
Inginku berada di
angkasa
Tak ada kritikan,
bising klakson, dan musik yang tak jelas
Bagiku hidup adalah
pilihan
Pilihan untuk pulang
atau tetap berada dalam “kenyamanan”
“Apa kabar Indonesia satu dekade kedepan? Diprediksikan pendapatan
per kapita dari rakyatnya akan meningkat tajam. Semua orang akan dengan mudah
dan gegabahnya membeli kendaraan baru. Sekarang jalan-jalan di kota besar
sedang sekarat menunggu kematiannya” Cerocosku kesal. Siang dan terik yang
seakan menguliti seluruh pori di tubuh ini melengkapi kemacetan jalan
Rancaekek. Besok Indonesia akan menyelenggarakan sebuah pesta demokrasi lima
tahun sekali. Meskipun hari-H nya itu jatuh di tengah-tengah pekan, tapi tetap
saja semua orang seakan menyambutnya.
“Kalau saja bukan demi negara, aku tak akan berkorban sejauh
ini” Lanjutku mengeluh. Hari ini terlalu berat untukku. Dari pagi sampai tengah
hari aku harus mengikuti UTS maraton. Seluruh mood dan energiku sudah aku kerahkan semua. Tak ada sisa. Saat ini
yang ada hanyalah emosi yang terakumulasi. Dan keadaan ini layaknya stimulan
emosi. Membuncah dan pecah.
“Ini baru saja beberapa ratus meter dari kosanmu, Neng”
Timpal Riri, lelaki yang mengendarai mobil yang aku tumpangi. Dia asik
mendengarkan lagu dari band
kesukaannya, imagine dragon, sambil
sekali-sekali melepaskan tangannya dari kemudi. Berjingkrak-jingkrak layaknya
seorang penabuh drum. Sebenarnya aku
ingin sekali protes. Musik yang ia putarkan sungguh membuat emosi semakin
membuncah. Dentuman drum memacu
jantung ikut bergetar hebat. Tapi.... Aku hanya akan membuang tenaga. Ia tak
akan menurutiku untuk memberhentikan pemutar musiknya atau minimal mengganti
daftar putarnya. Aku lebih baik menikmatinya.
“Tapi ada sedikit rasa bahagia melihat keadaan ini. Aku jadi
tahu bahwa antusiasme penduduk bangsa ini untuk ikut serta menyumbang suara
cukup tinggi” Untuk sedikit meredam keadaan aku mencoba untuk mengingat-ingat
tayangan motivasi yang semalam aku tonton. Sang trainer menyatakan bahwa semua
hal sebaik apa pun pasti ada sisi buruknya. Dan begitu pun sebaliknya. Think Positive!!!
“Menurutmu semua orang yang bepergian ini punya niat untuk
nyoblos besok?” Tanya Riri padaku sembari mengecilkan volume pemutar musiknya. Sedikit
ketenangan mulai tercipta. Meski pun hanya sedikit.
“Ya... Kemungkinan besar” Jawabku spontan.
“Siapa tahu mereka adalah manusia-manusia apatis seperti
saya. Saya pulang karena murni rindu suasana rumah” Timpal Riri. Dan laju mobil
pun melambat dan berhenti.
“Aku heran dengan kaummu. Tak pernah peduli nasib bangsa?”
Ya. Kami, aku dan Riri, berasal dari dua kaum berbeda. Kaum nasionalis dan kaum
apatis. Bagiku, negara adalah identitasku. Dan semua hal yang menyangkut negara
juga berarti urusanku. Sedangkan Riri masuk ke kaum seberangnya, apatis. Setahuku,
sejak ayahnya yang seorang polisi meninggal 17 tahun yang lalu, Riri memutuskan
untuk tidak peduli dengan nasib negara. Bagi dia hidup adalah dirinya dan
orang-orang terdekatnya. Tapi menurutku, apapun alasannya, menjadi seorang
apatis bukanlah sebuah solusi untuk memperbaiki jati diri bangsa ini.
“Setajam itukah kesimpulanmu? Ada beberapa alasan kenapa
saya memilih untuk golput. Pertama, karena saya tidak paham konsep politik. Terlalu
abstrak. Apalagi di zaman sekarang. Kalau ada produser yang gila, bisa saja
kehidupan politik bangsa dijadikan opera sabun di televisi. Semuanya hancur. Korupsi,
video mesum, perselingkuhan, kebijakan bloon,
perceraian... Semuanya terlalu drama”
“Tapi bukannya kita harus melakukan perubahan?” Aku
menjegalnya karena sudah tidak tahan untuk mengkontradiksi pernyataannya yang
menurutku dangkal.
“Neng, pemilu ala-ala demokrasi ini bukan cuma tahun ini
saja. Bukannya kita sudah melakukannya sedari lima belas tahun yang lalu. Ada perubahan?
Ada... Semuanya jadi serba mahal. Itu bedanya. Kedua, memilih atau tidak itu
adalah hak dasar manusia. Menurutku golput adalah sikap” Jawab Riri melanjutkan
cerocosnya.
“Ya... Sikap kaum apatis” Jawabku dengan nada sedikit sinis.
“Tepat”
Tiba-tiba hujan mengguyur. Wangi tanah basah menyeruak memasuki
mobil yang memang dikehendaki tidak ber-AC. Seketika riuh suara klakson,
pengamen, pedagang, teriakan orang-orang stress, dan musik rok tak lagi
terdengar. Hanya riuh gemericik air yang menimpa badan jalan. Ini lebih baik. Suasana
mendingin. Sejenak.
Entah apa yang ada dipikiranku. Intinya aku ingin
menyampaikan apa yang menjadi keyakinanku. Dan pada saat ini, Riri bertolak
belakang denganku. Aku merasa gatal untuk tidak mendebatnya lanjut. “Tapi aku
suka heran. Kadang kaummu seakan menjadi oposisi. Mengeluh dan seakan menolak
setiap kebijakan yang ada”
“Itu bukan kaum saya. Dulu saya memang begitu. Tapi lima
tahun terakhir ini saya insyaf. Saya sudah tuli dengan semua isu yang ada. Saya
hanya ingin fokus dengan diri saya pribadi. Bukankah suatu bangsa akan menjadi
besar jika setiap individunya berkarya dengan baik di setiap bidangnya? Hanya
itu yang bisa saya berikan pada negara ini” Jawab Riri dengan nada yang sedikit
menurun di ujung setiap kalimatnya.
“Tapi Indonesia kan negara besar. Bukan hanya beberapa RT
saja. Perlu wakil dan figur yang tepat” sanggahku lagi.
“Apa kamu yakin tokoh yang kamu pilih itu benar-benar tepat?”
“100 persen yakin sih enggak. Minimal saya memilih yang
terbaik dari yang baik”
“Itulah kaummu yang minimalis. Tidak pernah ada standar
tinggi. Kalau saya coba revisi apa yang kamu katakan tadi, kamu harusnya bilang
bahwa kamu mencoba memilih yang lumayan baik dari yang kurang baik”
“Menurutku orang yang sudah berani mencalonkan atau bahkan
yang dicalonkan sudah ada beberapa yang memang kompeten. Apa salahnya mencoba
untuk memilih mereka yang menurut kita tepat. Apa yang akan terjadi kalau kamu
gak nyoblos terus yang terpilih ternyata orang yang tidak tepat”
“Dan apakah kamu yakin suara “tepatmu” akan menjamin tokoh
yang tepat menurutmu duduk di parlemen? Apa kamu yakin akan mengalahkan suara
orang-orang kurang mampu yang diserang dengan uang di rebub-rebun fajar? Come
on, buka mata. Rakyat Indonesia tercinta masih butuh dengan uang sepuluh ribu. Suara
mereka yang menurutmu teramat berharga bisa dibeli begitu saja untuk memilih
orang yang tidak tepat. Saya berjanji bahwa saka akan melepaskan predikat
sebagai manusia apatis hanya jika semua manusia sudah tidak butuh uang”
Tiba-tiba Riri memberikan jari manis tangan kirinya kepadaku. Dan aku hanya
bisa meraihnya. Mengikatkan jari manisku kemudian. Meskipun menurutku itu
mustahil. Tapi dengan perjanjian ini, aku merasa sudah kalah. Hal ini sama saja
dengan pengakuan bahwa sikap apatis yang dianutnya adalah suatu kebenaran.
Hujan membesar dan memadamkan ego kami berdua. Kami sama-sama
diam saat ini. Suasana benar-benar suni tepat setelah Riri mematikan pemutar
musiknya. Tak ada lagi perbincangan politik. Semuanya telah reda. Aku diam
dalam kekalahan dan mungkin Riri sebaliknya. Entahlah. Intinya dalam kesunyian
ini aku malah merasa makin tidak enak hati.
Tiba-tiba Riri membuka jendela mobil di sebelahnya.
“Pak, ada apa kok macet sampai sini?” Tanya ia pada Polisi
yang sedang berpatroli di tengah kemacetan dan hujan lebat.
“20 meter dari sini sedang ada perbaikan jalan, Mas. Tapi setelah
itu lancar jaya kok. Hari ini tidak
seperti lima tahun lalu. Sepertinya orang-orang gak pada mudik buat nyoblos”
Jawab polisi kental dengan logat jawanya.
“Oh... Terima kasih, Pak”
Segurat senyum sinis merekah di bibir Riri. Aku tahu apa
yang ia maksud. Senyumannya itu tak perlu didampingi dengan penjelasan panjang
lebar. Aku kalah telak darinya.
Bagiku, hidup memang masalah pilihan
Baik buruknya ada di tanga kita
Entah itu pilihan gaya berpakaian, genre musik, atau
pandangan hidup
Itu HAK dasar
Tak bisa diperdebatkan
Tapi apa kabar dengan KEWAJIBAN?
Kadang orang lupa dengan sis lain dalam hidup mereka
Hidup itu bukan hanya masalah pribadi
Tapi lengkap. Satu paket dengan interaksi dan dinamika
sosial
POLITIK? Of course...
Bagiku hidup itu perihal pilihan
Pilihan untuk berjuang setengah mati dalam kesendirian untuk
mewujudkan pencapaian kecil
Atau bekerja sama dengan lebih mudah untuk mencapai hal yang
jauh lebih besar?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar