Minggu, 04 Maret 2012

I MISS U (PART: GOODBYE LULLABY)

Terbangun disaat semuanya sedang nyenyak terlelap. Hanya Tuhan dan saya dalam sebuah percakapan hangat. Hamba dan Sang Penguasa. Begitu cintakah hamba padanya? Hingga hamba lupa bahwa seharusnya Kaulah yang hanya bisa membuat hamba gila akan cinta. Bukan dia. Dia hanya mahkluk-Mu, sama seperti saya. Saya terus berdoa sampai pada satu kesimpulan yang mengerucut.

***

Secangkir teh dan semangkuk sereal menemani minggu pagi kali ini. Tidak ada lagi bubur yang saya sukai. Karena tempat jualannya jauh. Berbeda dengan saat itu, saat dimana ia memebelikannya untuk saya saat saya mau. Apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan? Peran apa yang sebenarnya sedang ia mainkan?

Dulu saya soliter. Saat ini saya pun harus bisa.


Usai sudah kegiatan sarapan yang sangat membosankan saat berkas sinar matahari mulai berdifraksi melalui celah jendela. Menciptakan ribuan sumber cahaya baru. Seakan memberikan petunjuk bahwa hari baru sudah dimulai. Jangan terlalu mengenang hari lalumu yang kelam. Biarkan sejenak dia hilang dari tegangnya pikiran dan buatlah dirimu berharga kembali, sama seperti keadaan dimana ia mengejarmu dahulu.

#FLASHBACK#
“Kamu wanita terbaik yang pernah saya temui” serunya di ujung meja, di hadapan saya. Pernyataan yang mungkin membuat sebagian perasaan wanita luluh lantak, tapi terlalu biasa untuk saya. Kalimat yang biasa diobral kaum adam untuk memikat sang hawa. Saya kurang suka barang obral. Terlalu banyak tangan yang menyentuhnya, terlalu banyak wanita yang luluh karenanya. But not me… mau tahu reaksi saya saat mendengarnya? Menatap matanya beberapa detik, menyimpulkan senyum magnet ladam, dan kembali ke kegiatan semula; memakan banana split.

“Kok gak ada tanggapan sih?” terdengar suara pertemuan logam dan keramik saat ia menanyakannya. Ia hentikan kegiatan memotong pizza nya. Nada yang ia keluarkan seakan memaksa. Memaksa saya untuk memberikan tanggapan.

“Oh iya… terima kasih. Tapi jujur ya, kita baru bertemu beberapa jam, masa kamu sudah bisa menjudge kalau saya wanita terbaik sih. Apa kabar dengan banyak wanita lain yang sudah lama kamu kenal kepribadiannya; teman-teman wanita kamu, kakak kamu, atau malah ibu kamu. anehkan? Makanya saya malas menanggapi pernyataan kamu. maaf ya kaleb” jawabku tegas.

“Ya maksud saya, saya suka kepribadianmu, beberapa jam ini saya nyaman bersama kamu” lanjutnya dengan sedikit terbata. Saya tahu saat ini dia sedang memainkan peran apa. Predator yang menunggu mangsanya lengah. But wait? Saya bukan seperti kebanyakan mereka yang lemah, saya tidak akan takluk dengan dia yang hanya mengharapkan saya luluh dengan kata-katanya, saya akan luluh saat ia bisa menunjukansemua apa yang ia katakan dengan sikapnya.

“terima kasih. Saya merasa tersanjung” ya…. saya merasa tersanjung, tapi belum bisa membuat saya terkapar lemas. Jujur belum ada yang bisa membuat saya seperti itu. Kebanyakan pria yang datang menghampiri saya hanya membuat saya tersanjung seketika lalu muntah setelahnya karena terlalu banyak gombal masuk di telinga saya.

“Wahai Rindu, lihatlah dia secara baik-baik. Dia sangat rupawan dengan badan yang ideal. Dengan rambut spike dan aroma tubuh yang kamu suka. Dia pun sangat pintar di bidangnya. Ayolah, buka celah hatimu sedikit untuknya, jangan biarkan dia pergi seperti pria lainnya. Menyerah karena lelah membuatmu terkapar lemas. Atau kamu terus menanti momen terkapar lemas sampai kamu akan benar-benar terkapar selamanya alias mati?” bisik sudut pandang bodoh dalam hati saya.

“No, she’ wrong. U should think thousand times before give your heart to him. Look him personally, don’t just look his appearance. Even maybe he has bright brain, but, does he have a vast heart? Does he have good manner? Does he have good faith? Can he prove every single word with his actions?” bisik sudut pandang pintar dalam hati saya.

Saat ini saya hanya bisa mengalihkan pikiran ke sepiring banana split. Meski makanan itu hampir ludes dan tak tersisa. Lalu apakah yang akan saya jadikan sebagai pelampiasan pengalihan pikiran? Sekilas saya lihat dia sibuk mengobrak-abrik isi tasnya. Apa dia akan mengancam saya dengan pistol yang sedang ia cari dalam tasnya?

“Kemarin saya gak sengaja menemukan buku ini di palasari, bukannya kamu sangat membutuhkannya ya?” seru dia memecahkan kecemasan saya sambil menunjukkan buku itu. Buku Advance Level Physics dari Mr. Nelkon dan Mr. Parker.

I do. Saya sangat membutuhkannya. Proposal tesis saya gak akan matang tanpa referensi ini” jawab saya riang. Terdengar kontras dengan nada bicara yang saya lantunkan beberapa detik sebelumnya.

But wait, kenapa kamu tahu saya sangat membutuhkan buku ini?” Tanya saya dengan mimik curiga.

“saya tiap hari membaca status-status page kamu. saya coba menganalisis segala hal yang terjadi sama kamu. dengan cara itu saya bisa mengetahui keadaan kamu meskipun kamu gak pernah memberi kabar pada saya” jelasnya berbelat belit. Nampaknya ia puas saat melihat muka saya penuh tanya. Akhirnya saya terpancing dengan sikapnya. Setelah beberapa lama saya larut dalam keadaan menikmati banana split.

“saya rasa jawabanmu tadi tidak membrikan informasi sama sekali atas apa yang saya tanyakan. Dan nampaknya buku ini kamu temukan tidak dengan cara ketidasengajaan” Jawab saya, kembali dengan nada datar tapi masih dengan mimik bertanya.

“hari minggu kemarin, selayaknya hari-hari sebelumnya dan sesudahnya saya baca status kamu yang intinya merasa sangat kesulitan mendapatkan buku itu. Sampai kamu bilang mau menikahi seseorang yang membelikannya untukmu. Ya saya kasihan saja, takutnya ada pria lain yang belum tentu cocok untuk kamu membelikan buku itu” jawabnya dengan senyum khas aktor yang berperan antagonis #evilsmile.

“Apa? Apakah saya benar-benar pernah menulis status sebodoh itu. Seputusasa apakah saya saat itu?” Tanya saya sambil melepaskan buku itu dari genggaman. Apakah cerita sangkuriang akan kembali terulang di abad ke-21 ini? Apa yang akan terjadi saat saya menendang buku ini? Apakah akan muncul gunung tangkuban buku? Nampaknya sangat tidak lucu.

Dia tiba-tiba diam. Meneguk kopinya dengan tegukan kemenangan. Saya benci simpul bibirnya saat ia meminum kopi. Seperti menyimpulkan senyuman picik. Saya terjebak dalam lingkaran yang saya buat sendiri. Dia ternyata tak hanya tampan, tapi juga baik hatinya.

“sudah tenang saja. Kamu boleh bawa pulang bukunya cuma-cuma kok. Anggap saja itu sebagai hadiah ulang tahunmu bulan lalu. Dan sebagai ucapan salam kenal saya” jawabnya tenang. Saat ini dia berparas lain. Parasnya sejuk. Sesejuk gelas yag berisi jus tomat yang secara tidak sadar saya pegangi saat ini.

“terima kasih” ya, saya patut mengucapkannya. Satu bulan yang lalu saya belum mengenalnya sama sekali. Tapi dia berusaha tahu keadaan saya sebulan lalu. Dia telah mengenal saya dengan rentan waktu lebih lama dari apa yang saya perkirakan.

“kamu jangan takut saya akan menagih janjimu untuk menikahi saya karena sudah memberimu buku itu. Saya akan sangat senang kalau kamu membacanya. Tapi ingat, Tuhan akan mencatat setiap nadzar hambaNya” paras sejuknya kini kembali terhangati oleh simpul penjahatnya.

“Ya, Tuhan selalu punya rencana indah bukan?” jawabku ketus.

“saya merasa tersanjung hari ini. Bukan hanya dengan kalimat obralan yang kamu ucapkan, terlebih karena sikap kepedulianmu. Tapi maaf, ini belum cukup. Saya butuh lebih. Dan saya tahu kamu bisa. Jangan pergi saat kamu lelah dan menyerah membuat saya terkapar lemas. Saya yakin kamu pasti bisa” bisik saya dalam hati. Entah dari sudut pandang bodoh atau pintar. Saya terkadang lupa akan perbedaan mereka saat saya mulai teracuni virus cinta.

Tapi saya belum mengenalnya terlalu jauh. Masih jauh sekali. Saya pun tak tahu bahwa ia pun akan pergi suatu saat nanti. Saya tidak tahu bahwa akhirnya hubungan kami akan terpisah jarak. Jarak yang pada saat itu saya anggap bukan rintangan yang berarti. Tapi jarak itu juga sangat berarti.
#END OF FLASHBACK#

Saya kembali duduk di pinggir danau itu. Danau tempat kami bercengkrama hampir setiap sore, bahkan ketika hujan sekalipun. Saat gemericik mengganggu ketenangan permukaan danau. Duduk di bangku panjang tepat di bawah dua pohon Angsana yang sangat rindang. Saya berteduh dari kacaunya pikiran. Apakah saya akan terus terlaurt seperti ini? Hubungan jarak jauh itu memang tidak sehat. Itu pandangan saya detik ini. Mungkin saya harus cepat mengakhirinya, meskipun sangat sulit.


“Hai cantik, apa kabar?” terdengar suara yang sangat saya kenal berbisik di belakang punggung saya. Dengan secepat kilat saya menolehkan kepala. Dan betapa kagetnya saya saat itu, saya melihatnya ada begitu dekat dengan saya.

“Kaleb, kamu kok ada di sini?” Tanya saya antusias sembari memegang pergelangan tangan kirinya seakan ingin membuktikan bahwa ini bukan mimpi. Ini nyata bukan virtual. Ya dia ada sekarang di dekat saya. Dengan bau rokok yang menyebar dari mulut dan tubuhnya.

“ini permintaan maaf saya untuk hari kemarin dan hari-hari sebelumnya” dia berjalan berputar dan tiba-tiba berhenti di hadapan saya.

“bolehkah saya duduk?” tanyanya sedikit pelan. Dia duduk perlahan sambil melepas tas ranselnya.

“boleh” jawab saya singkat sembari membantu meletakkan ranselnya. Sejenak dia terdiam. dia terlihat berbeda. Atau karena mungkin kami sudah lama tidak bertemu?

“apa kamu seperti ini tiap sore?” tanyanya pada saya sambil memegang tangan yang bergetar ini. Tahukah kamu, saya sebenarnya menantikan saat-saat ini. Tapi entah kenapa, perasaan itu saat ini seketika hilang. Mungkin semuanya telah termakan rindu yang menggila sebelumnya. Seperi hidup di daerah umbra saat gerhana matahari. Dia tak sehangat dan secerah dahulu.

“kamu tahu apa yang saya rasa bukan?tanya saya dengan nada yang hampir datar. Apa yang akan terjadi pada kami berdua? Apakah kami memiliki pikiran yang sama saat ini?

“ya, karena saya pun merasakannya. Tapi mungkin saya tidak terlalu bisa mengungkapkannya” jawabnya. Saya bosan dengan kata-kata itu. Akankah karakternya tidak bisa ia rubah sedikit demi pacarnya? Hal ini yang membuat saya heran dengan dia. Kenapa dia tega melakukannya hanya dengan tameng alasan yang tidak bisa ia rubah sama sekali.

“konsep hubungan kita sudah melenceng dari tujuan awal. Saya mau hubungan yang bisa meningkatkan motivasi hidup kita masing-masing. Tapi jujur ganteng, saya merasa terbebani. Jarak terlalu berarti untuk saya” saya menjelaskanya sambil terbata. Air mata pun tak terasa jatuh di dari sudut mata. Saat ini saya hancur. Inikah akhir cerita ini?

“iya saya mengerti. Saya pun bergelut dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk dari hubungan semacam ini. Saya kasihan terus menyiksa perasaan kamu” tanggapnya sambil membenarkan letak sandaran kepala saya di bahunya.

“jadi?” Tanya saya sambil terisak.

“kita pikirkan lagi baik-baik konsep hubungan kita. Kalau kita jodoh, tuhan mungkin suatu saat akan mereduksi jarak yang kita alami saat ini” jelasnya sambil mengecup kening saya. Inikah kecupan terakhirnya? Tapi memang inikah yang saya inginkan? Adanya kepastian.

“ya lebih baik memang begitu” jawab saya sembari menyeka butiran-butiran air mata.

“jangan pikirkan saya dulu. Jangan jadi penderita rindu tunggal. Kamu harus kembali konsentrasi mengejar mimpi kamu” dia kembali terlihat hangat. Senyum lebarnya kembali saya lihat.

“baiklah” jawaban getir kembali terlontar dari mulut ini. Ya inilah akhir dari ceritanya. Tidak berakhir dengan bahagia dan suka cita. Tapi ini cukup menyadarkan saya bahwa cinta tak selamanya berujung manis. Cinta kadang terasa pahit dan pada saat itulah cinta akan membuat kita menjadi pribadi yang kuat. Karena saat cinta selalu membuatmu tersanjung, ia akan membuatmu terkapar lemas. Saat dimana saya rasakan akhir-akhir ini. Dan satu pelajaran lain yang harus saya sadari, saya belum mengenalnya lebih dalam, dia terlalu cepat pergi saat rasa ingin tahu saya sedang memuncak. Saya tidak begitu memahaminya dengan benar.

“kenangnlah saya sebagai wanita yang baik” saya meminta dengan sedikit memelas

“Tentu tidak. Kamu tidak akan bisa terkenang, kamu akan selalu ada” jawabnya lirih dan merdu.


#POEM
Danau
Berilah gambaran yang jelas
Tentang hidup dan kisah saya kedepannya
Jika ia jodoh saya
Saya akan senang
Tapi jikalau tidak
Saya bersyukur sempat menjadi bagian hatinya
Membuatkan ia secangkir kopi
Dan membuatnya tetap terjaga
Di jarak yang dekat


@ Kosan, malam hari
Saat ini saya kembali membuka netbook. Melanjutkan perjuangan menyusun tesis yang sesaat sempat terabaikan perasaan. Dan seperti biasa, musik adalah teman yang akan setia menemani saya sepanjang malam, membunuh kesepian.

Saat saya membuka pemutar musik. Lagu itu otomatis terputar. Lagu yang menjadi LULLABY SONG sebulan ini. Lagu yang berhasil membuat saya galau. Dengan sigap saya membuka folder musik. Mengklik lagu lain yang ingin saya putar saat ini. Bukan lagu I MISS U dari Beyonce itu tentunya.

GOODBYE GANTENG…
GOODBYE LULLABY…
I WILL ALWAYS REMEMBER EVERY SINGLE THINGS


#GOODBYE LULLABY – AVRIL LAVIGNE
Tears form behind my eyes
But i do not cry
Counting the days that pass me by

I've been searching deep down in my soul
Words that i'm hearing are starting to get old
I feels like i'm starting all over again
The last three years were just pretend
and i said

Goodbye to you
Goodbye to everything I thought I knew
You were the one I loved
The one thing that I tried to hold on to

I still get lost in your eyes
And it seems that I can't live a day without you
Closing my eyes and you chase my facts away
To a place where I am blinded by the light
But it's not right

And it hurts to want everything and nothing at the same time
I want what's yours and I want what's mine
I want you
But I'm not giving in this time

And when the stars fall
I will lie awake
You're my shooting star

1 komentar: