Sabtu, 20 Juli 2013

PERJANJIAN SETAN




Malam ini ramai. Meski hujan rintik-rintik melanda tak terkira. Dari pagi buta sampai malam selarut ini. Jam 9. Bagi Ranu jam 9 sudah terasa sangat malam. Dunia, baginya, hanya berlaku sampai jam 10 malam. Itu artinya ia hanya memiliki sisa waktu untuk berkeliaran di luar sekitar satu jam.

Ranu duduk di ujung sebuah warung di sisi tebing. Warung yang sangat ramai dipadati puluhan muda mudi yang sedang menginginkan suasana berbeda. Kesan romantis di kota Bandung dengan sudut pandang berbeda, tajuk berbeda. Melihat gemerlap lampu yang tampak bak kunang-kunang yang riang. Kelap-kelip dari kejauhan, Ilusi optik karena adanya perubahan suhu atmosfer sekitar.

Hidup itu ilusi bukan? Tujuannya tak bisa diketahui pasti. Pun jalannya tak bisa dipijak kaki. Semuanya hanya berkutat dengan takdir yang Maha Terkunci.

“Dingin banget, enaknya makan ini” Sosok pria datang menghampiri Ranu dengan membawa dua buah jagung bakar.

“Malam ini akan jadi sempurna dengan ini” Pria itu duduk bersila di samping Ranu. Memberikan satu buah jagung bakar padanya. Ranu hanya tersenyum. Tak ada ucapan terima kasih atau kesan berlebih. Tapi sang pria tampak tahu betul apa maksud senyuman Ranu. Meski Ranu baru ia kenal sepuluh jam yang lalu.

“Kamu sering membawa orang spesial ke tempat ini ya?” Tanya Ranu setelah ia menyelesaikan gigitan pertama pada jagung bakarnya. Lidahnya seperti terbakar. Jagungnya memang masih terlalu panas untuk dinikmati. Ranu hanya antusias. Sambil menatap wajah pria di sampingnya. Malam memang sempurna baginya.

“Orang yang benar-benar spesial sih belum. Tapi saya sering kesini bersama teman-teman kerja” Jawab pria itu sambil membenarkan letak kacamatanya. Kemudian sang pria sibuk meniup-niup jagung bakarnya tanpa membalas tatapan Ranu.

“Berarti baru aku?” tanya Ranu. Tetap dengan muka antusiasnya.

“Tepat sekali. Kamu adalah orang spesial pertama yang aku ajak kesini” Ujar sang pria. Sambil melengkungkan senyum di bibirnya. Terlihat lesung pipit cukup dalam yang terbentuk. Ranu terkesan dengan lesung pipit pria itu. Ia baru sadar kalau pria itu memiliki lesung pipit yang dalam. Manis.

“Dari berapa ratus orang spesial?” Ranu kembali bertanya dengan sedikit nada interogasi. Dia menatap sepotong wajah samping kiri pria itu dengan tajam. Sang pria pun akhirnya menoleh. Tak ada jawaban. Sang pria hanya tersenyum lebar dengan lesung pipit yang semakin dalam. Tamatlah. Memang tak akan pernah ada jawaban. Dan Ranu pun mengerti. Tak akan pernah ada jawaban untuk pertanyaan semacam itu. Pria tak pernah mau menjawabnya. Meskipun ia mengaku dirinya jantan.

“Aku cuma punya waktu 30 menit dari sekarang. Jam 10 kurang kita harus segera pergi dari sini” Lanjut Ranu. Ia tak ingin terjebak dalam topik yang akan membuatnya bingung sendiri karena tak akan pernah mendapatkan jawaban. Ia hanya ingin merasa yakin jika ia akan sampai rumah tepat jam 10 malam.

“Iya. Tenang. Saya pria yang cukup bertanggung jawab kok” Tegas si pria sembari kembali mengalihkan pandangan ke pemandangan kota. Tak ada lagi senyum terkembang.

“Lalu?” tanya Ranu. Singkat.

“Baiklah, saya akan menjelaskan aturan mainnya” Tangan sang pria kemudian merangkul punggung tangan Ranu. Meremasnya seakan meyakinkan. Ranu pun pada akhirnya merasa diyakinkan. Ia hanya mengangguk-angguk di setiap akhir kalimat yang diutarakan sang pria. Sebuah perjanjian setan di malam dengan rintik yang meradang. Hujan membesar.

Bumi terbakar hebat. Itu alasan kenapa hujan lalu turun. Langit merasa berdosa pada bumi. Itu saja alasannya.

**

Saat ini, malam terasa tak bertuhan. Gelap gulita ditengah gemerlap cahaya yang menyuguhkan keduniawian. Dua anak manusia terlihat menembus kemacetan jalanan jam 10 malam. Abe tampak tergesa-gesa mengendalikan si roda dua. Entah apa yang sedang ada di pikirannya. Mungkin Ranu yang sedang duduk dibelakangnya adalah alasan paling tepat untuk menjelaskannya. Ranu memeluknya erat. Tampak tak ingin lepas. Tak peduli apa yang orang pikirkan tentang kelakuannya terhadap Abe. Ia terlihat menikmati ketidaksenonohan yang ia tampilkan.

Dikala memadu asmara, Dunia memang milik mereka berdua.

Seharusnya motor yang dipacu Abe berbelok ke kanan di perempatan di ujung jalan jika malam ini adalah malam-malam biasa. Jam 10 malam adalah waktu dimana Ranu memang harus sampai di rumahnya. Tidak ada izin untuk mengetuk pintu rumah melebihi waktu yang telah ditetapkan kedua orang tua Ranu, dan Abe sangat hafal aturan dasar itu. Tapi... Apa yang terjadi malam ini? Mereka berdua akan murtad.

Motor melaju lumayan cepat setelah lolos dari kungkungan macet yang lumayan panjang. Seakan-akan Abe hendak merayakan kebebasan. Ranu pun melepaskan pelukannya. Ia mengerti bahwa kekasihnya menginginkan kebebasan, tanpa pelukan yang mengikat. Ranu kemudian merentangkan kedua tangannya ke udara. Membiarkan molekul angin super dingin merasuk ke pori-pori kulit putih rapuhnya. Seakan-akan Ranu pun hendak merayakan kebebasan. Kebebasan yang ia tak pahami sepenuhnya.

“Kita mau kemana?” Teriak Ranu kepada Abe. Bergelut dengan bunyi hembusan angin yang sangat pekak ditelinga mereka berdua. Hingga tinggal sayup-sayup suara Ranu yang sampai ke telinga Abe. Sayup yang abe dengar, sebenarnya, tapi Abe tidak menjawabnya. Ia pun sebenarnya tidak mengerti kemana arah motor yang ia kendalikan akan melaju. Yang ia mengerti, ia ingin membawa pacarnya pergi ke tempat dimana mereka hanya benar-benar berdua. Abe dan Ranu.

Jikalau mendung itu berarti hujan, maka diam itu berarti sedih. Bukan?

Ranu menguntupkan rekahan tangannya kembali. Ia melingkarkan tangannya lagi ke pinggang sang kekasih. Erat. Ia seakan memiliki firasat bahwa malam ini memang bukan malam seperti biasanya. Biasanya memang tidak seperti malam ini. Biasanya Ranu dan Abe tak bersatu dalam ruang di penghujung malam seperti ini. Mereka hanya terpaut hati. Tapi sekarang, sebaliknya.

Motor melaju menuju jalan yang menanjak tajam. Sesekali menukik di turunan. Nampaknya mereka berdua menuju daerah dataran tinggi di kota Bandung saat malam mulai menemui puncaknya.  Dan Ranu pun akhirnya mengetahui kemana arah motor yang dikendalikan Abe. Rasa cemas pun muncul. Tiba-tiba.

“Mudah-mudahan ini hanya mimpi” Kegusaran Ranu tak bisa ditutupi. Semuanya terlihat jelas dari raut mukanya yang membiru. Ia hanya mampu berbisik dalam sendu. Bergumam seperti sahaya yang tak punya daya upaya. Ia tak berharap Abe bisa mendengar pengharapannya. Ia hanya berbincang dengan Tuhannya. Berdoa.

Nampaknya malam ini daerah sekitar Puncak Ciumbuleuit sepi. Tak seperti malam-malam biasanya. Jam selarut ini, biasanya jalan masih terlihat hidup. Setidaknya lima menit sekali ada kendaraan yang melintas. Tapi malam ini benar-benar sepi. Hanya mereka berdua yang beradu memecah kesuyian. Sunyi alam. Dan sunyinya hati Ranu. Tak tahu menahu.

Dan motor pun berhenti di sebuah warung makan yang lumayan besar, namun sepi. Ranu turun dari motor Abe tanpa disuruh siapa pun. Ia memandang sekitar. Tempat yang pernah ia kunjungi sebelumnya, dua tahun yang lalu. Sebuah warung yang tampak lebih kusam dibanding dua tahun lalu. Warung itu nihil pengunjung. Hanya ada dua orang terlihat di dalamnya. Seorang wanita paruh baya yang sedang terkujur kaku di teras warung. Tertidur pulas. Dan seorang bapak yang tampak sibuk membereskan jagung-jagung mentah ke karung. Nampaknya warung itu akan segera tutup. Ranu hanya mematung, melihat Abe yang kemudian berjalan mendekati sang Bapa. Entah apa yang Abe bincangkan dengan bapa itu. Yang Ranu lihat, bapa tersebut seakan mempersilahkan Abe masuk ke warung. Kemudian Abe melambaikan tangannya kepada Ranu. Dan Ranu pun berjalan. Mereka berdua masuk ke dalam warung yang hendak tutup itu.

Ada rasa berbeda pada sikap Abe. Hal itu yang menjadi pertanyaan besar di benak Ranu. Meski sebenarnya Ranu sedikit berpura-pura. Bersandiwara. Ia hanya berjalan mengikuti Abe dari belakang. Tak ada lagi pegangan tangan atau rangkulan hangat yang tercipta di antara mereka. Berjalan sendiri-sendiri. Langkah kaki mereka terdengar harmonis di atas lantai bambu. Berbeda dengan Ranu, jantungnya tak lagi harmonis.

Abe berhenti di ujung warung. Terlihatlah hamparan sinar lampu dari kota Bandung, dibawahnya. Lengkungan bibir lebar nampak diguratkan sengaja olehnya, tak terkecuali lesung pipitnya, terbentuk nyata. Ia selalu suka tempat ini. Meskipun dua tahun ini, tempat ini adalah tempat paling haram baginya. Bagi Ranu juga; seandainya ia masih mengingat semuanya. Suasana kemudian hening beberapa detik. Sampai tiba-tiba terdengar suara sesegukan Ranu di belakang Abe. Abe tak menghiraukanya sedikit pun. Ia hanya menutup mata dan merentangkan kedua tangannya. Biar angin membawa kepedihannya.

**

Seseorang duduk tersungkur di sudut sebuah kamar yang tampak berantakan. Pecahan kaca dan foto yang bertebaran. Lampu masih benderang padahal hari sudah siang. Terdengar orang itu hanya bergumam. Menyebut nama seseorang, seakan bertasbih untuknya.

Pikiran orang itu sedang kacau. Terombang-ambing tak sejalan. Ia mengutuk dirinya sendiri untuk dosa yang telah ia buat. Sebuah kisah indah sesaat yang harus ia tebus dengan luka yang akan ia kenang sepanjang zaman. Kisah yang ia tahu pasti akan berakhir suatu saat. Tapi apa yang dia ingkari? Ia ingin saat itu tak pernah benar-benar ada. Ia ingin waktu itu hanya datang di alam mimpinya.

“Mudah-mudahan ini hanya mimpi” Itulah selipan doa di antara gumamannya.

Saat ini ia hanya ingin mengingat semuanya. Karena hanya itulah yang bisa ia lakukan. Ia hanya akan berkawan dengan kenangan. Tak akan mungkin lagi terulang. Ia hanya bisa merunut semua kejadiannya dari awal. Dua tahun yang lalu.

**

Rintik hujan masih membenamkan keadaan. Percakapan Ranu dengan seorang pria yang baru saja ia kenal pun dimulai. Perjanjian akan segera terikrar.

“Lalu?” tanya Ranu. Singkat.

“Baiklah, saya akan jelaskan aturan mainnya” Tangan sang pria kemudian merangkul punggung tangan Ranu. Meremasnya seakan meyakinkan. Ranu memang harus benar-benar dibuat yakin olehnya. Sang pria pun menjelaskan hal yang ingin ia jelaskan pada Ranu.

“Pertama, hubungan ini adalah hubungan gelap. Istilah kasarnya perselingkuhan. Kita berdua harus saling menghormati kehidupan kita masing-masing” Jelas sang pria pada Ranu. Ranu hanya menatap nanar pria yang sedang bicara disampingnya. Kemudian mengangguk kecil pertanda paham.

“Ranu, saya sudah memiliki pacar. Sudah lama kamu tahu itu, pun sebelum kita bertemu. Entah kapan dia pulang dari studinya di luar negeri. Setelah ia sampai di Indonesia, kami akan menikah. Dan kamu mengerti apa yang saya cari dari kamu bukan?” Pertanyaan yang sebenarnya sulit untuk Ranu jawab. Sebagai manusia, ia sangat ingin mendapatkan cinta yang seseorang berikan secara penuh, khusus untuk dirinya sendiri. Tapi setan apa yang sedang ia kawani. Akal pikirannya hilang. Saat itu ia hanya ingin dicintai. Meski ia paham benar konsekuensinya. Ia pun mengangguk. Remasan tangan pria itu di punggung tangannya membuat Ranu semakin yakin. Sang pria pun kembali tersenyum lebar.

“Kedua. Kamu harus siap kapan pun hubungan kita akan berakhir karena saya juga tidak tahu pasti kapan hubungan ini akan berakhir. Yang perlu kamu tahu dan yakini, selama menjalani hubungan kita nantinya, kamu akan jadi  satu-satunya orang  spesial yang saya cintai. Pegang kata-kata saya, Ran.” Penjelasan pria itu semakin membuat Ranu melayang. Saat itu ia berpikir, setidaknya ia akan benar-benar mendapatkan cinta dari sosok pria yang disukainya sejak lama. Sesederhana itu.

“Warung ini yang akan jadi saksi awal dari kisah cinta kita. Warung ini  akan jadi tempat yang haram bagi kita berdua, selama kita pacaran. Dan nantinya, warung ini juga akan jadi akhir dari perjalanan kita” Lanjut pria itu dengan suara yang sedikit memberat. Pengaruh suhu.

“Maksud kamu?” Tanya Ranu yang masih belum mengerti inti kalimat yang baru saja disampaikan sang pria.

“Warung ini keramat” Jawab sang pria. Jawaban singkat yang akhirnya tak perlu dijelaskan lagi. Karena Ranu segera mengerti apa yang pria itu siratkan. Sebuah perjanjian setan.

Cinta itu layaknya hujan. Ia tak pernah jatuh di satu tempat. Ia tak pernah berikrar akan turun di satu titik. Meskipun ada bagian bumi yang selalu mengharapkan kehadirannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar