Pagi ini aku bangun sebagai pecundang. Memandangi atap kamar yang mulai dihinggapi bagunan laba-laba yang rapuh terombang ambing angin. Aku pastikan ini bukanlah pagi layaknya orang bangun dan memulai aktivitasnya. Terik yang menerpa wajahku tak sedingin hembusan udara yang bersinergi dengan sejuknya embun. Aku lupa semua itu. Aku lupa bahwa siang dan malam itu berbeda. Aku lupa siapa aku yang sebelumnya.
***
"Bos manggil kamu tuh" seru orang sedikit berteriak di belakangku. Tak sedikitpun aku hendak menolehkan wajahku untuk sekedar memastikan siapa yang berada di belakangku karena aku sudah bisa memastikan siapa dia. Wanita super cerewet dengan suara cempreng yang selalu ingin tahu urusan orang lain hingga aku berkesimpulan bahwa ia adalah manusia yang diciptakan Tuhan tanpa masalah yang harus ia urusi sendiri. Mustahil. Aku tak suka dan simpati pada kepemimpinan Bu Tuti.
Aku hentikan tarian jariku pada keyboard PC yang tengah aku gumuli. Kepalaku sejenak mendongak kearah jam dinding yang berada tepat di depan mata ku. Jam 15.00. Entah ada apa dengan angka itu hingga membuat keningku berkerut sesaat.
Lima langkah lagi aku sampai tepat di depan pintu ruangan Big Boss. Kantor terlihat sedikit lengang tak seperti biasanya. Mungkin karena hari-hari ini mereka yang ada di sini sedang lemas-lemasnya melewati hari. Terkecuali aku yang masih bisa mematut diri di cermin yang sengaja tergantung di lorong kantor tepat di depan pintu Big Boss. Ya, aku memang ingin terlihat sempurna di hadapan manusia, terutama Big Boss.
"Boleh saya masuk, Pak?" ujarku setelah membuka pintu perlahan.
"Ya, tentu saja" timpalnya
"Silahkan duduk" dengan senyum khasnya dia mempersilahkan aku untuk duduk.
Aku pun duduk dengan manis sambil terus merapihkan rok dan kemeja yang aku pakai. Kemudian aku menatap matanya yang seakan antusias menatapku.
"Selamat!" tiba-tiba dia berdiri dari duduk nyamanya dan menjulurkan tangan kanannya ke hadapanku. Aku pun sontak berdiri dan menangkap tanganya segera sembari menyimpulkan senyuman heran.
"Saya dengar kamu sudah berhasil menyelesaikan program master kamu. Saya turut berbahagia" aku hanya mengangguk kecil dan tersenyum seadanya.
"... Dan satu hal lagi yang membuat saya senang, saya mendapat informasi dari Bu Tuti kalau proposal tender yang kamu buat berhasil. Tadi pagi pihak perusahaan sudah menerima keterangan dari klien untuk dibuatkan iklannya sesegera mungkin" lanjut dia dengan muka yang sumringah. Dan aku pun hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Menangguk dengan frekuensi anggukan yang bertambah dan senyuman yang lebih lebar.
"Saya kagum dengan apa yang telah kamu capai, sangat memuaskan. Di usia mu yang masih muda, kamu membawa dinamika dan suasana yang lebih segar terhadap perusahaan advertising ini. Good job, Girl." Lanjutnya setelah melepaskan cengkraman erat tangannya dan kembali duduk di kursi kebesaran dia.
"Terima kasih, Pak" ucapku singkat sambil kembali duduk. Ya. Bulan lalu Big Boss memberikan kepercayaan kepadaku untuk membuat proposal tender. Dia sudah menyatakan puas terhadap kerjaanku sebelumnya. Dia bilang ide-ideku dalam rapat kreatif selalu membawa angin segar dan muda. Posisiku sebagai tim kreatif memang membuatku merasa nyaman meski kepala divisi kreatif kadang membuatku agak kesal dengan sikapnya yang sok menjadi pemimpin. Dia selalu berdiri di depan dan memberikan komando searah. Tak ada kata pembauran dan kerja sama dalam dirinya.
"Dengan pertimbangan kamu yang sudah menjadi master dan kreativitas tinggi serta sumbangsi kamu terhadap perusahaan ini, nampaknya saya harus segera mempromosikan kamu." Jelasnya singkat dan aku masih hanya bisa tersenyum. Lebih lebar lagi.
"Posisi apa yang sangat kamu inginkan?" Tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan itu. Pertanyaan yang sudah kutunggu-tunggu sejak lama. Pertanyaan yang sedari dulu sudah saya siapkan jawabannya. Saya sudah yakin dengan jawaban itu.
"Saya belum sepenuhnya yakin posisi apa yang sepenuhnya saya inginkan, Pak. Beri saya waktu untuk memikirkannya" aku hanya ingin terlihat biasa. Ya, menciptakan rekayasa dengan cara yang terlihat biasa.
***
Aku berjalan dengan cepat diantara hiruk pikuk orang di suatu senja. Aku sesekali membenarkan letak kacamata hitamku dan diam sejenak melihat pantulan diri di kaca toko. Aku harus tampil sempurna di hadapannya. Di hadapan manusia.
Aku lihat wajah manisnya di pojok sebuah tempat makan. Dia terlihat tampan dengan kemeja putih dan dasi merah mudanya.
"Hai, maaf aku telat. Aku lupa kalau jam 3 aku harus telpon kamu untuk memastikan semuanya" sapaku sambil terengah. Mengumpulkan setiap butir udara untuk menyegarkan kembali otakku.
"Sudahlah, kamu duduk dulu. Aku tidak keberatan untuk menunggu seorang wanita cantik seperti kamu." suara beratnya kembali ku dengar. Suara yang selalu aku rindukan di akhir pekan. Suara yang telah berhasil membuat yang tak benar menjadi benar.
"Bagaimana kabarmu?" tanyanya sambil terus menatapku tajam. Aku memang duduk di hadapanya dimana sepasang mata kami tepat segaris.
"Baik, Mas" aku menjawabnya singkat sembari menyimpulkan senyum kecil. Ya, aku memag tak suka banyak bicara. Orang-orang sering memanggilku dengan sebutan Miss Frozen Flower karena sikapku yang terlihat dingin dan tak acuh. Aku memang dingin tapi semuanya kulakukan hanya untuk menjaga image di hadapan orang lain.
"Aku lagi bete, Mas" keluhku pada pria di hadapanku. Ya, aku sangat senang bermanja-manja di hadapannya. Entahlah. Aku hanya merasa nyaman.
"Tuntutan pekerjaan di kantor dan masalah di rumah seakan-akan gak pernah ada ujungnya. Aku seperti sedang bermain dalam labirin yang sengaja orang buat tanpa pintu keluar" aku tampak rapuh di depannya. Entahlah, aku hanya ingin sosoknya yang kuat menyokongku dan memperlakukanku selayaknya wanita.
"Kamu masih punya mas yang bisa kamu andalkan" jawabnya lugas sembari melemparkan senyum hangatnya.
"Kamu mau pesan makanan dulu atau kita langsung pergi saja?" Tanyanya padaku. Aku langsung beranjak dari tempat dudukku. Dia pun begitu. Berjalan tegap mengikuti derap langkah anggunku. Kami pergi. Ke rumahnya.
***
Malam telah menua saat aku tepat berada di depan pintu sebuah rumah kecil nan sederhana. Aku lihat jam di tanganku menunjukkan angka 11. Waktu yang cukup larut untuk wanita sepertiku kembali pulang ke peraduan. Aku masukkan kunci ke lubangnya perlahan. Memutar daun pintunya lambat. Berharap tak pernah ada bunyi yang timbul akibat gerakannya sampai pintu itu pun terbuka. Dan lampu ruang depan tiba-tiba menyala.
"Kamu mau seperti ini setiap akhir pekan?" Terdengar suara yang tak asing lagi buatku. Alasan kuat kenapa aku sampai bisa menghiraukannya dan terus melangkah masuk.
"Kamu mau kemana?" Pertanyaannya kini membuatku berhenti melangkah.
"Aku kerja seharian dan saat ini aku capek. Aku ingin segera tidur" jawabku dengan nada datar.
"Kamu kerja di kantoran dengan jadwal yang sudah jelas. Jam 8 sampai jam 4 sore. Jikalau ada lembur ya gak setiap hari seperti belakangan ini." tangkasnya sedikit berteriak.
"Di kantor sedang banyak kerjaan, Mas" jelasku masih dengan nada lembut nan datar
"Tadi sore Mas telpon ke kantor, kata orang kantor dari jam 5 sore kamu sudah meninggalkan kantor. Kemana saja kamu selama 6 jam ini? macet? Atau tiba-tiba harus ada meeting dengan klien?" Pernyataan dan pertanyaannya semakin memojokkan posisiku.
"Tumben mas perhatian sama aku seperti ini?" balikku bertanya masih dengan nada biasa
"Kapan mas gak perhatian sama kamu? dan kapan kamu bisa meluangkan waktu untuk memperhatikan aku dan anakmu?" Dia kembali melemparkan pertanyaan. Smash yang dia berikan menukik. Membuatku tak berkutik.
"Benarkan? Aku gak salah ucap? Anakmu tadi siang harus menunggumu di sekolah sampai jam 3 sore. Dia tidak bisa mendapatkan raport nya karena orang tuanya lah yang harus mengambilkan itu untuknya." Dia kembali mengoceh hingga aku tak mampu lagi menelan ludahku bulat-bulat. Aku ingin membuka mulutku.
"Mas sendiri kemana?" tanyaku padanya dengan tatapan tajamku.
"Kamu tidak tahu kan kemana aku seharian ini? aku ditugaskan ke Bandung hari ini. Jam setengah tiga aku baru nyampe rumah dan tiba-tiba ada telpon masuk dari sekolah Anggi. Kamu keterlaluan, Dit" Ia kembali tak memberiku ruang untuk membela diri. Aku hanya bisa duduk di sofa merah tepat di hadapannya. Dengan muka yang sedikit menekuk, aku mengharapkan pengertiannya.
"Kita tidak bisa selamanya seperti ini, Dit" kembali aku hanya mendengar apa yang ia ucapkan.
"Besok aku sama Anggi akan menginap sementara di rumah ibuku" dan kalimat terakhirnya membuatku tak bisa tinggal diam.
"Punya hak apa kamu sampai harus membawa Anggi pergi bersamamu?" tanyaku dengan nada yang mulai meninggi.
"Aku lebih bisa memberikan perhatian pada Anggi dan Anggi butuh peran wanita dalam hidupnya, mungkin ibuku bisa menggantikan posisimu sementara" Jawabnya dengan nada lebih tinggi dari nada bicaraku.
Aku kembali diam dan menekukkan mukaku.
"Ini rumahmu bukan? Aku hanya numpang tinggal di sini. Kalau kamu sudah tidak menganggapku suamimu lagi, tidak ada alasan untukku tetap berada di sini." Aku diam. Aku seperti membenarkan semua yang ia ucapkan. Aku seperti menerima semuanya dengan ikhlas. Aku hanya diam dan menunduk seakan malu pada semua yang telah terjadi. Aku mendengar derap langkahnya meninggalkanku sendiri di sini. Apakah ini akhir dari hidupku?
***
"Kamu wanita picik yang pernah aku temui. Kamu memang terlihat pintar dan sangat manis, tapi sayangnya kamu licik. Aku memang sudah tua dan mungkin inilah saat yang tepat untukku meninggalkan pekerjaan ini tapi ini bukanlah akhir yang aku inginkan. Aku tak sudi karirku dihentikan oleh bisa wanita licik sepertimu" Ocehan wanita dalam telpon yang sedang aku genggam sama sekali tak ku hiraukan. Setidaknya ia tidak bisa lagi mengoceh langsung di depan mukaku. Kini aku sudah menggantikan posisinya sebagai kepala divisi kreatif. Bu Tuti diberhentikan secara mendadak oleh perusahaan. Dan akulah dalang dari semua hal yang terjadi pada dirinya.
***
"Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi atau tekan bintang untuk merekam pesan suara. Tut tut tut tut..." Sudah tiga minggu aku tidak mendapat kabar dan pesan darinya yang selalu aku nantikan. Tidak ada lagi pertemuan singkat di akhir pekan. Dia pergi tanpa permisi. Sudah tak bisa kulihat lagi senyuman hangat dan kudengar suara beratnya. Dia meninggalkanku layaknya sampah.
***
Aku menatap kosong monitor PC yang sedang tidak difungsikan. Aku menatap mukaku yang layu dan basah oleh air mata. Hari ini adalah hari terakhir kantorku beroperasi. Fenomena moneter yang sedang membelenggu bangsa ini berimbas pada kolapsnya perusahaan tempatku berkarya. Aku akan kehilangan apa yang menjadi kebanggaanku selama ini. Aku kehilangan separuh hidupku. Usai.
***
Dengan gontai aku mengendarai mobilku di jalan sebuah perumahan yang sepi. Entah hal apa yang menuntunku sampai tiba di tempat ini. yang jelas aku sudah tidak punya alasan jelas untuk segala sesuatu yang aku lakukan akhir-akhir ini.
Aku memarkir mobilku agak jauh dari tempat tujuanku sebenarnya. Sebuah rumah sederhana yang sebenarnya ingin aku kunjungi. Aku menatap rumah itu dengan seksama. Tiba-tiba ada desiran perasaan yang menuntutku untuk beranjak keluar mobil dan berlari ke rumah itu untuk menemuinya. Ya, aku sangat merindukan Anggi, putri semata wayangku. Aku juga merindukan Mas Priatno, suamiku. Aku butuh dukungan mereka. Aku butuh tawa sumringahnya Anggi. Aku rindu petuah mas Priatno.
Tiba-tiba aku lihat Anggi keluar dari rumah itu. Aku tersenyum bisa melihat mukanya lagi. Dia nampak bahagia. Apakah dia rindu padaku? Entahlah. Terlihat lagi ada dua orang dewasa keluar dari dalam rumah, Mas Pri dan seorang wanita muda yang ia gandeng. Mereka terlihat mesra dengan warna baju yang harmonis. Wanita muda itu menjulurkan tangan pada Anggi dan Anggi pun menangkapnya hangat. Mereka berjalan bertiga menuju mobil Mas Pri. mereka terlihat layaknya keluarga kecil yang bahagia. Inikah akhir hidupku sepenuhnya?
***
"Hai cantik, apa kau masih pantas dipanggil cantik?" aku berbicara pada bayanganku sendiri yang dipantulkan cermin datar kusam di hadapanku.
"Kamu hanyalah manusia biasa yang tidak bisa menggenggam dunia semaumu"
"Kamu tak bisa selamanya bersahabat baik dengan kebohongan"
"Sewaktu-waktu ia akan menarimu erat ke jurang hitam hingga orang lain tak memperdulikanmu, kecantikanmu, kepintaranmu, keanggunanmu. Karena kau telah hitam pekat. Siapa perduli?"
"Bahagia tak bisa terukur dengan uang dan kesuksesan. Matilah kau karena kau sudah tak punya alasan untuk hidup"
"Keluarga, sahabat, karir, dan terlebih kepercayaan. Semuanya telah kau bunuh sendiri. Maka bunuhlah dirimu sendiri agar kau merasa puas dan bebas"
Dan aku pun mati dalam angan yang tak pernah berhasil aku capai. Maafkan mamah, Anggi.
Dan simpul tali itu pun menahan nafasku selamanya.
- Aku adalah singa sirkus yang manis dan pintar, tapi aku tetaplah seekor singa yang punya hati dan insting liar -


Tidak ada komentar:
Posting Komentar