cacing mungkin saja
ada. Kita bisa menjelajah alam semesta dan berkunjung ke massa depan hanya
dalam hitungan detik. Tapi teori itu menjelaskan pula bahwa suatu hal yang
mustahil jika sosok massa kini bisa kembali ke massa lalu. Kenapa? Padahal saya
ingin memperbaikinya. Saya tak mau sekelam dan selemah hari ini. beri saya
kesempatan Tuhan.
Tapi jujur. Teori hanya teori. Akal manusia itu terbatas,
Tuhan tahu akan itu. Saya pun tahu. Tapi apapun kebenarannya, saya memang tak
seharusnya menyesalai masa lalu. Waktu saya tak cukup panjang untuk itu. Ada
masa depan yang jauh harus saya pikirkan secara matang. Saya tak boleh seperti
ini di suatu hari nanti yang akan saya sebut sebagai hari ini. saya harus
optimis. Saya tak perlu tahu masa depan untuk menjadi orang yang sukses. Saya
hanya perlu hari ini dimana saya punya mimpi dan semangat untuk mewujudkannya.
Maka enyahlah kau lubang cacing.
Melihat jam dinding di sisi seberang kasur membuat saya
harus menghentikan obsesi ini. saya sudah cukup puas malam ini. Minimal
sedikitnya sudah bisa saya utarakan meskipun sedikit bias. Saya harus segera
tidur. Esok adalah masa depan bagi saya. Saya tak boleh tetap merasa nyaman di
hari ini hingga saya tak mau terlelap. Sudahlah. Ini sudah bukan malam lagi,
saya sudah melewatinya meski hanya beberapa detik. Saya ingin segera memasuki
lubang hitam dan terperangkap dalam lubang cacing khayalan saya. Masuk ke dunia
lain dimana saya yang akan menjadi pengatur takdir atas hidup yag akan saya
jalani. MIMPI.

mungkin sy jg pernah terperangkap ke lubang cacing, dimana dunia yg sy alami hanya khayalan sj,..:D
BalasHapusnuhun ah kang dimas.....kahade, ntar gk bsa balik ke masa kini
Hapuswaktu saya kecil saya pernah mengalami kejadian aneh.dalam situasi dan kondisi tertentu pernah tiba-tiba saya berada di dalam hutan belantara lalu tak lama kemudian saya kembali lagi ke tempat semula dengan kepala pusing, pikiran kacau dan badan lemas.
BalasHapusapakah ini yang terjadi pada saya? (melintasi lubang cacing)