Selasa, 16 September 2014

Sore Hari dan Senyuman Di Balik Pintu





Tulisan ini adalah buncahan kebuntuan. Tetiba di suatu sore selepas menanggalkan lelah saya tersenyum-senyum sendiri. Hidup sudah cukup berubah. Yang berarti tak lagi sama. Semuanya tampak lebih indah dari sebelumnya. Indah? Mungkin tidak terlalu berjalan mulus. Dua pemikiran yang berbeda kadang menjadi ganjalan, tapi bukankah ini saatnya menyadari semua perbedaan yang ada yang dulunya kami berdua sempat tutupi???? Baiklah, ini saatnya.

“Wahai istriku, dulu aku pinang dirimu bukan hanya sebagai temanku di dunia. Tapi sungguh aku ingin kamu akan menemani hari-hariku menuju syurga-Nya”

Hari itu sudah terlewati sebulan lebih enam hari. Semuanya terasa masih baru untuk saya ataupun untuknya. Padahal kurang lebih sepuluh tahun kami saling kenal baik sebagai teman, pacar, atau tunangan. Kali ini semuanya berbeda... sudah seharusnya satu mimpi dan satu tujuan, bukan lagi berbicara dengan lantang “Ini Mimpiku!”.

“Semuanya akan terasa lebih mudah untuk dijalani... InsyaAlloh” Bisiknya lembut. Bisikan yang selalu membuat saya bersemangat untuk menjalani hari. Mewujudkan mimpi. Bersama.

Inilah saya yang sesungguhnya. Kalimat itu yang selalu ingin saya dengungkan di saat-saat kebersamaan dengannya. Namun beberapa hal menurut saya masih harus sedikit diadaptasi. Tidak semuanya harus diberi label jujur atau alamiah. Menurut saya, untuk menjaga “keharmonisan” maka ada beberapa hal yang tetap harus dibungkus rapi dan cantik. Dengan harapan lama kelamaan isi yang ada dalam bungkusan tersebut akan keluar nantinya menjadi lebih indah. Begitulah konsepnya. Saya akan berusaha sebaik mungkin.

Setiap pagi (kecuali memang ada halangan khusus), istri saya tercinta menyediakan sarapan yang cukup bisa diterima lidah. Tidak semuanya enak luar biasa dengan rasa surgawi memang, namun jauh diatas itu adalah keikhlasan dan kemauan untuk menyediakan yang terbaik buat saya.

“Dia adalah istri impian” Beberapa orang berpendapat demikian. Dalam lubuk hati saya benar-benar tersipu dan mengamini semua ucapan baik dari orang lain.  Satu hal yang saya ingin pastikan, apakah saya suami impian baginya? Mudah-mudahan saja.

“10 tahun......” Bisik saya dalam hati. Yah.... begitu sangat lama. Dan prosesnya begitu sangat rumit. Dari hanya teman biasa, adek kakak, pacaran tidak jelas, tunangan, sampai menikah. Semuanya sudah kami lewati. Mudah-mudahan proses itu mematangkan konsep hidup berdua yang kami canangkan. Amin....

Mengenalmu adalah salah satu chapter paling  berkesan dalam buku takdir saya. Selalu akan saya buka dan baca berulang-ulang. Sebagai pengingat untuk tidak melakukan sesuatu yang “bodoh””

Hari ini saya pulang kuliah jam 12.00 sedangkan dia pulang dari tempat kerjanya jam 15.00 (kemudian ke pasar sederhana untuk membeli bahan masakan). Maka sebentar lagi kami akan segera dipertemukan kembali.... Hahahahaha..... dan saya sangat menikmatinya. Menunggu dia di ruang depan dekat pintu. Menunggu pintu terketuk dan senyuman manis menebar ke setiap penjuru hati. Menyejukkan.

“Perbedaan adalah wahana untuk saling mengalah. Meredam ego. Bukan untuk kalah tapi untuk keharmonisan. Nyaman berarti lebih mudah untuk menang”

Tulisan ini bukan sebuah tulisan serius atau inspirasi untuk menikah muda. Tulisan ini hanyalah tulisan sederhana seorang pujangga yang lama sekali meninggalkan blog nya setelah masa pra dan paska pernikahan. Mudah-mudahan bermanfaat. Pesan teman saya yang sudah menikah lebih dulu, dia bilang merasa senang saat teman-temannya satu per satu mulai menikah dan membuat status-status kemesraan di FB atau medsos lainnya. Tapi kurang indah kalau di dalamnya hanyalah kata-kata mesra yang kosong. Mudah-mudahan tulisan saya ini berisi meskipun hanya sebuah tulisan naif belaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar