Minggu, 29 April 2012

Sepucuk Surat Untuk Tuhan




Saya tulis sepucuk surat untuk Tuhan di malam ini, di saat saya merasa begitu dekat dengannya, seperti tidak ada jarak sama sekali. Surat yang seluruh kata-katanya langsung tercurah dari hati yang paling dalam. Kata-kata yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya akan terlontar dari seonggok tubuh yang sedang terkujur kaku saat ini. Kata-kata yang berhasil keluar begitu saja secara refleks, hasil dari kehendak tangan saya yang sepertinya tidak dikendalikan oleh otak saya sendiri. Impuls-impuls kehendak seakan berjalan melalui jalan pintas pendek tanpa diolah di dalam otak dimana tanggapannya langsung dikirim ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor. Hingga saya sangat terkesan pada tulisan saya sendiri sekaligus menyadari bahwa otak saya memang sudah sejak lama tidak berfungsi sempurna lagi. Fungsi otak saya sedikit hancur.

Seminggu yang lalu, saya genap berusia 23 tahun. Usia yang cukup matang untuk menikmati indahnya dunia.  Ya, saat ini saya benar-benar menikmati indahnya dunia. Sebelumnya saya menganggap dunia hanya sebagai sesuatu yang tidak terintegrasi dengan aspek lainnya. Saya menikmati dunia secara egois dan hedonis. Saya mereguk dunia secara liberal tanpa aturan. Saya terlalu menikmati dunia terang-terangan tanpa mengindahkan esensi hidup yang hakiki. Saya terlalu mencintai dunia sehingga beberapa waktu yang lalu saya sangat terpuruk ketika tahu semuanya akan berakhir lebih cepat. Saya sekarang cukup tahu, dunia itu sangat indah dan patut dihargai dengan maksimal dan diisi dengan kabaikan. Bukan sekedar dicintai dan dinikmati. Tuhan menegur saya di saat yang tepat, saat dimana saya hampir melupakan keberadaan-Nya

***

“Hai uda Haryo, apa kabar? by the wayhappy belated birthday ya. Sorry, aku telat mengunjungi kamu. Tadi pagi aku baru nyampe di bandara” suara seorang wanita tiba-tiba memecah lamunan saya, suara yang sangat tidak asing lagi buat saya. Saya pun menolehkan muka perlahan, mencoba untuk melengkapi data supaya saya bisa mengenalinya. Hasilnya? Saya tidak mengenalinya sama sekali. Wanita berambut panjang lurus itu berjalan mendekati saya dengan anggunnya. Dia meletakkan makanan di atas meja dengan anggunnya. Dia kemudian menolehkan mukanya dan melemparkan senyuman kepada saya dengan anggunnya. Dia wanita yang sangat anggun. Dan saya sangat penasaran. Apakah posisi dia dalam masa lalu saya?

“Enak ya kamu sekarang jadi pengangguran, congratulation uda” ucapannya memecahkan momen kekaguman saya terhadapnya. Dia sepertinya tahu betul siapa saya di masa lalu. Masa lalu yang tragis. Masa lalu yang tidak saya ketahui secara pasti.

“Ya beginilah… Sekarang saya baru sadar, tidak punya kerjaan sama sekali itu melelahkan. Lebih lelah dari punya tugas segunung” saya berusaha untuk mengakrabkan diri dengan orang yang tidak saya kenal sama sekali. Saya ingin menghargainya. Menghargai segala sesuatu yag datang dan terjadi. Tidak akan pernah lagi saya sia-siakan apa yang datang dan terjadi, sekecil apapun itu.

“Wessss, si uda ini bijak sekali. Pasti waktu luangnya kau isi dengan belajar ilmu Filsafat ya?” tanyanya dengan sedikit logat melayu.
“Ya, setiap detik saya belajar dari buku yang abstrak tapi super komplit” saya menjawabnya dengan datar.
“Apaan tuh?” Tanyanya antusias
“Sebuah buku yang saya tulis sendiri. Sebuah buku yang kamu tulis sendiri. Sebuah buku yang setiap orang tulis sendiri. Buku kehidupan” jawabku lurus.
“Matilah awak, awak tidak mengerti apa yang uda katakan” jawabnya sambil terbahak. Sikap yang sedikit membuat kekaguman saya akan keanggunannya hilang berganti dengan kehangatan. Ya, dia pribadi yang hangat. Semoga saya tidak salah menilai lagi.
“Oh pantas saja uda keningnya panas, sudah minum obat belum, da?” celetuknya sambil memegang kening saya dengan tangan mungilnya.
“akhir-akhir ini, obat bagi saya seperti oksigen. Sekali saja saya kehilangan keberadaanya dalam tubuh saya, saya hilang kendali…”jawabku lugas sambil memindahkan letak tanganya yang dari tadi memegang kening saya. Tiba-tiba suasana berubah hening dan dingin.
“Kamu lupa aku ya? Kamu gak ingat nama aku kan? Kamu gak ingat panggilan kamu buat aku” Dia menanyakannya dengan terbata. Saya lihat mimik mukanya berubah drastis. Sekarang aura yang dipancarkannya tidak seanggun dan sehangat sebelumnya, lebih dingin.
“Kamu sedih?” Tanya saya lembut
“Enggak uda, aku cuma ingin kamu senang, gak lebih” jawabnya lembut, sedikit terbata. Dia seakan menahan kesedihan yang sangat mendalam.
“Saya tahu tiap orang yang datang melihat saya saat ini, pasti seperti kamu”
“Maksudnya?”
“Datang dengan topeng keceriaan, berusaha menghibur dan membesarkan hati saya, tapi akhirnya topeng itu hancur saat melihat keadaan saya saat ini”
“Uda…bolehkan aku nangis?”
“Tentu….tenang saja cantik, saya tidak akan menjadi lebih sedih melihat orang lain bersedih. Sekarang saya sudah kebal dengan yang namanya kesedihan, tangis, atau air mata. Masa aktif kata-kata itu dalam otak saya sudah lewat”
“Makanya kamu sekarang lucu” timpalnya dengan sedikit tertawa kecut. Tertawa yang aneh. Tertawa yang dihiasi mata yang berkaca-kaca.
“Tiap orang yang datang, baik yang sedikit saya kenali atau yang sama sekali tidak saya kenali, selalu sedih melihat keadaan saya. Mereka sepertinya ketakutan. Mereka takut semua memori saya tentang waktu yang dihabiskan bersama mereka sudah saya lupakan” jelas saya sembari membenarkan latak bantal di kepala. Keadaan seketika hening. Tidak ada tanggapan berarti dari wanita yang berada di hadapanku saat ini. Dia hanya tertunduk. Diam.
“Mereka salah besar. saya mungkin kehilangan memori-memori yang selama ini saya simpan baik-baik di otak saya. Tapi teman bagi saya tidak hanya tinggal di otak. Tapi di sini” tegas saya sambil menggapai tangannya dan menaruhnya di atas dada saya sebelah kiri.
“Kamu merasakannya kan? Jantung saya masih berdetak, itu tandanya, semua orang yang saya cintai masih hidup dalam diri saya, di alam bawah sadar saya. Sekalipun kelak saya mati, saya masih punya cadangan memori akan kalian. Keyakinan kalau kalian orang paling berharga dalam hidup saya. Kamu tahu kan keyakinan gak akan mati? Aku tahu itu dari seseorang, entahlah siapa namanya” terang saya dengan lugas, tapi wanita di samping saya ini masih tertegun dalam keheningannya. Diam.
“Saya dan kalian mungkin akan terpisah jarak yang sangat jauh. Jarak yang beribu kali jauhnya dari jarak antara bulan dan bumi. Tapi kalian hadir dalam keyakinan saya. Dan saya pun akan senang jika kalian mengenang saya selamanya” Saya pandang matanya sangat dalam dan dia tetap diam.

Sampai itulah percakapan kami. Percakapan yang ditutup dengan sikap diamnya. Setelah itu saya lupa kejadian selanjutnya. Yang saya tahu, saat ini saya berada diruangan dengan aroma yang berbeda. Aroma yang lebih bersih dan menenangkan. Saya tidak sedikitpun mencium aroma makanan atau parfum di ruangan ini.

“Tuhan, hal baru apalagi yang akan hamba alami?” saya bertanya dalam hati. Karena saat itu bibir saya tidak bisa lagi saya gerakkan. Mata pun sukar untuk saya belalakkan. Saat ini yang saya punya hanya hati dan imajinasi. Hati yang tetap meyakinkan kalau saya masih dicintai orang yang saya cintai dan imajinasi yang membawa saya ke masa lalu. Satu per satu bongkahan kenangan masa lalu bisa saya rangkai meskipun bentuknya tetap menjadi cerita yang terpecah belah tanpa sekuen yang jelas.

***

“bu, Haryo ingin lanjutin kuliah dulu sebelum kerja” kebiasaan saya untuk memulai sebuah topik di tengah-tengah percakapan. Hari itu hari minggu. Sampai sekarang saya masih mengingatnya dengan jelas. Bahkan aroma gulai yang ibu buat saat itu masih bisa saya ingat sampai sekarang. Saraf olfaktori saya nampaknya menjadi syaraf paling bagus bahkan di saat-saat seperti ini.

“Terserah kamu, Har. Ibu hanya bisa mendukung dan mendoakanmu saja” jawab ibu sambil mengaduk gulai. Satu hal yag saya ingat juga, jika ibu masak gulai maka selama kurang lebih satu jam, kami sekeluarga tidak akan menemukan sosoknya di ruang manapun dalam rumah selain di dapur. Dia selalu ingin memberikan yang terbaik untuk suami dan anaknya. Dan saya sangat mencintai bidadari satu ini.
“Tapi boleh jujur gak, Bu?”
“Jujur apa, Har? Jujur kalau kamu sebenarnya ingin cepat nikah juga?”
“Ibu bercanda mulu nih dari tadi. Dengarkan dulu Haryo bicara, Bu”
“Iya, sebentar ibu matikan dulu kompornya” Ibu mematikan kompornya dan berjalan mendekati saya sambil membawa segelas air putih dan memberikannya pada saya.
“Terima kasih. Ibu tahu aja kalau saya haus” Ya, ibu selalu tahu apa yang saya rasakan. Saya tidak bisa pura-pura tertawa dihadapannya saat saya sedih. Saya tidak bisa menyembunyikan kegembiraan dihadapannya saat saya benar-benar bahagia. Ibu tahu persis kapan saya jatuh cinta meskipun saya tidak pernah menceritakan kalau saya sedang jatuh cinta. Ibu tahu pasti saat saya mendapat nilai ujian yang sangat tidak memuaskan meskipun saya berusaha menutupinya. Memang benar apa yang selalu dia katakan, anak dan ibu itu pernah menjadi satu kesatuan saat janin berada dalam rahim, sempat satu detak, satu aliran darah, satu irama nafas. maka dari itu, ada ikatan batin yang kuat.

“Ibu tahu kan kalau saya sangat ingin melanjutkan pendidikan saya setinggi-tingginya?”
“iya…. terus?”
“Tapi sebenarnya saya juga ingin secepatnya membahagiakan ibu dan ayah. Ibu tahu Kak Anton kan? Betapa menyesalnya dia, disaat dia mulai meniti karirnya, dia sudah ditinggal pergi sama kedua orang tuanya. Saya tidak mau seperti itu, saya mau membuat ibu dan ayah bahagia.”
“Nak, ibu sangat terharu mendengar niat mulia kamu. Tapi kamu harus tahu, kebahagiaan terbesar bagi orang tua adalah melihat anak-anaknya bisa bahagia dalam kehidupannya yang lurus menurut agama dan norma. Seandainya ibu atau ayah meninggalkanmu terlebih dahulu sebelum kamu kerja atau  menikah, percayalah, kami akan tetap senang, karena kamu sesungguhnya hidup abadi dalam keyakinanmu. Kalau kamu sukses dan bahagia, kami sangat senang. Kamu yakin akan hal itu kan?”
“Iya, Bu”
“Bagus. Lanjutkan mimpimu selagi kamu mampu dan kesempatan terbuka lebar untukmu, nak” Terangnya lugas mengakhiri percakapan sambil menepuk punggung saya dengan lembut. Apakah dia juga tahu, saya mungkin akan meninggalkannya terlebih dulu? Tidak, dia tidak tau sejauh itu.

***

“Uda jangan sedih ya. Aku  hanya pergi sementara kok. Lagian jaraknya bukan jarak dari bulan ke bumi. Hanya berbeda zona waktu saja” terang seorang wanita yang duduk dengan anggunnya di sampingku.

Momen ini adalah salah satu momen menyedihkan dan dilematis bagi saya. Menjalin hubungan selama 4 tahun bersama Astri membuat saya sangat sedih ketika tahu bahwa saya harus kehilangan dia secara fisk selama empat tahun. Saya sebenarnya sangat mendukung keputusan dia untuk pergi menuntut ilmu di negeri orang, tapi di satu sisi, kehidupan saya sudah terbiasa didampingi sosok dia yang selalu dekat hingga saya tidak sanggup menerima kenyataan saat saya harus melepasnya sementara waktu. Apa kabar dengan kematian ya?
“Tapi kita tetap terpisah jarak, hon” sanggahku sambil memegang tangannya erat
“Rasakan ini. Masih berdetak kan? Meskipun kita terpisah jarak. Aku akan selalu ada dalam hati kamu uda” jawabnya seraya mengangkat tangan saya dan meletakannya di dada sebelah kiri saya.
Makasih ya honey….love u so much
love you too

Akhirnya dia pun bisa membuat saya tersenyum. Setidaknya dia telah menyadarkan saya bahwa saya harus memanfaatkan sisa waktu ini dengan baik. Besok dia pergi untuk waktu yang lama, masa hari ini saya harus menghabiskan sisa waktu ini dengan kesedihan.
“Hargai sisa waktu yag ada, uda”
Dia pintar membuat saya jatuh ke dalam suasana hangat dan menyenangkan. Dia memang pribadi yang anggun dan hangat yang saya cintai.

***

Saat ini, saya merasa terombang ambing. Entah rasa sakit atau apalah itu namanya yang saya rasakan saat ini. Saya merasakan sesuatu hal dasyat terjadi dalam kekakuan saya.
“Nak, saat ini dan selamanya ibu bangga sama kamu. Kamu tidak usah sedih karena kamu pikir belum sempat membahagiakan ibu dan ayah. Kami sudah sangat bangga dan bersyukur pada Tuhan karena sempat dititipi malaikat kecil seperti kamu, nak”
Itulah kalimat terakhir yang sempat saya dengar sebelum saya ada di sini. Di tempat yang terasa hampa. Saat ini saya sadar bahwa kematian tidak memberikan kesempatan kepada siapa saja menahannya beberapa waktu, untuk membenarkan yang salah, atau sekedar mewujudkan cita-cita dan harapan. Kematian adalah sebuah harga mati.
“Tuhan, hal baru apa lagi yang akan saya alami?”

Nama saya Haryo Pramudya. Saya sudah menghabiskan waktu selama kurang lebih 23 tahun untuk hidup di muka bumi ini. Entah apa saja yang sudah saya lakukan, yang pasti sebagian besar waktu saya pergunakan untuk mengejar dunia tanpa menghiraukan Sang Pemilik Segalanya.

Sekarang status saya lajang dan pengangguran, entah beriman atau tidak, tapi yang pasti saat ini saya menginginkan dekapan Tuhan pada tubuh gontai saya. Yang lebih parah dari semuanya adalah saya sedikit lupa akan masa lalu saya. Saya memang sedikit pelupa. Tapi saya senang karena saya tahu masa lalu saya sangat indah. Hal itu terbukti dari cinta dan perhatian yang ditunjukkan oleh orang-orang yang ada di sekitar saya saat ini; ibu, ayah, serta beberapa orang yang suaranya tak asing lagi bagi saya.

Tuhan …
Malam ini saya ingin berkata jujur pada Mu
Saya ingin hidup lebih lama dari batas waktu yang Engkau takdirkan

Tuhan
Malam ini saya ingin berkata jujur pada Mu
Saya benci penyakit ini, apapun namanya
Saya ingin lebih sehat dari keadaan yang Engkau takdirkan

Tuhan
Malam ini saya ingin berkata jujur
Selama ini saya lebih mencintai kedua orang tua, sahabat, dan dunia lebih dari rasa cinta saya pada Mu, maka ampunilah hamba untuk itu

Tuhan
Malam ini saya ingin berkata jujur bahwa mulai saat ini saya hanya ingin ikhlas menerima takdir Mu dan mencintai Mu sepenuh hati saya
Bukan karena saya akan mati besok atau lusa, tapi karena saya menyadari posisi saya sebagai seorang hamba
Surat Untuk Tuhan

2 komentar:

  1. haha,,,,iya ini cerpen sy setahun yang lalu, pas barusan liat keke...ya sy posting. Judul ma ceritanya ampir mirip y mas....makanya sy posting

    BalasHapus