Selasa, 24 April 2012

Celoteh malam Dan Lubang Cacing



Malam ini saya ingin menulis. Entah kenapa. Saya tak bisa mengatupkan mata dan terjun ke alam maya. Alam dimana saya bisa menjadi raja, pemegang takdir sepenuhnya atas apa yang akan saya perankan. MIMPI.

Hari ini saya menghabiskan waktu di tempat dimana saya menulis sekarang. Pegal? Ya. Bosan? Tentu. Tapi inilah yang bisa saya lakukan sekarang. Berharap ada udara segar yang datang menelusuri lubang. Kapan? Kapan itu bisa terwujud kalau saya tetap di sini. Di tempat yang sama.

Kemarin saya sempat membaca teori lubang cacing. Dimana dimensi waktu bisa melengkung akibat massa yang terlalu besar. Mungkinkah cerita fiksi itu memang benar adanya? Benarkah teori itu bisa menjelaskan perjalanan suci seorang nabi yang bisa melintasi tujuh lapis langit dan kembali ke bumi hanya dalam hitungan beberapa jam saja? Dimana Ia sempat mendengar riuh redam orang tertawa bahagia di surga serta melihat orang menangis sejadi-jadinya di neraka. Entahlah, manusia memang pandai berteori bukan? Tapi memang itu tugas kami. Kami terlahir dengan organ bernama otak. Maka kami harus berpikir.

Janganlah terlalu berlebihan. Biarkan semuanya berjalan selayaknya norma yang berlaku. Janganlah engkau seperti ia yang telalu masif hingga tak mampu menahan babannya sendiri. Kau takkan punya cukup gaya untuk menahan gravitasinya. Dirimu akan jatuh layaknya sebuah bintang super raksasa. Ia akan mati karena egonya. Dan saking egonya? Saat ia sudah mati, ia masih egois. Menghisap semua massa yang melintas di dekatnya, seakan ia ingin membalas nasib yang ia dapatkan. Sebuah lubang hitam. Apa ia pantas didekati?

Tak pernah ada cahaya di dekatnya yang bisa memancar dengan indah. Semua ia hisap dengan ganas. Hingga ia layaknya benda hitam sempurna. Apa masih ada orang yang bisa berada di dekatnya? Segan. Bukan karena mereka menghormatimu, tapi karena mereka takut padamu.

Akankah saya sampai di dimensi itu? Dimana sehari menurut Nya adalah setahun menurut saya? Saya ingin terbang dengan kecepatan melampaui kecepatan cahaya. Dimana saya bisa bermain dengan dilatasi waktu dan memudarkan massa. Saya ingin berlari mengejar apa yang selama ini saya impikan. Tapi apa saya bisa? Entahlah. Hanya Ia yang Maha Mengetahui. Termasuk kapan saya akan mati dan benar-benaar berada di ruang dimensi itu.

Buatlah peta dunia di sebuah kertas putih. Lingkari tempat dimana kau berada saat ini. Tandai pula tempat yang sangat ingin kau kunjungi. Lalu lipat kedua ujung tempat yang kau tandai itu. Maka kau akan langsung berada di sana. Seketika. Itulah teorinya, sebuah perumpamaan sederhana tentang konsep Lubang Cacing.

Ingat! Lubang itu tak nampak. Tak pernah ada orang yang bisa melihatnya dengan mata telanjang. Ia adalah penjebak ulung. Berkamuflase dalam gelapnya angkasa. Menyeruak saat suatu massa ada di dekatnya, menghisapnya perlahan. Layaknya vampir yang membunuh manusia atau hewan secara perlahan. Membentuk sirup spiral dan mengalirkannya di sebuah sumur dengan kedalaman tak hingga. Entah kemana. Apakah mereka akan terjebak ke masa lalu atau masa depan. Entahlah…

Teori kuantum menjelaskan bahwa lubang cacing mungkin saja ada. Kita bisa menjelajah alam semesta dan berkunjung ke massa depan hanya dalam hitungan detik. Tapi teori itu menjelaskan pula bahwa suatu hal yang mustahil jika sosok massa kini bisa kembali ke massa lalu. Kenapa? Padahal saya ingin memperbaikinya. Saya tak mau sekelam dan selemah hari ini. beri saya kesempatan Tuhan.

Tapi jujur. Teori hanya teori. Akal manusia itu terbatas, Tuhan tahu akan itu. Saya pun tahu. Tapi apapun kebenarannya, saya memang tak seharusnya menyesalai masa lalu. Waktu saya tak cukup panjang untuk itu. Ada masa depan yang jauh harus saya pikirkan secara matang. Saya tak boleh seperti ini di suatu hari nanti yang akan saya sebut sebagai hari ini. saya harus optimis. Saya tak perlu tahu masa depan untuk menjadi orang yang sukses. Saya hanya perlu hari ini dimana saya punya mimpi dan semangat untuk mewujudkannya. Maka enyahlah kau  lubang cacing.

Melihat jam dinding di sisi seberang kasur membuat saya harus menghentikan obsesi ini. saya sudah cukup puas malam ini. Minimal sedikitnya sudah bisa saya utarakan meskipun sedikit bias. Saya harus segera tidur. Esok adalah masa depan bagi saya. Saya tak boleh tetap merasa nyaman di hari ini hingga saya tak mau terlelap. Sudahlah. Ini sudah bukan malam lagi, saya sudah melewatinya meski hanya beberapa detik. Saya ingin segera memasuki lubang hitam dan terperangkap dalam lubang cacing khayalan saya. Masuk ke dunia lain dimana saya yang akan menjadi pengatur takdir atas hidup yag akan saya jalani. MIMPI.


3 komentar:

  1. mungkin sy jg pernah terperangkap ke lubang cacing, dimana dunia yg sy alami hanya khayalan sj,..:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. nuhun ah kang dimas.....kahade, ntar gk bsa balik ke masa kini

      Hapus
  2. waktu saya kecil saya pernah mengalami kejadian aneh.dalam situasi dan kondisi tertentu pernah tiba-tiba saya berada di dalam hutan belantara lalu tak lama kemudian saya kembali lagi ke tempat semula dengan kepala pusing, pikiran kacau dan badan lemas.
    apakah ini yang terjadi pada saya? (melintasi lubang cacing)

    BalasHapus