Malam. Daku menguntitmu dari belakang. Langkahmu adalah langkahku. Tapi tatapmu adalah haramku. Daku tak mau engkau kecewa. Hingga kau berpaling muka. Daku cukup menunggumu di balik pintu. Dan saat kau melihatku. Daku hanya bisa tertawa miris. Kau pun begitu. Wahai malam, cukupkah sejauh ini?
Daku enggan melihatmu pekat
Tapi kamu selalu sempat untuk terlibat
Dekat dan lekat
Seperti angka tiga dengan empat
Setelahku, pasti kamu, tepat.
Daku enggan menatapmu pilu
Tapi kamu selalu membuat daku merindu
Sendu meski tabu
Sejauh angka satu dengan seribu
Menjangkaumu berarti menunggu, ragu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar