Tulisan ini adalah buncahan
kebuntuan. Tetiba di suatu sore selepas menanggalkan lelah saya
tersenyum-senyum sendiri. Hidup sudah cukup berubah. Yang berarti tak lagi
sama. Semuanya tampak lebih indah dari sebelumnya. Indah? Mungkin tidak terlalu
berjalan mulus. Dua pemikiran yang berbeda kadang menjadi ganjalan, tapi
bukankah ini saatnya menyadari semua perbedaan yang ada yang dulunya kami
berdua sempat tutupi???? Baiklah, ini saatnya.
“Wahai istriku, dulu aku pinang
dirimu bukan hanya sebagai temanku di dunia. Tapi sungguh aku ingin kamu akan
menemani hari-hariku menuju syurga-Nya”
Hari itu sudah terlewati sebulan
lebih enam hari. Semuanya terasa masih baru untuk saya ataupun untuknya. Padahal
kurang lebih sepuluh tahun kami saling kenal baik sebagai teman, pacar, atau
tunangan. Kali ini semuanya berbeda... sudah seharusnya satu mimpi dan satu
tujuan, bukan lagi berbicara dengan lantang “Ini Mimpiku!”.
“Semuanya akan terasa lebih mudah
untuk dijalani... InsyaAlloh” Bisiknya lembut. Bisikan yang selalu
membuat saya bersemangat untuk menjalani hari. Mewujudkan mimpi. Bersama.
Inilah saya yang sesungguhnya. Kalimat
itu yang selalu ingin saya dengungkan di saat-saat kebersamaan dengannya. Namun
beberapa hal menurut saya masih harus sedikit diadaptasi. Tidak semuanya harus
diberi label jujur atau alamiah. Menurut saya, untuk menjaga “keharmonisan”
maka ada beberapa hal yang tetap harus dibungkus rapi dan cantik. Dengan
harapan lama kelamaan isi yang ada dalam bungkusan tersebut akan keluar
nantinya menjadi lebih indah. Begitulah konsepnya. Saya akan berusaha sebaik
mungkin.
Setiap pagi (kecuali memang ada
halangan khusus), istri saya tercinta menyediakan sarapan yang cukup bisa
diterima lidah. Tidak semuanya enak luar biasa dengan rasa surgawi memang,
namun jauh diatas itu adalah keikhlasan dan kemauan untuk menyediakan yang
terbaik buat saya.
“Dia adalah istri impian”
Beberapa orang berpendapat demikian. Dalam lubuk hati saya benar-benar tersipu dan
mengamini semua ucapan baik dari orang lain. Satu hal yang saya ingin pastikan, apakah saya
suami impian baginya? Mudah-mudahan saja.
“10 tahun......” Bisik saya dalam
hati. Yah.... begitu sangat lama. Dan prosesnya begitu sangat rumit. Dari hanya
teman biasa, adek kakak, pacaran tidak jelas, tunangan, sampai menikah. Semuanya
sudah kami lewati. Mudah-mudahan proses itu mematangkan konsep hidup berdua
yang kami canangkan. Amin....
“Mengenalmu adalah salah satu
chapter paling berkesan dalam buku
takdir saya. Selalu akan saya buka dan baca berulang-ulang. Sebagai pengingat
untuk tidak melakukan sesuatu yang “bodoh””
Hari ini saya pulang kuliah jam
12.00 sedangkan dia pulang dari tempat kerjanya jam 15.00 (kemudian ke pasar
sederhana untuk membeli bahan masakan). Maka sebentar lagi kami akan segera
dipertemukan kembali.... Hahahahaha..... dan saya sangat menikmatinya. Menunggu
dia di ruang depan dekat pintu. Menunggu pintu terketuk dan senyuman manis
menebar ke setiap penjuru hati. Menyejukkan.
“Perbedaan adalah wahana untuk
saling mengalah. Meredam ego. Bukan untuk kalah tapi untuk keharmonisan. Nyaman
berarti lebih mudah untuk menang”
Tulisan ini bukan sebuah tulisan
serius atau inspirasi untuk menikah muda. Tulisan ini hanyalah tulisan
sederhana seorang pujangga yang lama sekali meninggalkan blog nya setelah masa
pra dan paska pernikahan. Mudah-mudahan bermanfaat. Pesan teman saya yang sudah
menikah lebih dulu, dia bilang merasa senang saat teman-temannya satu per satu
mulai menikah dan membuat status-status kemesraan di FB atau medsos lainnya.
Tapi kurang indah kalau di dalamnya hanyalah kata-kata mesra yang kosong. Mudah-mudahan
tulisan saya ini berisi meskipun hanya sebuah tulisan naif belaka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar