Mamah…
Kau adalah senja bagi terikku
Kau umpama rumah bagi sesatku
Kau serupa air dalam pekatku
Tiga belas tahun yang lalu daku selalu berada di dekatmu
Masih ingatkah?
Saat daku bangun tidur, siapa gerangan yang daku panggil dan cari?
Engkau mamah…
Tiga belas tahun yang lalu daku tak pernah lepas dari pandanganmu
Kau selalu menemaniku untuk membuat pekerjaan rumah
Tahukah, mah? Engkau motivasi terbesar untukku, hingga aku berkeinginan menjadi orang besar
Aku selalu lihat lelah di kantung matamu
Tapi kau selalu bilang bahwa malam belum terlalu larut
dan tahukah hal apa yang paling daku kenang?
Segelas susu besar yang sengaja kau buatkan dan tak pernah daku habiskan
Mamah…
Engkaulah orang yang selalu menilaiku paling sempurna
Tanpa cela
Kau selalu menceritakannya ke penjuru dunia
Tentang semua yang telah daku perbuat
Lewat senyum bangga yang kentara
Tapi maaf mah,
Tak pernah ada kata sempurna
Tapi apa jawabnya?
“Kaulah satu alasan yang membuat aku hidup
Dan kaulah batasan sempurnaku”
Mamah…
hari ini mungkin kita terpisah jarak beratus kilometer
Tapi tahukah engkau? Hatiku masih terpaut denganmu
Engkau masih tahu apa yang daku rasa saat ini?
Engkau masih merasa ngilu saat daku tersakiti
Engkau masih bisa tersenyum tiba-tiba saat daku bahagia
Engkau masih bisa menangis saat daku menderita
Engkau dan daku masih satu hati
Dan kini daku pun terluka melihatmu
Saat daku masih berdiri dengan satu kaki
Dan engkau menangis seorang diri
Mamah…
Mungkin engkau tak pernah meminta apapun
Tapi daku merasa perlu
Mungkin cintamu tak bisa disamakan dengan cinta roro jongrang yang bisa terbeli dengan seribu candi
Mungkin sayangmu tak bisa sepenuhnya daku tunjukan layaknya Shah Jahan kepada istrinya, Mumtaz Mahal, yang membangunkan empat menara dengan kubah indah di sebuah bukit perdu
Daku hanya anakmu yag kau pandang sempurna
Beri daku waktu untuk membayar sedikit lelahmu
Beri daku kesempatan untuk mengganti setetes keringatmu
Beri daku doa untuk melihat senyum lepasmu
Mamah…
Dede sayang mamah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar