Malam hari di sebuah kedai bernama Lumbung, Aku
duduk persis di tempat yang sama. Sama seperti tiap kali aku berkunjung ke
tempat ini yang memang terbilang rutin. Sebenarnya, tidak ada hal spesial dari
kedai ini yang membuatnya seakan menjadi magnet tersendiri bagiku. Sebuah
bangunan rumah tua yang hampir roboh, menurutku, dan pengunjung yang mulai
sepi. Aku tidak mengerti kenapa kedai ini tetap saja bertahan. Tapi jauh di
lubuk hatiku, aku memang merasa tak rela jika pemiliknya sampai gulung tikar. Apakah
hal itu yang membuatku selalu berkunjung ke tempat ini? Tentu tidak. Aku yakin
ada hal yang lebih besar, dan aku tahu pasti itu. Namun aku selalu mengelak
untuk mengakuinya. Aku hanya ingin menjadi munafik. Khusus untuk hal-hal
sebesar itu.
Perasaan. Malam ini penuh dengan perasaan. Seminggu
ini aku habiskan untuk memutar otak dan kreativitasku di kantor. Dan itu
membuatku melupakan perasaan. Satu hal lagi yang tak pernah aku pelajari dengan
benar, bahwa perasaan tak mungkin begitu saja lenyap jika dibiarkan. Ia akan
terakumulasi dalam hati dan akan segera membuncah jika semuanya kembali
terputar di ingatan. Dan malam ini aku merasakannya. Perasaan. Dan tempat ini
adalah wahana terbaik untukku bisa memenjarakan diri dalam nostalgia. Obat terbaik
untuk mengulang semua yang tak akan pernah ada lagi.
Pesanan pun datang. Sepiring nasi goreng kambing
dan segelas teh lemon hangat. Kombinasi yang tepat di saat aku sedang
membutuhkan kehangatan. Aku telan setiap sendok nasi goreng kambing, yang bau
rempahnya menyengat, dengan cepat. Itulah caraku untuk menikmatinya. Menikmati sesuatu
yang sebenarnya tak aku suka. Tapi untuk mempertahankan ritual gilaku. Meretas nostalgia
lewat kejadian nyata. Aku bagai seorang psikopat yang ingin semua
kebahagiaannya kembali. Meski aku sadar itu tak akan pernah mungkin terjadi. Aku
harus melawan rasa mual di lidah. Semuanya pasti masuk. Dan memang benar, tak
ada yang tersisa. Hingga pelayan memberikan senyuman saat menatap piring kosong
di hadapanku dan mengambilnya. Ia mungkin mengira bahwa makanan yang disajikan
sangat lezat buatku. Ia mungkin senang. Tapi tahukah? Aku tersiksa dengan nasi
goreng kambing itu.
Tersisa segelas teh lemon hangat yang belum
sedikit pun aku sentuh. Masih perawan. Dan mungkin sekarang sudah menjadi
dingin karena terbekukan suasana malam. Aku tatap gelasnya lekat. Dan aku
pastikan wajahku tergurat di permukaan coklat kemerahannya.
“Kamu tidak bosan?” Tiba-iba suara itu datang
lagi. Sebuah halusinasi.
“Aku tipe orang yang statis. Sekali aku jatuh dan
nyaman di dalamnya, aku tak akan berusaha untuk bangkit. Aku telah jatuh hati
dengan teh lemon, dan aku cinta mati” Jawabku bergumam. Seperti seorang dukun
yang sedang membaca mantra di hadapan segelas air berkah. Aku memang sudah gila. Berbicara dengan sesuatu bernama
halusinasi. Tapi percayakah? Aku masih percaya keberadaannya. Bagiku dia masih
nyata. Maka dari itu aku selalu kembali ke kedai ini. Menikmati nasi goreng
kambing yang tidak aku suka sama sekali dan memandangi segelas teh lemon yang
sebenarnya aku sukai namun aku jauhi keberadaannya sekarang. Itu adalah sebuah
ritual untuk memanggilnya kembali. Sosok yang dulu selalu duduk tepat di
depanku. Memandangiku layaknya memandangi sebuah mahakarya. Memberiku khayalan
tentang kehidupan masa depan yang begitu cerah. Dan mengisi hatiku sepenuhnya. Aku
sempat lengkap saat itu. Tak seperti sekarang, saat kursi di depanku kosong
tanpanya.
“Berarti
perasaanmu pun begitu? Statis?” Ungkap nya lagi. Halusinasi.
“Iya. Itu alasanku tetap di sini. Memanifestasikan
perasaanku. Perasaan yang sudah jatuh” kembali aku bergumam, kini sedikit
terisak.
Selalu. Ujung dari ritual ini adalah sebuah
tangisan. Meski tak terlalu kencang dan membuat seisi ruangan menjadi heran. Tapi
tetap, hati ini menangis meronta-ronta. Membuatku semakin jatuh tanpa pegangan.
Dan saat-saat seperti ini adalah saat dimana aku tersadarkan, bahwasanya aku
bukan manusia yang sepenuhnya statis. Aku adalah ia yang menikmati keadaan
jatuh. Sampai aku tak menyadari sedalam apa perasaanku padanya kini? Dan memang
akan terus jatuh karena landasan hatinya tak akan lagi bisa aku sentuh. Dia
itu, Jauh.
Setelah membayar bill, aku bergegas beranjak dari kursi dudukku dan keluar dari
kedai itu. Berjalan gontai seakan ingin memperpanjang jarak antar aku dan ambang
pintu. Bak seorang anak yang enggan meninggalkan rumahnya untuk merantau ke
luar pulau. Saat di ambang pintu, aku berbalik arah dan menatap kembali ke meja
itu. Sebuah perasaan menyeruak. Rasanya aku ingin kembali duduk di sana. Semalaman
kalau memang bisa. Tapi kenyataan memang sama seperti sebuah novel yang lengkap,
pasti ada halaman terakhir yang membuat pembacanya harus mengakhiri pendalaman
jalan cerita yang disajikannya. Meskipun ia sadar bahwasanya ia sangat menyukai setiap adegan dan gambaran yang dibacanya
namun membaca untuk kedua kalinya tak akan pernah memberikan kejutan serupa. Dan
aku adalah beda. Aku akan selalu kembali ke halaman yang sama. Halaman dimana
kita berdua ada di sana. Dua buah kursi yang terpisahkan satu meja kotak kecil
di sebuah kedai tua. Tempat dimana aku dan dia berpadu mesra. Dulu sekali.
***
Aku dan dia dalam sebuah perbincangan setahun
yang lalu
“Cobalah hal baru. Itu akan membuatmu tetap
bersemangat untuk menjadi dinamis” katanya. Sebuah pesan tersirat jelas.
“Tapi tidak untuk nasi goreng kambing yang tak
pernah aku suka itu” jawabku tegas.
“Cobalah dulu. Baru kau tahu rasanya. Setelah itu
kau boleh putuskan. Untuk suka atau tidak” dia terus mendesak. Memang ia adalah
tipe orang yang intimidatif.
“Lain kali saja” Aku berusaha untuk mengalihkan
pembicaraan
“Saat aku sudah tidak ada?” Lalu semua menjadi
diam. Inilah kesempatan yang selalu ia tunggu. Sebuah momen.
“Heeheehee...kamu bicara apa sih?” Aku berusaha
untuk mencairkan suasana. Selalu. Aku selalu ingin semuanya tampak biasa. Aku tak
ingin menyinggung hal itu. Hal yang enam bulan lalu membuatku tak bisa tidur
selama seminggu. Hal yang membuatku sangat mencintaimu saat ini. Hal yang ingin
membuat sisa waktunya menjadi masa yag tak terlupakan baginya, terlebih bagiku.
“Aku bicara tentang takdir yang aku telah ketahui
dengan pasti. Aku tak mau bohong lagi. Aku tak mau kamu membohongi perasaanmu
sendiri. Berpura-pura tegar untuk sebuah masa depan yang tidak pasti. Aku ingin
semuanya pasti” Ia mulai berkata dengan nada yang meninggi. Dan aku hanya bisa
tertegun. Sebuah skenario yang sudah aku duga sebelumnya. Ia tak ingin
membuatku sedih karena kepergiannya nanti.
“Kamu mau apa dariku?” Pertanyaanku ini seakan
memberinya kesempatan maha luas untuk ia mengungkapkan keinginan besarnya.
“Aku ingin kita putus. Lupakan aku”
Dan itu adalah kalimat terakhir yang aku dengar
malam itu. Setelah itu dia pergi dari hadapanku. Tak ada pelukan selamat
tinggal atau kata manis perpisahan. Hanya sebuah piring kosong bekas satu porsi
nasi goreng kambing dan teh lemon yang tak sempat aku sentuh. Hanya itu. Dan semuanya
berbekas.
Aku sempat memandangi punggung tegapnya yang
bergegas keluar dari kedai. Aku berharap di ambang pintu ia berbalik badan dan
kembali menghampiriku dan berkata maaf. Namun itu tak pernah terjadi hingga ia
benar-benar lenyap dari pandanganku. Aku hanya tertegun saat itu. Tak ada air
mata. Semuanya serba tertahan dan terbata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar