--- Part ini merupakan Pre-Story dari CERITA ILALANG ---
Haruskah aku menari di atas awan agar aku tampak bahagia di depannya? Tidak. Aku masih punya perasaan. Dia sedang bersedih. Dan aku pilu dibuatnya. Entah mengapa, aku dan dia mungkin telah satu jiwa.. aku bisa merasakan apa yang sedang ia rasakan. Tapi aku harap semua ini akan segera berakhir. Aku ingin dia kembali ceria. Karena aku pun ikut terluka karenanya.
“Kita mau kemana? Dari tadi saya tidak tahu harus kemana. Waktu kita terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk berjalan tanpa tujuan.” Aku bertanya padanya seolah ingin segera mendapat kepastian, terlebih jawaban. Dari tadi dia bisu sebisu-bisunya. Aku pun tak bisa berbuat banyak. Dia selalu seperti itu. Susah diterka. Sulit dikendalikan. Sukar dipahami.
“Aku ingat pertama kali kita bertemu. Saat dimana siang sedang gelap. Gerhana matahari total membuat kita sedikit buta. Tertawa lepas layaknya orang gila. Padahal saat itu aku belum tahu siapa nama kamu. tapi kamu hangat. Membimbingku untuk melihat semuanya dengan benar. Bagaimana kabar teropong tua itu?” aku berusaha untuk mencairkan suasana disaat semuanya seketika mengkristal lalu lenyap dalam proses sublimasi. Dia masih tetap diam. Terkurung dalam ruanganya sendiri. Duduk tegak sembari sesekali membenarkan letak kaca mata hitamnya. Aku benci dengan apa yang ia kenakan. Kaca mata itu menutup semuanya. Hingga aku tak sempat membaca semuanya dengan jelas. Seberapa dalamkah ia larut dalam kesedihan?
Minggu lalu ia sempat mengirim pesan singkat padaku. Ia bilang bahwa ia telah gagal. Hanya itu. Saya berusaha bertanya padanya tentang apa yang sebenarnya terjadi? Tak ada balasan. Aku pun berusaha menemuinya. Tapi tak pernah ada pertemuan. Sampai ia mengajakku untuk pergi ke suatu tempat hari ini. Suatu tempat yang tak aku ketahui sama sekali.
“apa kamu akan tetap seperti ini? Membiarkan aku berbicara sendiri layaknya orang gila. Aku benar-benar tidak tahu kita harus kemana.” Seruku padanya dengan nada yang sedikit berteriak tapi masih tertahan. Sedikit demi sedikit ia membuka kaca matanya. Dan akhirnya aku bisa sedikit tahu tentang seberapa dalam ia terluka.
Saat ini dia sedang terluka. Begitulah kesimpulan sementaraku.
“Aku ingin kita pergi ke tempat yang sepi. Aku ingin harmonis dengan alam. Aku ingin benar-benar merasa sendiri. Memikirkan segalanya dengan matang. Memahami takdir dengan hati lapang dan bijak. Aku ingin sedikit berduka.” Jelasnya terbata dan lirih. Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Apakah dia serapuh itu? Sebetulnya aku tak yakin. Tapi kantung mata yang begitu tebal itu sudah mematahkan keyakinanku itu. Ia benar-benar sedang lemah.
“Kalau boleh tau, kamu sedang berduka untuk apa? Dan apakah ini ada sangkutanya dengan pesan singkat terakhirmu minggu lalu?” rentetan pertanyaan aku utarakan seakan tak mau kehilangan kesempatan saat ia mulai berani membuka suara. Tapi apa yang aku dapatkan. Dia tiba-tiba menangis sejadi-jadinya hingga aku terpaksa menghentikan kemudiku. Dia butuh pelukan. Aku peluk dia erat. Dan dia bergetar hebat. Dia benar-benar menangis. Tapi aku masih heran, masalah sebesar apa yang sebenarnya sedang ia alami?
Aku tak akan memaksanya untuk bicara lagi. Saat ini yang ia perlukan hanyalah menangis. Mungkin dengan menangis bisa membuatnya sedikit tenang. Aku tak mau membuat suasana hatinya menjadi lebih keruh. Saat ini aku hanya ingin dia merasa nyaman dalam pelukan. Dan lebih dari itu, dia harus tahu bahwa dia tak akan melewati masalahnya seorang diri.
Di luar langit begitu terang benderang. Matahari begitu terik membakar gahar tanah yang mulai kering dan terbelah. Sebuah personifikasi dari keringnya petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku benci keadaan ini. Keadaan dimana aku merasa tak berguna sama sekali. Hanya bisa menjadi seorang penonton dari sebuah drama kesedihan yang sedang ia pertontonkan dihadapanku.
“Kita keluar saja dari mobil ya. Nampaknya tempat ini sesuai dengan apa yang kamu harapkan.” Aku lepaskan pelukanku sembari melihat ke sekitar. Memandangi padang ilalalng yang begitu luas terhampar. Menyaksikan mereka yang tertiup angin dan berusaha untuk terbang.
“Bolehkah aku minta satu hal?” tanyanya lirih. Masih terdengar terbata. Suara isak pun tak lepas dari tangkapan syaraf pendengaranku. Aku jawab pertanyaannya hanya dengan sebuah anggukan kecil serta simpulan senyum. Tanda bahwa saya sangat ingin mendengarkannya dan melakukan apa yang ia minta.
“tinggalkan aku sendiri di sini. Aku ingin melewatinya sendiri. Biarkan hanya angin yang mendengar apa yang akan aku utarakan.” Pintanya sambil menggenggam tanganku. Permintaan yang membuatku tampak bodoh. Teman macam apa yang tega meninggalkan seseorang yang dia sayangi sendiri di saat terberat seperti ini. Tapi dia yang memintaku. Orang yang paling aku sayangi memintaku untuk pergi saat ini juga.
“Iya, aku akan pergi. Tapi aku ingin memastikan dulu kalau kamu baik-baik saja. Izinkan aku untuk memilihkan tempat yang tepat untukmu.” Ucapku sambil membuka pintu mobil. Dia pun mengikuti apa yang aku lakukan. Pertanda bahwa ia mengizinkan aku untuk memastikanya baik-baik saja.
Lama sekali dia turun dari mobil tuaku. Dia sangat terlihat lelah. Gontai. Aku ingin sekali merengkuhnya. Menegakkan tulang belakangnya. Aku benci saat ia tertunduk. Dia tak pernah seperti ini sebelumnya. Ia adalah orang paling optimis yang pernah aku kenal. Kenapa ia jadi seperti ini?
“Ini padang ilalang yang selalu aku impikan. Sunyi dan tentram. Aku mungkin bisa teriak kencang di sini. Tak akan ada gema atau gaung yang memantulkan perasaan gusar yang sedang aku rasakan. Ya, aku benar-benar ingin sendiri saja. Bisakan?” apa yang ia katakan barusan sekan menegaskan kembali bahwa ia benar-benar ingin sendiri.
“Aku ingin berbagi pandangan. Agar kamu memiliki penguatan pendapat. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa mendengarkan pendapat orang lain itu bisa sedikit mengurangi beban. jangan terlalu soliter di saat-saat seperti ini.”
Aku duduk di sampingnya. Di samping orang yang saat ini sedang diam dan tak mau bicara. Ia seakan ingin membuatku bosan lalu pergi meninggalkannya.
Kami tak bicara apapun untuk beberapa saat. Hanya mendengar bunyi riang gesekan kelompok ilalang. Dan memandang capung merah yang bertebaran di mana-mana. Indah dan syahdu.

siip
BalasHapus