Minggu, 26 Januari 2014

NASIB MIRANTI




Seorang gadis. Berbaju terusan putih. Namun tampak tak rapih. Siapakah gerangan? Dari tadi ia pergi kesana kemari. Seperti hendak mencari. Sesuatu yang mustahil terjadi lagi.

Menelusuri pantai seorang diri
Berpayung langit nan sepi, tanpa awan. Tanpa burung. Hanya rona pipi
Desar desir angin yang tertusuk pasir
Dan ia hanya berlalu pergi tanpa memaknai
Menapaki gurun tanpa meninggalkan jejak kaki
Ia hanya ilusi

Angin bergemuruh sampaikan pesan tentang kegersangan dari seberang
Rindu?
Entahlah
Tak akan ada yang mengerti perihal itu kecuali dia
Miranti
Bunga yang baru tumbuh ranum namun telah layu membiru
Jatuh terinjak dan dimakan tanah
Itulah perumpamaannya
Perumpamaan bagi ia yang sedang mengutuki nasibnya sendiri
Elegi

Apa yang hendak ia lakukan di ujung tebing sebelah barat itu?
Ia tampak akan melompat cepat
Apakah ia hendak mengunci waktu?
Lalu pergi dan tak pernah berpaling muka lagi?
Ombak sepertinya paham
Ia lalu surut ke dasar palung
Biarkan Miranti yang sedang mematung
Tergantung

Ombak gemulai menyapu pantai
Riuh berarak, riak bergulir
Menyapu apa saja yang tak perlu ada pada dasarnya
Setiap kuanta cahaya jingga sore ini adalah saksinya
Miranti mengadu, mengeluh
Tentang sesuatu hal yang tak mungkin kembali
Hal yang hanya satu-satunya
Dan ia tak akan pernah hadir lagi

Senja... senja... senja
Begitulh Miranti merajuknya
Ya. Namanya senja
Ia yang dulunya bernama pagi
Yang cerah dan menawarkan hari sempurna
Namun ternyata ujungnya seperti ini
Ya beginilah
Jika kau mengerti saat ini
Air matamu akan menetes deras
Paham bahwsanya waktu telah terenggut
Inilah saat yang tepat untuk mati

Disaat bayangannya hampir lenyap
Miranti pun terlihat hendak pulang
Ia turun dari bukit dengan luka di kedua lututnya
Berjalan gontai sedikit mengangkang. Pincang
Mengharukan, bukan?
Di ujung bibir pantai yang telah surut ia kembali mengadu. Mengeluh
Terisak pada sang Maha Merah
Dimanakah kebanggaannya kini?
Ia telah lenyap dan tergagahi
Hilang sudah
Hilang cuma-cuma
Hilang sudah
Hilang sudah

Sebilah belati ada di genggaman tangan kanannya
Terangkat tegas dan siap terhunus pasti
Begitulah
Nasib Miranti

Tiba-tiba ombak menjadi gagah. Merenggut rona merah dari bibirnya. Perayaankah? Entahlah. Sebagai bagian dari triliunan molekul air dan garam di laut. Aku tak pernah paham pasti. Karena aku bukan manusia. Kami berbeda dunia. Kesedihannya mungkin berarti kesenangan bagi kami. Baiklah. Aku akan mencoba selepas mungkin menariknya. Akan aku sampaikan darah ini pada seluruh penjuru dunia. Tentang kisah seorang Miranti. Gadis yang baru aku kenal sore ini.

1 komentar:

  1. Saya suka sampai ada kata "triliunan molekul air dan garam di laut". ah.

    BalasHapus