Seorang gadis duduk bersila di atas kasur. Mukanya menekuk,
murung. Riasan sisa semalam masih tercetak jelas di paras ayunya. Eyeliner seperti luntur dari kedua bola
matanya. Menangis? Entahlah. Saat ini ia hanya terlihat diam dan kaku sampai ia
mendengar nada pesan masuk berbunyi dari ponsel yang ia sedang genggam. Terlihat
ia mengotak-ngatik ponselnya itu dengan tergesa. Sesaat kemudian, ia tersenyum.
Manja.
“Maafkan semalam”
**
Rumah sepi. Padahal harusnya hari ini sudah ramai. Dua manusia
renta sedang duduk di kursi sudut di ruang tamu. Mereka berdua duduk sambil
nonton tv. Menunggu adzan ashar. Dan di luar hujan besar. Mereka sudah putus
harapan. Janji mereka akan datang kemarin, tapi hanya bualan. Tak ada
kedatangan, pun kabar. Meski kesal, tapi jauh di dalam lubuk hati mereka, ada
kata mengerti. Mungkin ada sesuatu yang menghalangi. Biarlah mereka kesepian
dalam hingar bingar. Meski tak dapat dipungkiri, mereka enggan bertemu malam. Saat
dimana gema takbir berkumadang. Saat dimana mereka akan menangis getir tak
terelakkan.
Adzan ashar pun datang. Hampir bersamaan dengan bunyi
ketukan pintu yang nampak riang. Sang istri bergegas menarik pintu, dan ia
langsung tersenyum lebar.
“Kek, Cucu kita datang” Teriaknya sambil langsung menyambut
anak dan dua cucunya.
“Maaf, Bu. Kemarin Ari mendapat tugas mendadak” Sang anak
berkata pelan sambil mencium tangan ibunya.
Dan rumah pun ramai.
**
“Lo gak sadar, kata-kata lo itu dah nyakitin hati gue”
Bentak seseorang di ujung telpon
“Maks...” Berusaha menjawab, dan terhenti.
“Diam Lo. Lo gak ada hak sedikit pun untuk ikut campur sama
masalah Gue dengan doi. Doi bingung, siapa Lo” Seseorang berusaha untuk
mendominasi percakapan.
“Tap....” Lagi-lagi terhenti.
“Sudah... Jangan banyak alasan. Gue sudah muak dengan semua
kenaifan Lo” Seseorang nampak marah sangat besar.
“Ma...” Kembali terhenti.
Klik.... Tut tut tut...
“Aku cuma ingin minta maaf” gumamnya dalam hati.
**
Rebun-rebun subuh di sebuah pasar yang sudah sibuk dengan
hiruk pikuk kegilaan manusia, terlihat sosok anak kecil usia sekitar lima tahun
yang tak kalah sibuk. Dia menyusun ikatan-ikatan anyaman daun kelapa muda yang
sudah ayahnya buatkan kemarin. Tiga subuh terakhir ini mereka berdua lebih
sibuk daripada subuh-subuh sebelumnya. Ini adalah subuh dimana mereka
mengharapkan rejeki lebih dari biasanya. Susi, nama bocah tersebut,
mengharapkan supaya esok hari ia bisa makan enak. Tapi harapan Pak Mahmud, Ayah
Susi, adalah agar anak perempuan satu-satunya itu bisa merasakan betapa
spesialnya hari esok yang akan mereka jelang.
Susi duduk di samping Ayahnya yang sedang sibuk menganyam
helai demi helai daun kelapa yang masih muda menjadi bentuk kotak, ketupat.
Dengan mata polosnya yang masih terlihat mengantuk ia menatap setiap kaki
pengunjung yang lewat di hadapannya. Berharap kaki-kaki itu berhenti tepat di
hadapannya dan membeli minimal satu ikat barang jualannya. Tapi hari yang
seharusnya jadi puncak penjualan bungkus ketupat-ketupatnya menjadi mimpi
buruk. Hampir di sepanjang jalan penuh dengan orang yang menjajakan bungkus
ketupat. Susi sedikit kecewa.
Kekecewaan yang lebih besar tampak di muka sang ayah. Ia paham
betul berapa rupiah yang akan ia peroleh sedandainya keadaan memang seperti
ini. Padahal hari ini ia mengharapkan dewi keberuntungan benar-benar datang di
tengan kesusahan mereka. Esok pagi ia ingin membuat anaknya merasa spesial di
hari yang memang spesial. Tapi....
Hari menua dan keduanya pulang ke rumah mereka tercinta.
Sang ayah terlihat murung. Matanya menukik. Ia sadar ia tak akan mampu
mewujudkan apa yang ia inginkan. Berbeda dengan anaknya yang kurang paham dengan
apa yang sebenarnya ia inginkan. Ia tersenyum-senyum bahagia saat ibunya
menyambut kedatangan mereka dengan senyum yang amat lebar.
“Bu, ini sisa jualannya. Masih banyak bu” Ujar Susi pada
ibunya. Ia menyerahkan satu keranjang bungkus ketupat pada ibunya.
“Gak apa-apa, Nak. Dengan ini kita bisa buat ketupat yang
banyak untuk lebaran besok. Kamu bisa makan enak sepuasnya” Jawab sang ibu
lembut.
“Asik....” Susi kegirangan sambil berlari ke dalam rumah.
Sang ibu melihat suaminya yang terduduk lesu di bangku depan rumah.
“Ayah kenapa?” Tanya sang istri
“Maaf, Bu. Ayah tidak bisa membelikan Susi baju lebaran.
Uangnya tidak cukup” Ungkap Pak Mahmud lesu.
“Gak apa-apa, Yah. Susi pasti mengerti” Jawab sang istri
sambil tak henti-hentinya tersenyum manis

Sweet :)
BalasHapus