Selasa, 04 September 2012

RUANG KREM


Aku berhujat pada angin
Tentang kesendirian dan alfanya berkas
Membuyarkan perasaan tentang laut yang tenang
Bahwa ia hanyalah kumpulan air yang dangkal

Tak ada api yang menasihati bahwa panas bukanlah ia yang sebenarnya
Anginlah yang memberi ia nafas
Dan aku hanya mematung dalam cawan berwarna krem
Seadanya, dalam balutan rasa yang kosong
Diam dan tak bisa menjelaskan

Mungkin kau tak akan pernah mengerti apa yang sedang aku isyaratkan
Layaknya burung terbang untuk badai
Layaknya serigala menyalak untuk gempa
Tak ada laut yang akan menyapa selamat pagi padanya
Karena perasaan ia telah surut
Ia hanyalah butiran pasir di pantai tandus
Sendiri adalah takdirnya
Selalu

Surau terisi aku yang parau
Memandang arah depan dengan mata yang kosong
Tak ada syahdu merdu dan semilir kedamaian
Yang ada hanya pilu bercampur garam kegelisahan
Menantimu adalah hal yang tak mungkin aku temui
Aku jauh, maka Kau pun jauh

Belikat menarikku untuk tetap tegak
Memendam asa dalam bulir putus asa
Keberanian untuk membutakan zaman
Membuatku teriris dengan luka mendalam
Terbasuh garam dan teriris lagi
Menyakitkan, bukan?
Dan aku hanya diam
Karena aku hanya mampu diam

Di ruang krem 
Aku menunggumu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar