Gelapnya menyeruak, namun hijaunya masih kentara terasa
Riuh seketika mengadu pada waktu yang tetap bertahan bisu
Setiap manusia, tak terkecuali, berlari dan meminta
keteduhan
Padahal bukan api
Namun mereka tetap tak berani
Untuk menghadapi hujan dan basahnya duniawi
Aku berdiri di bawah rimbunya pohon angsana yang maha gagah
Sendiri.
Memandang belasan orang berhiruk pikuk di sebuah halte yang
nampak akan rubuh
Apakah yang mereka tunggu?
Hujan yang reda?
Atau seseorang yang bisa membuat mereka merasa teduh dan
aman?
Pertanyaan yang sama
Di tempat yang tepat sama
Di waktu yang mungkin sama
Dengan skala derasnya hujan yang hampir sama
Dan aku melakukan hal yang selalu sama
Bergumam sendiri
Menyanyikan lagu yang sama
Tak lain hanya untuk mengenang masa lalu saat perasaan
terbebas lepas
Tak ada rasa rindu dan tak ada rasa takut kehilangan
Karena semuanya serba terpastikan
Saat itu hujan pasti datang tepat jam 3 sore setiap harinya
Dan aku selalu menanti kedatanganya dengan setia
Untuk bercakap mesra
Yang tak memungkinkan dunia mendengarkan perbincangan yang
tercipta
Meski hujan tahu
Dan hujan membahasakannya dalam merdu percikan butir yang
mendera tanah
Dan engkau memang seorang seniman,
Engkau mampu menterjemahkan hujan begitu lugasnya
Tak perlu diksi, kau tepati janji
Hujan adalah seni
Dan engkau berujar saat hujan yang sama waktu itu
Bahwa butiran air datang entah darimana dan akan jatuh di
tempat yang tak terduga
Bahwa kita berada di bawah langit yang sama dan menikmati
hujan yang tampak berbeda
“Tapi tahukah?
Mungkin saja tetesan
yang terkena ke tubuhmu sempat menjadi penghilang dahagaku?”
Selalu terngiang
Mungkin tak terekam, namun mendalam
Dan saat ini juga aku ingin lepas seperti dahulu
Tak ada hal yang membuatku takut untuk basah
Hingga aku berlari keluar dari rimbunya daun-daun angsana
Berharap tangismu adalah derasnya rintik yang aku sentuh
Tangis saat kau merasa kehilanganku
Mungkin.
Kemudian aku memandang ke belakang dalam kuyupnya badan
Terkunci menyaksikan bahwa tak pernah ada orang berdiri di bawah sana
Angsana yang tak lagi menjanjikan kebahagiaan
Dan aku menangis pelan
Dan hujan berhasil membahasakannya
Lebih luas ketimbang apa yang engkau yakini
"Hujan adalah isyarat
Bukan sekedar seni"

What a gloom...
BalasHapus