Wahai peran
Apakah saya salah
memaknaimu
Saya hanya berusaha
jujur dalam drama yang akan kau buat
Hingga dia hilang
dalam dekapan
Peran lain yang tak
pernah saya kira
Perubahan seorang protagonis
menjadi lawan yang kekal
Di saat aku tak siap
Saat dimana aku tak
memiliki peran itu lagi
Entah kenapa saya begitu risau setelah menerima pesan itu.
Pesan dari orang yang sudah lama hilang, atau lebih tepatnya sengaja saya
hilangkan dan kubur dalam-dalam. Kadang saya heran dengan diri saya sendiri.
Saya yang menginginkan drama ini berlangsung seperti ini. Sayalah pemeran utama
sekaligus sutradara dari skenario yang saya pegang ini. Entah. Saya hanya tidak
mengerti dengan perasaan yang bertolak belakang dengan skenario yang saya buat
dengan bantuan otak. Manakah yang lebih jujur, hati atau otak yang pintar
merekayasa?
Saya coba untuk menutup mata dan lenyapkan pikiran liar
tentang perhatian dia yang sengaja ia berikan lewat pesan di akun social media saya. Berbagai
pertanyaan muncul saling berkejaran dengan latar belakang wajah manisnya
lengkap dengan senyum lebar hangatnya. Apa yang dia lakukan dua tahun terakhir
ini? Apa dia masih bekerja di tempat yang sama? Apa dia masih ingat saya? Apa dia sudah menemukan
pengganti saya? But wait, he said that I’m the last women in his life, did he
worn out? STOP. Hanya ada satu cara untuk menghentikan keliaran pemikiran ini.
Saya kembali terbangun dan bergegas menuju meja belajar di
sudut kamar. Saya buka laptop putih yang tergeletak manja di meja dengan tangan yang sedikit gemetar; entah karena perasaan yang tak menentu atau karena suhu udara malam ini yang hanya sekitar 11 derajat? Nampaknya musim akan segera berganti dimana semua daun akan
meranggas dan menggugurkan semua yang telah mati. Tapi kenapa saya masih
seperti ini? menahan rasa yang mati ini dengan rapatnya. Kenapa? Beberapa detik
saya mengabaikan niat untuk menghidupkan laptop. Sampai akhirnya saya
meyakinkan diri untuk mengakhiri kepenasaran ini. Ya, apa salahnya jika saya ingin mengetahui
keberadaannya saat ini? Atau memang ini terlalu berlebihan? Toh dia sudah bukan
siapa-siapa lagi buat saya, toh dia mungkin tidak pernah berpikir tentang saya. Tapi saya
sangat ingin tahu. Saya ingin tidur
nyenyak malam ini.
Kini laptop sudah menyala. Koneksi internet pun sudah
tersambung dengan sempurna. Saya masuk ke social
media yang saya tuju. Saya langsung ketik nama dia di kotak pencarian teman.
Kaleb Satriya Putra. Nama itu dengan
fasihnya masih saya ingat. Bahkan ejaan yang agak ganjil di nama tengahnya
masih saya hafal dengan baik. Satriya.
Dulu dia adalah kesatria bagi saya. Hmmmm, cukup.
Seketika saya tercengang saat membuka halaman profil akun social media nya. Dunia seakan berhenti berotasi. Di sisi lain, frekuensi detak jantung tak bisa saya kendalikan saking
cepatnya ia bergetar hebat. Sebutir air mata tiba-tiba menetes dari pinggiran
celah tanpa saya sadari dan kendalikan. Apa yang terjadi dengan hati ini? Apa
saya belum ikhlas menerima keadaan yang sedang saya liat saat ini? Perasaan apa
yang sedang berkecamuk dalam diri ini? Apa ini yang dinamakan patah hati?
Bukan. Ini bukan saat yang tepat untuk patah hati. Ini hal yang wajar. Tak
perlu saya risaukan. Saya hanya sedikit kaget. Benarkah?
Saya pandangi foto profilnya. Dulu, biasanya dia tak pernah
ingin menampilkan sosok dirinya dalam profil social media nya, seringnya dia menggunakan tokoh animasi One Piece kesukaanya. Dulu saya tidak suka dengan
kebiasaannya itu, terlalu kekanank-kanakan. Tapi sekarang, diri saya seakan protes, kenapa dia merubah kebiasaannya selama ini? Bukankah dia selalu
mengikrarkan bahwa dia tidak suka bernarsis ria dalam social media? Kenapa begini? Kenapa tidak begitu? Pertanyaan demi
pertanyaan hilir mudik di kepala. Ya, saat ini yang saya lihat adalah foto
profil dia yang menunjukkan senyum lebar sumringahnya. Tapi bukan itu inti masalahnya. Masalahnya adalah dia tidak
hanya difoto sendiri, di sampingnya ada sosok wanita yang tidak terlalu asing
buat saya. Kenapa harus dia yang ada di fotonya? Saya saja yang dulu pacaran
sama dia tidak pernah menampakkan wujud saya di profil akunnya atau malah
mejeng di foto profilnya. Saya lirik kotak keterangan di bawah foto profilnya untuk
mempertegas dan menjawab kekhawatiran yang muncul.
Kaleb
Satriya Putra
Work at Decade
Health Care
Studied Sistem
Informatika at Universitas Komputer Bandung
In a realationship
with Katarina Anandita
Live in Jakarta
Jadi sekarang dia menjalin hubungan istimewa dengan teman
dekatnya sewaktu kuliah. Katarina Anandita. Ina yang mengaku hanya berperan
sebagai sahabat sejatinya Kaleb.
#FLASHBACK#
Saat ini saya tertidur dalam keadaan lemas. Dengan infusan
yang tertancap di tangan kanan yang membuat saya sedikit susah bergerak. Ini
adalah hari ketiga saya terbaring di kasur rumah sakit. Malam senin kemarin
saya masuk ke rumah sakit setelah dokter di dekat kosan merujuk saya untuk
menjalani rawat inap di rumah sakit karena trombosit saya sudah melampaui batas
normal. Ya, saya didiagnosa terkena gejala demam berdarah. Dua hari kemarin,
Kaleb lah yang setia menemani saya sampai malam. Dia menjaga saya sembari
mempersiapkan sidang kelulusannya yang akan ia jalani hari ini. Saya sudah
memintanya berkali-kali untuk pulang dan menganjurkan dia untuk mempersiapkan
sedangnya sebaik mungkin, tapi dia tetap tak mau meninggalkan saya.
“Kalaupun saya gagal sidang hari kamis besok, kan masih ada
kesempatan sidang bulan depannya lagi, cantik Tapi untuk menemani kamu di
saat-saat seperti ini ya gak akan ada hari gantinya. Saya harus memastikan kamu
baik-baik saja, Rindu. Lagipula saya bisa mempersiapkannya di sini.” Terangnya
sembari menunjukan tumpukan kertas di tangannya.
Saya malah makin semangat. Kan saya sudah bilang bahwa wajah
manis kamu itu selalu memercikan api semangat buat saya. Hehe” lanjutnya
singkat yang diakhiri dengan senyuman hangat nan lebarnya.
“Muka yang sudah beberapa hari ini tidak sempat saya cuci
ya?” Tanya saya sambil terkekeh lemas.
“Emh, kalau baunya sih saya tidak teralalu suka, tapi auranya
masih tetap manis kok, hehehe” kembali ia hanya tersenyum pada saya. Senyuman
yang akan selalu saya rindukan. Tulus.
“Kamu jahat ih” Lanjut saya manja sambil mencubit punggung
tangannya
“Tapi kamu suka kan?”
Kami tersenyum riang. Tak ada suasana resah dan gelisah yang
tersaji di kamar ini. Ya, dialah yang membuat semuanya tersetting seperti ini. dia sutradara terhebat untuk urusan adegan
kegembiraan.
***
“Hai, bagaimana keadaan kamu sekarang?” Tiba-tiba suara
wanita yang tidak lagi asing ditelinga memaksa saya untuk menoleh ke arah
datangnya suara.
“Ina… apa kabarmu?” saya balik bertanya padanya saking kaget
atas kehadiran dia yang tiba-tiba
“Ya jelas aku baik, Ndu. Kamu tuh ya, saya nanya ,kamu malah
balik nanya, pertanyaan yang sama pula, Ndu… Ndu….” Jawabnya sambil membuka
keresek yang ia bawa.
“Ini tujuan aku datang kesini selain untuk nengok kamu aku
juga mau sampaikan amanat tuan Kaleb untuk menyerahkan semangkuk bubur
kesukaannmu. Aku pindahin ke mangkuk ya” jelasnya sambil menuangkan bubur ke
mangkuk.
“Dia minta maaf karena gak bisa jenguk kamu hari ini. Aku
gak pernah liat dia seheboh pagi ini. Untung ada aku yang bisa gantiin posisi
kamu sebagai asisten pribadinya; dari mulai setrikain setelan jasnya sampai
beresin dokumen yang harus ia bawa. Mana dia tahu apa saja yang harus ia bawa
untuk sidang hari ini. Tadi dia malah mau bawa dokumen skripsi doang” Terlihat
dia menghela nafas dan tak lama kemudian dia meneruskan celotehannya
“Masa dia gak mau bawa buku referensi yang nantinya akan
menjadi malaikat penolong dia di ruang sidang dengan alasan ribet. Dasar cowok,
sok simpel hidupnya. Padahal barusan dia
malah yang ribet banget, pake acara ganti dasi tiga kali buat dapetin kesan
Good Looking, bukanya itu ribet ya? Lebih dari ribet bahkan, genit….” Cerocosnya
tanpa henti. Kemudian dia melirik saya yang memandangnya dengan mata yang
melongo bulat.
“Maaf Ndu, aku terlalu nyerocos ya?” Syukurlah kalau kamu
sadar.
“Bukan itu yang menjadi inti masalahnya, Na. Saya sangat
menyesal karena tidak bisa datang membantunya di salah satu momen penting dalam
hidup Kaleb” bisik saya dalam hati.
“Jadwal sidangnya jam berapa, Na?” Tanya saya dengan nada
yang tenang
“Jam 11” Jawabnya singkat. Dia akhirnya berubah
“By the way, sampai kemarin siang dia bahkannnnnn tidak tahu jadwal sidang dia sendiri. Kalau tidak aku
yang urus dan liatin jadwalnya bisa-bisa dia gagal sidang hari ini.” Dugaan
saya ternyata salah. Ina ya Katarina. Tidak pernah berubah.
“ Dua hari kemarin dia sibuk ngurusin saya, Na” Jelas saya
dengan nada yang lebih rendah dan sedikit rasa bersalah terselip jauh di dalam
hati
“Ya memang tugas dia sebagai pacar seperti itu” Timpalnya
dengan intonasi yang lebih tenang. Dia sekan mengobati rasa bersalah saya.
“Aku memang tidak suka sikap dia saat berperan sebagai
mahasiswa yang cuek, malas, sok pintar. Tapi kalau aku amati peran dia sebagai
pacar, dia tuh cowok banget. Sayangnya aku sudah keburu dibaptis jadi sahabat
terbaiknya, kalau enggak dari dulu aku dah kecengin dia. Kamu jagan cemburu ya, Ndu. We’re truly best friend, not more” masih dengan intonasi yang lambat. Saya
melihat dia yang sangat berbeda saat menjelaskan sahabat terbaiknya itu. Lebih anggun.
Lebih wanita.
“Kalau saya cemburu sama kamu, sudah sejak dulu saya bakal
tunjukkin kalau saya benci sama kamu. Kaleb sering bicarain kamu, bagaimana
kalian dari awal masa kuliah berjuang bersama sampai sekarang. Saya malah simpati
dengan hubungan yang kalian jalani. Susah loh mendapatkan pengalaman menjadi
tokoh dalam sebuah kisah persahabatan seperti itu. Kalau kamu mengagumi dia
saat berperan sebagai seorang pacar, saya malah mengagumi dia saat dia berperan
sebagai seorang sahabat. Dia sahabat yang sangat baik untuk kamu, Na” Terangku
panjang lebar. Terlihat Ina menyimpulkan senyum manisnya. Kembali saya tatap
seorang wanita anggun sedang duduk di kursi samping ranjang.
“Yup, nampaknya kita mengagumi pria aneh yang sama, hahahaha”
mimiknya kembali berubah. Gahar dan cengengesan saat tertawa terbahak.
“Bagaimana kalau suatu hari nanti kamu jatuh cinta pada
sosok pria aneh itu?” pertanyaan saya cukup membuat dia berhenti terbahak dan
keadaan berubah menjadi sunyi.
“Kalebkah?? Emh tenang ,Ndu, aku gak akan pernah cinta sama
dia. Dia terlalu aneh buat aku”
Ya. Terima kasih telah mengatakan itu kepada
saya. Setidaknya saya tahu kamu tidak akan bermain peran lain selain sebagai
sahabat dia. Saya senang.
#END OF FLASHBACK#
Saya langsung menutup laptop secara paksa, tanpa saya log out akun social media saya atau shut down laptop terlebih dahulu. Entahlah. Sekarang saya hanya ingin menangis. Berbagai figur
wajah Kaleb terbang melayang dalam pikiran. Senyum tulusnya kini membuat saya
semakin bersedih dan kalap. Saya tak lagi menemukan ketulusan itu. Saya benci
drama. Sungguh.
“Saya menyaayangi Ina lebih dari apapun. Dia sudah saya
anggap seperti adik saya sendiri bahkan lebih” Kalimat yang pernah Kaleb
cetuskan saat saya mulai cemburu dengan sikap over caring nya pada sahabatnya
yang satu itu untuk membuat saya percaya pada dia sekarang seakan menjadi saksi
bisu sebuah affair yang basi.
“Ya, kamu menyayangi dia lebih dari sayang seorang kakak terhadap adiknya, kamu menyayangi dia sebagai wanita yang kamu cintai” Pekak
saya dalam hati
“Kalebkah?? Emh tenang ,Ndu, aku gak akan pernah cinta sama
dia. Dia terlalu aneh buat aku” Itulah pernyataan Ina yang saat ini mendengung
dalam telinga.
“Saya meminta kamu untuk merealisasikan apa yang kamu
ucapkan, Ina…. Mana semua omongan busukmu itu, manaaaa? “ Saat ini saya ingin
berteriak. Dan langitpun seakan mendengar. Terdengar beberapa gemuruh kecil yang
bergaung dari langit. Langit seakan mewakili perasaan yang sedang saya derita saat ini. Saya
benci sebuah drama. Dan hujanpun turun dengan derasnya dan meminta saya untuk
mengalir dalam aliranya. Saya pun menangis. Duka.
***
Pagi memaksa saya untuk kembali bangkit dari buaian
kesedihan. Saya tahu bahwa saya terlalu mendramatisir keadaan. Semalaman saya
hanya bisa menangisi sesuatu yang tak perlu saya tangisi. Saya pun tak tahu inti
masalah yang membuat saya bersedih. Apakah karena Kaleb sudah tidak menganggap
saya sebagai wanita terakhirnya? Apakah karena kaleb sudah punya pacar lagi dan
melupakan saya? Apakah karena wanita yang ia pacari adalah Katarina yang
notabene sahabat dekat Kaleb yang dulu sangat saya percayai?
Kemungkinan pertama dan kedua tak akan terlalu membuat saya
terlalu larut dalam kesedihan. Gombalan dia bahwa saya sebagai wanita
terakhirnya mungkin terlalu mustahil. Sebagai lelaki normal, suatu saat pasti
ia harus menikahi seorang wanita yang ia cintai, kecuali kalau dia trauma dengan
makhluk bernama wanita dan merubah orientasi seksualnya. Ya, itu bisa saya
terima dan masuk akal meskipun membutuhkan waktu sedikit lama untuk
mencernanya. Tapi untuk kemungkinan ketiga, jelas saya kecewa. Semua sanjung
puji atas kisah persahaban sejati mereka kini luluh lantak seketika. Saya benci
drama. Sungguh. Sejak kapan Katarina atau mungkin Kaleb menyimpan perasaan satu
sama lainnya dan menyembunyikannya dari saya? Apa mereka bermain dibelakang saya saat saya dan Kaleb
berpacaran? Saya benci menerka-nerka. Cukup.
Saat ini saya berdiri di Bus Stop
depan flat dengan muka yang sedikit pucat dan
mata yang sembab. Hari ini bisa dipastikan saya akan terlambat masuk ke kelas
Mr. Hayes. Tadi saya sudah ketinggalan bis yang lewat Bus Stop ini pada jam 6.40. Sekarang
saya harus menunggu bis yang lewat pada jam 7.00, dan perjalanan dari flat ke Bus Loop dekat kampus sekitar 20 menit
sedangkan kelas dimulai jam 7 lewat lima menit. Kenapa? Kenapa saya selalu
begini. Rindu.
***
“Hai Rindu” suara berat lelaki tiba-tiba memecahkan
konsentrasi saya yang sedang terpaku pada buku yang sedang saya baca
“Hai, mas Prabu” jawab saya singkat
“Aku dengar dari Jasmine kalau pagi ini kamu gak masuk
kelasnya Mr.Hayes, benarkah?” Tanya dia dengan wajah layaknya seorang polisi
yang sedang menginterogasi tahanannya. Saya hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.
“Kenapa? Aku tahu pasti ada apa-apa dengan kamu. Aku kenal
kamu sebagai mahasiswi yang menganggap bolos kuliah itu haram hukumnya”
lanjutnya menginterogasi.
“Mas, saya belum mengerjakan essai yang harus saya kumpulkan
siang ini. Semalam ada pesta ulang tahun teman di flat. Masa saya tidak ikut
merayakannya sih mas” sejak kapan saya mulai bisa berbohong dengan lancar. Bermain
peran dalam drama yang sebenarnya saya tidak sukai.
“Oh, bagus kalau begitu. Kamu harus mulai membuka diri. Hidup
hanya sekali, Ndu. Ya bolehlah kamu sekali-kali berpesta layaknya gadis
seusiamu. Asal jangan keterusan ya. Nanti kuliahmu keteteran” Inilah yang saya suka dari sosok mas Prabu. Dia selalu bisa menegur saya dengan caranya yang halus
dan tidak menyinggung perasaan, tapi kena. Saya hanya bisa manggut-manggut
mendengar petuah-petuahnya.
“Ndu, mas mau bertanya sesuatu ke kamu” lanjutnya sambil
membenarkan posisi duduknya
“Bertanya apa mas? Tanya saya sambil menatap wajahnya dengan
tatapan sedikit serius
“Kamu kenal Kaleb? Kalau tidak salah nama lengkapnya Kaleb
Satriya Putra” Deg. Seketika saya tak bisa bernafas sewajarnya. Ada apa dengan
Kaleb? Kenapa mas Prabu menanyakan Kaleb pada saya? Kembali saya menjawabnya
hanya dengan anggukan kecil.
“Dia teman kamu ya?” Saya pun kembali mengangguk dan sekali
lagi berbohong.
“Mas kenal dia?” saya balik bertanya pada dia.
“Iya Ndu. Kami saling berkenalan di Jambore tahun 2005 di
Jambi. Saat itu tendaku dekat dengan tendanya Kaleb. Disana kelompok kami
saling membantu. Setelah jambore kami pun tetap berteman di dunia maya untuk
sekedar bertanya kabar dan berbagi pengalaman. Waktu itu juga kami sempat bertemu di Bandung. Kalau
tidak salah dia kuliah di Universitas Komputer Bandung. Tapi beberapa waktu
yang lalu kami sempat lost contact. Eh, tiba-tiba semalam dia mengajak mas
chating”
“Chating?” Tanya saya polos dan penasaran
“Ya, dia tidak menyangka kalau sekarang aku pacaran sama
kamu, Ndu. Dia ucapkan selamat dan dia bilang bahwa aku memang tidak salah
pilih. Kamu wanita hebat katanya, Ndu” Jawabnya antusias
Jadi mas Prabu dan Kaleb berteman? Ada apa dengan semua ini.
It’s like a drama. Ini seperti kisah dalam sinetron. Cinta yang saling
bertautan. Saya pusing. Saya sungguh tak paham.
“Dari mana kamu kenal Kaleb, Ndu” Saya pun merasa terhenyak
dengan pertanyaan mas Prabu yang satu ini. Saya tidak bisa menjawabnya dengan
kebohongan lainnya. Cukup.
“Mas, 10 menit lagi saya masuk ke kelas. Saya harus segera
print essai ini sebelum saya terlambat dan bolos lagi” Kali ini saya tidak
berbohong. Saya hanya ingin melarikan diri dari alur cerita ini. Cerita yang
kami buat sendiri. Saya, dia, mantan, dan sahabatnya.
Saya benci drama
Antara kau dan dia
Antara saya dan mereka
Antara dirinya dan saya
Drama yang kami buat dan nikmati bersama
#SONG#
Not Like The Movies – KC Conception
I'm Your Average Dreamer
I'm a True Escapist
Always Expecting a Happy Ending...
Maybe I've been watching
Too many movies
Maybe I Should Grow Up
And Stop Pretending
When I saw your face though
Everything was slow-mo
And I started wondering why...
CHORUS:
Why Can't it be
Just a pathway full of roses
Leading to a sunset view
With the one you've always dream of waits
Why Can't it be
It was like a movie scene the way I fell for you
Only you, didn't fall
Now it's not like the movies at all
Woo... Oh... Ohhh...
Should I kept my heart shut?
Should I've been more patient?
Should I kept an eye on my addiction?
What was I expecting?
Did I have a vision of a scene, that only lives in fiction
Now I know that you are not
Gonna be my co-star
And I start to wonder why...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar