Malam yang dingin. Hujan mengguyur bumiku saat ini. Tepat jam
12 malam. Aku masih duduk di teras rumah. Memandangi lekat lampu taman yang
terbiaskan tetesan deras hujan dengan tatapan yang kosong. Sengaja. Malam ini
adalah malam sabtu. Sebuah malam yang menuntutku untuk mengosongkan segenap
pikiran. Jika hal itu memang disebut sebagai tuntutan. Melepas semua penat yang
aku bangun melalui pimpinan perusahaan yang menuntut, customer yang bertingkah, dan rekan kerja yang menyebalkan. Malam ini
aku harus membayar semuanya. Lunas.
Deras. Hujan ini adalah hujan paling besar yang sempat aku
temui keberadaannya di tahun ini. Setidaknya itu yang aku tahu dalam
kesadaranku. Sepanjang tahun ini hidupku datar. Seperti sebuah robot di pabrik
yang sudah diprogram sedemikian rupa sehingga semuanya bisa berjalan secara
teratur. Terlampau teratur. Bangun pagi. Sarapan. Berangkat kerja. Pulang kerja.
Makan malam. Tidur. Itulah ritme dasar yang aku jalani di lima hari kerja. Dan di
akhir pekan, saatnya sang robot diisi kembali dayanya, dicharge, kebanyakan dalam keadaan kosong seperti ini. Sudah untung
karena malam ini tidak aku lewatkan hanya dengan tidur panjang dari petang
hingga siang bolong di keesokan harinya. Malam ini aku memilih untuk sendiri
dalam kesendirian. Tak hening sebenarnya. Tapi entah kenapa menurutku bunyi
gemericik air hujan telah berhasil membawaku ke suatu ruang yang
sangaaaaaaattttt sunyi. Lebih dari sebuah keadaan ketiadaan suara. Saat ini aku
merasa sangat kosong. Seperti tatapanku saat ini. Kosong.
Aku terhenyak seketika. Mataku nanar sejadi-jadinya. Tiba-tiba
ia mengelebat seketika. Sosok yang sudah lama hilang dari pandangan. Pandangan dalam
arti sebenarnya atau pun pandangan di alam bawah sadar. Sebelumnya aku sudah
sangat yakin bahwa saat ini aku sudah benar-benar bisa lepas dri dekapan masa
lalu itu. Bukannya saat ini aku sudah 99% menganggap diriku sebagai robot? Tak ada
kenangan di dalam otaku. Yang ada adalah daftar hal apa saja yang harus aku
lakukan saat ini. Baiklah. Terkadang mungkin program di otakku sedang kacau. Aku
maklumi saja. Sejenak aku mengambil secangkir teh manis yang sudah dingin dan
hitam. Pekat. Aku seruput sedikit demi sedikit. Setidaknya aliran air gula itu
akan sedikit menyegarkan kembali otakku yang mungkin saat ini sudah mengantuk. Oleh
karena itu khayalanku melayang ke hal-hal yang tidak jelas. Aku alihkan
pandanganku ke langit yang hitam kosong. Ribuan garis mencuat darinya. Garis yang
saat membentur tanah berubah menjadi cipratan dengan bentuk yang tak beraturan.
Mengapa???
Kata tanya itu tetiba menyeruak, melukis gelapnya langit
malam. Apa karena aku sudah terlalu lama sendiri? Apa memang aku sedang
merindukannya? Mengapa malam ini? Mengapa????
Sebutir air keluar saat itu. Aku yakin air itu bukanlah
cipratan air hujan. Air itu keluar dari mataku sendiri secara alami. Hangat. Dan
aku pun tersedu setelahnya. Menyadari bahwa ternyata hatiku tak sekuat yang aku
kira saat ini. Aku sadar bahwa selama ini aku memang sedang bermain peran dalam
sebuah drama besar tentang aku dan dia. Dia yang saat ini entah dimana.
Aku bukan perindu seperti
itu
Menyeka mata dengan
tisu
Mengurung hati dengan
kelambu abu
Karena tak ada satupun
yang aku cari
Kamu senantiasa di
hatiku.
Tidak untuk saat ini. Saat aku mengosongkan hati ini. Kau berkelebat
seperti mengiba untuk kembali menempati palung hati ini. Menggigil di depan
gerbang pagar. Memintaku kembali membuka pintu. Mungkin memang sudah seharusnya
dia tetap diam disini. Seperti sebuah sel kanker yang menggerogoti hati ini. Tak
pernah membiarkanku untuk hidup bahagia tanpanya. Karena memang aku sadari
bahwa bagian terindah dari hidupku adalah saat-saat bersama dia.
Semua tanpa rencana. Sesuatu yang sebenarnya paling tidak
kita ingat bisa tiba-tiba saja muncul di waktu yang tak pernah bisa kita duga. Malam
ini. Di teras rumah pukul 12 malam lewat 30 menit. Semua kehampaan berubah
menjadi kelebatan masalalu. Horizon pandangan yang gelap gulita seakan menjadi
layar. Dan rintik hujan menjadi musik latar belakangnya. Dan aku menjadi
penonton sekaligus satu dari pemain utamanya. Sebuah memoar yang tak sengaja
aku putar. Semuanya tentang dia.
Apa kabar dia saat ini?
Sebuah pertanyaan yang lagi-lagi mencuat. Menggenapkan keliaran
alam bawah sadar. Apakah empat tahun tak cukup panjang untuk sebuah sosok
kenangan mati meleleh dalam kerasnya usaha hati untuk melenyapkan segenap
kenangan itu? Aku pikir sudah bisa lepas dengan segala hal yang berkaitan
dengan dia. Semua akses untukku berhubungan dengan dia telah aku tutup sejak
lama. Bagiku dia hanyalah sebuah masa lalu yang bisa aku kubur begitu saja. Sama
seperti teman-teman SMA yang delapan tahun yang lalu telah membuatku tak bisa
makan dan tidur nyenyak karena harus kehilangan mereka. Namun beberapa saat
kemudian aku bisa melupakannya. Kenangan indah yang mereka berikan kepadaku
hanyalah menjadi tumpukan kertas handout
yang sesekali aku baca, sesekali pula aku mengingatnya.
Tapi kamu???? Kenapa kamu
muncul dan saat ini memporakporandakan pertahananku. Pertahanan diriku akan
virus rindumu.
Berbeda. Ya. Jawabannya berbeda, alias tidak sama. Sekelompok
sahabat hanya berhasil menghuni sebuah ruangan di hati yang terbiasa dihuni
banyak orang dan silih berganti. Namun ruang hati tanpa nama yang sempat dia
singgahi adalah sebuah ruangan yang ku bangun dari awal khusus untuknya. Maka saat
hati ini kosong, ia seakan meminta untuk diisi. Tak kuat untuk sendiri. Kosong.
Lima tahun yang lalu. Dia pergi tanpa permisi. Sebuah perjalanan
panjang yang akan ia tempuh menjadi sebuah alasannya. Entah kemana dan entah
untuk berapa lama. Dia meninggalkan hati ini tanpa pesan baik tersirat apalagi
tersurat. Pertemuan terakhir kami hanyalah sebuah pertemuan biasa di akhir
pekan. Tak ada tema yang monumental. Semuanya hanya berkisar pada percakapan
biasa. Pengalamannya saat menjadi pemenang turnamen futsal di perusahaan tempat
dia bekerja dan hobi barunya membiakan ikan koki. Tak ada pesan lebih yang ia
ungkapkan untuk akhirnya aku pikirkan mendalam. Lagi dan lagi. Aku hanya ikut
dalam aliran yang senyap namun asyik, tak bermakna apa-apa. Hanya menjadi
pendengar yang menyenangkan.
“Jikalau setelah itu
kau akan pergi, maka saat itu akan aku ungkapkan semuanya. Semua hal yang
sebelumnya aku pertahankan. Tak pernah terbit”
Memang tak pernah terbit, sampai tiba pada istilah terbenam.
Terbenam tanpa terbit. Gugur sebelum berkembang. Itulah perasaanku padanya.
Mungkinkah selama dua tahun kami berhubungan dia tak pernah
menyadarinya? Sebuah tempat yang berbeda di sisiku aku ciptakan untuknya. Andaikata
sama saja, untuk apa aku selalu bercerita tentang hal-hal paling menarik yang
terjadi dalam hidupku. Andaikata sama saja, untuk apa aku selalu memintanya
untuk datang saat aku ingin menangis dan membutuhkan pundak seseorang untuk
berteduh dari kegusaran. Ah... entahlah. Aku tak mau berandai-andai. Lagi. Karena
itu selalu membawaku ke keadaan terlarut. Larut dalam kenangan dan sukar untuk
kembali ke saat ini.
Bukannya aku tak
berusaha untuk mencarinya, tapi memang semuanya tanpa petunjuk. Aku hanya tahu
bahwa dia seorang mahasiswa perantau dari Sumatera yang tidak memiliki kerabat
satu pun di Jakarta. Keesokan hari setelah pertemuan terakhir itu, ponselnya
sudah tak bisa lagi dihubungi. Semua akun media sosialnya tiba-tiba lenyap. Tak
ada satupun temannya yang tahu kemana ia pergi. Pun aku. Seseorang yang aku
anggap spesial di hidupnya. Entah dengan dia.....
Inikah rindu itu? Perasaan yang teramat dalam. Sukar terselami
maknanya. Tiba-tiba sedih. Tentang masa lalu dengan seseorang yang belum tentu
seseorang itu memiliki pemikiran yang sama dengan apa yang sedang kita
pikirkan. Inikah rindu? Mencari seribu kemungkinan tanpa tahu hal apa yang
paling mungkin. Mungkin dia mati. Mungkin dia menikah. Mungkin dia pergi ke
luar negeri. Mungkin dia tertelan bumi. Mungkin.... Mungkin.... Inikah rindu? Perasaan
yang tiba-tiba muncul saat aku ada dalam keadaan yang terkepung masa lalu. Masa
lalu yang tak jelas keberadaannya. Masa lalu dimana hanya aku yang menjadi
sutradaranya. Semuanya hanya praduga. Tak pernah ada yang tahu bagaimana perasaannya.
Semua hanya berkutat perihal perasaanku padanya. Pemuja rahasia. Apakah dia
mengerti??? Apakah dia tahu bahwa aku telah membangun ruang tanpa nama itu
khusus untuknya?
Malam sabtu menjadi kelabu
Seorang gadis rapuh dalam dekapan hujan
Berbalut RINDU
Menatap kibasan angin yang meniup gemericik
Melihat seseorang di pintu pagar
Mematung tanpa air muka
Ia yang hilang
Entah kapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar