Ketika semuanya kembali ke detik itu
Saya hanya bisa bertanya
“Sampai dimanakah
hidup yang telah saya jalani?”
Sesosok tubuh yang hidup di dimensi ruang dan terdiri atas
sejumlah organ; yang terdiri dari sejumlah jaringan; yang terdiri dari sejumlah
sel; yang terdiri atas sejumlah komponen; yang terdiri dari sejumlah senyawa;
yang terdiri dari sejumlah unsur; yang terdiri dari sejumlah atom; yang terdiri
dari sejumlah elektron dan inti; yang terdiri dari sejumlah neutron dan proton;
yang terdiri dari sejumlah quark; yang terdiri dari apapun yang belum dan
sangat ingin diketahui. Itulah saya.
(1)
7 November 1988
Tahun pertama tak pernah saya ingat
Hanya cerita sedih yang saya dengar saat ini
Dan hal itu yang membuat saya seperti saat ini
Saya tak ingin mengulang luka
Saya ingin melenyapkanya jauh
Pergi dari pandangan
(2)
Tahun kedua pun,
Entahlah
Yang saya tahu, sosok lembut itu selalu memberi saya cinta
Entah seberapa besar
Yang pasti ia bergelar malaikat cantik
Kau pun bisa menerka dari gelarnya
(3)
Tahun ketiga pun,
Entahlah
Yang saya tahu, sosok lembut itu selalu member saya kasih
Entah seberapa besar
Yang saya tahu, sosok itu berhasil membuat saya bisa berdiri
Sosok itu mulai melepaskan kehendak penuhnya
Ia izinkan saya berpetualang
Meski tak sepenuhnya
Saya tetap bayi mungilnya
(4)
Tahun keempat saya bisa bermain dengan sebaya
Berlari bersama kakak yang tidak mau dipanggil dengan
panggilan layaknya kakak
Kami teman
Teman sebaya
Kami bersama menyanyikan lagu dari penyanyi pujaan
Popy mercury
(5)
Tahun kelima saya tidak mau sekolah
Saya belum puas menjadi anak kecil yang selalu dimanja
Dan punya waktu banyak untuk berleha-leha
Saya masih rindu harumnya tanah dan sengatan surya
Saya masih rindu cekikikan dan tangis lepas
Saya masih ingin menjadi orang bodoh yang mau dibodohi
Karena saat itu senang
Saya tak perlu pusing akan keadaan sebenarnya
Karena saya masih bisa dibodohi
Supermie bisa jadi
Indomie saat itu
Lebih murah.
(6)
Tahun keenam saya masih tidak mau sekolah
Saya masih belum puas menjadi anak kecil yang selalu dimanja
Tapi teman-teman telah pergi di pagi hari
Saya hanya sendiri di lapangan sepi
Menggaruk tanah semau yang saya mau
Tak lagi ramai ternyata
Ya sudahlah
Mungkin ini saatnya
(7)
Tahun ketujuh saya baru masuk sekolah dasar
Dengan otak yang super kosong
Yang saya paham hanya lagu popy mercury dan bau tanah yang
basah
Tak bisa baca, hitung, dan tulis
Hanya terpesona dengan teman sebaya lainnya
Mereka datang dengan otak yang sudah setengah isi
Tinggal diruncingkan, dan bisa ditampilkan
Ibu mereka tersenyum dibalik jendela
Sedangkan mamah saya?
Dia pun tersenyum. Mungkin menyemangati saya
Dan saya hanya bisa menangis minta pulang
Saya tidak sanggup menjadi pintar
Saya lebih baik menjadi bodoh
Tapi… malaikat cantik itu mengulurkan tangan lembutnya
Ia menggapai saya yang sedang terpuruk lemah
Tiap malam ia syahdu membacakan ceritera dan membimbing saya
untuk menuliskan huruf demi huruf
Menyusun angka menjadi sebuah bilangan
Menjumlahkannya dan mengurangkannya
Akhirnya saya bisa membedakan mana Supermie dan mana Indomie
Saya sedikit pintar
Sedikit
Tak banyak
Sampai akhirnya di caturwulan pertama, tahun pertama, saya
dinisbahkan sebagai peringkat ketiga di kelas
Mamah saya kembali tersenyum dibalik jendela
Dengan senyum yang lebih lebar
Senyum bahagia
Tapi nilai membaca saya masih ditulis dengan tinta merah
Saya memang belum terlalu pintar
(8)
Tahun kedelapan saya mulai mengerti arti sekolah
Semangat untuk menjadi pintar mulai menyeruak
Saya paham, di ruangan ini kami berkompetisi
Siapa yang lebih pintar ia akan disayangi gurunya
Ya
Dan saya selalu haus kasih sayang dan perhatian
Saya harus pintar
Dan akhirnya tidak ada angka bertinta merah di buku laporan
catur wulan
Yang ada hanya angka satu dikolom peringkat
Hore
Tapi
Perayaan tak berlangsung lama
Nenek saya saat itu pergi
Tanpa permisi
Saat kami; mamah, saya, dan kakak sedang ada di kebun
Setelah memakan semangkuk baso bersama
Ia pergi
Selamanya
Dunia pecah
Saya pun lemah
(9)
Tahun kesembilan saya mulai paham arti sekolah
Kompetisi tidak hanya melingkupi ruangan kecil berisi 60
orang siswa saja
Saya bisa bersaing dengan siswa lainnya
Dalam berbagai kompetisi
Saat itu saya mengambil jalur menyanyi
Suara saya lumayan bagus
Saat itu.
(10)
Tahun kesepuluh saya masih tetap pada peringkat teratas di
kelas
Saya pun bisa menjuarai beberapa kontes menyanyi
Entahlah
Saya tidak mengerti saat itu
Kenapa saya jadi suka menyanyi
Padahal saya adalah seorang yang sangat pemalu
Saya hanya akan keluar rumah saat sekolah
Pun di rumah, saya hanya diam membisu dalam ruang redup
Ditemani sebuah televisi tua
Sendiri.
(11)
Tahun kesebelas saya masih sendiri
Tak ada lagi canda gurau dan bau tanah basah
Yang ada adalah lantai yang basah
Dan kaki yang basah
Tangan yang basah
Dan pipi yang basah
Saya menjadi sensitif
Entahlah
Buku telah memenjarakan saya dalam ruang sempit
Otak saya telah dicuci di sekolah
Bahkan saya lebih ingin belajar daripada makan
Apalagi bermain dengan sebaya
Yang ada di otak saya hanya bagaimana caranya untuk menjadi
orang di jajaran paling atas
Yang ada di otak saya hanya bagaimana caranya mengalahkan
lawan
Jiwa kompetitif saya telah mencapai puncaknya
Bahkan mungkin berlebihan.
(12)
Tahun keduabelas saya makin berlebihan
Yang saya mau hanya ingin menjadi lulusan terbaik
Dan itu memang terjadi
Meski tanpa upacara adat seperti biasanya
Saya hanya bisa merayakannya dalam sepi
Sendiri.
(13)
Tahun ketigabelas saya masuk ke sekolah dengan tingkat lebih
tinggi, SLTP
Disana saya tetap mengembangkan bakat olah suara saya
Meski suara saya tidak sejernih sebelumnya
Lebih berat
Dan tak karuan
Fals
Tak tepat nada
Akhirnya, membaca puisi adalah hal lainnya
Saya mulai terpikat
Akan kata-kata yang bisa membuat saya melayang
Bahkan tak bisa kembali ke dunia nyata
Saya masih sendiri
Saya masih punya jiwa kompetisi yang berlebihan
Saya anggap teman adalah lawan potensial
Saya tak bisa terus berdekatan
Saya ingin menjadi yang pertama
Dan memang saya bisa membuktikannya
(14)
Tahun keempatbelas saya mulai merasakan debaran yang aneh
Belum pernah
Dan belum terjadi sebelumnya
Entahlah
Mereka terlihat memikat mata
Dan menggetarkan palung hati
Cinta?
Hahaha
Nampaknya terlalu dini untuk membicarakannya
Tapi rasa itu mengganggu
Dan memang begitu
(15)
Tahun kelimabelas saya makin tak fokus
Yang saya pikirkan hanya satu kata itu
Kapankah saya harus mengungkapkannya?
Kapan?
Saya terus bergelut dengan perasaan
Sampai saya benar-benar kalah dan terjatuh hebat
Di buku laporan semester, tidak ada lagi angka 1, yang ada
angka 2
Memalukan
Tapi saya bisa lebih cepat menyadarinya
Saya bisa bangkit
Dan mengulang semuanya
Saya bisa lulus dengan predikat terbaik
Mamah saya kembali bisa tersenyum
Dan saya bisa menjadi seorang pengantin sekolah
Akhirnya.
(16)
Tahun keenambelas saya masuk jenjang yang lebih tinggi, SMA
Saya ingat waktu itu saya sangat susah untuk beradaptasi
Karakter teman sebaya nya lebih bervariasi
Dan saya pun ada di kelas antah berantah
Entahlah
Meski di sana saya bisa menjadi yang terbaik, tapi tak
terasa megah
Saya hanya berusaha menikmatinya sampai disaat saya bisa
pindah ke kelas pilihan
Bertemu dengan teman sebaya pilihan
Saya senang
Itulah tempatnya
Tempat dimana saya bisa berkompetisi
Kembali menjadi petarung tunggal
Yang egois dan tak peduli sekitar
Saya hanya ingin menjadi yang terbaik
Dan terjadi
(17)
Tahun ketujuhbelas ruang hidup saya semakin sempit
Kamar
Matahari hanya dapat saya rasakan dari celah jendela
Sedikit
Mungkin karena hal itu kulit saya menjadi lebih putih
Entahlah
Semuanya menjadi kaku
Yang saya baca hayalah buku
Saya kaku karena buku
(18)
Tahun kedelapanbelas adalah ceritera lainnya
Saya kembali kehilangan seorang nenek
Ia yang selalu menangis saat saya bisa melakukan lebih dari
cucu lainnya
Ia pergi dalam tatapn yang menatap saya
Sedih
Tapi tak harus seperti itu
Karena mimpinya ada di pundak saya
Ia menginginkan saya untuk tetap menjadi yang terbaik
Saya pun harus tetap ingin lulus dengan predikat terbaik.
Untuknya
Saya berjuang mati-matian
Melupakan makan, tidur dan main yang memang sudah saya
lupakan sejak dulu
Dan perjuangan itu memang terbayar manis
Saya bisa mewujudkan mimpi saya
Sekian?
Tidak.
(19)
Tahun kesembilanbelas saya berusaha menjadi lebih madiri
Saya bongkar dinding kamar dan berlari ke kota impian
Bandung
“Kamu itu penakut, Dek”
“Apa kamu berani tinggal
sendirian di kota yang jauh dari rumahmu?”
Tentu.
Saya hanya ingin merubah garis hidup
Dan saya paham
Di rumah saya tidak bisa berkembang lebih baik lagi
Saya harus pergi
Hijrah
Disana saya bisa bebas, lepas
Tanpa kekangan
Dan bisa menikmati rasa cinta
Cinta yang sempat saya tunda
Tapi ia sudah meminta
Baiklah
Mari kita lanjutkan
(20)
Tahun keduapuluh saya bisa menyesuaikan ritme hidup
Saya menikmati kehidupan
Saya mereguk wewangian
Saya kenyang kemudian lemas
Saya bisa mengenggam takdir sendiri
Saya mulai lupa Tuhan
Padahal Dia-lah yang menggenggam tangan mungil saya
Miris
(21)
Tahun keduapuluhsatu saya kembali tak bisa menikmati
kenyataan
Saya bergelut dengan obsesi yang berlebihan
Saya benci semua teman
Semuanya adalah lawan
Saya harus menjadi pemenang
(22)
Tahun keduapuluhdua saya bisa mencicipi segarnya rumput di
Negara lain
Tak pernah ada dalam cita-cita saya sebenarnya saat itu
Semua terjadi karena kehendak-Nya
Kun fayakun
Kekuatan doa
Satu hal yang sempat saya ragukan kekuatannya
Tuhan
Hingga saya bisa mencapai pula obsesi saya
Kembali lulus dengan predikat terbaik
Hore.
(23)
Tahun keduapuluh tiga saya mulai bekerja
Di tempat yang masih jauh dari rumah
Saya seorang pengembara
Yang sempat kembali kehilangan arah
Saya mati langkah
Saya tak bisa membelalakkan mata
Saya hilang arah
Tak ada yang menuntun saya
Saya benar-benar sendiri
Sunyi
(24)
Tahun keduapuluhempat
Saya masih melanjutkan obsesi
Mencapai semua mimpi
Dengan kepercayaan akan kekuatan doa
Dan cinta dari orang-orang yang saya cintai
Dan menyadari bahwa cinta bisa kapan saja pergi
Bahkan cinta kedua mahkluk yang telah puluhan tahun bersama
Ia bisa lenyap
Menjadi benci
Karena sebuah pengkhianatan
Maka belajarlah!
Dan jadilah manusia sehat
Bukan ia yang suka berbaring di kasur lemas
Kejarlah mimpimu, Nak!
(25?)
Tahun keduapuluhlima?
Entahlah
Saya bukanlah seorang pembaca takdir hebat
Saya hanyalah pemimpi kecil yang bermimpi untuk menjadi
besar
Tuhan
Dekatkan saya dengan takdir baikmu
Bimbinglah saya dengan tangan Maha Besar-Mu
Sehatkan keluarga saya
Sempurnakan hidup saya
Damaikanlah negeri saya
Amin.
Saya adalah seseorang pemimpi yang hidup dalam dimensi
waktu. Hari ini; yang merupakan perwujudan dari mimpi saya kemarin; yang
merupakan perwujudan dari mimpi saya kemarin lusa; yang merupakan perwujudan
dari mimpi saya seminggu yang lalu; yang merupakan perwujudan dari mimpi saya
sebulan yang lalu; yang merupakan perwujudan dari mimpi saya setahun yang lalu;
yang merupakan perwujudan dari mimpi saya sewindu yang lalu, yang merupakan
perwujudan mimpi orang tua saya 24 tahun yang lalu.
Ketika semuanya kembali ke detik itu
Saya hanya bisa bertanya
“Hal apakah yang harus
saya lakukan selanjutnya?”
“Mimpi mimpi mimpi
mimpi
Kata itu dalah hal
yang membuat saya gila
Dan hanya bisa
disembuhkan dengan usaha mewujudkannya” (Cluesology, 2012)
Catatan 6 november 2012 jam 19.20 di Kota Bandung

terima kasih telah menyisipkanku dlm perjalanan hidupmu... selamat.. semoga keberkahan dan kesuksesan selalu bersamamu...
BalasHapussama-sama sugar
BalasHapus