Sabtu, 14 April 2012

DRAMA TUNDRA (PART 1: LOVE IN CLAYTON)

Cerita ini merupakan SEASON 2 dari Cerita : I MISS U. Jadi bagi pembaca yang ingin membaca cerpen ini, dianjurkan untuk membaca 5 (LIMA) PART dari cerpen I MISS U.


Clayton, Saturday
Saya pandangi langit kota kecil Clayton di atas saya. Jingga dan polos. Tak nampak satu awan pun yang terbang menjelajahinya. Kosong. Andai saya punya kehendak atasnya, saya ingin mencurahkan apa yang saya rasakan sekarang dalam lembaran langit itu. Karena buku yang saya pegang saat ini tak mampu memuatnya. Terlalu panjang dan tak bisa dipersingkat. Lembar terakhir ini enggan saya isi. Tapi harus saya isi. Segera. untuk mengakhirinya.


Sore ini sudah jam 20.00 waktu Victoria. Masih tampak terang, meskipun hari telah memerah. Ya, di sini sekarang musim panas. Matahari menampakkan dirinya lebih panjang, ia sedang berpesta di titik southern summer solstice, sebuah titik dimana selatan lebih panas dan membara.

Saya duduk di sini. Sendiri dalam kesendirian. Memagutkan rasa dengan perasaan. Meneguk kopi dalam gelas-gelas besar. Hanya sekedaruntuk melupakanmu. Kamu!!!! Salah satu alasan kenapa saya ada di sini sekarang, melupakanmu. Meski sukar.

Saya duduk di bangku taman depan flat. Saya sengaja meninggalkan teman-teman saya yang sedang merayakan pesta ulang tahun salah satu penghuni flat. Bukannya saya tidak turut berbahagia untuk hari ini. Entah, saya benar-benar ingin sendiri dalam kesendirian. Satu tahun di sini tak mampu menghilangkan rasa itu. Sungguh. Meskipun semuanya tak seperti dulu lagi. Jauh dari keadaan semula.

Teori konservasi energi menyatakan bahwa energi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan. Energi hanya bisa bertransformasi dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Apakah rasa ini juga kekal? Atau kini berubah ke bentuk lainnya? Saya kurang paham dan tak pernah ingin memahaminya.

#SHORT MESSAGE SERVICE#
From: Prabu
Hai sweety, do u have plan for tomorrow? Aku pengen ajak kamu ke Philip Island. Lihat penguin. Yang lucunya kayak kamu…..

Lamunan saya seketika pecah. Pesan ini menyadarkan saya bahwa sebenarnya saya tidak sendiri. Masih ada dia. PRABU.

Prabu Yudistira Andoro adalah pacar saya saat ini. Dia datang disaat saya hampir tak percaya lagi dengan semua kata bermakna cinta. Saat dimana saya merasa lebih baik menjadi seorang soliter sejati. Meski pun ternyata saya tidak bisa.

#FLASHBACK#
Rooftop Café, Melbourne


Sekarang saya sedang berada di tempat dimana saya merasa jauh lebih dekat dengan langit. Berusaha memotong daging panggang yang sedikit alot. Sembari sesekali memandang ia yang sedari tadi terus memandangi saya.

“Mas, kenapa ajak saya ke tempat semewah ini?” tegas saya pada seorang pria yang sedang berada di depan saya. Di balik nyala lilin yang temaram, ia tersenyum hangat pada saya. Membuat saya tak mampu melihatnya terlalu lama.

Mas Prabu adalah kakak tingkat saya waktu SMA di Bandung. Kurang lebih lima tahun kami tidak bertemu atau pun bertegur sapa. Tapi Tuhan berkehendak lain nampaknya. Sekarang kami kuliah di kampus yang sama. Kami melanjutkan program master dengan program beasiswa yang sama pula.

“Jodoh gak akan kemana, Rindu” Ucapnya saat kami bertemu di tempat pelatihan bahasa inggris di Jakarta.

“Mas, jangan pandangi saya seperti itu” Saya mulai risih dengan apa yang sedang ia lakukan.

“Maaf, aku hanya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Jutaan malam sudah aku lewati tanpa apa yang aku lihat saat ini. Sekali lagi maaf ya Rindu.” Jawabnya lembut. Ya, dia lelaki yang sangat lembut. Kata-kata yang keluar dari mulutnya pun selalu terangkai dengan indah. Dia sangat baik.

“Gak usah minta maaf juga mas. Emh, ayo kita lanjutkan makan” saya mencoba mengalihkan topik yang sedang ia bangun. Saya takut memulainya. Saya tak ingin memulainya sekarang. Terlalu cepat.

“Enam bulan kita sudah dipertemukan kembali dalam ruang takdir ini. Ruang dimana aku menemukanmu sebagai sosok yang anggun dan cantik”

“Sudahlah mas, jangan membuat saya melayang ke langit tertinggi, saya tak ingin jatuh lagi”

“Aku tak sedang berusaha membuatmu seperti itu, aku ingin kau tetap di sini. Berpijak di bumi bersamaku.” Tiba-tiba suasana menjadi super hening. Hanya hembusan angin yang sangat kuat dan suara live music samar-samar yang terdengar membelah telinga. Dia hanya simpulkan senyum pada saya. Senyum yang sama saat orang lain ingin mengungkapkan hal yang serupa. Dulu. Di sebuah masa lalu.

“Maaf, Rindu. Aku adalah tipe orang yang tak bisa memendam perasaan. Aku harus ungkapkan apa yang aku rasakan.” Mas Prabu sangat jauh berbeda dengan dia. Lelaki yang tak pernah tahu bagaimana ia harus ungkapkan perasaannya.

“Saya hanya tidak terbiasa, Mas”

“Aku sempat baca beberapa tulisan di blog mu. Dan aku rasa, kamu akan mudah untuk membiasakan diri mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulutku. Hampir semua tokoh wanita dalam cerpen mu mendambakan pria yang sangat romantis bukan?”

“Ya, tapi itu hanya sebatas tulisan. Saya tak pernah benar-benar mendengarnya langsung” ucap saya dalam hati.

“Tapi aku punya kesempatan kan untuk menjadi tokoh cerpenmu dan membuatmu mendengarkannya secara langsung?” tanyanya lugas

“Beri saya waktu mas” Suasana kembali hening.

Malam…
Beri saya waktu untuk tenggelam dalam kenangan
Tak inginkah engkau merasakan apa yang saya rasa kemudian
Dimana semuanya mengalir tulus tanpa tekanan
Biarkan energi itu bertransformasi karena alam
Bukan karena sebuah rekayasa atau pemikiran dangkal
Drama biarlah tetap ada sebagai drama
Tundra mengering dalam penantian
Malam…

#END OF FLASHBACK#

#SHORT SERVICE MESSAGE#
To : Prabu
Sore mas, kayaknya gak ada acara lain selain pergi ke laundry. Tapi tenang mas, semuanya bisa ditunda. :)

Saya memang sudah seharusnya keluar dari zona ini. saya harus benar-benar membuka diri. Saya lelah berperan sebagai wanita tegar yang rapuh. Saya harus kembali merenggut bagian hati yang sempat saya titipkan untuk saya titipkan kembali pada sosok yang berbeda. PRABU.

Kembali saya tutup buku yang sedang saya genggam. Mungkinkah memang saat ini belum waktunya saya harus mengakhiri semuanya? Entahlah.

#FLASHBACK#
“Ganteng, saya sedikit lelah. Mimpi itu tak kunjung terwujud. Saya hanya membuang-buang waktu” Keluh saya padanya. Tak ada tempat ternyaman untuk menyandarkan kepala saya saat ini selain bahunya yang bidang.

“Apakah ini sebuah keluhan? Jika benar maka hentikanlah. Tak pernah ada gunanya” Dia menanggapinya sembari menegakkan kepala saya.

“Pandangi saya!” ucapnya dengan nada yang sedikit meninggi.

“Kamu punya potensi. Hanya waktu saja yang belum datang. Tunggu dan bersabarlah.”

Saya hanya menganggukan kepala. Saya sangat tahu, dia tak pernah suka sosok wanita seperti saya saat ini. Rapuh.
#END OF FLASHBACK#

Sekarang saya berada di sini
Keyakinanmu membawa saya ke tempat ini
Meski tanpa kamu di sini
Di hati ini


Philip Island, Sunday 10 a.m
Saya pandangi horizon di depan saya. Terbentang luas dan tenang. Biru.

“Laut ini dalam, maka dari itu dia diam dalam ketenangan. Di tempat ini aku selalu kembali tersadarkan bahwa air beriak itu memang pertanda dangkal.” Jelas dia pada saya yag dari tadi hanya diam.

“Ya, dia tenang. Cintanya sangat dalam. Tak pernah ada ungkapan berlebih. Dia hanya bisa mengungkapkannya dalam diam.” Entah apa yang saya ucapkan. Apakah ini untuk dia? Atau mencoba menyambungkan bahasan seorang pria yang ada di hadapan saya. Saat ini.

This place is so beautifull” ujar saya kepada dia. Mencoba mengkamuflase keadaan sebenarnya.

“Yup, coba deh rasakan air pantainya. Sangat dingin. Kita berada di tempat yang dekat dengan kutub selatan” jelas dia sambil melambaikan tangan. Mengajakku untuk berada di dekatnya. Merasakan dinginnya samudera. Sepertinya dia tak mengerti apa yang saya utarakan tadi. Mudah-mudahan saja.

Saya berjalan mendekatinya. Mencoba untuk memandangnya lekat. Berusaha mengaitkan perasaan yang selama ini masih tergantung bebas di angkasa khayalan. Membuat drama benar-benar menjadi nyata. Dia pria terbaik saat ini untuk saya.

“Tulislah namanya di pasir ini” Tiba-tiba dia mengatakan hal itu saat saya sedang mulai merasakan dinginnya air samudera. Saat saya yakin bahwa dia tak sepenuhnya mengerti. Tapi ternyata dia paham, lebih dari mengerti.

“Biar laut yang akan menghapusnya. Aku tak ingin kamu selalu seperti ini. bermain DRAMA.


#SONG#
Rather Die Young – Beyonce

Boy you'll be the death of me
You're my James Dean
You make me feel like I'm seventeenYou
drive too fast, you smoke too much
But that don't mean a thing
'Cause i'm addicted to the rush

'Cause I rather die young
Than live my life without you
I rather not live at all
Than live my life without you



Clayton, Sunday 9 p.m
Hari ini saya senang. Ya, dia berhasil membuat saya tertawa lepas. Meski sedikit ganjil. Entahlah.

Malam ini saya membuka laptop untuk sekedar mengecek e-mail serta membuka facebook. Entahlah, tiba-tiba saya ingin mengeceknya. Ternyata perasaan memang tak pernah salah. Ada sebuah pesan di inbox. Pesan dari seseorang yang sudah lama hilang.

#INBOX#
From: Kaleb
Sudah dapet pacar baru nya?

Tahukah Anda? Anda tak pernah tahu apa yang sebenarnya saya rasakan. RINDU.

1 komentar:

  1. qo ceritanya mirip yg saya alami seh??
    jgn2..km bisa baca pikiran sy ya?? wkwkwk
    antara move on dan tidak..haha #galau

    msh warming up,,jd blom greget fan,,nunggu klimaksnya..hhe

    BalasHapus