Malam ini ramai. Meski hujan rintik-rintik melanda tak
terkira. Dari pagi buta sampai malam selarut ini. Jam 9. Bagi Ranu jam 9 sudah
terasa sangat malam. Dunia, baginya, hanya berlaku sampai jam 10 malam. Itu artinya
ia hanya memiliki sisa waktu untuk berkeliaran di luar sekitar satu jam.
Ranu duduk di ujung sebuah warung di sisi tebing. Warung
yang sangat ramai dipadati puluhan muda mudi yang sedang menginginkan suasana
berbeda. Kesan romantis di kota Bandung dengan sudut pandang berbeda, tajuk berbeda.
Melihat gemerlap lampu yang tampak bak
kunang-kunang yang riang. Kelap-kelip dari kejauhan, Ilusi optik karena adanya
perubahan suhu atmosfer sekitar.
Hidup itu ilusi bukan? Tujuannya tak bisa diketahui pasti. Pun jalannya
tak bisa dipijak kaki. Semuanya hanya berkutat dengan takdir yang Maha
Terkunci.
“Dingin banget, enaknya makan ini” Sosok pria datang menghampiri
Ranu dengan membawa dua buah jagung bakar.
“Malam ini akan jadi sempurna dengan ini” Pria itu duduk
bersila di samping Ranu. Memberikan satu buah jagung bakar padanya. Ranu hanya
tersenyum. Tak ada ucapan terima kasih atau kesan berlebih. Tapi sang pria
tampak tahu betul apa maksud senyuman Ranu. Meski Ranu baru ia kenal sepuluh
jam yang lalu.
“Kamu sering membawa orang spesial ke tempat ini ya?” Tanya
Ranu setelah ia menyelesaikan gigitan pertama pada jagung bakarnya. Lidahnya
seperti terbakar. Jagungnya memang masih terlalu panas untuk dinikmati. Ranu
hanya antusias. Sambil menatap wajah pria di sampingnya. Malam memang sempurna
baginya.
“Orang yang benar-benar spesial sih belum. Tapi saya sering
kesini bersama teman-teman kerja” Jawab pria itu sambil membenarkan letak
kacamatanya. Kemudian sang pria sibuk meniup-niup jagung bakarnya tanpa
membalas tatapan Ranu.
“Berarti baru aku?” tanya Ranu. Tetap dengan muka
antusiasnya.
“Tepat sekali. Kamu adalah orang spesial pertama yang aku
ajak kesini” Ujar sang pria. Sambil melengkungkan senyum di bibirnya. Terlihat lesung
pipit cukup dalam yang terbentuk. Ranu terkesan dengan lesung pipit pria itu. Ia
baru sadar kalau pria itu memiliki lesung pipit yang dalam. Manis.
“Dari berapa ratus orang spesial?” Ranu kembali bertanya
dengan sedikit nada interogasi. Dia menatap sepotong wajah samping kiri pria itu
dengan tajam. Sang pria pun akhirnya menoleh. Tak ada jawaban. Sang pria hanya
tersenyum lebar dengan lesung pipit yang semakin dalam. Tamatlah. Memang tak
akan pernah ada jawaban. Dan Ranu pun mengerti. Tak akan pernah ada jawaban
untuk pertanyaan semacam itu. Pria tak pernah mau menjawabnya. Meskipun ia
mengaku dirinya jantan.
“Aku cuma punya
waktu 30 menit dari sekarang. Jam 10 kurang kita harus segera pergi dari sini”
Lanjut Ranu. Ia tak ingin terjebak dalam topik yang akan membuatnya bingung
sendiri karena tak akan pernah mendapatkan jawaban. Ia hanya ingin merasa yakin
jika ia akan sampai rumah tepat jam 10 malam.
“Iya. Tenang. Saya pria yang cukup bertanggung jawab kok”
Tegas si pria sembari kembali mengalihkan pandangan ke pemandangan kota. Tak ada
lagi senyum terkembang.
“Lalu?” tanya Ranu. Singkat.
“Baiklah, saya akan menjelaskan aturan mainnya” Tangan sang
pria kemudian merangkul punggung tangan Ranu. Meremasnya seakan meyakinkan. Ranu
pun pada akhirnya merasa diyakinkan. Ia hanya mengangguk-angguk di setiap akhir
kalimat yang diutarakan sang pria. Sebuah perjanjian setan di malam dengan
rintik yang meradang. Hujan membesar.
Bumi terbakar hebat. Itu alasan kenapa hujan lalu turun. Langit merasa
berdosa pada bumi. Itu saja alasannya.
**
Saat ini, malam terasa tak bertuhan. Gelap gulita ditengah gemerlap cahaya yang menyuguhkan keduniawian. Dua anak manusia terlihat
menembus kemacetan jalanan jam 10 malam. Abe tampak tergesa-gesa mengendalikan
si roda dua. Entah apa yang sedang ada di pikirannya. Mungkin Ranu yang sedang duduk
dibelakangnya adalah alasan paling tepat untuk menjelaskannya. Ranu memeluknya
erat. Tampak tak ingin lepas. Tak peduli apa yang orang pikirkan tentang
kelakuannya terhadap Abe. Ia terlihat menikmati ketidaksenonohan yang ia
tampilkan.
Dikala memadu asmara, Dunia memang milik mereka berdua.
Seharusnya motor yang dipacu Abe berbelok ke kanan di
perempatan di ujung jalan jika malam ini adalah malam-malam biasa. Jam 10 malam
adalah waktu dimana Ranu memang harus sampai di rumahnya. Tidak ada izin untuk
mengetuk pintu rumah melebihi waktu yang telah ditetapkan kedua orang tua Ranu,
dan Abe sangat hafal aturan dasar itu. Tapi... Apa yang terjadi malam ini? Mereka
berdua akan murtad.
Motor melaju lumayan cepat setelah lolos dari kungkungan
macet yang lumayan panjang. Seakan-akan Abe hendak merayakan kebebasan. Ranu
pun melepaskan pelukannya. Ia mengerti bahwa kekasihnya menginginkan kebebasan,
tanpa pelukan yang mengikat. Ranu kemudian merentangkan kedua tangannya ke
udara. Membiarkan molekul angin super dingin merasuk ke pori-pori kulit putih
rapuhnya. Seakan-akan Ranu pun hendak merayakan kebebasan. Kebebasan yang ia
tak pahami sepenuhnya.
“Kita mau kemana?” Teriak Ranu kepada Abe. Bergelut dengan
bunyi hembusan angin yang sangat pekak ditelinga mereka berdua. Hingga tinggal
sayup-sayup suara Ranu yang sampai ke telinga Abe. Sayup yang abe dengar,
sebenarnya, tapi Abe tidak menjawabnya. Ia pun sebenarnya tidak mengerti kemana
arah motor yang ia kendalikan akan melaju. Yang ia mengerti, ia ingin membawa
pacarnya pergi ke tempat dimana mereka hanya benar-benar berdua. Abe dan Ranu.
Jikalau mendung itu berarti hujan, maka diam itu berarti sedih. Bukan?
Ranu menguntupkan rekahan tangannya kembali. Ia melingkarkan
tangannya lagi ke pinggang sang kekasih. Erat. Ia seakan memiliki firasat bahwa
malam ini memang bukan malam seperti biasanya. Biasanya memang tidak seperti
malam ini. Biasanya Ranu dan Abe tak bersatu dalam ruang di penghujung malam
seperti ini. Mereka hanya terpaut hati. Tapi sekarang, sebaliknya.
Motor melaju menuju jalan yang menanjak tajam. Sesekali menukik
di turunan. Nampaknya mereka berdua menuju daerah dataran tinggi di kota
Bandung saat malam mulai menemui puncaknya. Dan Ranu pun akhirnya mengetahui kemana arah
motor yang dikendalikan Abe. Rasa cemas pun muncul. Tiba-tiba.
“Mudah-mudahan ini hanya mimpi” Kegusaran Ranu tak bisa
ditutupi. Semuanya terlihat jelas dari raut mukanya yang membiru. Ia hanya
mampu berbisik dalam sendu. Bergumam seperti sahaya yang tak punya daya upaya. Ia
tak berharap Abe bisa mendengar pengharapannya. Ia hanya berbincang dengan
Tuhannya. Berdoa.
Nampaknya malam ini daerah sekitar Puncak Ciumbuleuit sepi. Tak
seperti malam-malam biasanya. Jam selarut ini, biasanya jalan masih terlihat hidup.
Setidaknya lima menit sekali ada kendaraan yang melintas. Tapi malam ini
benar-benar sepi. Hanya mereka berdua yang beradu memecah kesuyian. Sunyi alam.
Dan sunyinya hati Ranu. Tak tahu menahu.
Dan motor pun berhenti di sebuah warung makan yang lumayan
besar, namun sepi. Ranu turun dari motor Abe tanpa disuruh siapa pun. Ia
memandang sekitar. Tempat yang pernah ia kunjungi sebelumnya, dua tahun yang
lalu. Sebuah warung yang tampak lebih kusam dibanding dua tahun lalu. Warung itu
nihil pengunjung. Hanya ada dua orang terlihat di dalamnya. Seorang wanita
paruh baya yang sedang terkujur kaku di teras warung. Tertidur pulas. Dan seorang
bapak yang tampak sibuk membereskan jagung-jagung mentah ke karung. Nampaknya warung
itu akan segera tutup. Ranu hanya mematung, melihat Abe yang kemudian berjalan
mendekati sang Bapa. Entah apa yang Abe bincangkan dengan bapa itu. Yang Ranu
lihat, bapa tersebut seakan mempersilahkan Abe masuk ke warung. Kemudian Abe
melambaikan tangannya kepada Ranu. Dan Ranu pun berjalan. Mereka berdua masuk
ke dalam warung yang hendak tutup itu.
Ada rasa berbeda pada sikap Abe. Hal itu yang menjadi
pertanyaan besar di benak Ranu. Meski sebenarnya Ranu sedikit berpura-pura. Bersandiwara.
Ia hanya berjalan mengikuti Abe dari belakang. Tak ada lagi pegangan tangan
atau rangkulan hangat yang tercipta di antara mereka. Berjalan sendiri-sendiri.
Langkah kaki mereka terdengar harmonis di atas lantai bambu. Berbeda dengan
Ranu, jantungnya tak lagi harmonis.
Abe berhenti di ujung warung. Terlihatlah hamparan sinar
lampu dari kota Bandung, dibawahnya. Lengkungan bibir lebar nampak diguratkan
sengaja olehnya, tak terkecuali lesung pipitnya, terbentuk nyata. Ia selalu
suka tempat ini. Meskipun dua tahun ini, tempat ini adalah tempat paling haram
baginya. Bagi Ranu juga; seandainya ia masih mengingat semuanya. Suasana kemudian
hening beberapa detik. Sampai tiba-tiba terdengar suara sesegukan Ranu di
belakang Abe. Abe tak menghiraukanya sedikit pun. Ia hanya menutup mata dan
merentangkan kedua tangannya. Biar angin membawa kepedihannya.
**
Seseorang duduk tersungkur di sudut sebuah kamar yang
tampak berantakan. Pecahan kaca dan foto yang bertebaran. Lampu masih benderang
padahal hari sudah siang. Terdengar orang itu hanya bergumam. Menyebut nama
seseorang, seakan bertasbih untuknya.
Pikiran orang itu sedang kacau. Terombang-ambing tak
sejalan. Ia mengutuk dirinya sendiri untuk dosa yang telah ia buat. Sebuah kisah
indah sesaat yang harus ia tebus dengan luka yang akan ia kenang sepanjang
zaman. Kisah yang ia tahu pasti akan berakhir suatu saat. Tapi apa yang dia
ingkari? Ia ingin saat itu tak pernah benar-benar ada. Ia ingin waktu itu hanya
datang di alam mimpinya.
“Mudah-mudahan ini hanya mimpi” Itulah selipan doa di antara
gumamannya.
Saat ini ia hanya ingin mengingat semuanya. Karena hanya
itulah yang bisa ia lakukan. Ia hanya akan berkawan dengan kenangan. Tak akan
mungkin lagi terulang. Ia hanya bisa merunut semua kejadiannya dari awal. Dua tahun
yang lalu.
**
Rintik hujan masih membenamkan keadaan. Percakapan Ranu
dengan seorang pria yang baru saja ia kenal pun dimulai. Perjanjian akan segera
terikrar.
“Lalu?” tanya Ranu. Singkat.
“Baiklah, saya akan jelaskan aturan mainnya” Tangan sang
pria kemudian merangkul punggung tangan Ranu. Meremasnya seakan meyakinkan. Ranu
memang harus benar-benar dibuat yakin olehnya. Sang pria pun menjelaskan hal
yang ingin ia jelaskan pada Ranu.
“Pertama, hubungan ini adalah hubungan gelap. Istilah kasarnya
perselingkuhan. Kita berdua harus saling menghormati kehidupan kita
masing-masing” Jelas sang pria pada Ranu. Ranu hanya menatap nanar pria yang
sedang bicara disampingnya. Kemudian mengangguk kecil pertanda paham.
“Ranu, saya sudah memiliki pacar. Sudah lama kamu tahu itu,
pun sebelum kita bertemu. Entah kapan dia pulang dari studinya di luar negeri. Setelah
ia sampai di Indonesia, kami akan menikah. Dan kamu mengerti apa yang saya cari
dari kamu bukan?” Pertanyaan yang sebenarnya sulit untuk Ranu jawab. Sebagai
manusia, ia sangat ingin mendapatkan cinta yang seseorang berikan secara penuh,
khusus untuk dirinya sendiri. Tapi setan apa yang sedang ia kawani. Akal pikirannya
hilang. Saat itu ia hanya ingin dicintai. Meski ia paham benar konsekuensinya. Ia
pun mengangguk. Remasan tangan pria itu di punggung tangannya membuat Ranu
semakin yakin. Sang pria pun kembali tersenyum lebar.
“Kedua. Kamu harus siap kapan pun hubungan kita akan
berakhir karena saya juga tidak tahu pasti kapan hubungan ini akan berakhir. Yang
perlu kamu tahu dan yakini, selama menjalani hubungan kita nantinya, kamu akan
jadi satu-satunya orang spesial yang saya cintai. Pegang kata-kata
saya, Ran.” Penjelasan pria itu semakin membuat Ranu melayang. Saat itu ia
berpikir, setidaknya ia akan benar-benar mendapatkan cinta dari sosok pria yang
disukainya sejak lama. Sesederhana itu.
“Warung ini yang akan jadi saksi awal dari kisah cinta kita.
Warung ini akan jadi tempat yang haram
bagi kita berdua, selama kita pacaran. Dan nantinya, warung ini juga akan jadi
akhir dari perjalanan kita” Lanjut pria itu dengan suara yang sedikit memberat.
Pengaruh suhu.
“Maksud kamu?” Tanya Ranu yang masih belum mengerti inti
kalimat yang baru saja disampaikan sang pria.
“Warung ini keramat” Jawab sang pria. Jawaban singkat yang
akhirnya tak perlu dijelaskan lagi. Karena Ranu segera mengerti apa yang pria
itu siratkan. Sebuah perjanjian setan.
Cinta itu layaknya hujan. Ia tak pernah jatuh di satu tempat. Ia tak
pernah berikrar akan turun di satu titik. Meskipun ada bagian bumi yang selalu
mengharapkan kehadirannya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar