Sabtu, 01 Maret 2014

SEPIRING KENTANG GORENG





Dingin
Dinginya menusuk
Apalagi jika pikiran jadi beku
Makin dingin
Tak ada yang bisa bergerak


Sore hari. Dan Bandung sangat dingin. Tidak aneh sebenarnya jika kita mengatakan bahwasanya Bandung adalah kota yang dingin. Namun beberapa bulan belakangan setelah terlepas dari musim penghujan sepanjang tahun di tahun lalu, Bandung seperti terbakar surya. Beberapa orang berkata, Bandung seperti Neraka. Sebuah pernyataan yang sangat tidak beralasan. Apakah mereka yang mengatakannya pernah setidaknya berkunjung ke Neraka? Dunia memang dipenuhi manusia-manusia penerka. Ramalan bintang, ramalan cuaca, ramalan gempa, bahkan ramalan kematian. Seperti seseorang yang sedang duduk di salah satu kursi di sudut kafe yang temaram. Ia sedang menatap jendela. Melihat hujankah? Sepertinya tidak. Ia sedang mencermati orang-orang yang berlalu lalang di tepian jalan di depan kafe tersebut. Mimik mukanya tampak kesal dan nakal. Menelanjangi setiap senti jalan. Tampaknya ia sedang menunggu seseorang. Berharap yang datang adalah orang yang sedang ia tunggu. Menerka.

Seorang pelayan datang tanpa sedikit pun ia hiraukan. Pandangannya tetap menembus hujan. Keningnya terus berkerut. Matanya terus terpicing. Berharap yang sedang menembus hujan adalah ia yang diharapkan datang.

“Ada lagi yang ingin dipesan?”suara lembut dari palayan yang selesai meletakan sepiring kentang goreng dan segelas teh lemon hangat di atas meja dihadapannya berhasil membuatnya seketika terperanjat. Setengah kaget. Ia hanya menggelengkan kepalanya lemas. Dan sang pelayan pun bergegas meninggalkan. Ia kembali sendiri di sudut kafe yang temaram. Kepalanya kembali berputar 90 derajat. Memicingkan kembali matanya. Tajam.

Tiga puluh menit berlalu. Dan hujan pun sedikit reda. Hanya tetesan-tetesan sisa yang ada. Seolah ingin tetap menemaninya, seseorang yang sedang duduk sendiri di sudut kafe temaram. Dihadapannya masih ada sepiring lengkap puluhan potong kentang goreng dan teh lemon hangat yang kini sudah mendingin.


 ***


Dingin malam
Suara bergema
Memancing nafas
Untuk berderu
Memuncaki raga

Seseorang sudah berada di bawah selimut. Seluruh tubuhnya terpintal sempurna. Dingin memang sedang meraja. Menggantikan kegusaran di hari-hari sebelumnya. Di bawah selimut itu sepasang bola mata masih terlihat terbuka. Dan simpulan senyum menyeruak lebat di kedua pipinya yang berlesung lumayan dalam. Ia nampak sedang berbahagia. Entah untuk alasan apa.

Tangannya mengepal telpon genggam erat-erat. Sesekali ia arahkan ke mukanya. Ia baca dalam-dalam dan ketik tombol demi tombol keypad teleponya. Beberapa pesan ia buat dengan sigap.

Dan malam pun berbeda baginya. Mungkin juga berbeda bagi teman berkirim pesannya.


***


Sepertinya ia hendak bergegas pergi. Hujan reda dan waktu telah lama menua. Senja hampir tiba di ujung pandangan. Ia baru saja akan mengangkat tangan memanggil pelayan untuk meminta bill. Padahal seporsi sosis goreng dan segelas kopi hitam yang sudah ia pesan sama sekali tidak ia sentuh. Pesanan untuk seseorang yang ditunggunya pun belum datang. Ia berniat untuk mengakhiri harinya lebih cepat, tadinya. Namun seketika ia menaggalkan niatnya itu. Senyum lebar berkembang seiring derap langkah seseorang yang mendekatinya.

“Maaf sudah menunggu lama. Barusan nunggu reda. Kalau hujan kan basah” Seorang datang dengan tergesa. Rambutnya yang terurai sedikit basah. “Bukannya ia datang saat sudah reda?” Terbersit pertanyaan di hati seseorang yang ada di depannya.

“Iya. Baru saja saya mau pergi, hehe”

“Benarkah? Seorang Bintang yang aku kenal tidak memasukkan kata putus asa dalam kamus hidupnya”

“Dan seorang Bulan memang seperti itu. Selalu sok tahu”

Mereka tertawa bersama. dan itulah yang akan selalu mereka rindukan selamanya.

Sepiring kentang goreng dan secangkir teh lemon hangat tiba di hadapan Bulan.

“Wah, kamu masih ingat apa yang sedang aku inginkan”

“Saya juga tahu apa yang kamu tidak inginkan. Kamu inginkan keramaian seperti ini bukan? Sedang saya suka akan kesunyian. Maka dari itu saya mengajak kamu bertemu di tempat ini, karena  saya pikir di tempat ini saya masih bisa menemukan kesunyian ditengah-tengah keramaian” Jawab Bintang.

Dan suasana tiba-tiba menjadi sunyi

“Sudahlah. Jangan terlalu melankolis. Anyway, Aku senang sekali pas kamu ngasih kabar semalam. Seperti tiba-tiba ada hujan uang di akhir bulan” Bulan berkelakar sambil menusuk-nusuk kentang goreng yang ada di hadapannya, mencocolkannya pada mayonaise dan saue sambal, kemudia melahapnya dalam-dalam.

“Kangen Bandung. Kangen dinginnya”Jelas Bintang sekenanya.

“Oh....” Balas Bulan dengan mulut yang penuh dengan kentang. Menghasilkan bunyi vokal o yang sangat bulat. Sempurna.

“Bagaimana pekerjaan kamu?” Bintang balik bertanya

“Baik dan menarik. Aku seperti hidup di dunia yang dulunya hanya sebuah dongeng. Tempat dimana aku bisa jadi diriku sendiri. Makanya sekali-kali datang kebandungnya pas weekday, kan kamu bisa dengerin aku siaran. Atau minimal streaming kek”

“Kamu kan tahu. Saya paling anti nonton tv, apalagi dengerin radio”

“Ya. Aku masih ingat. Akan selalu ingat. Kita berbeda”

“Hehe”

Tiba-tiba suasana menjadi sunyi kembali. Hanya suara garpu yang bertemu dengan piring yang terdengar nyaring. Bulan dan Bintang tiba-tiba meredup. Pembicaraan mereka padam. Seiring dengan suhu Bandung yang semakin mendekati titik jenuhnya. Entah siapa yang pintar memadamkan keramaian? Kemungkina terbesar adalah ia yang membenci kegaduhan.

Bulan melambaikan tangannya ke atas. Seseorang dengan sigap datang menuju mejanya.

“Saya minta bill nya”

“Baik, Kak” sang pelayan pun pergi seketika. Sementara Bulan merogoh tasnya dan mengambil selembar uang dari dompetnya, Bintang mengamati tingkah laku Bulan yang tampak berbeda dengan yang ia tampilkan di awal pertemuan.

“Saya yang undang kamu kesini. Jadi saya yang harusnya traktir kamu”Bintang pun akhirnya bergeming.

“Jujur, aku tidak pernah merasa diudang. Malah aku merasa sangat ingin menemui kamu” jawab Bulan lembut dan terdengar pasrah.

“Maafkan saya” Balas Bintang

“Berapa kali kamu harus minta maaf untuk hal yang tidak seharusnya aku maafkan karena tidak ada sedikit pun yang salah” suara Bulan seperti berderu. Menahan nafas untuk waktu yang lama. Di setiap suku kata yang terhembus, tersimpan ribuan kuanta emosi yang tertahan dan belum terpecahkan. Ia diam sejenak, mengambil nafas dalam-dalam.

“Kamu bukan kesalahan bagiku, sungguh” Lanjut Bulan, sedikit lebih tenang.

“Boleh kita duduk sebentar saja. Saya ingin menghabiskan waktu agak banyak sama kamu. Tapi kalau kamu memang sedang ada urusan lain, saya biar saja di sini” Mata Bintang menatap wajah Bulan dengan tegas tapi teduh. Terselip sedikit permohonan di tepian sudut matanya yang berkerut. Dan inilah kelemahan Bulan. Ia hanya manggut-manggut dan kembali menikmati renyahnya kentang goreng yang masih tersisa di hadapannya.

Tak terasa waktu berlalu. Saat teh lemon hangat sudah tak tersisa lagi di cangkir putih milik Bulan.

***

Ini adalah hari minggu dan hujan di penghujung hari telah reda. Seketika sepinya kafe terpecahkan oleh kedatangan gerombolan muda-mudi berpasangan yang hendak makan atau sekedar ngopi-ngopi cantik di kafe tersebut. Dan apa yag masih ia lakukan di sudut kafe itu? Masih menunggukah? Padahal sudah dua jam ia disini. Menelantarkan waktu. Ia masih menggenggam prinsip kepercayaan. Semalam seseorang telah janji akan datang ke Bandung hari ini. Dan mereka telah berjanji untuk bertemu di kafe ini jam 3 sore. Tapi sekarang? Dua jam setelahnya bukan waktu yang pendek untuk sebuah ritual menunggu yang sangat membosankan.

“Apa mungkin ia terjebak hujan?” Tapi saat ini sudah reda

“Apa mungkin ia terjebak macet?” Tapi ia sungguh tahu keadaan Bandung sebenarnya, bertahun-tahun dia tahu baik dan bobroknya kota ini

Duni memang dipenuhi manusia-manusia penerka

“Lalu apa?” Ia hanya berbincang dalam hati. Dengan seseorang yang entah siapa namanya.

Sepiring kentang merasa teranggurkan
Teronggok bersama secangkir minuman dingin bernama teh lemon hangat
Dan Bulan tetap terjaga
Menatap jendela yang bukan lagi menjadi media transpara
Ia telah menjadi pemantul sempurna dibalik kegelapan malam

“Padahal aku sedang butuh kamu, Bintang. Aku ingin kamu minta maaf kali ini”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar