Jumat, 30 Agustus 2013

Kamu dan Secangkir Kopi



Kamu tak pernah mengenal arti sebuah malam yang telah larut. Bagimu petang, malam, dan dini hari adalah sebuah paket sekali pesan. Tak ada bedanya. Tak terkecuali dini hari ini. Jam 2 pagi. Aku seolah masih mendengar bunyi ketikan keyboard dan kerasnya putaran kipas di komputer jinjingmu. Kamu masih terjaga dengan semua algoritma yang terangkai dengan jelas di pola pikirmu. Aku kagum padamu. Selalu. Sama persis saat aku pertama kali berjumpa denganmu. Sosok nan sederhana yang sedang bergelut dengan masa depannya. Tak pernah ada kata tidak mungkin di pelipis matamu. Yang ada hanya rangkaian kata optimis. Dan saat itu memang sedang gerimis. Kamu berjalan sangat rapat, setengah berlari. Menemuiku dan bertanya segala hal. Kamu punya janji wawancara. Dan aku punya jadwalnya. Kamu tersenyum, dan aku membalasnya mesra. Dan aku memiliki itu saat ini, senyuman mesra sepanjang masa. Meskipun....

Kamu tak pernah mengenal arti sebuah malam yang telah larut. Karena kamu tahu betul bagaimana cara mengelabui pola dan kebiasaan sebongkah tubuh. Dia lelah maka butuh penyegar, katamu. Dulu. Aku hanya mengangguk dan bergegas pergi ke dapur. Aku buatkan secangkir kopi yang biasanya kamu sendiri yang buat. Sebuah kertas kecil di atas toples kopi tertempel dengan jelas, sebelumnya tak pernah aku hiraukan. Isinya sebuah resep kopi kesukaanmu, tampaknya. Empat sendok makan penuh menggunung kopi, dan setengah sendok makan gula pasir. Pahit. Tapi itu kenikmatannya, katamu.

Hampir tiap malam kamu bergelut dengan pekerjaan, dan tak lupa ditemai segelas kopi pahitmu. Dan aku hanya bisa menatap punggung lebarmu dalam beratnya katung mata yang seakan membatu baja. Hampir satu jam sekali aku terjaga. Melihat kamu hilir mudik pergi ke dapur dan kembali lagi ke kamar dengan cangkir penuh dengan cairan kental berwarna hitam. Terus dan terus. Berulang hingga semuanya aku biarkan. Itulah hidupnya. Hidup yang akan selalu aku kenang.

Kenangan adalah obat gratis penawar rasa rindu yang tak mungkin disembuhkan. Kamu telah pergi lama sekali. Dokter memvonismu terkena penyakit karena sering begadang. Fungsi hatimu telah jauh dari kata normal. Andai saja saat itu aku tak pernah membiarkanmu larut dalam kesibukan dan tenggelam dalam kepahitan kopi hitammu, semuanya mesti tak begini. Sunyi kembali.

Aku terjaga. Duduk seorang diri menatap bangku kosong tempatmu dulu bekerja hingga pagi. Kulihat desktop komputer jinjingmu yang sepertinya sudah pensiun lama dari kejauhan. Dan ku tatap dengan lekat sebuah cangkir kopi pahit, yang sebulan lalu aku buat saat kau tiba-tiba terbujur kaku di atas lantai, yang tampak telah mendingin bak mayat. Sepertiku saat ini yang kembali hidup sendiri. Tanpamu.


“Aku tak perlu menemukan manisnya hidup dalam secangkir kopi yang aku suka. Karena aku telah menemukannya dalam senyummu” Ujarmu halus saat aku mulai cemburu dengan minuman kopi, teman setiamu. Dulu.

1 komentar: