Mata coklat yang tajam
Serta rambut hitam yang
sudah beruban
Berperan layaknya
antagonis dalam sebuah layar
Menikam
Terpaku dalam kepungan
bangunan yang rapuh
Memandang dua ekor
kucing yang ingin memadu cinta
Sang jantan hilang,
betina yang pasrah
Sang jantan datang,
betina yang gundah
Asmara...
Tak selamanya indah
Tak selamanya indah
Bunyi gaduh dari pukulan
palu yang entah dimana
Melengkapi sunyi di
antara hati
Ruang lengkap dengan
rasa
Diam
Seekor anjing tua yang
kesepian berjalan kesana-kemari
Mencari perhatian dari
mahkluk lain yang tak mungkin jatuh hati
Yang ada hanyalah ia
yang patah hati
Tak ada anak, suami,
atau teman yang menemani
Hanya berharap sisa
kasih dari orang yang sudi
Dia
Jiwa-jiwa mematung tanpa
kata
Sibuk dengan tombol demi
tombol merangkai kata
Kalimat yang ingin
mereka ungkapkan
Tapi tak bertaut dalam
suara
Hanya meronta meminta
untuk terucap
Rasa
Seekor anjing tua yang kesepian
berjalan kesana-kemari
Mencari perhatian dari mahkluk lain
yang tak mungkin jatuh hati
"Bagaimana cara ia menggaruk
punggung gatalnya?"
"Lihatlah!"
Ia berguling di atas lantai kasar
berdebu
Menikmatinya
Bagai di surga
"Bagaimana dengan hari ini?"
"Biasa saja"
"Oh biasa"
Telusuri hiruk pikuk yang tak
ternikmati
Berteduh dari sengatan surya di atap
biru
Dan berjalan di arah yang salah
Meski diam
Kau tampak teduh
Sempurna
Seekor anjing tua yang kesepian
berjalan kesana-kemari
Mencari perhatian dari mahkluk lain
yang tak mungkin jatuh hati
Di awal hari
Di awal perasaan
Mengalir
Karena kau suka, aku pun suka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar