Sabtu, 01 September 2012

SEEKOR ANJING TUA



Mata coklat yang tajam
Serta rambut hitam yang sudah beruban
Berperan layaknya antagonis dalam sebuah layar
Menikam

Terpaku dalam kepungan bangunan yang rapuh
Memandang dua ekor kucing yang ingin memadu cinta
Sang jantan hilang, betina yang pasrah
Sang jantan datang, betina yang gundah
Asmara...
Tak selamanya indah

Bunyi gaduh dari pukulan palu yang entah dimana
Melengkapi sunyi di antara hati
Ruang lengkap dengan rasa
Diam

Seekor anjing tua yang kesepian berjalan kesana-kemari
Mencari perhatian dari mahkluk lain yang tak mungkin jatuh hati
Yang ada hanyalah ia yang patah hati
Tak ada anak, suami, atau teman yang menemani
Hanya berharap sisa kasih dari orang yang sudi
Dia

Jiwa-jiwa mematung tanpa kata
Sibuk dengan tombol demi tombol merangkai kata
Kalimat yang ingin mereka ungkapkan
Tapi tak bertaut dalam suara
Hanya meronta meminta untuk terucap
Rasa

Seekor anjing tua yang kesepian berjalan kesana-kemari
Mencari perhatian dari mahkluk lain yang tak mungkin jatuh hati
"Bagaimana cara ia menggaruk punggung gatalnya?"
"Lihatlah!"
Ia berguling di atas lantai kasar berdebu
Menikmatinya
Bagai di surga

"Bagaimana dengan hari ini?"
"Biasa saja"
"Oh biasa"

Telusuri hiruk pikuk yang tak ternikmati
Berteduh dari sengatan surya di atap biru
Dan berjalan di arah yang salah
Meski diam
Kau tampak teduh
Sempurna

Seekor anjing tua yang kesepian berjalan kesana-kemari
Mencari perhatian dari mahkluk lain yang tak mungkin jatuh hati
Di awal hari
Di awal perasaan
Mengalir
Karena kau suka, aku pun suka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar