Kamis, 12 Juli 2012

DRAMA TUNDRA (PART 2: SAYA, DIA, MANTAN, DAN SAHABATNYA)

Cerita ini merupakan lanjutan dari DRAMA TUNDRA (PART 1: LOVE IN CLAYTON)

Wahai peran
Apakah saya salah memaknaimu
Saya hanya berusaha jujur dalam drama yang akan kau buat
Hingga dia hilang dalam dekapan
Peran lain yang tak pernah saya kira
Perubahan seorang protagonis menjadi lawan yang kekal
Di saat aku tak siap
Saat dimana aku tak memiliki peran itu lagi

Entah kenapa saya begitu risau setelah menerima pesan itu. Pesan dari orang yang sudah lama hilang, atau lebih tepatnya sengaja saya hilangkan dan kubur dalam-dalam. Kadang saya heran dengan diri saya sendiri. Saya yang menginginkan drama ini berlangsung seperti ini. Sayalah pemeran utama sekaligus sutradara dari skenario yang saya pegang ini. Entah. Saya hanya tidak mengerti dengan perasaan yang bertolak belakang dengan skenario yang saya buat dengan bantuan otak. Manakah yang lebih jujur, hati atau otak yang pintar merekayasa?

Saya coba untuk menutup mata dan lenyapkan pikiran liar tentang perhatian dia yang sengaja ia berikan lewat pesan di akun social media saya. Berbagai pertanyaan muncul saling berkejaran dengan latar belakang wajah manisnya lengkap dengan senyum lebar hangatnya. Apa yang dia lakukan dua tahun terakhir ini? Apa dia masih bekerja di tempat yang sama? Apa  dia masih ingat saya? Apa dia sudah menemukan pengganti saya? But wait, he said that I’m the last women in his life, did he worn out? STOP. Hanya ada satu cara untuk menghentikan keliaran pemikiran ini.

Saya kembali terbangun dan bergegas menuju meja belajar di sudut kamar. Saya buka laptop putih yang tergeletak manja di meja  dengan tangan yang sedikit gemetar; entah karena perasaan yang tak menentu atau karena suhu udara malam ini yang hanya sekitar 11 derajat? Nampaknya musim akan segera berganti dimana semua daun akan meranggas dan menggugurkan semua yang telah mati. Tapi kenapa saya masih seperti ini? menahan rasa yang mati ini dengan rapatnya. Kenapa? Beberapa detik saya mengabaikan niat untuk menghidupkan laptop. Sampai akhirnya saya meyakinkan diri untuk mengakhiri kepenasaran ini.  Ya, apa salahnya jika saya ingin mengetahui keberadaannya saat ini? Atau memang ini terlalu berlebihan? Toh dia sudah bukan siapa-siapa lagi buat saya, toh dia mungkin tidak pernah berpikir tentang saya. Tapi saya sangat ingin tahu. Saya ingin tidur  nyenyak malam ini.

Kini laptop sudah menyala. Koneksi internet pun sudah tersambung dengan sempurna. Saya masuk ke social media yang saya tuju. Saya langsung ketik nama dia di kotak pencarian teman. Kaleb Satriya Putra. Nama itu dengan fasihnya masih saya ingat. Bahkan ejaan yang agak ganjil di nama tengahnya masih saya hafal dengan baik. Satriya. Dulu dia adalah kesatria bagi saya. Hmmmm, cukup.

Seketika saya tercengang saat membuka halaman profil akun social media nya. Dunia seakan berhenti berotasi. Di sisi lain, frekuensi detak jantung tak bisa saya kendalikan saking cepatnya ia bergetar hebat. Sebutir air mata tiba-tiba menetes dari pinggiran celah tanpa saya sadari dan kendalikan. Apa yang terjadi dengan hati ini? Apa saya belum ikhlas menerima keadaan yang sedang saya liat saat ini? Perasaan apa yang sedang berkecamuk dalam diri ini? Apa ini yang dinamakan patah hati? Bukan. Ini bukan saat yang tepat untuk patah hati. Ini hal yang wajar. Tak perlu saya risaukan. Saya hanya sedikit kaget. Benarkah?

Saya pandangi foto profilnya. Dulu, biasanya dia tak pernah ingin menampilkan sosok dirinya dalam profil social media nya, seringnya dia menggunakan tokoh animasi One Piece  kesukaanya. Dulu saya tidak suka dengan kebiasaannya itu, terlalu kekanank-kanakan. Tapi sekarang, diri saya seakan protes, kenapa dia merubah kebiasaannya selama ini? Bukankah dia selalu mengikrarkan bahwa dia tidak suka bernarsis ria dalam social media? Kenapa begini? Kenapa tidak begitu? Pertanyaan demi pertanyaan hilir mudik di kepala. Ya, saat ini yang saya lihat adalah foto profil dia yang menunjukkan senyum lebar sumringahnya. Tapi bukan itu  inti masalahnya. Masalahnya adalah dia tidak hanya difoto sendiri, di sampingnya ada sosok wanita yang tidak terlalu asing buat saya. Kenapa harus dia yang ada di fotonya? Saya saja yang dulu pacaran sama dia tidak pernah menampakkan wujud saya di profil akunnya atau malah mejeng di foto profilnya. Saya lirik kotak keterangan di bawah foto profilnya untuk mempertegas dan menjawab kekhawatiran yang muncul.

Kaleb Satriya Putra
Work at Decade Health Care
Studied Sistem Informatika at Universitas Komputer Bandung
In a realationship with Katarina Anandita
Live in Jakarta

Jadi sekarang dia menjalin hubungan istimewa dengan teman dekatnya sewaktu kuliah. Katarina Anandita. Ina yang mengaku hanya berperan sebagai sahabat sejatinya Kaleb.


#FLASHBACK#


Saat ini saya tertidur dalam keadaan lemas. Dengan infusan yang tertancap di tangan kanan yang membuat saya sedikit susah bergerak. Ini adalah hari ketiga saya terbaring di kasur rumah sakit. Malam senin kemarin saya masuk ke rumah sakit setelah dokter di dekat kosan merujuk saya untuk menjalani rawat inap di rumah sakit karena trombosit saya sudah melampaui batas normal. Ya, saya didiagnosa terkena gejala demam berdarah. Dua hari kemarin, Kaleb lah yang setia menemani saya sampai malam. Dia menjaga saya sembari mempersiapkan sidang kelulusannya yang akan ia jalani hari ini. Saya sudah memintanya berkali-kali untuk pulang dan menganjurkan dia untuk mempersiapkan sedangnya sebaik mungkin, tapi dia tetap tak mau meninggalkan saya.

“Kalaupun saya gagal sidang hari kamis besok, kan masih ada kesempatan sidang bulan depannya lagi, cantik Tapi untuk menemani kamu di saat-saat seperti ini ya gak akan ada hari gantinya. Saya harus memastikan kamu baik-baik saja, Rindu. Lagipula saya bisa mempersiapkannya di sini.” Terangnya sembari menunjukan tumpukan kertas di tangannya.

Saya malah makin semangat. Kan saya sudah bilang bahwa wajah manis kamu itu selalu memercikan api semangat buat saya. Hehe” lanjutnya singkat yang diakhiri dengan senyuman hangat nan lebarnya.

“Muka yang sudah beberapa hari ini tidak sempat saya cuci ya?” Tanya saya sambil terkekeh lemas.

“Emh, kalau baunya sih saya tidak teralalu suka, tapi auranya masih tetap manis kok, hehehe” kembali ia hanya tersenyum pada saya. Senyuman yang akan selalu saya rindukan. Tulus.

“Kamu jahat ih” Lanjut saya manja sambil mencubit punggung tangannya

“Tapi kamu suka kan?”

Kami tersenyum riang. Tak ada suasana resah dan gelisah yang tersaji di kamar ini. Ya, dialah yang membuat semuanya tersetting seperti ini. dia sutradara terhebat untuk urusan adegan kegembiraan.

***

“Hai, bagaimana keadaan kamu sekarang?” Tiba-tiba suara wanita yang tidak lagi asing ditelinga memaksa saya untuk menoleh ke arah datangnya suara.

“Ina… apa kabarmu?” saya balik bertanya padanya saking kaget atas kehadiran dia yang tiba-tiba

“Ya jelas aku baik, Ndu. Kamu tuh ya, saya nanya ,kamu malah balik nanya, pertanyaan yang sama pula, Ndu… Ndu….” Jawabnya sambil membuka keresek yang ia bawa.

“Ini tujuan aku datang kesini selain untuk nengok kamu aku juga mau sampaikan amanat tuan Kaleb untuk menyerahkan semangkuk bubur kesukaannmu. Aku pindahin ke mangkuk ya” jelasnya sambil menuangkan bubur ke mangkuk.

“Dia minta maaf karena gak bisa jenguk kamu hari ini. Aku gak pernah liat dia seheboh pagi ini. Untung ada aku yang bisa gantiin posisi kamu sebagai asisten pribadinya; dari mulai setrikain setelan jasnya sampai beresin dokumen yang harus ia bawa. Mana dia tahu apa saja yang harus ia bawa untuk sidang hari ini. Tadi dia malah mau bawa dokumen skripsi doang” Terlihat dia menghela nafas dan tak lama kemudian dia meneruskan celotehannya

“Masa dia gak mau bawa buku referensi yang nantinya akan menjadi malaikat penolong dia di ruang sidang dengan alasan ribet. Dasar cowok, sok simpel hidupnya.  Padahal barusan dia malah yang ribet banget, pake acara ganti dasi tiga kali buat dapetin kesan Good Looking, bukanya itu ribet ya? Lebih dari ribet bahkan, genit….” Cerocosnya tanpa henti. Kemudian dia melirik saya yang memandangnya dengan mata yang melongo bulat.

“Maaf Ndu, aku terlalu nyerocos ya?” Syukurlah kalau kamu sadar.

“Bukan itu yang menjadi inti masalahnya, Na. Saya sangat menyesal karena tidak bisa datang membantunya di salah satu momen penting dalam hidup Kaleb” bisik saya dalam hati.

“Jadwal sidangnya jam berapa, Na?” Tanya saya dengan nada yang tenang

“Jam 11” Jawabnya singkat. Dia akhirnya berubah

By the way, sampai kemarin siang dia bahkannnnnn tidak tahu jadwal sidang dia sendiri. Kalau tidak aku yang urus dan liatin jadwalnya bisa-bisa dia gagal sidang hari ini.” Dugaan saya ternyata salah. Ina ya Katarina. Tidak pernah berubah.

“ Dua hari kemarin dia sibuk ngurusin saya, Na” Jelas saya dengan nada yang lebih rendah dan sedikit rasa bersalah terselip jauh di dalam hati

“Ya memang tugas dia sebagai pacar seperti itu” Timpalnya dengan intonasi yang lebih tenang. Dia sekan mengobati rasa bersalah saya.

“Aku memang tidak suka sikap dia saat berperan sebagai mahasiswa yang cuek, malas, sok pintar. Tapi kalau aku amati peran dia sebagai pacar, dia tuh cowok banget. Sayangnya aku sudah keburu dibaptis jadi sahabat terbaiknya, kalau enggak dari dulu aku dah kecengin dia. Kamu jagan cemburu ya, Ndu. We’re truly best friend, not more” masih dengan intonasi yang lambat. Saya melihat dia yang sangat berbeda saat menjelaskan sahabat terbaiknya itu. Lebih anggun. Lebih wanita.

“Kalau saya cemburu sama kamu, sudah sejak dulu saya bakal tunjukkin kalau saya benci sama kamu. Kaleb sering bicarain kamu, bagaimana kalian dari awal masa kuliah berjuang bersama sampai sekarang. Saya malah simpati dengan hubungan yang kalian jalani. Susah loh mendapatkan pengalaman menjadi tokoh dalam sebuah kisah persahabatan seperti itu. Kalau kamu mengagumi dia saat berperan sebagai seorang pacar, saya malah mengagumi dia saat dia berperan sebagai seorang sahabat. Dia sahabat yang sangat baik untuk kamu, Na” Terangku panjang lebar. Terlihat Ina menyimpulkan senyum manisnya. Kembali saya tatap seorang wanita anggun sedang duduk di kursi samping ranjang.

“Yup, nampaknya kita mengagumi pria aneh yang sama, hahahaha” mimiknya kembali berubah. Gahar dan cengengesan saat tertawa terbahak.

“Bagaimana kalau suatu hari nanti kamu jatuh cinta pada sosok pria aneh itu?” pertanyaan saya cukup membuat dia berhenti terbahak dan keadaan berubah menjadi sunyi.

“Kalebkah?? Emh tenang ,Ndu, aku gak akan pernah cinta sama dia. Dia terlalu aneh buat aku”

Ya. Terima kasih telah mengatakan itu kepada saya. Setidaknya saya tahu kamu tidak akan bermain peran lain selain sebagai sahabat dia. Saya senang.

#END OF FLASHBACK#


Saya langsung menutup laptop secara paksa, tanpa saya  log out akun social media saya atau shut down laptop terlebih dahulu. Entahlah. Sekarang saya hanya ingin menangis. Berbagai figur wajah Kaleb terbang melayang dalam pikiran. Senyum tulusnya kini membuat saya semakin bersedih dan kalap. Saya tak lagi menemukan ketulusan itu. Saya benci drama. Sungguh.

“Saya menyaayangi Ina lebih dari apapun. Dia sudah saya anggap seperti adik saya sendiri bahkan lebih” Kalimat yang pernah Kaleb cetuskan saat saya mulai cemburu dengan sikap over caring nya pada sahabatnya yang satu itu untuk membuat saya percaya pada dia sekarang seakan menjadi saksi bisu sebuah affair yang basi.

“Ya, kamu menyayangi dia lebih dari sayang seorang kakak terhadap adiknya, kamu menyayangi dia sebagai wanita yang kamu cintai” Pekak saya dalam hati

“Kalebkah?? Emh tenang ,Ndu, aku gak akan pernah cinta sama dia. Dia terlalu aneh buat aku” Itulah pernyataan Ina yang saat ini mendengung dalam telinga.

“Saya meminta kamu untuk merealisasikan apa yang kamu ucapkan, Ina…. Mana semua omongan busukmu itu, manaaaa? “ Saat ini saya ingin berteriak. Dan langitpun seakan mendengar. Terdengar beberapa gemuruh kecil yang bergaung dari langit. Langit seakan mewakili perasaan yang sedang saya derita saat ini. Saya benci sebuah drama. Dan hujanpun turun dengan derasnya dan meminta saya untuk mengalir dalam aliranya. Saya pun menangis. Duka.

***

Pagi memaksa saya untuk kembali bangkit dari buaian kesedihan. Saya tahu bahwa saya terlalu mendramatisir keadaan. Semalaman saya hanya bisa menangisi sesuatu yang tak perlu saya tangisi. Saya pun tak tahu inti masalah yang membuat saya bersedih. Apakah karena Kaleb sudah tidak menganggap saya sebagai wanita terakhirnya? Apakah karena kaleb sudah punya pacar lagi dan melupakan saya? Apakah karena wanita yang ia pacari adalah Katarina yang notabene sahabat dekat Kaleb yang dulu sangat saya percayai?

Kemungkinan pertama dan kedua tak akan terlalu membuat saya terlalu larut dalam kesedihan. Gombalan dia bahwa saya sebagai wanita terakhirnya mungkin terlalu mustahil. Sebagai lelaki normal, suatu saat pasti ia harus menikahi seorang wanita yang ia cintai, kecuali kalau dia trauma dengan makhluk bernama wanita dan merubah orientasi seksualnya. Ya, itu bisa saya terima dan masuk akal meskipun membutuhkan waktu sedikit lama untuk mencernanya. Tapi untuk kemungkinan ketiga, jelas saya kecewa. Semua sanjung puji atas kisah persahaban sejati mereka kini luluh lantak seketika. Saya benci drama. Sungguh. Sejak kapan Katarina atau mungkin Kaleb menyimpan perasaan satu sama lainnya dan menyembunyikannya dari saya? Apa mereka bermain dibelakang saya saat saya dan Kaleb berpacaran? Saya benci menerka-nerka. Cukup.



Saat ini saya berdiri di Bus Stop depan flat dengan muka yang sedikit pucat dan mata yang sembab. Hari ini bisa dipastikan saya akan terlambat masuk ke kelas Mr. Hayes. Tadi saya sudah ketinggalan bis yang lewat Bus Stop ini pada jam 6.40. Sekarang saya harus menunggu bis yang lewat pada jam 7.00, dan perjalanan dari flat ke Bus Loop dekat kampus sekitar  20 menit sedangkan kelas dimulai jam 7 lewat lima menit. Kenapa? Kenapa saya selalu begini. Rindu.

***

“Hai Rindu” suara berat lelaki tiba-tiba memecahkan konsentrasi saya yang sedang terpaku pada buku yang sedang saya baca

“Hai, mas Prabu” jawab saya singkat

“Aku dengar dari Jasmine kalau pagi ini kamu gak masuk kelasnya Mr.Hayes, benarkah?” Tanya dia dengan wajah layaknya seorang polisi yang sedang menginterogasi tahanannya. Saya hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.

“Kenapa? Aku tahu pasti ada apa-apa dengan kamu. Aku kenal kamu sebagai mahasiswi yang menganggap bolos kuliah itu haram hukumnya” lanjutnya menginterogasi.

“Mas, saya belum mengerjakan essai yang harus saya kumpulkan siang ini. Semalam ada pesta ulang tahun teman di flat. Masa saya tidak ikut merayakannya sih mas” sejak kapan saya mulai bisa berbohong dengan lancar. Bermain peran dalam drama yang sebenarnya saya tidak sukai.

“Oh, bagus kalau begitu. Kamu harus mulai membuka diri. Hidup hanya sekali, Ndu. Ya bolehlah kamu sekali-kali berpesta layaknya gadis seusiamu. Asal jangan keterusan ya. Nanti kuliahmu keteteran” Inilah yang saya suka dari sosok mas Prabu. Dia selalu bisa menegur saya dengan caranya yang halus dan tidak menyinggung perasaan, tapi kena. Saya hanya bisa manggut-manggut mendengar petuah-petuahnya.

“Ndu, mas mau bertanya sesuatu ke kamu” lanjutnya sambil membenarkan posisi duduknya

“Bertanya apa mas? Tanya saya sambil menatap wajahnya dengan tatapan sedikit serius

“Kamu kenal Kaleb? Kalau tidak salah nama lengkapnya Kaleb Satriya Putra” Deg. Seketika saya tak bisa bernafas sewajarnya. Ada apa dengan Kaleb? Kenapa mas Prabu menanyakan Kaleb pada saya? Kembali saya menjawabnya hanya dengan anggukan kecil.

“Dia teman kamu ya?” Saya pun kembali mengangguk dan sekali lagi berbohong.

“Mas kenal dia?” saya balik bertanya pada dia.

“Iya Ndu. Kami saling berkenalan di Jambore tahun 2005 di Jambi. Saat itu tendaku dekat dengan tendanya Kaleb. Disana kelompok kami saling membantu. Setelah jambore kami pun tetap berteman di dunia maya untuk sekedar bertanya kabar dan berbagi pengalaman. Waktu itu juga kami sempat bertemu di Bandung. Kalau tidak salah dia kuliah di Universitas Komputer Bandung. Tapi beberapa waktu yang lalu kami sempat lost contact. Eh, tiba-tiba semalam dia mengajak mas chating”

“Chating?” Tanya saya polos dan penasaran

“Ya, dia tidak menyangka kalau sekarang aku pacaran sama kamu, Ndu. Dia ucapkan selamat dan dia bilang bahwa aku memang tidak salah pilih. Kamu wanita hebat katanya, Ndu” Jawabnya antusias

Jadi mas Prabu dan Kaleb berteman? Ada apa dengan semua ini. It’s like a drama. Ini seperti kisah dalam sinetron. Cinta yang saling bertautan. Saya pusing. Saya sungguh tak paham.

“Dari mana kamu kenal Kaleb, Ndu” Saya pun merasa terhenyak dengan pertanyaan mas Prabu yang satu ini. Saya tidak bisa menjawabnya dengan kebohongan lainnya. Cukup.

“Mas, 10 menit lagi saya masuk ke kelas. Saya harus segera print essai ini sebelum saya terlambat dan bolos lagi” Kali ini saya tidak berbohong. Saya hanya ingin melarikan diri dari alur cerita ini. Cerita yang kami buat sendiri. Saya, dia, mantan, dan sahabatnya.

Saya benci drama
Antara kau dan dia
Antara saya dan mereka
Antara dirinya dan saya
Drama yang kami buat dan nikmati bersama

#SONG#
Not Like The Movies – KC Conception

I'm Your Average Dreamer
I'm a True Escapist
Always Expecting a Happy Ending...
Maybe I've been watching
Too many movies
Maybe I Should Grow Up
And Stop Pretending
When I saw your face though
Everything was slow-mo
And I started wondering why...

CHORUS:
Why Can't it be
Just a pathway full of roses
Leading to a sunset view
With the one you've always dream of waits
Why Can't it be
It was like a movie scene the way I fell for you
Only you, didn't fall
Now it's not like the movies at all
Woo... Oh... Ohhh...

Should I kept my heart shut?
Should I've been more patient?
Should I kept an eye on my addiction?
What was I expecting?
Did I have a vision of a scene, that only lives in fiction
Now I know that you are not
Gonna be my co-star
And I start to wonder why...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar