Lautan bintang dan engkaulah bulannya
Puisi hanya bualan diksi
Makna hanya untaian kata
Perlukah ku tulis puisi untukmu ?
Tanpa kata kau bermakna
Tak perlu diksi , kau lebih indah dari puisi
Dirimulah dirimu
Karena aku tak sempatkan kata untuk mengalir dari hulu
Karena aku tak tawarkan rindu bagi bulan untuk bersinar di awal fase
Aku hanya akan menantimu tulus uraikan perasaan
Yang akan aku mengerti hanya jika kau sadar
Bahwa terkadang aku hanya ingin diam
Menikmati setiap buaian dari seoarang penggombal
Sepertimu, ya sepertimu
Dirimulah dirimu
Biarlah dingin yang membuaimu
Aku sudah minta tolong padanya
Diammu mengertiku
Rindumu adaku
Cukup
Dirimulah dirimu
Tapi ia mungkin tak sempat sampai saat surya datang tiba-tiba
Ia akan mengembun di ujung daun
Membuatku lupa akan mu
Pesanmu hilang
Dan takkan ku mengerti
Wujud
Nyata
Bukan sesuatu yang lenyap jika ku raba
Dirimulah dirimu
Rabalah hatiku
Tengok semua sudut hatiku
Aku tak salah menolong
Dingin yang menghangatkanmu
Diam dan rasakan
Dalam dingin ada inginku
Yaaaa
Dirimulah dirimu
Meski aku tak yakin bisa menjangkaunya
Tak bisa lebih dekat
Karena waktu tak terikat ruang
Meski senja liputi malam, jarak tak mungkin bisa menipis dekat
Diam dan rasakan
Dalam sendu ada rinduku
Yaaaa
Dirimulah dirimu
Kau menjawabnya sendiri
Keyakinanmu
Kau menanyakannya sendiri
Keeingintahuanmu
Hingga pada saatnya tiba
Dua ruang itu akan berdampingan dengan kita
Penyakit butuh obat
Pun hidup, butuh sabar ..
Aku akan diam
Tapi hatiku tak akan mendiamkanmu
Kamu
Dirimulah dirimu
Begitu pun aku
Meski diam dalam sendu rindu
Aku akan diam dalam kegundahanku
Akan mu
Yaaaa
Kamu
Dirimulah dirimu
Tenang sajalah
Sang gundah pasti lelah
Si resah pasti kalah
Tunggulah
Akan ada indah
Dirimulah
Dirimulah
Dirimulah dirimu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar