Rabu, 04 Juli 2012

Dirimulah Dirimu




Lautan bintang dan engkaulah bulannya


Puisi hanya bualan diksi
Makna hanya untaian kata
Perlukah ku tulis puisi untukmu ?
Tanpa kata kau bermakna
Tak perlu diksi , kau lebih indah dari puisi
Dirimulah dirimu

Karena aku tak sempatkan kata untuk mengalir dari hulu
Karena aku tak tawarkan rindu bagi bulan untuk bersinar di awal fase
Aku hanya akan menantimu tulus uraikan perasaan
Yang akan aku mengerti hanya jika kau sadar
Bahwa terkadang aku hanya ingin diam
Menikmati setiap buaian dari seoarang penggombal
Sepertimu, ya sepertimu
Dirimulah dirimu

Biarlah dingin yang membuaimu
Aku sudah minta tolong padanya
Diammu mengertiku
Rindumu adaku
Cukup
Dirimulah dirimu

Tapi ia mungkin tak sempat sampai saat surya datang tiba-tiba
Ia akan mengembun di ujung daun
Membuatku lupa akan mu
Pesanmu hilang
Dan takkan ku mengerti
Wujud
Nyata
Bukan sesuatu yang lenyap jika ku raba
Dirimulah dirimu

Rabalah hatiku
Tengok semua sudut hatiku
Aku tak salah menolong
Dingin yang menghangatkanmu
Diam dan rasakan
Dalam dingin ada inginku
Yaaaa
Dirimulah dirimu

Meski aku tak yakin bisa menjangkaunya
Tak bisa lebih dekat
Karena waktu tak terikat ruang
Meski senja liputi malam, jarak tak mungkin bisa menipis dekat
Diam dan rasakan
Dalam sendu ada rinduku
Yaaaa
Dirimulah dirimu

Kau menjawabnya sendiri
Keyakinanmu

Kau menanyakannya sendiri
Keeingintahuanmu

Hingga pada saatnya tiba
Dua ruang itu akan berdampingan dengan kita
Penyakit butuh obat
Pun hidup, butuh sabar ..
Aku akan diam
Tapi hatiku tak akan mendiamkanmu
Kamu
Dirimulah dirimu

Begitu pun aku
Meski diam dalam sendu rindu
Aku akan diam dalam kegundahanku
Akan mu
Yaaaa
Kamu
Dirimulah dirimu

Tenang sajalah
Sang gundah pasti lelah 
Si resah pasti kalah 
Tunggulah 
Akan ada indah 
Dirimulah 
Dirimulah 
Dirimulah dirimu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar