Kamu tak pernah mengenal arti sebuah malam yang telah larut.
Bagimu petang, malam, dan dini hari adalah sebuah paket sekali pesan. Tak ada
bedanya. Tak terkecuali dini hari ini. Jam 2 pagi. Aku seolah masih mendengar
bunyi ketikan keyboard dan kerasnya
putaran kipas di komputer jinjingmu. Kamu masih terjaga dengan semua algoritma
yang terangkai dengan jelas di pola pikirmu. Aku kagum padamu. Selalu. Sama persis
saat aku pertama kali berjumpa denganmu. Sosok nan sederhana yang sedang
bergelut dengan masa depannya. Tak pernah ada kata tidak mungkin di pelipis
matamu. Yang ada hanya rangkaian kata optimis. Dan saat itu memang sedang
gerimis. Kamu berjalan sangat rapat, setengah berlari. Menemuiku dan bertanya
segala hal. Kamu punya janji wawancara. Dan aku punya jadwalnya. Kamu
tersenyum, dan aku membalasnya mesra. Dan aku memiliki itu saat ini, senyuman
mesra sepanjang masa. Meskipun....
Kamu tak pernah mengenal arti sebuah malam yang telah larut.
Karena kamu tahu betul bagaimana cara mengelabui pola dan kebiasaan sebongkah tubuh.
Dia lelah maka butuh penyegar, katamu. Dulu. Aku hanya mengangguk dan bergegas
pergi ke dapur. Aku buatkan secangkir kopi yang biasanya kamu sendiri yang
buat. Sebuah kertas kecil di atas toples kopi tertempel dengan jelas,
sebelumnya tak pernah aku hiraukan. Isinya sebuah resep kopi kesukaanmu,
tampaknya. Empat sendok makan penuh menggunung kopi, dan setengah sendok makan
gula pasir. Pahit. Tapi itu kenikmatannya, katamu.
Hampir tiap malam kamu bergelut dengan pekerjaan, dan tak lupa
ditemai segelas kopi pahitmu. Dan aku hanya bisa menatap punggung lebarmu dalam
beratnya katung mata yang seakan membatu baja. Hampir satu jam sekali aku
terjaga. Melihat kamu hilir mudik pergi ke dapur dan kembali lagi ke kamar
dengan cangkir penuh dengan cairan kental berwarna hitam. Terus dan terus. Berulang
hingga semuanya aku biarkan. Itulah hidupnya. Hidup yang akan selalu aku
kenang.
Kenangan adalah obat gratis penawar rasa rindu yang tak
mungkin disembuhkan. Kamu telah pergi lama sekali. Dokter memvonismu terkena
penyakit karena sering begadang. Fungsi hatimu telah jauh dari kata normal. Andai
saja saat itu aku tak pernah membiarkanmu larut dalam kesibukan dan tenggelam
dalam kepahitan kopi hitammu, semuanya mesti tak begini. Sunyi kembali.
Aku terjaga. Duduk seorang diri menatap bangku kosong
tempatmu dulu bekerja hingga pagi. Kulihat desktop komputer jinjingmu yang
sepertinya sudah pensiun lama dari kejauhan. Dan ku tatap dengan lekat sebuah
cangkir kopi pahit, yang sebulan lalu aku buat saat kau tiba-tiba terbujur kaku
di atas lantai, yang tampak telah mendingin bak mayat. Sepertiku saat ini yang
kembali hidup sendiri. Tanpamu.
“Aku tak perlu menemukan manisnya hidup dalam secangkir kopi
yang aku suka. Karena aku telah menemukannya dalam senyummu” Ujarmu halus saat
aku mulai cemburu dengan minuman kopi, teman setiamu. Dulu.
.jpg)
serem gitu...
BalasHapus