Jumat, 30 Agustus 2013

Paragraf Pendek : Aku, Hujan, dan Arti Sebuah Pesan



Sore mendera dan hujan pun memujanya, seketika. Saat aku dan kamu sedang berbincang pada jarak kejauhan. Kamu mengeluh tentang apa yang mengganjal harimu akhir-akhir ini. Dan aku hanya bisa mendengarkanmu dengan baik dan pantang habis kesabaran. Bak pecundang yang tak mengerti cara menghadapi lawan perang. Telinga hanya bisa terbuka lebar. Tak lain untuk membuatmu merasa nyaman. Sesekali aku ingin ikut terlibat dan masuk dengan nyaman dalam percakapan dan keluhan-keluhanmu yang tampak sendu. Tapi nampaknya kamu memang tak perlu jawaban atas pertanyaan tertutup yang memang kamu tahu betul penjelasannya, alasan ilmiahnya. Tapi bisakan kamu anggap omonganku sekilas bintang jatuh saja hanya agar aku bisa bangga dengan kelakarku sendiri? Kamu tak perlu melakukan semua hal yang aku coba utarakan, hanya dengarkan. Dan buat aku berarti. Tapi apa kenyataannya? Sepertinya aku hanya mendongengkan cerita peri gigi kepada seorang dewasa berumur yang sudah tak paham apa itu arti sebuah keajaiban. Hanya kenyataan yang ia paham dengan betul. Tahukah? Beribu timbunan pertanyaan atas apa arti diriku dalam hidupmu menyeruak dengan liar dan gagah perkasa. Karena bukan hanya sore ini. Jariku tak bisa lagi mewakili berapa banyaknya keacuhanmu terhadap semua saran asal-asalanku, mungkin menurutmu. Tapi apa yang aku lakukan adalah murni perhatianku untuk seseorang yang ingin aku perhatikan. Pun bila kamu sudah tahu segala hal yang mungkin tak aku tahu, apa artiku untukmu? Malam tak perlu warna hitam, Burung tak perlu diajarkan untuk terbang, pun bunyi yang tak perlu kesunyian. Kau tampak tak lagi ganjil, tak perlu seorang penggenap siang bolong sepertiku ini. Aku hanya meminta. Tak perlu ditanggapi dengan sempurna. Jadikan aku sesuatu untukmu. Bukan hanya sebagai telinga tempatmu berkeluh kesah. Jadikanlah aku seseorang yang berpengaruh baik untukmu. Dengarkan, dan katakan Ya. Cukup.

Biar hujan yang menyampaikan pesan ini dengan baik untukmu. Tolong dengarkan rintiknya baik-baik....


2 komentar:

  1. heu...jd sedih & malu...
    percayalah, sy katakan "Ya" atas apa yg kau sampaikan..walaupun hanya di hati..

    BalasHapus