Jumat, 25 Oktober 2013

Sebuah Kedai Tua




Malam hari di sebuah kedai bernama Lumbung, Aku duduk persis di tempat yang sama. Sama seperti tiap kali aku berkunjung ke tempat ini yang memang terbilang rutin. Sebenarnya, tidak ada hal spesial dari kedai ini yang membuatnya seakan menjadi magnet tersendiri bagiku. Sebuah bangunan rumah tua yang hampir roboh, menurutku, dan pengunjung yang mulai sepi. Aku tidak mengerti kenapa kedai ini tetap saja bertahan. Tapi jauh di lubuk hatiku, aku memang merasa tak rela jika pemiliknya sampai gulung tikar. Apakah hal itu yang membuatku selalu berkunjung ke tempat ini? Tentu tidak. Aku yakin ada hal yang lebih besar, dan aku tahu pasti itu. Namun aku selalu mengelak untuk mengakuinya. Aku hanya ingin menjadi munafik. Khusus untuk hal-hal sebesar itu.

Perasaan. Malam ini penuh dengan perasaan. Seminggu ini aku habiskan untuk memutar otak dan kreativitasku di kantor. Dan itu membuatku melupakan perasaan. Satu hal lagi yang tak pernah aku pelajari dengan benar, bahwa perasaan tak mungkin begitu saja lenyap jika dibiarkan. Ia akan terakumulasi dalam hati dan akan segera membuncah jika semuanya kembali terputar di ingatan. Dan malam ini aku merasakannya. Perasaan. Dan tempat ini adalah wahana terbaik untukku bisa memenjarakan diri dalam nostalgia. Obat terbaik untuk mengulang semua yang tak akan pernah ada lagi.

Pesanan pun datang. Sepiring nasi goreng kambing dan segelas teh lemon hangat. Kombinasi yang tepat di saat aku sedang membutuhkan kehangatan. Aku telan setiap sendok nasi goreng kambing, yang bau rempahnya menyengat, dengan cepat. Itulah caraku untuk menikmatinya. Menikmati sesuatu yang sebenarnya tak aku suka. Tapi untuk mempertahankan ritual gilaku. Meretas nostalgia lewat kejadian nyata. Aku bagai seorang psikopat yang ingin semua kebahagiaannya kembali. Meski aku sadar itu tak akan pernah mungkin terjadi. Aku harus melawan rasa mual di lidah. Semuanya pasti masuk. Dan memang benar, tak ada yang tersisa. Hingga pelayan memberikan senyuman saat menatap piring kosong di hadapanku dan mengambilnya. Ia mungkin mengira bahwa makanan yang disajikan sangat lezat buatku. Ia mungkin senang. Tapi tahukah? Aku tersiksa dengan nasi goreng kambing itu.

Tersisa segelas teh lemon hangat yang belum sedikit pun aku sentuh. Masih perawan. Dan mungkin sekarang sudah menjadi dingin karena terbekukan suasana malam. Aku tatap gelasnya lekat. Dan aku pastikan wajahku tergurat di permukaan coklat kemerahannya.

“Kamu tidak bosan?” Tiba-iba suara itu datang lagi. Sebuah halusinasi.

“Aku tipe orang yang statis. Sekali aku jatuh dan nyaman di dalamnya, aku tak akan berusaha untuk bangkit. Aku telah jatuh hati dengan teh lemon, dan aku cinta mati” Jawabku bergumam. Seperti seorang dukun yang sedang membaca mantra di hadapan segelas air berkah. Aku memang sudah  gila. Berbicara dengan sesuatu bernama halusinasi. Tapi percayakah? Aku masih percaya keberadaannya. Bagiku dia masih nyata. Maka dari itu aku selalu kembali ke kedai ini. Menikmati nasi goreng kambing yang tidak aku suka sama sekali dan memandangi segelas teh lemon yang sebenarnya aku sukai namun aku jauhi keberadaannya sekarang. Itu adalah sebuah ritual untuk memanggilnya kembali. Sosok yang dulu selalu duduk tepat di depanku. Memandangiku layaknya memandangi sebuah mahakarya. Memberiku khayalan tentang kehidupan masa depan yang begitu cerah. Dan mengisi hatiku sepenuhnya. Aku sempat lengkap saat itu. Tak seperti sekarang, saat kursi di depanku kosong tanpanya.

“Berarti perasaanmu pun begitu? Statis?” Ungkap nya lagi. Halusinasi.

“Iya. Itu alasanku tetap di sini. Memanifestasikan perasaanku. Perasaan yang sudah jatuh” kembali aku bergumam, kini sedikit terisak.

Selalu. Ujung dari ritual ini adalah sebuah tangisan. Meski tak terlalu kencang dan membuat seisi ruangan menjadi heran. Tapi tetap, hati ini menangis meronta-ronta. Membuatku semakin jatuh tanpa pegangan. Dan saat-saat seperti ini adalah saat dimana aku tersadarkan, bahwasanya aku bukan manusia yang sepenuhnya statis. Aku adalah ia yang menikmati keadaan jatuh. Sampai aku tak menyadari sedalam apa perasaanku padanya kini? Dan memang akan terus jatuh karena landasan hatinya tak akan lagi bisa aku sentuh. Dia itu, Jauh.

Setelah membayar bill, aku bergegas beranjak dari kursi dudukku dan keluar dari kedai itu. Berjalan gontai seakan ingin memperpanjang jarak antar aku dan ambang pintu. Bak seorang anak yang enggan meninggalkan rumahnya untuk merantau ke luar pulau. Saat di ambang pintu, aku berbalik arah dan menatap kembali ke meja itu. Sebuah perasaan menyeruak. Rasanya aku ingin kembali duduk di sana. Semalaman kalau memang bisa. Tapi kenyataan memang sama seperti sebuah novel yang lengkap, pasti ada halaman terakhir yang membuat pembacanya harus mengakhiri pendalaman jalan cerita yang disajikannya. Meskipun ia sadar bahwasanya ia sangat menyukai  setiap adegan dan gambaran yang dibacanya namun membaca untuk kedua kalinya tak akan pernah memberikan kejutan serupa. Dan aku adalah beda. Aku akan selalu kembali ke halaman yang sama. Halaman dimana kita berdua ada di sana. Dua buah kursi yang terpisahkan satu meja kotak kecil di sebuah kedai tua. Tempat dimana aku dan dia berpadu mesra. Dulu sekali.


***

Aku dan dia dalam sebuah perbincangan setahun yang lalu

“Cobalah hal baru. Itu akan membuatmu tetap bersemangat untuk menjadi dinamis” katanya. Sebuah pesan tersirat jelas.

“Tapi tidak untuk nasi goreng kambing yang tak pernah aku suka itu” jawabku tegas.

“Cobalah dulu. Baru kau tahu rasanya. Setelah itu kau boleh putuskan. Untuk suka atau tidak” dia terus mendesak. Memang ia adalah tipe orang yang intimidatif.

“Lain kali saja” Aku berusaha untuk mengalihkan pembicaraan

“Saat aku sudah tidak ada?” Lalu semua menjadi diam. Inilah kesempatan yang selalu ia tunggu. Sebuah momen.

“Heeheehee...kamu bicara apa sih?” Aku berusaha untuk mencairkan suasana. Selalu. Aku selalu ingin semuanya tampak biasa. Aku tak ingin menyinggung hal itu. Hal yang enam bulan lalu membuatku tak bisa tidur selama seminggu. Hal yang membuatku sangat mencintaimu saat ini. Hal yang ingin membuat sisa waktunya menjadi masa yag tak terlupakan baginya, terlebih bagiku.

“Aku bicara tentang takdir yang aku telah ketahui dengan pasti. Aku tak mau bohong lagi. Aku tak mau kamu membohongi perasaanmu sendiri. Berpura-pura tegar untuk sebuah masa depan yang tidak pasti. Aku ingin semuanya pasti” Ia mulai berkata dengan nada yang meninggi. Dan aku hanya bisa tertegun. Sebuah skenario yang sudah aku duga sebelumnya. Ia tak ingin membuatku sedih karena kepergiannya nanti.

“Kamu mau apa dariku?” Pertanyaanku ini seakan memberinya kesempatan maha luas untuk ia mengungkapkan keinginan besarnya.

“Aku ingin kita putus. Lupakan aku”

Dan itu adalah kalimat terakhir yang aku dengar malam itu. Setelah itu dia pergi dari hadapanku. Tak ada pelukan selamat tinggal atau kata manis perpisahan. Hanya sebuah piring kosong bekas satu porsi nasi goreng kambing dan teh lemon yang tak sempat aku sentuh. Hanya itu. Dan semuanya berbekas.

Aku sempat memandangi punggung tegapnya yang bergegas keluar dari kedai. Aku berharap di ambang pintu ia berbalik badan dan kembali menghampiriku dan berkata maaf. Namun itu tak pernah terjadi hingga ia benar-benar lenyap dari pandanganku. Aku hanya tertegun saat itu. Tak ada air mata. Semuanya serba tertahan dan terbata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar