Jumat, 05 Oktober 2012

Hujan, Sebuah Pepatah Kepergian



SMS
A: Pergilah. Ungkapkan apa yang ingin kau utarakan
B: Terima kasih. Maaf sudah melibatkanmu
A: Aku adalah bagian dari apa yang terjadi pada kisahmu saat ini. Sewajarnya aku seperti ini.
B: OK

***

I’m not the deity who has no sin
I’m not a paper which has no stain
I’m just a woman
Colors and desire
Make me perfect
And also terrify

Derasnya hujan membuat dunia seolah bisu. Indahnya lirik yang kawin dengan musik mendayu tak mampu lagi cairkan hati. Tak terkecuali dua insan yang sedang duduk beraduhadapan. Entah apa yang membuat mereka masih bertahan. Mungkin HUJAN. Mungkin.

“Saya minta maaf. Semuanya di luar kendali” Ujar lemah seorang wanita yang sedang duduk lemas sembari menundukan wajahnya.

“Kamu bahkan tak berani menatap saya. Terima kasih atas rasa bersalah yang selalu sengaja kamu pamerkan agar dunia tahu kalau kamu sangat menyesali semuanya. Agar persepsi orang menjadi berubah. Mereka akan menganggap saya pria paling jahat di dunia yang membiarkanmu mengemis. Itu yang kamu mau?” seorang pria yang duduk tepat di hadapan sang wanita dengan lantang berbicara. Ia tampak terbakar amarah. Amarah yang memang seharusnya ia tunjukan. Saat ini.

“………” Sang wanita terlihat tak berkutik. Ia jelas-jelas berada di posisi yang sama sekali tidak nyaman.

“Baik. Jika tidak ada hal lain yang penting untuk dibicarakan, saya pamit pergi” Sang pria bergegas mengenakan jaket dan mengangkat tas punggungnya.

“Tunggu. Di luar masih hujan” Sang wanita bangkit dari kebekuan. Ia nampak masih butuh waktu untuk mengungkapkan hal yang ingin ia ungkapkan.

“Tidak ada alasan untuk saya tetap bertahan dengan kamu. Kamu tidak pernah benar-benar mencintai saya, lalu apa lagi? Hujan tak akan pernah menyakitkan untuk saya lalui. Di sini saya malah akan makin terluka dengan apa yang kamu tunjukan. Berpestalah denga masalah yang sengaja kamu buat sendiri. Nikmatilah!” Sang pria tak lagi memperdulikan permintaan sang wanita. Ia bergegas pergi tanpa menoleh sedikit pun kepada sang wanita. Sang wanita yang saat itu kembali tertunduk. Ia menangis sesegukan dalam kerapuah dan kehancuran. Ia menyadari semuanya. Menyadari bahwa ia memang telah menyia-nyiakan kemurnian cinta sang pria. Ia telah dengan rela membiarkan sang pria pergi. Pergi dalam derasnya hujan. Hujan yang selalu ia rindukan.

Izinkan aku mengeluarkan segala macam dan bentuk kata
Rindu, kangen, terkenang, atau apalah yang lebih tepat menggambarkannya
Aku hanya ingin mendekap hujan
Yang penuh dengan pepatah kepergian
Saat aku tak melihatmu
Hujan tlah menghitamkan langit
Mengunci sinarmu rapat
Mengalirkan perasaan yang masih sempat kugenggam
Tentangmu
Tentang kepergianmu

Dunia tak sehebat yang mereka duga
Cinta hanya terucap dari analogi sang pujangga
Tak akan pernah ada yang terakhir di hatimu
Kecuali ia yang saat ini sedang kau cintai
Yang mungkin akan berganti ia yang lain saat kau berganti hati

Pergilah engkau serpihan rindu
Berlarilah engkau bersama aliran hujan yang membuatmu jauh dariku
Biarkan aku terpaku di sini
Membiarkanmu pergi
Dalam tangis yang tak tampak
Bersama hujan
Belajar untuk mengenangmu
Jauh.

In the middle of the rain
I just keep crying when I know u’re leaving
Oh baby…
I know u don’t want to
But I’ve made it comes true

Di tengah derasnya hujan, terdengar sayup-sayup musik yang sedang diputar oleh sang pemilik kafe. Seorang wanita duduk memandang jendela yang penuh dengan bulir air, mengaburkan pandangan. Pemandangan yang takkan pernah ia lupakan. Saat sang pangeran impiannya pergi dalam lebatnya hujan.

“Engkau akan selalu menjadi pangeran terakhir saya. Hujanlah saksinya”

***

SMS
B: Kamu sedang dimana?
A: Aku sedang di rumah. Hujannya deras, acaranya batal”
B: I Love You
A: HAH????

Tidak ada komentar:

Posting Komentar