Sabtu, 10 Maret 2012

VIA LACTEA

Suatu saat lautan itu akan mengering. Tak meninggalkan bekas basahnya. Sedikitpun. Saat itu saya berharap sudah tidak ada lagi di planet ini. Planet dalam yang nanti akan tergarang. Kurang lebih 4,54 Milyar tahun saya bersamamu mengitari matahari. Melewati perubahan musim dan menegaskan kekuasaan Tuhan. Mencoba untuk berteduh dan menghangatkan kembali, menjalani suatu siklus alam.

Rasa ini begitu kentara untuk diungkapkan. Memandang tumpahan susu putih di langit tak berawan. Memaknai setiap kerlipan yang nampak dengan mata telanjang. Sukar dan terlalu rumit. Bayangkan? Kurang lebih 400 milyar bintang harus saya tunjuk dengan telunjuk dan melafalkannya satu per satu. Tuhan terlalu cerdas untuk mengungkapkan semuanya. Maha Besar Alloh dengan segala kemegahan ciptaan-Nya.


Pahamilah lebih dekat. Cakram itu berbentuk spiral yang sangat besar dengan diameter kurang lebih 100.000 tahun cahaya. Bisakah saya menjelajahinya di sisa umur saya yan mungkin sebentar lagi? Tidak. Tata surya pun perlu waktu 250 tahun untuk menyelesaikan satu putaran penuh mengelilingi pusatnya. Pusat dimana semua akan terlihat gelap. Hitam.

Saat ini saya melayang hampa di antara ribuan asteroid kerdil yang entah dari mana asalnya. Mungkin mereka adalah sampah dari tata surya lainnya yang tak berguna dan terbuang. Karena saya tak mengenalnya. Saya tak mencium wangi serupa matahari. Tapi mereka sama seperti saya. Hampa. Mengantri membentuk garis lurus. Menunggu ajal yang seakan bisa datang kapan saja. Tarikannya terlalu kuat. Tak heran ratusan bintang di sekitarnya tertarik padanya, berputar padanya. Dialah poros, sebuah lubang hitam Sagitarius A.

Ia terlalu kejam untuk sebuah pusat. Contoh pemimpin yang ditakuti karena kekejamannya. Kami patuh karena kami segan dan takut, bukan karena sepenuh hati kami setuju dengan apa yang dia putuskan. Kami sama sekali tak menyembahmu sebagai Tuhan. Bagi kami, Berputar hanyalah satu cara untuk melawan tarikannya. Membuat kami tetap bisa jaga jarak dengannya. Karena dia tampak gelap? Cahaya tak akan ada di sampingnya sampai kapan pun. Medannya pun terlalu kuat mengekang kami. Membuat kami sulit bernafas. Tapi kami punya satu cara untuk lolos dari belenggunya. Sebuah terowongan kuantum yang kami ciptakan sendiri.

Tahukah kamu kenapa dia terlihat keras dan kejam saat ini? Karena ia memiliki masa lalu yang lebih kelam dari warnanya saat ini. Saat itu ia hanyalah bintang biasa. Bintang super besar yang kehilangan kuasa atas gravitasinya sendiri. Tak ada tenaga nuklir yang bisa membuatnya bertahan gagah. Ia kalah dan frustasi. Ia menggila dan membunuh apa pun yang melewatinya. Tak perduli apa dan siapa.

Jagad raya ini terlalu megah untuk dihayati. Lima belas milyar tahun mungkin terlalu singkat untuk mempelajarinya. Sukar. Berjuta objek tampak menandakan keberadaanya. Menghilangkan mitos tentang kesulitan memandang dan berpikir jernih. Semuanya tampak jelas. Hanya butuh waktu dan otak serta kebijaksanaan untuk memaknainya. Lain halnya dengan materi gelap itu. Hantu ditengah keramain semesta. Tak pernah ada yang tahu wujudnya seperti apa. Ia hanya nampak dengan tarikan kuatnya. Sebuah gaya gravitasi mahadasyat yang bisa menelan bulat-bulat seluruh materi tampak.

Sudah saya tegaskan, terlalu banyak bintang, nebula, dan gugus bintang yang dapat kita lihat setiap malamnya. Perhatikan mereka saat langit cerah, bersih dari awan, dan kondisi sekitar yang gelap, kita bisa melihat pita berwarna putih yang memanjang dan melintasi beberapa rasi seperti Sagitarius, Scorpius, Ophiucus, Aquila, Cassiopeia, Auriga, Crux, dan Centaurus. Sementara di bagian langit yang lain tampak celah-celah gelap yang menunjukkan adanya materi antar bintang yang tebal. Itulah bidang galaksi yang kita tinggali. Bimasakti.


Likislah perasaanmu pada celah-celah itu. Warnamu akan menggenapkan keindahan. Ya, segala sesuatu akan nampak lebih indah jika sudah tergenapkan bersama milyaran bintang lainnya yang tak mau berkelana sendiri. Begitu pun dengan ia yang megah, bersama dengan rekan lainnya, Andromeda dan Triangulum, ia berjalan memutarkan dentum zaman, memoles jagad dengan bekas gerakan halus. Saling menarik satu sama lain. Dan tahukah kamu? suatu saat tarikan mesra itu juga akan berujung maut. Saat Andromeda menariknya. Ia akan hilang dalam cintanya. Itukah akhir zaman? Bukankah kita memang berada di dalamnya? Terlalu banyak teori yang melatarbelakanginya. Sukar dimengerti.

Dan saya pun menutup buku ini. Memejamkan mata dan memabayangkan semuanya. Sejauh mana pikiran saya merentang, tak pernah saya bisa merengkuh galaksi ini. Tapi kelak saya mungkin bisa melihatnya, saat kehancuran besar-besaran terjadi. Dan semuanya akan mengerut menjadi sebutir biji zarah. Saat dimana dimensi menjadi kabur dan saya sudah terlepas dari raga. Di surga atau di tempat terhina.

"Jalanmu membuat saya tersesat dalam kehampaan dan teriknya bintang. Dimanakah saya bisa menemukannya? Tempat terindah yang selalu ibu dongengkan. Inikah jalan itu?" --- Via Lactea = Milky way

Tidak ada komentar:

Posting Komentar