Rabu, 19 September 2012

NISCAYA



Berdiri sendiri di antara hilir mudik ribuan capung yang gelisah
Saat hari meredam berkas
Dan dingin membalut panas

“Apa yang ada di otakmu saat ini anak muda?”

“Mimpi”

“Hanya itu”

“Ya, karena saya seorang pemimpi”

“Pemimpi yang tak pernah bangun dari mimpinya?”

“Bukan”

“Lalu pemimpi macam apakah kau ini?”

“Saya adalah pemimpi yang sabar dan membiarkan semuanya berjalan dengan tenang”

“Pasrah?”

“Tentu tidak, saya hanya ingin menikmati setiap bilah halaman hidup”

“Sampai kapan?”

“Sampai saya bisa mewujudkannya”

“Tepatnya kapan?”

“Tak pernah ada yang tahu itu kecuali Ia Yang Maha Tahu”

“Tak pernahkah kau tengok mereka yang sudah meninggalkanmu jauh”

“Saya adalah saya. Saya bukan mereka”

“Cukup?”

“IYA”

Tak terpandang luasnya segara
Tak teraba dahsyatnya Mahacipta
Bertanya pada takdir dan tak pernah ada jawaban
Menunggu dan tetap berusaha mewujudkannya
Niscaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar